
Hanaga membanting telepon pintarnya dengan sangat kesal. Ia sungguh emosional saat itu. Mira yang sedang berada di ruangannya untuk merapikan dokumen sampai tertegun. Wanita itu tak pernah melihat atasannya semarah itu.
Lelaki yang sedang membanting tubuhnya di kursi tak jauh darinya itu malah lebih dikenal sebagai pribadi yang dingin, pendiam, kalem dan dewasa. Sebagai seorang dengan gaji sangat besarpun, lelaki itu cenderung tidak banyak gaya. Hanya satu wanita selama sekian tahun terakhir hidupnya.
"Mira, tolong panggilkan Edo ke ruangan saya," pintanya kemudian.
Mira mengangguk, ia kemudian bergegas ke kubikelnya untuk menghubungi seseorang. "Hallo, mas Edo. Diminta Mr. Hanaga ke ruangan," ujar Mira sambil menghubungi seseorang.
Mira lalu bergegas mengabarkan pada atasannya bahwa dalam beberapa menit, pria yang dimaksud akan segera menghadap. Setelahnya, Mira cukup tahu diri untuk keluar ruangan bosnya dan menyiapkan minuman serta makanan ringan.
"Ada apa, Mir?" tanya pria yang bernama Edo tersebut.
Mira hanya mengangkat bahu dan meminta Edo bergegas menemui atasannya itu.
"Pagi, Mr. Hanaga," sapa Edo sedikit tegang. Sebagai karyawan biasa, dipanggil salah satu direktur tempat ia bekerja adalam momen yang mendebarkan.
"Eh, Edo. Silahkan duduk. Ada yang perlu saya sampaikan pada kamu. Ehem masalah pribadi sih sebetulnya. Oh iya, apakah kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Hanaga to the point.
"Laporan saya sudah selesai , Sir. Hanya menyiapkan sistem IT untuk anak cabang di luar kota. Deadlinenya masih minggu depan sih, jadi saya masih longgar," jawab Edo hati-hati. Meski pria di hadapannya itu bukan tipe atasan yang pemarah, tetapi ia merasa tetap harus berhati-hati dalam tiap ucapannya.
"Oh, baiklah. Berarti saya bisa minta tolong secara pribadi bukan? Ehem akan saya bayar kamu di luar gaji tentunya," jelas Hanaga.
Mata Edo berbinar. Meski gajinya sebagai tim IT di perusahaan lebih dari cukup. Tetapi setiap pemasukan tambahan tak boleh di tolak.
"Apa yang bisa saya bantu untuk, Mr. Hanaga?" tanya Edo.
"Begini, ini ada satu akun yang saya ingin kamu take down. Report dan hilangkan akunnya jika perlu," jawab Hanaga.
Mata Edo membulat sempurna. Ia nampak sedikit bingung dan ragu. Sepertinya, atasannya itu sedang memintanya untuk melakukan suatu tindakan ilegal.
"Ehem, maksudnya bagaimana, Sir?" Edo berusaha menggali informasi lebih dalam.
"Begini, ini ada satu akun milik seseorang yang sedang membuat ulah terhadap usaha calon istri saya. Akunnya berfollower satu juta dan ia membuat sebuah review buruk yang menjadikan usaha milik calon istri saya diserang banyak akun haters," jelas Hanaga.
Edo mengangguk-angguk mulai paham dengan maksud atasannya.
"Coba kamu lihat ini," ujar Hanaga sambil menunjukkan sesuatu dari telepon pintarnya.
"Hah? Akun Miss K? Bukannya dia desainer terkenal yang misterius?" batin Edo bingung. Dalam sepersekian detik Edo menjadi merasa sial telah dipanggil sang atasan.
"Dia membuat review negatif tentang toko kue calon istri saya. Makanya saya ingin kamu menghilangkan postingannya tentang review itu. Kalau bisa sih kamu bikin supaya akun sosial media dia kena banned begitu. Saya ingin memberinya pelajaran," jelas Hanaga. Ia tahu pasti muncul banyak pertanyaan di kepala Edo terkait hal ini. Tapi baginya, memberi pelajaran pada Kisako jauh lebih penting. Hanaga cukup paham bahwa untuk menghadapi Kisako, ia tak perlu berpikir terlalu idealis dan iba.
