Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
The Secret Messanger


__ADS_3

Annete melihat sebuah kotak misterius di depan rumahnya saat akan berangkat menuju salah satu toko kuenya pagi itu. Ia mengabaikan kotak itu begitu saja. Hingga sebuah pesan dari nomer yang tidak dikenal masuk ke gawainya.


"Tidakkah kau ingin membalas dendam? Buka kotaknya dan aku akan membantumu membalaskan dendam." Begitu isi pesan tersebut.


Annete mengedarkan pandangan pada lingkungan di sekelilingnya. Sepi! Ia tidak melihat sebuah gerak-gerik mencirigakan yang patut dijadikan perhatian.


"Siapa?" batin Annete bertanya-tanya. Ia kemudian memungut kotak itu dan menjalankan mobilnya.


Sambil menjalankan mobilnya kembali Annete menerka-nerka apa isi kotak itu. Ia kembali melirik kaca spion kalau-kalau ada yang mencurigakan. Nihil!


"Bip!" sebuah pesan kembali masuk ke gawainya.


Annete penasaran, ia meminggirkan mobilnya dan membuka pesan tersebut.


"Dengarkan rekaman itu! Lalu temui aku saat jam makan siang di kedai makanan di samping outlet kue Chiko."


"Hah? Siapa dia bisa tahu bahwa Annete memang akan ke toko kue yang dimanajeri oleh Chiko. Bagaimana orang ini bisa tahu? Apakah Chiko terlibat?" batin Annete bertanya-tanya.


Annete membuka kardus di sampingnya dan melihat sebuah recorder mini yang bisa langsung memutar hasil rekamannya. Ia mendengarkan dengan saksama. Terdengar seperti percakapan dua orang. Salah satunya Kisako. Annete mengulangi mendengarkan rekaman tersebut berulang-ulang sebelum melajukan mobilnya kembali.


Siapa? Siapa orang ini? Lalu, mengapa dia bergitu bernafsu untuk membantu Annete membalas sakit hatinya pada Kisako?


Annete tiba di toko kue yang dimaksud. Ia memarkir mobilnya, mengunci lalu masuk ke dalam toko dengan tenang. Ia kemudian menyapa beberapa karyawan dan langsung masuk ke ruangan Chiko.


"Pagi, Chiko! Apa kabar?" sapa Annete.


"Hai, Annete. Apa kabar? Sehat? Wah sepertinya lebih sehat dari beberapa hari yang lalu," jawab Chiko. Ia bangkit dari kursinya dan menyapa Annete.


Annete memperhatikan gelagat Chiko lebih teliti dari biasanya. Ia seolah mencari tahu, apakah Chiko terlibat dengan surat kaleng itu atau tidak.


"Kamu kenapa, Annete? Duduklah," Chiko merasa sedikit aneh pada Annete.


Annete menggeleng, ia lalu tersenyum ramah pada Chiko dan mereka bersiap untuk melakukan interview dengan beberapa calon pegawai baru.


Ada tiga calon pegawai baru. Dua perempuan dan seorang laki-laki. Mereka diminta datang ke toko dalam waktu yang tidak bersamaan. Jadi interfiew bisa dilakukan lebih privat.


Yang pertama datang adalah seorang wanita berusia 35 tahun. Ia adalah seorang single mom yang butuh pekerjaan. Annete melihat kesungguhan pada dirinya untuk mencari kerja. Kebutuhan mungkin.

__ADS_1


Yang kedua adalah seorang wanita, ia masih mahasiswi. Berniat bekerja untuk mendapatkan biaya kuliah dan hidup di perantauan. Annete melihat kemampuan komunikasinya yang bagus. Mungkin ia mahasiswi yang pandai.


Lalu yang terakhir adalah seorang laki-laki berusia 23 tahun. Ia sebenarnya sedang bekerja sebagai driver ojek online. Tetapi karena penghasilannya yang tidak menentu, ia ingin mencoba melamar.


"Jadi, bapak siap jika dipekerjakan shift malam? tanya Annete berusaha memastikan dan melihat kesungguhan calon karyawannya itu.


Laki-laki itu mengangguk. Ia kemudian bersungguh-sungguh meyakinkan Annete dan Chiko untuk menerimanya.


"Baik, terima kasih. Besok pagi akan kami hubungi andai bapak yang terpilih," putus Chiko. Ia sepertinya tidak begitu suka memiliki pegawai laki-laki.


"Baik, bu. Terima kasih banyak," ucap laki-laki itu. Ia kemudian bangkit dan bersiap untuk meninggalkan ruang wawancara. "Permisi, Bu. Tadi saya diminta seseorang di luar untuk memberikan ini ke ibu," ujar laki-laki itu sambil memberikan sebuah benda.


Annete menerimanya dengan tangan bergetar. "Bapak ... mengenal laki-laki yang memberikan ini ke bapak?" tanya Annete.


