
Annete membuka box gaun pengantinnya dengan antusias. Ia tak sabar memakainya dan mematut diri di depan cermin. Gaun pengantinnya baru tiba kemarin sore. Ia sengaja meminta penjahitnya untuk mengirimkannya mendekati hari pernikahannya. Ia terlalu takut Kisako yang iri mengacaukan segalanya.
"Tenangnya Annete, semuanya akan baik-baik saja," bisik Mrs. Rodrigues.
"Aku tak mau kak Kisako mengacaukan pernikahanku, mama," keluh Annete mulai melucuti pakaiannya dan mencoba gaunnya.
"Tenanglah, papa sudah pastikan Kisako tidak bercanda berlebihan hingga mengacaukan pernikahanmu," tambah Mr. Rodrigues yang baru datang. Ia nampak bahagia melihat anaknya mematut diri di depan cermin dengan mencoba gaun pengantinnya.
"Cantik, luar biasa," puji Mrs. Rodrigues.
"Thank you, mama." Annete memeluk Mrs. Rodrigues bahagia.
"Besok kursi-kursi dan dekorasi akan dipasang. Wah, kita akan kehilangan gadis kecil kita, Misaki," bisik Mr. Rodrigues sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Ya ... semoga saja setelah menikah dia bisa mengendalikan emosinya dan membangun rumah tangga yang baik seperti kita," ujar Mrs. Rodrigues. Ia tersenyum penuh arti pada Annete.
"Well, aku sudah dewasa. Hanaga pun sangat memahamiku. Aku yakin rumah tangga kami akan sebahagia kalian," kata Annete yakin. Ia tersenyum begitu bahagia.
"Ring-ring!" Gawai Annete berbunyi. Sebuah panggilan telepon terlihat disana.
"Hallo, Gladys? Haiiii ... apa kabar? Kamu datang ke pernikahanku tiga hari lagikan?" ucap Annete penuh kebahagiaan.
"Annete, kamu perlu melihat video yang aku kirim. Beritanya mulai viral beberapa jam yang lalu." Gladys, rekan Annete yang meneleponnya itu seperti tidak nyaman.
"Ada ... apa?" tanya Annete bingung.
"Buka saja link video yang aku kirimkan. Kamu akan mengerti," jawab Gladys sebelum memutuskan panggilan telepon beberapa saat kemudian.
Annete membuka link video yang dikirimkan Gladys, kemudia berlinang air mata dan terduduk dengan shock. Ia tak menyangka, ketakutannya akan benar-benar terjadi.
"Annete! Ada apa sayang?" tanya Mrs. Rodrigues.
"Kisako! Dimana kak Kisako?" tanya Annete kemudian. Ia mengabaikan pertanyaan sang ibu dan bergegas menuju kamar kakaknya itu.
Kosong! Kisako tidak ada di kamarnya.
Annete kemudian menghubungi nomor Kisako dan menunggu dengan muka merah padam hingga panggilannya diangkat.
__ADS_1
"Kamu sudah melihatnya? Hadiah pernikahanku untuk kalian, indah bukan?" tanya Kisako di seberang sana.
"Kisako!!!! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu sudah gila mengacaukan pernikahanku dengan Hanaga!" teriak Annete histeris.
Terdengar tawa menghina dari Kisako di seberang sana.
Annete membanting poselnya. Ia berteriak histeris kemudian mengamuk. Ia mengacak-acak kamar Kisako dan terus mengamuk.
"Annete, apa yang terjadi?" tanya Mr. Rodrigues tak mengerti.
"Kisako! Wanita iblis itu mengacaukan pernikahanku, papa! Wanita berengsek itu menghancurkan segalanya!" teriak Annete sambil menangis meraung-raung.
Mr. dan Mrs. Rodrigues berusaha menenangkan Annete. Tetapi tak berhasil. Gadis itu berontak dan terus menangis meraung-raung. Ia kemudian mengambil kunci mobilnya dan menyetir mobilnya keluar garasi dengan gila.
"Wanita iblis dan laki-laki bodoh?" teriak Annete di balik kemudi mobilnya. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi menuju sebuah gedung perkantoran.
Annete memarkir mobilnya sembarangan. Berjalan penuh emosi memasuki lift menuju lantai tempat kekasihnya bekerja.
"Selamat sore Miss Ann ...."
"Hanaga!" teriak Annete histeris.
"Brak!" Annete menggebrak pintu ruangan Hanaga.