"Oh ... begitu. Baiklah, Sir. Akan saya usahakan," jawab Edo. Ia paham meski tindakannya mungkin merugikan orang lain, tetapi ia memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya.
"Oh iya, ini untukmu!" ucap Hanaga sambil menyerahkan amplop pada Edo.
__ADS_1
Edo tersenyum dan berkata, "Terima kasih, Mr. Hanaga."
Setelah Edo keluar ruangan, Hanaga kemudian menelepon Annete.
"Babe, are you okay?" tanyanya pada Annete.
"Semua sedang diatasi, babe. Mungkin kami akan tutup untuk beberapa hari," jawab Annete.
"Baiklah, malam ini apakah kamu ingin aku melakukan sesuatu?" tanya Hanaga. Ia begitu iba pada kekasihnya itu.
"Ng ... tak usahlah, aku kemungkinan akan di toko hingga larut malam," jawab Annete.
"Baiklah, aku akan menjemputmu disana lalu kita makan malam. Kabari aku jika kamu sudah selesai," ucap Hanaga.
"Baiklah, babe. I'll call you latter," balas Annete.
Hanaga menutup telepon dan ia tahu semua tidak baik-baik saja. Ia lalu menghubungi beberapa manager toko kue milik Annete.
"Semuanya kacau, Hanaga. Penjualan semakin turun dan tak banyak yang datang," jelas Rin melalui sebuah pesan singkat. "Annete mengunjungiku beberapa saat lalu dan ia memerintahkan toko untuk tidak berproduksi. Annete membagikan sisa kue pada pelanggan tetap kami dan beberapa pegawai untuk dibawa pulang," lanjut Rin.
"Baiklah, Rin. Lakukan sesuai perintah Annete," balas Hanaga.
Berbeda dengan Rin, Michelle nampak lebih optimis. Toko kue yang menjadi tanggung jawabnya berlokasi di pusat perkantoran sehingga nilai penjualannya selalu ramai.
"Toko kami hampir tidak terdampak, Hanaga. Meski penjualan agak berkurang tetapi beberapa pelanggan yang kami berikan voucer promo banyak yang menukarkannya. Penjualan kami tutup dengan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Hanya saja beberapa pelanggan mengingatkan kami untuk tetap menjaga kualitas di setiap toko retail kami," jelas Michelle dalam sebuah voice note.
Hanya Chiko yang belum menjawab pesan Hanaga. Ini membuat Hanaga agak khawatir. Toko kue yang dikepalai Chika memang selalu kekurangan pegawai meski penjualannya cukup bagus.
"Chiko! Respon please!" Hanaga kembali mengirim pesan.
Tetapi setelah beberapa menit ditunggu, Chiko tak juga merespon.
Perasaan Hanaga berkecamuk dan tak bisa tenang. Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dengan buru-buru, Hanaga bergegas memacu mobilnya ke toko kue Annete yang satu itu.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, Hanaga tiba. Ia langsung disuguhi pemandangan yang kurang mengenakkan.
Sekelompok orang nampak sedang berdiri di depan toko dengan wajah tidak bersahabat. Mereka seperti sedang menuntut sesuatu.
Hanaga bergegas turun dan berusaha membelah kerumunan manusia tersebut untuk masuk ke dalam toko.
Sial, pintu toko terkunci!
"Ada apa ini?" tanya Hanaga pada orang-orang yang berkerumun.
"Kami ingin menuntut ganti rugi pada toko ini. Mereka menjual kue dengan kualitas buruk!" salah seorang yang berkerumun menjawabnya.
__ADS_1
"Memangnya kalian semua membeli kue disini?" tanya Hanaga.
"Tidak! Kami adalah Miss K fansbase dan kami menuntut toko ini untuk membayar ganti rugi pada idola kami!" seseorang yang lain menjawab dengan penuh emosi.
