
Annete melewati acara makan malam keluarganya dengan selamat. Ia tak banyak bicara dan berusaha sangat keras agar tidak merusak suasana. Ini ulang tahun papanya, Annete tentu saja ingin membuat moment paling membahagiakan untuk dikenang.
Kisako beberapa kali memancing emosi Annete. Ia seperti biasa berusaha membuat kesal Annete dengan sikapnya yang sungguh menyebalkan. Kisako menumpahkan lada di makanan Annete, menuang wine hingga tumpah ke baju Annete juga beberapa hal kecil yang sebenarnya kekanakan namun cukup membuat Annete mendegus kesal.
"My girl, Kie! Please stop to challenge your sister emotion!" Mr. Rodgrigues pada akhirnya memperingatkan Kisako untuk berhenti bersikap menyebalkan.
Kisako hanya tersenyum simpul, lalu bergelayut manja pada lengan papanya. "I'm doing nothing, papa."
Seperti biasa, wanita tiga puluh delapan tahun itu bahkan memasang wajah dingin dan tenang.
"Wow! Miss K sedang mempersiapkan desain barunya untuk sebuah brand ternama. Aku nggak sabar untuk menunggu launchingnya!" pekik Annete sambil melirik dari sudut matanya. Memancing reaksi Kisako saat ia terlihat antusias melihat sosial media seorang desainer ternama (yang sebenarnya Annete tahu kalau itu kakaknya).
Kisako melirik Annete sekilas, hanya sebuah reaksi kaget dan bangga dalam sepersekian detik yang hampir tak terlihat. Kisako kemudian menyibukkan dirinya mengunyah canape.
"Aku suka desainnya. Sungguh seorang desianer jenius yang sangat misterius," lanjut Annete. Ia sengaja membuat dirinya memuji Miss K setinggi langit, agar nampak bodoh dihadapan Kisako.
"Uhuk!"
Entah bagaimana, Kisako tersedak hingga terbatuk. Ia kemudian bergegas meneguk wine dalam gelasnya, menepuk-nepuk dadanya beberapa saat agar potongan makanan yang tersedak itu tidak lagi mengganggu.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Mrs. Rodrigues sambil mengambilkan segelas air putih agar Kisako minum lebih banyak.
"Uhuk! Uhuk! I'm fine," jawab Kisako singkat sambil terbatuk.
"Lihatlah, mama. Miss K bahkan sedang terlibat proyek besar dengan salah satu brand ternama. Wahh berapa ya nilai kontraknya untuk seorang desainer terkenal sepertinya," Annete terus saja mengoceh. Membuat Kisako tersedak untuk kesekian kalinya.
"Uhuk! Ehem! Ehem! Uhuk!"
"Oh, jadi begitu reaksinya ketika tahu seseorang yang begitu dibencinya malah memujanya setinggi langit di belakang," batin Annete.
Ketika pada akhirnya Kisako sanggup menguasai diri. Ia melirik Annete dengan tatapan menghina dan berkata," Sudah diamlah! Gadis bodoh sepertimu tak akan bisa mendapatkan kontrak kerjasama dengan nilai yang fantastis sepertinya!"
"Ohhh, benarkah? Ya ... kamu memang benar, sist! Si bodoh Annete mungkin tak akan mampu mendapatkan kontrak kerja sefantastis itu. Tetapi mungkin dengan kebodohanku, aku bisa menggagalkan kontrak berharga sangat fantastis ini," balas Annete. Ia kemudian meneguk wine di gelasnya lalu membawa gelas winenya itu ke daput. Annete sengaja menyusul sang ibu ke dapur.
"Sudahlah, Ki. Berhentilah mengintimidasi adikmu dengan panggilan-panggilan buruk itu," ujar Mr. Rodrigues angkat bicara.
Kisako hanya tersenyum lalu meninggalkan meja makan dan menuju lantai atas. Matanya tertuju kepada beberapa ordner yang sepertinya tidak tertata sebagaimana mestinya. Wanita itu cukup detile untuk mengetahui ada orang yang baru saja mengacak-acak kamarnya.
__ADS_1
"Mom!!!!!" Kisako bersuara cukup keras ketika menemui ibunya yang sedang bersama Annete menghangatkan dan menyimpan sisa makanan.
Mrs. Rodrigues nampak sibuk dan hanya melirik sekilas pada Kisako.
"Apakah maid di rumah kita ada yang baru?" tanya Kisako.
"Tidak," jawab Mrs. Rodrigues singkat.
"Lalu siapa yang berani mengacak-acak rak buku dan mengubah susunan beberapa ordnerku?" tanya Kisako lagi. Kali ini wajahnya benar-benar terlihat kesal.
"Sudahlah, Kisako. Kamu sudah cukup dewasa untuk tidak meributkan hal-hal seperti itu. Lagi pula hanya susunanya bukan yang berubah. Tidak ada barang yang hilang!" tegas Mrs. Rodrigues.
Kisako mencebik kesal. Ia lalu memandang Annete tajam. Tatapan matanya seolah berkata, "Kamu kan yang mengacak-acak kamarku!"