"Tidak, bu. Saya hanya berpapasan di depan. Ia bilang ibu akan tahu jika saya berikan benda itu ke ibu," jelas laki-laki itu.


Annete bergegas bangkit dan menyambar tasnya. Ia melirik jam tangannya gusar. Benar sudah pukul 14.20. Tandanya jam makan siang sudah hampir terlewatkan. Ia kemudian bergegas menuju tempat yang dimaksud seseorang misterius yang mengiriminya pesan.


Seorang pria berbaju serba hitam dengan topi dan kacamata hitam menghampirinya. Ia memberi tanda pada Annete untuk mengikutinya.


Annete mengikutinya dan mereka memilih duduk di pojok tempat makan itu. Sedikit tersembunyi dan tidak terlihat dari luar.


Annete membuka amplop itu dan melihat beberapa foto Kisako. Ada juga beberapa dokumen kerja sama dan kontrak.


"Dari mana anda mendapatkan semua ini?" tanya Annete penuh heran.


"Aku sudah menyelidikinya. Kakakmu terikat kontrak dengan sebuah brand produk wanita terkenal. Lihatlah nilai kontraknya, cukup fantastis bukan. Jika kau dapat membuat kontrak ini gagal, bukan hanya dendammu saja yang terbalaskan. Kau juga akan mendapatkan untung besar," jelasnya.


"Lalu, bagaimana caranya saya menggagalkan kontrak ini?" tanya Annete bingung.


"Curi desainnya, lalu jual pada perusahaan pesaingnya. Mereka pasti mau membeli desain dari Kisako. Kakakmu itu desainer produk assesoris wanita terkenal," jelasnya lagi.


"Bagaimana anda bisa tahu sejauh itu? Bahkan kami sekeluarga sampai kini tidak tahu apa pekerjaan Kisako. Lagi pula, bagaimana saya bisa percaya pada anda?" Annete masih ragu.


"Aku tak mau banyak bicara. Aku hanya mencari orang yang mau bekerja sama denganku. Andai kau tak mau, aku tak memaksa. Tapi jika kau mau bergabung denganku dalam permainan ini, aku akan sangat senang sekali!" tegasnya.


Annete menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya yang kering. Dalam hati ia masih sangat dendam dengan Kisako. Tetapi di sisi lain, cara balas dendam yang ditawarkan pria misterius di hadapannya itu terlalu berbahaya.

__ADS_1


"Pikirkan lagi, aku akan menemuimu dua hari lagi disini. Andai setuju, datanglah! Tetapi bila tidak cukup abaikan saja," ucap pria misterius itu sambil bangkit dan meninggalkan Annete dengan penuh kebimbangan.


Annete bangkit dari kursinya, berjalan gontai kembali ke toko kuenya dan menghempaskan pantatnya di salah satu kursi tempat duduk pelanggan.


"Ada apa, Annete? Ada yang salah?" tanya Chiko.


Annete menggeleng, ia hanya tersenyum pada Chiko sesaat, lalu memijit kedua sisi pelipisnya yang mulai berdenyut pusing.


"Kamu tidak enak badan?" tanya Chiko. "Mau aku ambilkan air putih dan obat?" tanya Chiko lagi. Diantara semua manager tokonya, Chiko memang yang paling perhatian.


"Aku pulang dulu ya, Chi. Sepertinya aku perlu beristirahat," pamit Annete. Ia melempar senyum pada Chiko dan tersenyum pada mbak Lala, pegawai senior yang sudah lama bekerja padanya.


Annete menjalankan mobilnya dengan perlahan dan pikiran yang tidak fokus.


"Lakukanlah, Annete! Selama ini kamu jarang sekali membalas Kisako. Dia berkali-kali membuatmu kesulitan dan satu pukulan tidak akan membuatnya hancur," sebuah suara jahat dikepalanya bergema.


"Dia kakakmu, Annete. Kamu tahu bagaimana kejiwaannya. Dia memang tidak akan pernah mau kalah darimu. Lagi pula, kini kamu sudah berbaikan dengan Hanaga bukan. Lupakan dan maafkanlah," suara yang lain mengingatkan.


"Argh!!!" teriak Annete uring-uringan sendiri dalam mobilnya.


Ia lalu memencet nomor gawai Kisako dan menggubunginya.


"Ada apa?" tanya Kisako dingin.


"Apakah kau pernah menyesali segala perbuatan burukmu padaku selama ini?" tanya Annete tajam.


"Kau mengigau?" desis Kisako dengan nada mencemooh.


"Sudahlah, jawab saja!" bentak Annete.


"Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah menyesali semua perbuatanku terhadapmu! Kau layak mendapatkannya!" hardik Kisako dengan nada suara melengking sarkastik.


"Baiklah!"


Annete menyudahi panggilan itu dan tersenyum sinis.


"Baiklah, kau yang memilihnya sendiri, Kisako! Kau yang memilihnya sediri!" desis Annete penuh dendam.

__ADS_1



__ADS_2