Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Annete Doubt


__ADS_3

Annete meletakkan teleponnya dengan tangan bergetar. Ia tak menyangka perbuatannya beberapa minggu lalu bisa membuat sebuah resiko yang begitu besar. Ia tak menyangka pinalti yang harus dibayarkan Kisako begitu besar.


"Sudah tiga hari yang lalu Kisako hanya mengunci diri di dalam kamarnya. Ia tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia terus menggumam kamu menghancurkan hidupnya," ucap Mrs. Rodrigues dalam panggilang telepon dengan Annete beberapa saat lalu.


"Separah itukah?" tanya Annete merasa bersalah.


"Jika tidak mampu membuktikan dia tak bersalah, Kisako harus membayar riga kali nilai kontrak yang disepakati," jelas Mrs. Rodrigues.


"Berapa besar kerugiannya?" tanya Annete dengan suara bergetar.


Mrs. Rodrigues menyebutkan sederet angka dengan nilai yang fantastis.


Annete membelalak kaget. Ia tak menyangka perbuatannya bisa membuat Kisako harus membayar dengan harga yang begitu besar.


"Bagaimana dengan pengacara papa? Tak bisakah mereka membantu?" tanya Annete.


"Papamu sedang mengusahakannya. Tetapi ... sepertinya ada orang lain yang ingin Kisako benar-benar hancur," jawab Mrs. Rodrigues.


"Akuuu ... akan menelepon Hanaga untuk bertanya apakah aku bisa memperbaiki kesalahanku," ucap Annete kemudian.


Ia kemudian menutup telepon dan menghubungi rekan balas dendam imajinernya.


"Telepon yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan tinggalkan pesan."


"Arghhhh!!! Sial!" keluh Annete.


Bagus sekali, dia menghilang setelah membuat Kisako hancur. Dan dia meninggalkanku dengan rasa bersalah karena menghancurkan karir kakakku sendiri.


"Sayang! Kamu di dalam? Aku datang!" suara Hanaga di depan pintu membuat Annete bergegas.


Ia membuka pintu dan memeluk Hanaga panik.


"Aku menghancurkan karir Kisako! Benarkah balas dendamku berjalan seburuk ini?" ucapnya gusar.


"Aku sudah memperingatkanmu, sayang. Tapi ... waktu itu kamu tidak mendengar," jelas Hanaga sambil membalas pelukan Annete. Ia menggedong Annete untuk duduk di atas pangkuannya di sofa.


"Aku tidak menyangka pria itu akan membuat semuanya sekacau ini dengan desain Kisako," ucap Annete.


"Lalu kamu maunya gimana?" tanya Hanaga.


"Aku ingin ketemu, tapi aku nggak bisa menghubunginya lagi. Nomernya non aktif," jelas Annete.


"Untuk apa?" tanya Hanaga lagi.


"Untukkk ... ahhh, sudahlah! Nggak perlu juga aku cemaskan Kisako. Toh sejak dulu dia selalu menggangu hidupku," ujar Annete tiba-tiba berubah dingin. Wanita ini memang lebih mudah goyah dan terbawa emosi ketimbang Kisako.

__ADS_1


"Serius, biarkan saja semuanya terjadi?" tanya Hanaga meyakinkan.


"Ya, biarkan saja. Kisako layak mendapatkannya setelah menghancurkan rencana pernikahanku dan merusak nama baik tokoku!" tegas Annete.


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi ... setahu aku Anneteku tidak seperti itu," nasihat Hanaga.


Annete menjadi kembali dalam kebingungannya setelah balas dendam. Sungguh ia tidak ingin semuanya menjadi semakin buruk.


"Aku akan ke toko hari ini. Aku janjian dengan Michelle untuk mencoba resep baru," Annete berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ia bangkit dari pangkuan Hanaga dan bergegas mengganti pakaiannya.


"Aku akan mengantarmu," ujar Hanaga.


"Lalu pulangnya?" tanya Annete dari dalam kamarnya.


"Aku akan menunggu disana. Ini weekend sayang, aku libur hari ini!" jelas Hanaga.


"Ohhh, aku lupa hari ini weekend. Baiklah, akan batalkan acaraku dengan Michelle. Aku tahu kita harus kemana!" ujar Annete sambil memakai mini dress berwarna hijau muda berbahan cifon.


"Kamu ingin pergi kemana?" tanya Hanaga yang sudah menyusul Annete ke kamarnya. Ia kemudian memeluk dari belakang, Annete yang sedang mengikat rambutnya.


"Pantai! Kita akan ke pantai," ucap Annete dengan mata berbinar.


Annete mengangguk dan membalik badan. Ia mengecup rahang Hanaga singkat. Lalu meminta kekasihnya itu berganti baju yang lebih santai.