Namun Annete hanya mengangkat bahu dan memasang wajah pura-pura tak tahu.
"Oh ya, aku lupa. Kamu tidak suka gelap dan tidak cukup cerdas untuk mampu berbuat jahat padaku," desis Kisako dingin dan kejam.
Annete bergeming, ia hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatannya di dapur bersama ibunya. Mengabaikan Kisako yang masih disana dan memandang Annete secara intens.
Annete paham, menahan emosi adalah cara yang paling efektif untuk bertahan dengan Kisako. Wanita rubah itu akan selalu berusaha menjatuhkan mental dan memancing emosinya.
"Kalian, akan menginap?" tanya Mr. Rodrigues yang tiba-tiba saja sudah berada di dapur.
"Entahlah, aku ... ehem sepertinya akan pulang malam ini, papa," jawab Annete.
"Well aku akan menginap. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di kamarku," ucap Kisako kemudian.
"Baiklah, jangan pulang malam-malam, sayang," nasehat Mr. Rodrigues.
Annete mengangguk. Ia kemudian bergegas membereskan pekerjaannya bersama ibunya.
Kisako sudah asyik di dalam kamarnya ketika Annete naik ke lantai dua untuk mengambil tas dan kunci mobil. Annete lihat kamar kakaknya tertutup rapat.
"Apa yang sedang dilakukannya di dalam," batin Annete penasaran. Ia lalu mencoba mengintip dari lubang kunci.
Gelap! Awalnya Annete tak melihat apa-apa. Lalu setelah beberap menit, matanya mulai bisa menyesuaikan dengan intensitas cahaya redup dalam kamar Kisako.
__ADS_1
Kisako sedang duduk disana, membelakangi pintu dan nampak sibuk di meja kerjanya. Annete ingat, kakaknya selalu betah berlama-lama di meja kerjanya semenjak dulu.
"Rupanya dia sedang bekerja membuat desain selama ini," batin Annete meneliti. Ia benar-benar tak tahu apa-apa tentang kehidupan kakaknya itu.
"Annete, apakah kamu ingin membawa lasagna yang sudah dihangatkan untuk sarapan pagi?" panggil Mrs. Rodrigues dari lantai bawah.
Annete berjingkat penuh kehati-hatian. Ia turun dari lantai dua dengan nyaris tanpa suara. Ia kemudian menuju dapur dan menemui ibunya.
Seperti biasa Mrs. Rodrigues selalu membekalkan makanan sisa makan malam pada anak-anaknya. Kisako tak pernah mau, tetapi Annete suka sekali masakan ibunya.
"Ya, mama. Bungkuskan aku semua makanannya untuk sarapan. Masakan inj begitu enak," rayu Annete.
"Dasar, tambah gendut tahu rasa loh," canda Mrs. Rodrigues.
Annete tertawa lalu memeluk ibunya. "Thanks for being my wonderful mom," ucapnya manja.
Mrs. Rodriguea tersenyum dan mengecup puncak kepala Annete.
"Oh iya, Mom. Apakah Kisako sering menginap akhir-akhir ini?" tanya Annete.
"Ya, kenapa?" jawab Mrs. Rodrigues sekaligus bertanya.
"Apa yang sebenarnya dikerjakannya di kamarnya? Mengapa setiap kali menginap ia selalu mengurung diri di kamar dan tidak bisa diganggu," tanya Annete lagi.
Mrs. Rodrigues mengangkat bahunya. Wanita berdarah Asia Timur itu lalu tersenyum hingga matanya hanya terlihat segaris saja. "Sudah biarkan saja Kisako. Dia selalu begitu jika ingin berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Kamu tahu kakakmu itu selalu sangat serius dengan apapun proyek yang sedang dikerjakannya," jelas Mrs. Rodrigues.
"Mengapa dia tidak mengerjakannya di apartemennya sendiri? Untuk apa dia membeli hampir seluruh lantai 7 di gedung itu? Bukankah akan lebih tenang di sana, mengerjakan pekerjaannya tanpa ada gangguan," kembali Annete bertanya.
"Entahlah, Annete. Biarkan saja dia begitu. Lagipula mama akan lebih tenang saat dia mengerjakan proyeknya di rumah. Mama bisa mengontrol asupan nutrisinya. Kalau di apartemen, mama yakin jangankan makan tepat waktu, makan sehari tiga kali dengan asupan gizi yang baikpun mungkin tidak," jelas Mrs. Rodrigues.
"Baiklah, jadi ... Kisako selalu mengerjakan proyek desainnya di rumah," batin Annete menarik kesimpulan. Ia kemudian berpamitan setelah semua perbekalannya disiapkan oleh Mrs. Rodrigues.
"Brummm!"
Mobil Annete terdengar bergerak menjauh meninggalkan bangunan rumah megah tersebut.
Kisako menatap kepergian adiknya dengan tersenyum sinis. Ia memandang dari jendela kamarnya hingga mobil Annete menghilang dalam kegelapan.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh! Kamu pikir aku tidak tahu, kamu mengacak-acak kamarku! Hahahaha!" ucapnya sambil tertawa. "Kamu tidak cukup jenius untuk mengalahkanku, Annete!"