Ya ampun!!! Ingin rasanya Hanaga menghadiahi mereka masing-masing dengan sebuah pukulan uppercut. Sepenting itukah idola mereka itu sehingga orang-orang gila ini sampai harus menyengsarakan orang lain? Padahal andai mereka tahu bagaimana sifat asli idolanya, mereka tak akan pernah membelanya hingga sebegitu hebatnya.
Hanaga memandang wajah-wajah orang yang berkerumun itu. Segerombolan anak muda yang kurang kerjaan sepertinya. Mungkin mereka adalah anggota perkumpulan pemuja idola yang berlebihan.
"Apakah tindakan kalian sudah mempunyai ijin?" tanya Hanaga.
Sekumpulan orang bodoh itu nampak saling pandang. Salah satu dari mereka nampak sedang berdebat dengan berbisik-bisik pada yang lain.
"Ehmmm ..., Mr! Kami tidak perlu ijin untuk melakukan tuntutan!" jawab salah satunya sok pintar.
"Kalian bekerja? Atau sekolah? Mahasiswa?" tanya Hanaga lagi.
"Kami pelajar highschool," jawab yang lain lantang.
"Ya, Tuhan!!!! Apa yang terjadi dengan remaja highschool masa kini? Mengapa mereka begitu bodoh dan mudah terprovokasi," batin Hanaga miris.
"Mr. sendiri siapa? Apakah anda pemilik toko ini? Oh ... kalau begitu kebetulan. Kami akan menuntut ganti rugi pada anda!" seseorang yang terlihat paling tua diantara mereka angkat bicara. Sepertinya dia adalah pemimpinnya.
"Oh, tidak! Tentu saja bukan! Jika aku pemiliknya, maka aku tak akan terkunci bersama kalian!" jawab Hanaga menahan kesal. "Kau pemimpin mereka?" tanya Hanaga langsung padanya.
"Ehem, bukan! Aku hanya kakak mereka semua. Aku penggerak aku fansbase ini," jawabnya sedikit sombong.
"Kau tahu, melakukan unjuk rasa tanpa izin itu sungguh berbahaya. Polisi bisa datang sewaktu-waktu dan menangkap kalian. Bagaimana bila pemilik toko ini melaporkan kalian?" ucap Hanaga sengaja menakut-nakuti.
"Mr. anda jangan menakut-nakuti kami! Kami tidak takut! Lagpula anda sendiri dan kami beramai-ramai!" salah satu dari mereka kembali terlihat begitu berani dan merasa sok benar.
"Well aku tidak menakut-nakuti kalian. Tapi saat perjalanan ke sini tadi aku melihat mobil patroli polisi sedang berkeliling area sini. Entahlah, mungkin mereka sudah menerima laporan dan sedang mencari dimana lokasi kerumunan massa tak berijin yang dilaporkan pemiliknya tersebut!" ucap Hanaga dengan nada seram. Ia kembali menakut-nakuti sekumpulan orang dungu itu.
Beruntungnya ketika Hanaga menyelesaikan untaian kalimatnya, terdengar dari kejauhan sirine mobil patroli polisi yang meraung-raung.
"Kakak! Orang ini sepertinya benar! Ada polisi!" salah satu dari mereka mulai ketakutan.
Tak berapa lama yang lainpun ikut membeo ketakutan. Mereka benar-benar panik sepertinya.
"Sudah-sudah! Mari kita bubarkan diri saja dulu. Besok kita bisa kembali berkumpul disini dan membuat demo," ujar sang kakak.
Hanaga hampir tertawa, tetapi ditahannya dalam hati.
"Ingat, anda bisa membubarkan kami sekarang. Tetapi serangan di dunia maya, tak akan pernah bisa anda hentikan!" sang kakak nampak dengan berani memberikan ancaman.
Hanaga masih mematung di sana dan melihat mereka yang perlahan menjauh lalu bubar.
__ADS_1
"Edo! Hancurkan semua akun fansbase Miss K. Buat mereka semua menghilang di sosial media!" ucapnya pada sebuah panggilan telepon pada anak buahnya tersebut.