Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Treasure Hunt


__ADS_3

Degup jantung Annete terdengar bagai gendang yang bertalu-talu. Hatinya mencelos tak karuan. Sungguh Annete tidak ingin melakukannya, tetapi ia harus melakukannya demi menjalankan rencana balas dendamnya.


"Masuklah mengendap-endap ke apartemen Kisako dan periksalah. Temukan banyak hal berharga untuk mendukung rencana balas dendammu."


Begitu isi pesan dari sang pria misterius, rekan kerja Annete dalam misi balas dendamnya.


Annete benar- benar tak mengerti kenapa pria itu begitu paham situasi. Kapan Kisako secara berkala meninggalkan apartemennya sehingga Annete punya banyak waktu untuk memeriksa.


"Pastikan kau memeriksa dan mengembalikan semua benda pada tempatnya dengan urutan yang tepat. Ingat, wanita itu begitu detil dan teliti. Sedikit saja benda-benda miliknya bergeser, ia akan tahu!"


Annete menapaki lantai 7 apartemen Kisako dengan hati berdegup kencang. Ia keluar dari lift dan berjalan perlahan menggunakan sepatu ketsnya. Ia tak ingin menimbulkan suara berdecit, hasil gesekan dari karet sol sepatunya dengan lantai porselen.


"Fiuh! Baiklah ... berusahalah, Annete!" ucapnya pada dirinya sendiri.


Annete telah berada di depan pintu apartemen Kisako. Ia memasang sarung tangan lateksnya dan mulai memencet beberapa kombinasi password keamanan di pintu masuk.


"Access denied! Access denied! Access denied!"


Beberapa kali Annete mencoba membuka pintu dengan kombinas kode keamanan yang mungkin dipakai Kisako, tetapi gagal. Tanggal ulang tahunnya, tahun kelahirannya sampai tanggal dan tahun lahir kedua orang tuanya sudah dicoba oleh Annete.


"Ingatlah, tanggal paling penting dalam hidup kalian!"


Begitu pesan sang pria misterius. Ia terus memandu Annete lewat pesan pada telepon pintar Annete.


"Shhh! Berapa kode rahasianya!" keluh Annete kesal. Ia bahkan sudah memakai tanggal lahirnya hingga tanggal lahir semua anggota keluarganya.


"Hal terpenting dalam hidup kalian!" kembali pesan itu terlintas di kepala Annete.


"Ahhh! Mungkinkah ...."


Annete mencoba memasukkan beberapa kombinasi angka yang diingatnya berhubungan dengan suatu kejadian penting dalam hidupnya dan Kisako.


"*Pipp! Pipp! Pipp! Pipp! Pipp! Pipp!"


"Access received!"

__ADS_1


"Tiittt! Klik!" pintu terbuka.


Annete masuk dengan terkesima. "Wow, jadi dia masih mengingat tanggal itu," batinnya takjub.


Annete melangkah masuk dan memeriksa apakah kakaknya itu memasang CCTV di dalam ruangannya.


"Ehm, baiklah ... mari kita lakukan," bisik Annete. Ia mulai memeriksa setiap ruangan.


Dimulai dari ruang tamu yang langsung terhubung dengan ruang makan dan kitchen set dapur. Annete memeriksa setiap lemari dan laci dengan teliti. Ia berusaha mengembalikan semuanya seperti sedia kala setelah memeriksa.


Ada beberapa fotonya dan Hanaga di sebuah laci. Lengkap dengan sebuah rekaman dan micro SD tersimpan jadi satu.


"Ohhh, jadi Kisako memata-mataiku dan Hanaga selama ini?" pekik Annete kesal. Ia tak menyangka kegilaan Kisako sampai pada tahap itu.


Annete kemudian memasuki kamar Kisako. Memeriksa apakah yang Kisako sembunyikan di dalam kamarnya.


Kamar Kisako sangat rapih. Seperti kamarnya di rumah, ruangan ini pun didominasi warna-warna suram seperti hitam, abu, creme dan putih. Sungguh Kisako benar-benar pribadi yang tak begitu suka menggunakan banyak warna.


"Apa ini? Apa maksudnya dengan semua ini?" tanya Annete kesal saat melihat beberapa lembar kertas yang tergeletak di nakas dekat tempat tidur Kisako.


Beberapa foto menunjukkan outlet toko kue milik Annete. Selanjutnya ada beberapa dokumen tentang cashflow dan catatan beberapa karyawannya.