Tiga puluh menit kemudian mereka siap berangkat. Annete sengaja menyetir mobil Hanaga dan mengarahkannya ke tujuan yang ia inginkan.


Annete tidak mau menjadi goyah dan ragu dengan balas dendamnya pada Kisako. Ia ingin Kisako juga merasakan betapa terpuruknya ia ketika kakaknya itu membuat Annete dalam masalah.


"She just got her carma!" batin Annete ringan. Ia terus memacu mobil Hanaga menuju pantai.


"Baiklah, kamu benar. Cuacana cukup cerah dan matahari bersinar terang," ucap Hanaga ketika turun dari mobil.


"C'mon!!!! Whoaaa!!! Vitamin seaaaa!!!!" seru Annete girang. Ia segera mencemplungkan dirinya untuk bermain air. Dalam waktu singkat dressnya yang tipis menjadi basah dan lengket.


"Wait for me, babe!" seru Hanaga yang kemudian ikut bermain air.


Kedua pasangan itu larut dalam keseruan mereka dalam beberapa saat hingga pantai yang nampak lengang dan tenang itu berubah mencekam.


Beberapa petugas pantai nampak sibuk. Seorang wanita sedang menangis putus asa dan seorang pria memeluk menenangkannya.


"Ada apa?" tanya Hanaga pada seorang nelayan yang turut membantu.


"Kedua orang itu kehilangan dua anaknya yang sedang bermain pasir di pantai," jelas Nelayan yang bersiap melaut dengan boatnya. Sepertinya ia akan mencari kalau-kalau mereka hilang terbawa ombak.

__ADS_1


Hanaga yang penasaran mendekati orang-orang yang berkerumun.


"Aku nggak tahan ingin kencing, mama. Aku bilang sama Hana untuk jaga Kikka dan main di pantai aja sambil nunggu aku ke toilet," ucap sang anak paling besar.


"Kamu lalai! Kamu tidak menjaga adikmu dengan benar! Kamu tidak bertanggung jawab pada kedua adikmu! Kalau sampai ada apa-apa pada Hana dan Kikka!!! Kamu akan menyesal seumur hidup!" hardik sang ibu dengan sangat emosional.


Wajah bocah laki-laki itu nampak ketakutan. Ia sangat merasa bersalah pada keduanorang tuanya.


"Maaf, maafkan aku mama. Papa ... maafkan akuuu," anak itu mulai menangis ketakutan.


"Sudah, sudah jangan menangis. Kita tunggu tim SAR datang dan membantu mencari adik-adikmu," ucap sang ayah.


Pria itu kembali menenangkan istrinya yang kembali histeris. Mereka terlalu sibuk menenangkan wanita itu, tanpa sadar ada luka yang terus menggores dalam di hati sang kakak. Ia nampak terpukul dan membisu.


Beberapa orang tim SAR yang sudah mulai berdatangan membantu keluarga tersebut. Mereka sibuk mengerahkan anggotanya untuk segera melakukan pencarian.


"Kasihan sekali," ucap Hanaga tulus. Ia kemudian berbalik menuju Annete lagi tetapi ....


Ada yang salah pada diri Annete. Wanita itu berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Ia seperti mendadak diserang ketakutan.


"Annete! Babe! Ada apa?" tanya Hanaga.


"Anak itu, si kakak. Kasihan," ucap Annete terbata-bata.


"Apaa, maksudmu?" tanya Hanaga.


Annete hanya membisu dan telunjuknya terangkat menuju anak kecil yang nampak terduduk sambil menggigil ketakutan.


Hanaga paham, ia segera mendekati anak kecil itu dan memeluknya. Ia menawarkan sebotol minuman dan mengajaknya membeli cemilan.


"Kamu baik-baik saja? Tenanglah, tak apa. Adik-adikmu akan segera ditemukan," ucap Hanaga. Ia kemudian mengantar anak kecil itu kepada orang tuanya.


"Dari mana saja, nak? Adik-adikmu sudah ditemukan," sang ayah nampak menunggu di depan kantor pusat informasi.


"Om itu, membelikan kakak minum," jelas anak laki-laki itu.


"Maaf, saya lihat anak bapak begitu ketakutan. Jadi saya ajak beli minum untuk menenangkannya," jelas Hanaga.


"Oh terima kasih. Syukurlah semua anak saya baik-baik saja," ucap sang ayah.


Hanaga tersenyum dan berpamitan. Ia kemudian mendekati Annete yang sudah menunggunya di mobil.


"Kamu kenapa, babe?" tanya Hanaga masih bingung dengan kondisi Annete.


"Aku ... sepertinya mengerti apa yang membuat Kisako begitu jahat padaku," ucapnya dengan terbata-bata.

__ADS_1


__ADS_2