
Annete memandang nanar semua yang ada di meja kerjanya. Ia melihat beberapa tumpukan kertas tagihan dari toko kuenya. Mengalihakan pandangan pada akun sosial medianya dan beberapa benda yang ditemukannya dari apartemen Kisako.
"Jadi ... penjualan yang terus turun dan berganti-gantinya pegawai itu atas campur tangannya?" batin Annete geram. "Lalu sekarang, ia kembali mengusikku dengan kasus serpihan kulit telur pada salah satu produk toko kueku?" lanjutnya sambil mendegus kesal.
Ia kemudian melirik dua sampe benda yang terbungkus plastik. Benda yang berhasil di bawanya dari apartemen Kisako.
"Tut-tut-tut-tut!"
"Hallo, Vegga! Ah ... apakah kamu sedang sibuk? Ah ... ya, aku butuh bantuanmu! Aku ingin kamu menganalisis sampel beberapa benda milikku. Ah, tidak! Hanya sebuah cairan dan obat aneh yang aku temukan di loker anak buahku. Aku takut ia seorang pemakai narkoba. Jadi aku butuh bantuanmu!" Annete berbicara di telepon dengan seseorang.
"Oh ya, baiklah! Aku akan segera mengirimnya melalui ojek online. Segera! Oke, terima kasih, Vegga! Bye!" ia mengakhiri percakapan dan menutup telepon.
Ia kemudian memesan ojek online lewat sebuah aplikasi dan meminta sang driver untuk memastikan benda itu sampai ke tangan sahabatnya langsung. Untuk itu Annete memberikan tips dengan nominal yang tidak kecil.
"Baiklah, Annete. Mari kembali fokus pada masalah toko kue," ucapnya kemudian, sebelum akhirnya kembali tenggelam dengan permasalahan pelik yang harus di hadapinya.
"Ganks! Apakah kalian ada ide untuk kembali menarik pelanggan ke toko kue kita?" Annete mengirim pesan pada grup chat pemilik dan pimpinan toko kuenya.
"Pegawaiku sudah bertanya-tanya kapan kita buka lagi? Ia butuh pekerjaan Annete," keluh Rin.
"Oke, Rin. Kita akan buka kembali dalam waktu dekat. Pastikan kamu menarik banyak pelanggan agar penjualan tokomu selalu naik," jawab Annete.
"Bagaimana kalau mengundang artis sebagai brand ambasador, Annete?" usul Michele.
"Kemahalan, budget kita nggak akan cukup!" sergah Vivian. Ia adalah salah satu penanam modal dalam jaringan toko kue Annete.
"Kupon promo bagaimana?" tanya Chiko.
"Aku rasa akan kurang efisien. Kita terlalu sering menggunakannya," tolak Gladys.
Chat group beranggotakan manager jaringan toko kue dan beberapa investor yang merupakan teman-teman Annete itu nampak ramai.
"Bagaimana dengan produk baru yang unik?" usul Keiandra.
"Ahhhh ... good idea!" pekik Annete.
"Kamu serius? Launching new product ketika masa pemulihan?" tanya Vivian skeptis.
"Bagaimana dengan Floss Fire?" usul Michele.
__ADS_1
"Floss Fire?" secara bersamaan Gladys, Keiandra, Rin, Vivian dan Chiko menyahut bingung.
"Ahhh ya, aku dan Michele beberapa waktu lalu sempat mencoba sebuah produk baru. Sejenis adonan roti manis dengan isian selai thousand island pedes, lalu dilapis mayo dan taburan abon," jelas Annete.
Perlu beberapa lama bagi Annete dan timnya untuk menyelesaikan rapat online hari ini. Setelahnya, ia kembali berkutat dengan barang bukti yang ada di mejanya.
"Kisako terlibat dalam kekacauan yang terjadi di toko kuemu!"
Sebuah pesan dari partner imaginernya tiba. Ia membaca dengan saksama.
"Kisako lagi dan lagi! Sungguh aku tidak habis pikir dengan sikapnya. Apa sebenarnya salahku padanya? Mengapa ia begitu benci padaku? Dia jauh lebih pintar, jauh lebih hebat dan karirnya lebih cemerlang dibanding aku!" keluh Annete.
Ia kembali memflashback berbagai kejadian di masa kecilnya. Mengingat kembali betapa indahnya masa kecil mereka hingga kemudian Kisako berubah menjadi tertutup dan berhati dingin.
Fakta bahwa rencana pernikahannya gagal akibat ulah Kisako. Fakta bahwa kakaknya telah lama terlibat dalam berbagai masalah dalam hidupnya membuat Annete meradang. Ia memang selalu membalas dengan adu fisik, biasanya selalu ia yang menang.