"Hai sayang, wow! Kamu cantik sekali, sempurna," ucap Hanaga sambil mendekari Annete yang masih memakai gaun pengantin untuk pernikahan mereka beberapa hari lagi.
"Plak!" Annete menampar Hanaga keras.
"Aw! Sayang apa maksud ...."
"Kamu! Apa yang kamu lakukan dengan Kisako?" bentak Annete penuh emosi.
Hanaga terdiam, wajahnya seketika berubah suram dan penuh ketakutan.
"Aa ... ada apa?" tanyanya terbata.
Annete meraih macbook Hanaga di meja kerjanya dan memencet aplikasi pemutar video disana. Ia kemudian menunjukkan video viral yang sedang menjadi tredding utama pada aplikasi tersebut.
__ADS_1
Hanaga terkejut bukan kepalang. Ia begitu kaget dan shock. Dia tak menyangka adegan percintaannya dengan Kisako seminggu yang lalu akan tersebar luas.
"Aku sudah bilang padamu! Hindari Kisako! Jangan pernah mau berhubungan apalagi menerima ajakannya! Wanita itu iblis!" teriak Annete semakin mengamuk.
Hanaga tak dapat berkata-kata. Seluruh persendiannya lemas tak berdaya. Ia tak menyangka kebodohan yang ia berusaha sembunyikan dari Annete, pada akhirnya akan menghancurkan semuanya.
"Annete, maafkan aku," ucap Hanaga berusaha mendekati Annete.
Annete menangis histeris dan meraung-raung. Sekarang hancur sudah! Semua rencana indah yang ingin dibangunnya hancur sudah. Kisako pada akhirnya berhasil menghancurkan mimpi indahnya. Iapun harus menanggung malu karenanya.
"Kamu! Laki-laki bodoh! Enyah kamu dari hidupku! Aku tak sudi melihat wajahmu lagi!" bentak Annete.
Ia kemudian pergi meninggalkan kantor Hanaga dengan air mata yang tak terbendung.
Annete menyetir mobilnya kembali dengan air mata berlinang, menuju tempat Kisako berada. Ia tahu dimana kakaknya itu berada ketika telah berhasil berbuat jahat pada adiknya.
Apartemen studio milik Kisako memang berada pada gedung apartemen sepi yang banyak ditinggalkan pemiliknya karena sebuah kasus pembunuhan. Wanita itu bahkan lebih jahat dari iblis, maka dia tak akan takut tinggal di tempat yang paling seram sekalipun.
"Kamu! Kamu berengsek, Kisako!" seru Annete sambil mendobrak pintu apartemen yang tidak terkunci itu. Air matanya masih terus mengalir.
Kisako melihat adiknya yang sedang kacau dengan tawa menghina.
Ia masih duduk di balik meja kerjanya, saat Annete yang tak kuasa menahan emosi, menerjangnya hingga mereka berdua terjatuh dan berguling di lantai.
"Kamu gila, Kisako! Kamu sungguh benar-benar gila dengan berbuat seperti ini! Kamu menghancurkan hidupku!" teriak Annete sambil memukuli Kisako membabi-buta.
Kisako berusaha melawannya dengan sekuat tenaga. Ia berusaha membalas setiap pukulan Annete yang melukai wajah dan tubuhnya.
Mereka berdua berguling, saling serang, saling pukul, saling melukai hingga wajah dan tubuh mereka penuh luka. Darah dimana-mana. Tak ada yang dapat menghentikan mereka hingga mereka lelah dan tak sanggup lagi beradu pukul.
"Kamu tahu, Annete! Seorang laki-laki yang baik tidak akan tergoda wanita lain. Apalagi kakak perempuan calon istrinya sendiri," ucap Kisako sambil tersengal mengatur nafas.
"Kamu benar! Tetapi aku tahu kualitasmu dalam menghancurkan hidup orang lain, terutama hidupku! Aku memahami jika Hanaga sampai menjadi korbanmu. Aku tak marah soal itu. Aku hanya tidak suka, dia berbohong dan menutupi kebenaran bahwa kalian berjumpa!" ucap Annete dengan nafas tak kalah tersengal.
"Hahahahahaha ... laki-laki itu terlalu bodoh!" seru Kisako dingin.
"Kamu! Camkan ini! Aku akan membalasmu, Kisako! Aku akan melakukan perhitungan dengan tepat. Berapa banyak yang kamu ambil dan seberapa layak kamu diperlakukan!" seru Annete kesal. Ia kemudian bangkit dan pergi meninggalkan Kisako di apartemen studionya sendiri.
__ADS_1
(Annete in her bridal gown)