
Pembayaran termin kedua baru saja akan diterima Kisako, ketika berita itu muncul. Sebuah brand lokal menjual tas dengan desain dan motif seperti milik Kisako pada website onlinenya.
Entah bagaimana desainnya bisa semirip itu. Yang jelas Kisako harus mempertanggung jawabkannya. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini jelas sebuah kebocoran desain! Semuanya terlalu percis sehingga tidak mungkin hanya kebetulan!"
"Bagaimana anda akan mempertanggung jawabkannya, Miss K?"
"Barang sudah di produksi massal untuk launching koleksi akhir tahun kita*!"
"Kita akan rugi besar kalau tidak jadi menjualnya. Tetapi tetap menjualnya juga sama dengan bunuh diri. Bagaimana jika nanti brand lokal itu menuntut kita dengan tujuan plagiat?"
"*Lakukan saja penyelidikan! Biar polisi yang menentukan!"
"Miss K, konsekuensi kontrak jika terjadi kebocoran anda akan di denda 3 kali lipat nilai kontrak*!"
"Saya, akan selidiki bagaimana desain itu bisa bocor! Saya pastikan kasus ini tidak akan sampai merugikan perusahaan anda!" tegas Kisako sebelum mengakhiri teleconfrence darurat pagi itu.
Ia bergegas memacu mobilnya menuju mansion kedua orang tuanya. Tidak mungkin desain dalam macbooknya bocor atau diretas. Karena 1x24 jam Kisako selalu membawa macbooknya kemanapun.
"Siapa yang melakukannya? Siapa yang menjebak dan hendak menghancurkanku?" batin Kisako emosi.
Ia menyetir dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di mansion orang tuanya. Sepanjang jalan ia berpikir siapa, mengapa dan bagaimana semua ini bisa terjadi.
"Annete? Mungkinkah si bodoh itu pelakunya? Tidak! Annete tidak secerdas itu untuk membuat siasat menghancurkanku dengan rencana sehebat ini!" ujar Kisako dalam mobilnya.
"Hanaga? Bagaimana jika Hanaga yang menghancurkannya. Laki-laki itu pernah bersumpah akan menghancurkannya jika mengacaukan hidup Annete," pikiran Kisako masih menerka-nerka. "Ahhh, tapi tidak! Hanaga bukan tipe orang yang akan bertindak selicik itu. Lagipula, terlibat dalam kasus kebocoran desain akan merusak reputasinya."
Kisako semakin kesal ketika ia tidak menemukan sebuah sekenario yang tepat bagaimana dan mengapa desainnya bisa bocor.
"Ckiiiitttt!!!!"
"Bip-pip-bip-pip-pip-pip!"
"Brrruuuuummmmmm!!!!!"
"Cekittttttt!!!"
"Brakkkk! Bum!"
__ADS_1
Kisako membuka gerbang mansion dengan kombinasi kode pengaman dari telepon pintarnya, lalu tancap gas untuk parkir di halaman dan bergegas memasuki pintu mansion buru-buru.
"Selamat siang, sayang. Hai! Tumben kamu datang siang di hari kerja begini?" sapa Mr. Rodrigues yang sedang membaca majalah di ruang tamu.
"Papa! Adakah orang yang mengunjungi rumah ini mencariku dalam beberapa minggu ini?" tanya Kisako tergesa-gesa.
Mr. Rodrigues menggeleng. "Tidak! Tidak ada tamu seperti itu beberapa hari ini. Ada apa?" tanya Mr. Rodrigues heran.
Kisako tidak menjawab pertanyaan ayahnya dan bergegas menuju lantai dua. Ia memeriksa pintu kamarnya dan nampak lega ketika pintunya masih terkunci.
Kisako bergegas memeriksa seisi ruangan kamarnya. Memeriksa meja kerjanya yang nampak masih berantakan seperti ketika ditinggalkannya. Memeriksa kasur, koleksi buku dan meja riasnya. Sungguh tidak bergeser sedikitpun. Andai ada pencuri yang masuk diam-diam pasti ruangannya sudah berantakan.
"Ini rapih, sangat rapih!" batin Kisako. Ia kemudian beralih ke laptopnya. Memeriksa posisinya, lalu menyalakan benda itu.
Kisako mengechek beberapa folder, aman. Tidak ada yang hilang. Mengechek histori laptopnya lalu menemukan bahwa ada yang mengirim email folder desainnya pada seseorang beberapa minggu yang lalu.
"Shit! Siapa yang melakukannya? Lalu ini email siapa yang dikirimi desain?" pekik Kisako panik. Ia menyadari bahwa jika diadakan penyidikan posisinya akan lemah karena terbukti desain itu bocor dari laptopnya di kamarnya.
