Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Meet Her Sibling


__ADS_3

Hanaga sedang mengerjakan pekerjaannya ketika sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Ia mengernyitnya dahinya, berpikir sesaat sebelum mengangkatnya.


"Siapa?" batinnya.


Entah mengapa ada rasa enggan mengangkat telepon tersebut. Ada perasaan tidak enak yang menyeruak ketika ia melihat deretan angka yang tertera di layar telepon pintarnya.


Panggilan pertama mati. Lega hati Hanaga tidak harus mengangkatnya. Ia kemudian kembali menghadapi macbooknya dan sibuk dengan data-data.


Lima menit kemudian, gawainya kembali berdering. Deretan nomor tidak dikenal yang sama.


"Angkat? Tidak! Angkat? Tidak!" hatinya berontak bagai menghitung kancing.


Pada akhirnya panggilan tersebut mati dan Hanaga kembali lega tidak perlu mengangkat telepon. Ia sekali lagi kembali disibukkan dengan data-data di layar macbooknya.


"Ceklek!"


"Tunggu dulu, nona. Eh ... maaf, bapak. Nona ini meminta masuk dan


mencari anda," kata Mia, sekretaris Hanaga. Ia nampak sedikit kesal dengan ulah wanita yang datang bersamanya.


"Hai, calon adik ipar," sapanya ramah.


"Ka ... kak Kisako?!" Hanaga nampak kaget melihat wanita yang tadinya tersembunyi di belakang Mia. "Kamu boleh keluar, Mia," kata Hanaga kemudian.


"Ceklek!" pintu ditutup.


Tinggalah Hanaga dan Kisako di dalam ruangan. Wanita cantik itu mengenakan mini black dress simple dengan rambut ditata sederhana dan dilipatkan ke belakang.


"Well, sebuah ruang kantor yang nyaman untuk seorang direktur pemasaran dari sebuah perusahaan besar," ucap Kisako. Kalimat pertama yang keluar dari bibirnya sungguh bernada sarkastik yang cukup menohok.


Hanaga menjadi jengah dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia kemudian tersenyum dan melipat tangannya di dada.


"Pekerjaanmu melelahkankah, adik ipar?" tanya Kisako lagi. Ia meletakkan tasnya di meja. Meja yang berada di sudut ruangan lengkap dengan sofa dan nakas kecil tempat Hanaga meletakkan beberapa buku dan notebook.


"Duduklah, kak Kisako," kata Hanaga kemudian. Ia berdiri dari kursi kerjanya dan menyilahkan tamunya duduk di sofa. Ia kemudian berbicara melalui saluran telepon kepada sekretarisnya untuk menyediakan dua gelas teh.


"Terima kasih," ucap Kisako sambil duduk dan menyilangkan kakinya. Membuat baju pendeknya sedikit tersingkap ke atas.


Hanaga memalingkan wajah dan pura-pura memeriksa ponselnya.


Kisako tersenyum, ia mengubah posisi duduknya kembali, kemudian mencondongkan dirinya lebih mendekat pada Hanaga.


"Tok-tok!"


"Ceklek!"


"Permisi." Mia masuk sambil membawa nampan bersama dua cangkir teh. Meletakkannya di meja, lalu pamit undur diri.

__ADS_1


"Silahkan diminum, kak Kisako," ujar Hanaga berusaha ramah.


Kisako tersenyum dan mengangguk tanpa menyentuh gelasnya.


"Bagaimana kakak tahu kantorku?" tanya Hanaga kemudian. Ia tak suka berbasa-basi dan segera menyampaikan apa yang ada di otaknya.


"Bagaimana aku bisa tak tahu? Kamu adalah calon adik iparku," jawab Kisako santai. Ia masih tersenyum misterius sambil memainkan kedua tungkainya. "Lagi pula kamu tak mengangkat teleponku tadi. Aku kebetulan lewat dan sengaja mampir untuk mengobrol," lanjutnya.


"Oh, maaf. Jadi tadi nomor kakak? Aku sedang sibuk jadi tak begitu memperhatikan gawaiku," jelas Hanaga. Ia terpaksa sedikit berbohong agar Kisako tidak merasa diremehkan.


"Tak apa, aku tahu calon adik iparku begitu sibuk hingga tak sempat mengangkat telepon. Well, apakah kamu ada janji malam ini?" tanya Kisako.


"Ehem, tidak. Hanya saja aku biasa menjemput Annete jam 5 dan kami akan makan malam bersama sebelum pulang," jelas Hanaga.


"Kekasih yang baik," tukas Kisako spontan. "Kalau begitu sekarang, bisakah kamu menemaniku? Aku ingin mengobrol sedikit sambil minum," pintanya kemudian.


"Well, sebentar," Hanaga melirik jam tangan lalu memeriksa ponselnya. "Baiklah, dibawah ada longue. Kita bisa ngobrol sambil minum-minum sebentar. Kebetulan aku sedang tidak ada rapat," lanjut Hanaga.


Kisako tersenyum dan setuju. "Calon adik iparku memang perfect man," ujarnya sambil mengikuti Hanaga.


Mereka nampak berjalan beriringan menuju lift dan turun ke lantai dasar.