Ketika memeriksa nakas, Annete melihat sebuah lemari kecil yang agak terbuka. Annetepun tergoda untuk membukanya dan ....


"Oh my God! She is totaly insane!" pekik Annete terkejut.


Beberapa benda terserak dari lemari kecil yang terbuka. Ada kamera kecil untuk merekam, beberapa micro sd, lalu ... sebuah kantong plastik bermerk sebuah toko obat. Di dalamnya ada dua jenis obat. Yang satu berbentuk tablet kecil berwarna putih dan yang satu berupa botol kecil dengan pipet serta beberapa jarum suntik.


"Apa-apaan wanita ini? Mengapa benda-benda semacam itu bahkan ada di apartemennya?" gumam Annete tak percaya. Ia masih belum tahu obat-obatan apa itu, tetapi firasatnya mengatakan itu bukan merupakan pertanda baik.


Annete mengambil kantong yang sudah ia siapkan dalam saku jaketnya. Mengambil beberapa butir pil dan sampel tetesan obat. Membawa salah satu micro sd, lalu menyimpan semuanya di saku jaketnya.


"Waktumu sisa 20 menit lagi. Rapat akan berakhir dan kakakmu biasanya akan pulang ke apartemennya untuk sekedar melepas lelah."


Begitu partner misteriusnya menyampaikan pesan.

__ADS_1


Annete bergegas melanjutkan pencarian ia memeriksa kembali dengan saksama beberapa bagian rumah Kisako. Terkejut melihat berapa detil kakaknya memata-matainya selama ini dan .... Tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan kontrak pekerjaan kakaknya di apartemen itu.


"Aku tak menemukan apapun! Tidak satupun yang berhubungan dengan kontrak kerja itu," jelas Annete lewat pesan pada partnernya.


"Aku tahu, selesaikan urusanmu dan pergilah. Aku yakin kau sudah mendapat banyak hal disana."


Argh!!! Lagi-lagi lelaki itu meminta Annete melakukan tindakan yang bahkan Annete sendiri tidak paham untuk apa. Seperti ketika meminta Annete memasuki apartemen Kisako untuk mencari sesuatu. Annete pikir itu adalah hal-hal yang terkait kontrak. Tetapi ... bahkan tak satupun hal yang berhubungan dengan kontrak atau rencana balas dendam mereka ia temukan.


Annete membereskan semuanya dan merapikan beberapa barang. Ia kemudian menghapus beberapa jejak yang mungkin tertinggal dan mulai bergegas pergi.


Sayangnya ketika hendak membuka pintu depan untuk keluar ....


"Hallo, iya. Aku sudah sampai di apartemenku. Aku akan beristirahat sejenak sebelum sesi wawancara dengan majalahmu. Oke, baiklah. Satu jam lagi ya, no telat. Aku tak mentolelir keterlambatan dalam bentuk apapun!"


Terdengar suara Kisako yang sedang mengobrol di telepon dengan seseorang.


Annete membelalakkan matanya terkejut. Bagaimana ia bisa keluar dari apartemen Kisako jika sang pemilik sudah ada di depan pintu?


"Shit! Sembunyi!" pekik Annete panik. Ia segera. mencari sebuah tempat aman untuk bersembunyi.


"*Pipp! Pipp! Pipp! Pipp! Pipp! Pipp!"


"Access received!"


Pintu terbuka dan Kisako memasuki ruangan apartemennya. Ia langsung melemparkan tas dan beberapa berkas di meja dan menghempaskan dirinya di sofa panjang ruang tamunya.


"Such a very long day," keluhnya sambil menghembuskan nafas.


Detik demi detik selanjutnya adalah siksaan bagi Annete. Ia memilih bersembunyi di balik gorden dan itu membuatnya tak nyaman. Kaca jendela yang tertutup gorden adalah yang tersorot langsung sinar matahari. Punggung Annete terasa terbakar. Terusan jumpsuit warna hitam dan jaketnya pun membuat siksaan ini semakin berat.


"Aku harus segera pergi dari sini!" keluh Annete kepanasan. Ia lalu berusaha membuka jendela dan melompat keluar menuju balkon.


"Well, next apa lagi?" batin Annete.


Haruskah ia melompat ke gedung apartemen sebelah agar aman? Lalu, bagaimana ia bisa keluar dari sini?

__ADS_1


"Aku terjebak! Tolong aku!"


Pada akhirnya Annete meminta tolong sang partner misterius untuk membantunya.


__ADS_2