Kisako mengedarkan pandangan dan mengingat bahwa ia memasang kamera CCTV. Kisako memeriksa rekamannya dan menemukan rekaman yang menunjukkan perbuatan Annete.
"Aku melakukan semua perintahmu, Sist. Jangan lupa kita bagi dua keuntungannya!"
"Shit! Anneteeee!!!!!!" teriak Kisako menggelegar.
Ia membanting semua benda yang berada di sekitarnya sambil merasa sangat kesal. Ia tak menyangka Annete pada akhirnya akan membalasnya dengan sangat menyebalkan.
"Sial! Annete sialan!" makinya kesal. Bagaimana si bodoh itu bisa bermain sebaik ini dan memukulnya telak. Sungguh hal ini membuat emosi Kisako semakin menggila.
"Prang! Bruak! Bruak! Bummm! Prang!!!"
"Apa yang kamu lakukan? Hentikan!" Mrs. Rodrigues datang ke kamar Kisako lima menit kemudian. Sorot matanya mengancam dan mematikan. Aura dingin nan mencekam terpancar dari wanita paruh baya itu.
"Annete! Anak kesayanganmu itu menghancurkan hidupku, Mrs. Rodrigues!" pekik Kisako melengking. Ia nampak tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
"Tidak usah berlebihan! Dia hanya membalasmu sekali ini. Setelah apa yang kamu lakukan menyakitinya selama ini?" hardik Mrs. Rodrigues. Pelan, namun sangat mengancam. "Pelankan suaramu dan jangan membuat keributan! Kamu tahu bagaimana penyakit jantung papamu!" lanjutnya kemudian.
"Tindakannya membuatku harus membayar penalti kontrak sebesar tiga kali lipat!" jerit Kisako. "Dia membuatku rugi besar dan menguras seluruh isi tabunganku! Anak gadis bodohmu itu, telah menghancurkan karirku!" bentak Kisako.
"Plak!"
__ADS_1
"Pelankan suaramu!" bentak Mrs. Rodrigues. Ia menampar Kisako penuh emosi lalu menutup pintu kamar Kisako.
Kisako memandang Mrs. Rodrigues dengan tatapn mata sangat keji. Seolah wanita itu bukanlah ibu kandungnya sendiri.
"Kamu sendiri telah menghancurkan hatinya. Merusak impiannya menikah dengan lelaki yang dicintainya. Kamu tak tahu! Rasanya dikhianati lelaki yang kamu cintai! Yang kamu lakukan pada hidup adikmu selama ini lebih jahat! Sadarlah, Kisako!" ucap Mrs. Rodrigues dingin.
"Anda, selalu melindunginya! Anda lebih menyayanginya dari pada aku! Anda bahkan terus menghukumku dengan sikap dingin anda selama ini! Aku membeci Annete, seperti anda membenciku selama ini!" balas Kisako.
"Aaa ... paaa? Seburuk itu kamu menilai aku dan adikmu? Sadarlah, Kisako! Selama ini justru kamulah yang jahat pada adikmu!"
"Tok-tok!"
"Sayang, ada apa? Apakah kalian baik-baik saja di dalam?" tanya Mr. Rodrigues dari balik pintu yang terkunci.
"Ohhh ... ya sayang, kami baik-baik saja. Aku hanya menenangkan Kisako atas keisengan yang dilakukan Annete padanya," jelas Mrs. Rodrigues saat membuka pintu.
Mr. Rodrigues masuk ke dalam kamar Kisako.
"Ada apa? Apa yang Annete lakukan padamu, sayang?" tanya Mr. Rodrigues.
"Tidak ada ...."
"ANNETE MEMBOCORKAN DESAINKU DAN MEMBUATKU HARUS MEMBAYAR PENALTI PROYEK!" teriak Kisako histeris.
Mr. Rodrigues terkejut ia tak paham dan tidak percaya apa yang dikatakan Kisako.
"Sudah ... sudahlah, sayang. Ayo kita tinggalkan Kisako agar ia menenangkan diri," ujar Mrs. Rodrigues. Wanita itu lebih memilih menggiring suaminya keluar dari kamar Kisako.
"Aku butuh penjelasan, sayang!" seru Mr. Rodrigues berkeras.
"Kisako tidak sedang dalam kondisi baik untuk menjelaskan. Ayo kita keluar dan telepon Annete. Apa yang sesungguhnya dia lakukan pada kakaknya," kata Mrs. Rodrigues memberi saran.
Mr. Rodrigues setuju dan mengikuti saran istrinya. Merekapun meninggalkan Kisako sendiri dalam kamarnya.
"Annete sialan!!!"
"Bruak! Bruak! Buk! Prang! Pyarrr!!!"
Kisako sepertinya semakin menggila. Ia meluapkan semua emosinya dengan menghancurkan entah apa saja yang di dekatnya.
__ADS_1