Tetapi ... sungguh tak sebanding rasanya apa yang dilakukan Kisako dalam hidup Annete. Luka fisik itu, separah apapun akan sembuh. Sedangkan jiwa Annete yang harus disembuhkan sungguh sebuah perjuangan.
Kemarin malam Annete mendapat kabar dari Chiko, bahwa Hanaga sempat menghalau fans Miss K yang berdemo di depan toko kuenya. Well mungkin ia perlu menghubungi Hanaga untuk membahas masalah Kisako.
"Pagi, sayang. Bisakah kamu ke tempatku sekarang?"
Begitu pesan Annete pada Hanaga lewat sebuah aplikasi percakapan online.
"Ring-ring!" telepon pintar Annete berdering.
"Hallo, Vegga? Ada apa?" tanya Annete.
"Oh, dear! Aku sudah menerima sampelmu dan aku langsung tahu obat jenis apa ini!" seru Vegga dari seberang sana dengan tak sabar.
"Benarkah? Obat jenis apa memangnya?" tanya Annete. Ia menjadi ikut tak sabar dan penasaran.
"Itu adalah sejenis obat bius dan obat perangsang. Nampaknya sang pemilik cukup paham tentang obat-obatan dan bahan kimia. Ia memilih dua bahan yang tidak menimbulkan perubahan bahu, rasa dan warna. Kamu dapat dari mana sebenarnya kedua benda itu?" jelas Vegga yang diakhiri sebuah pertanyaan.
"Ehem, aku ... menemukannya di suatu tempat. Baiklah terima kasih, Vegga. Bantuanmu sangat berarti!" ucap Annete. Sengaja ia berbohong pada Vegga agar tak perlu terlalu panjang lebar.
"Ya, Annete. Aku akan mengirimimu hasil resminya dua hari lagi ya," jelas Vegga sebelum mengakhiri percakapan.
"Baiklah, Vegga. Terima kasih ya," balas Annete ramah.
__ADS_1
"Bruakkkk!!!!"
Annete menggebrak meja dengan emosi.
"Jadi begitu caranya dia menjebak Hanaga untuk membuat video itu. Berengsek!!!!!" jerit Annete kesal.
Bersamaan jeritannya, Annete mendengar bel pintu rumahnya berbunyi. Ia kemudian bergegas membuka pintu.
"Pagi, sayangku," sapa Hanaga manis. Pagi ini seperti biasa, ia terlihat begitu tampan.
"Pagi, masuklah. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan," ucap Annete masih dengan rasa kesal yang membuncah.
"Hei, what's wrong? " tanya Hanaga bingung.
Annete menceritakan semuanya pada Hanaga. Termasuk tentang rekan balas dendam imajinernya.
"Shit! Sudah aku duga semuanya adalah sekenario Kisako. Aku tidak menyangka kakakmu selicik itu sayang," ucap Hanaga.
"Aku sudah memperingatkanmu, ya kan!" seru Annete kesal.
"Lalu bagaimana selanjutnya? Benarkah pria itu dapat dipercaya?" tanya Hanaga.
"Aku rasa aku tak mempercayai sepenuhnya. Tapi ... kita bisa saling menguntungkan untuk sementara," jawab Annete.
"Kamu serius akan ikut dalam rencananya?" sekali lagi Hanaga bertanya. Ia tahu kekasihnya. Annete tak pernah tega menyakiti orang lain terlalu kejam, meski dalam sisi emosi Annete termasuk sangat emosional.
"Menurutmu?" Annete balik bertanya.
"Pikirkan lagi. Rencana pria itu sangat beresiko," jawab Hanaga. "Kamu bisa membuat Miss K hancur tak bersisa anadai berhasil membocorkan desain. Pinalti yang harus dibayar dari sebuah nilai kontrak eksklusif sangatlah besar. Belum lagi beban moral yang harus ditanggungnya nanti," lanjut Hanaga.
"Hanya ini satu-satunya kesempatanku! Kamu tahu sendiri bagaimana selama ini ia mengacaukan hidupku," keluh Annete.
"Baiklah, tapi tetaplah berhati-hati. Pria itu tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Bisa saja dia cuci tangan dan membuatmu terjebak," nasihat Hanaga.
"Karena itulah aku butuh bantuanmu sayang. Lindungi aku," pinta Annete memelas.
"Ah ... Annete," Hanaga tak tega melihat wajah memelas Annete.
"Selama ini, toh kamu sudah selalu melindungiku bukan. Please sayangggg," rajuk Annete dengan suara merayu. Tangan dan tubuhnya bergerak ke atas pangkuan Hanaga. Mengusap lembut pipi dan dagu Hanaga ditumbuhi rambut-rambut jenggot yang mulai tumbuh.
__ADS_1
Hanaga menjadi lemah, wanitanya itu terlalu menggoda untuk dilewatkan.