Longue gedung tempat Hanaga bekerja cukup eksklusif. Ruangan ini memang disiapkan untuk para eksekutif muda melakukan pembicaraan bisnis dan jamuan kecil bagi tamu perusahaan.


Mereka memilih kursi yang dekat dengan jendela kaca. Lalu duduk berhadapan dengan tenang.


Tak lama kemudian, minuman mereka datang.


"Mr. Hanaga!" seseorang menyapa Hanaga dan menepuk punggungnya. Membuat Hanaga berpaling dan melihat siapa yang menyapanya.


"Oh, wartawan Jims. Hei apa kabar?" sapa Hanaga saat tahu siapa yang menyapanya.


Mereka kemudian terlibat obrolan ringan tentang bertanya kabar dan kegiatan. Lalu wartawan Jims undur diri dan meninggalkan mereka.


"Maafkan aku, kak Kisako. Teman lamaku," ucap Hanaga merasa tidak enak.


Kisako hanya tersenyum, lalu mengangkat gelasnya dan mengajak bersulang.


Hanaga mengangguk dan mengikuti Kisako. Mereka berdua menenggak habis minumannya dalam sekali teguk.


Kisako kemudian menuang minuman dari botol lagi dan mengajak Hanaga kembali bersulang.


Hanaga hanya mengangguk dan mengikuti apa yang dilakukan Kisako. Mereka terus minum hingga beberapa teguk dan kepalanya terasa berat.


"Mukamu merah, adik ipar. Mari kita sudahi saja dan aku akan pulang," ucap Kisako.


Hanaga mengangguk dan berusaha berdiri tegak tetapi entah mengapa kepalanya begitu pusing.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, adik Ipar?" tanya Kisako. Ia kemudian membantu Hanaga berdiri dan memapahnya. "Aku antar kamu ke ruanganmu," lanjut Kisako.


Hanya itu kalimat yang sempat didengar Hanaga. Ia merasa tubuhnya begitu lemah dan tak berdaya. Kesadarannya yang selanjutnya menjadi samar-samar, bergerak bagai kilatan cahaya yang berputar, silau dan tidak nyaman.


"Ugh!" keluh Hanaga ketika kesadarannya mulai pulih.


"Kau baik-baik saja, adik ipar?" Kisako yang muncul pertama ketika Hanaga membuka matanya.


"Egh, ya. Ini dimana?" tanya Hanaga sambil mengedarkan pandangannya.


"Mobilku, kamu mau aku antar ke apartemenmu?" tanya Kisako.


"Engh, aku harus menjemput Annete," ujar Hanaga. Ia nampak masih belum bisa menguasai dirinya dengan benar.


"Minumlah dulu," ujar Kisako. Ia menyerahkan sebotol air mineral pada Hanaga.


"Terima kasih, Kak Kisako," ucap Hanaga lalu meneguk minumannya hingga habis.


"Kita jemput saja Annete sekalian. Aku bisa menyetir dan memberi tumpangan pada kalian berdua," usul Kisako.


Hanaga mengangguk setuju. Ia memejamkan matanya sebentar untuk mengembalikan kesadarannya. Ia merasa tubuhnya tak seperti biasa. Setelah begitu lemas, kini ia merasa tubuhnya begitu panas dan gerah.


"Panas sekali, apakah AC mobilmu mati?" tanya Hanaga.


"Tidak, ini sudah aku nyalakan dengan temperatur paling rendah," jawab Kisako.


"Aku merasa gerah," jelas Hanaga sambil membuka dasi dan tiga kancing bajunya yang paling atas.


"Kau haus? Minumlah," kembali Kisako menyodorkan air minum pada Hanaga.


Hanaga meraih botol air mineral dari Kisako. Tanpa sengaja tangannya menyentuh jemari Kisako. Hanaga tersentak, jemari calon kakak iparnya itu seolah mengeluarkan gelombang kejut. Ia seperti terkena listrik statis.


Kisako terkejut karena Hanaga mengambil botol dengan meremas tangannya agak kencang. "Aahhh ... sakit!" ucapnya dengan nada suara mendesah.


Tubuh Hanaga kembali bereaksi. Ia merasa desahan Kisako begitu menggoda, membangunkan geliat nafsu laki-lakinya.


Kisako menggeliat, seolah menyibakkan rambutnya sambil membelai sebelah lengannya yang sedang memegang kemudi. Kisako kemudian menggerakkan tungkainya dengan eksotis sehingga mini dressnya tersingkap. Menunjukkan kulit pahanya yang seputih pualam.


Hanaga semakin tersiksa, ia melepas seluruh kemejanya. Meremas paha Kisako dengan penuh hasrat. Membuat Kisako menepikan mobilnya di pinggir jalan karena tak bisa menguasai kemudi.


"Adik ipar, kamu baik-baik saja?" Kisako mendekatkan tubuhnya pada Hanaga. Ia meletakkan tangannya ke dahi Hanaga dan memeriksanya.


"Sshhhh, aaahhhh!" desah Hanaga tak tahan. Ia merengkuh Kisako dalam dekapannya dan mulai menciumnya dengan bernafsu.



(Kisako)

__ADS_1


__ADS_2