Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Say Something


__ADS_3

Berita kejadian yang menimpa Kisako sampai di telinga Annete senja itu. Mrs. Rodrigues sengaja mengunjunginya di salah satu toko kue miliknya. Sang bunda mengajak Annete mengobrol sambil menikmati secangkir teh.


"Our new product, mama," ucap Annete sambil menghidangkan cemilan pendamping teh.


"Terima kasih, Annete. Kau tampak sudah baik-baik saja," jawab Mrs. Rodrigues sambil mengulas senyum tipis.


"Well, apa yang membawa mama kemari? Tidak biasanya mama mengunjungi tokoku," tanya Annete penasaran.


"Jangan datang ke rumah untuk beberapa minggu kedepan," ucap Mrs. Rodrigues dengan wajah mendadak mendung.


"Ada apa?" tanya Annete. Perasaannya sudah bisa menduga, ada yang tidak sedang baik-baik saja.


"Kakakmu sedang sangat terluka. Kehadiranmu hanya akan membuatnya menjadi semakin buruk," jelas Mrs. Rodrigues.


"Seberat itukah masalahnya?" tanya Annete. Wanita itu turut merasa bersalah.


"Kemarin Kisako pulang dengan kondisi berantakan. Entah ia baru saja mabuk dimana dan bersama siapa. Kau tahu kakakmu itu tidak pernah berbuat begitu," jelas Mrs. Rodrigues.


"Ya ... Kisako selalu mabuk sendirian dan pulang dalam kondisi baik-baik saja. Ia selalu bisa mengendalikan dirinya, seberat apapun masalah yang dihadapinya," timpal Annete. "Biasanya, Kisako akan melampiaskan rasa stressnya padaku. Aku sedang bersiap-siap, apa lagi kemalangan yang akan diberlakukannya padaku," lanjut Annete sinis.


"Hm ... berhentilah saling membenci. Kakakmu tidak sedang dalam kondisi yang baik, Annete," ucap Mrs. Rodrigues.


Annete merenung dan terdiam.


"Aku tahu, selama ini kakakmu selalu melampiaskan kekesalannya dengan menjahatimu. Tetapi, tidak seharusnya kau membalasnya seperti ini," ucap Mrs. Rodrigues.


"Maksud, mama?" tanya Annete.


"Kau menyebabkan kakakmu berada dalam masalah besar Annete. Sadarilah, ia harus berhadapan dengan kasus hukum berat dan harus membayar dengan nominal yang tak sedikit," jelas Mrs. Rodrigues.


Seketika itu Annete merasa bersalah. Ia tahu, kerjasamanya dengan partner misteriusnya itu berjalan luar biasa buruk. Ia bahkan tak tahu Kisako akan terluka begitu parah.


"Sejak kejadian di Lainiki Beach, hubungan kami tidak lagi seakrab kala itu," desis Annete.


"Lainiki beach? Hawai? Itu sudah lama sekali Annete," ucap Mrs. Rodrigues.


"Yaa, kejadian yang hampir merenggut nyawaku. Aku pikir aku telah hampir lupa kisah itu, ma. Sampai aku membongkar laptop Kisako saat itu," jelas Annete.


"Maksudmu?" tanya Mrs. Rodrigues tak mengerti.


"Sepertinya, Kisako masih selalu menyimpan kenangan itu. Apa yang terjadi sebetulnya saat aku ditemukan pingsan dan hampir mati kala itu, ma?" Annete balik bertanya pada Mrs. Rodrigues.


Mrs. Rodrigues membisu, termenung untuk beberapa saat. Lalu menyeruput teh di cangkirnya dalam-dalam.


"Sepertinya, aku melukai hatinya saat itu," ucap Mrs. Rodrigues lirih.

__ADS_1


Annete membisu, diam tak bergeming dan tak hendak membahas lagi masalah ini dengan ibunya. Bayangan apa yang dialaminya ketika liburan ke pantai bersama Hanaga kembali berputar di kepalanya.


"Apakah, mama menyalahkannya ketika aku hampir mati waktu itu?" tanya Annete dengan penuh kehati-hatian.


Mrs. Rodrigues tidak menjawab. Ia meremas jemarinya dengan raut wajah merasa bersalah.


"Ma," panggil Annete kembali. Ia menggenggam tangan Mrs. Rodrigues penuh simpati.


"Ya ... mungkin, aku juga ikut bersalah mengapa Kisako selama ini terus membullymu," ucap Mrs. Rodrigues dengan nada bergetar.


"Aku yang seharusnya mama persalahkan atas kejadian itu," kata Annete dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali menerawang kejadian di Lainiki Beach kala itu. "Aku yang memaksa Kisako menuruti kemauanku, ma," lanjut Annete.


Mrs. Rodrigues tampak semakin merasa bersalah.


"Kita harus meminta maaf pada Kisako, ma," bisik Annete sambil memeluk Mrs. Rodrigues.


***


Kisako tak menyentuh apapun makanan yang dihidangkan untuknya. Meski para maid menyajikan berbagai makanan kesukaannya, Kisako tetap tak bergeming. Ia hanya berbaring di ranjangnya, menghadap tembok dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sudah tiga hari, nona seperti ini," ujar salah satu maid muda yang baru bekerja setahun belakangan.


"Aku akan bicara pada tuan dan nyonya," ujar maid yang lebih senior.


"Aku sudah mendengar semuanya. Biarkan saja, esok jika dia masih seperti itu. Aku akan memanggil Mr. Barron," ucap Mrs. Rodrigues di ambang pintu dapur yang berdekatan dengan ruangan para maid.


Ternyata Mr. Rodrigues telah memanggil Mr. Barron, dokter keluarga mereka.


"Sayang, kapan kau memanggil dokter Barron?" Mrs. Rodrigues muncul dari dapur dan menyapa Mr. Barron.


"Ehem, hallo. Nyonya, anda sehat?" sapa Mr. Barron.


"Hallo, dok. Ya, aku baik dan sehat. Bagaimana kabarmu?" balas Mrs. Rodrigues.


"Baik sekali, nyonya. Sepertinya anda dan Mr. Rodrigues dalam kondisi kesehatan yang baik," ucap Mr. Barron.


"Cukup basa-basinya. Temuliah Kisako, dok. Dia nampaknya sungguh membutuhkan dirimu," potong Mr. Rodrigues. Ia bergegas menggandeng Mr. Barron ke lantai dua rumahnya. Menuju kamar Kisako.


"Sudah lama aku tak menemuinya, apakah ada yang berubah?" tanya Mr. Barron sebelum membuka pintu kamar Kisako.


"Masuklah, dia butuh bantuanmu," jawab Mr. Rodrigues penuh kekhawatiran.


"Baiklah, akan saya coba," ucap Mr. Barron sebelum mengetuk pintu kamar Kisako dan menyampaikan salam.


"Masuk saja, sudah sejak beberapa hari yang lalu dia tidak merespon. Persis seperti waktu itu," jelas Mr. Rodrigues cemas.

__ADS_1


"Apakah ada guncangan yang terlalu berat yang harus dialaminya?" tanya Mr. Barron.


"Entahlah, ia bahkan tidak berkata apapun ada kami. Hanya pulang dalam kondisi sangat kacau, lalu mengurung diri di kamar," jelas Mr. Rodrigues.


"Ki, aku dokter Barron. Aku akan masuk dan meriksamu," ucap Mr. Barron. Ia lalu membuka pintu kamar Kisako.


"Klik!"


Pintu di tutup dan Mr. Rodrigues masih mematung beberapa saat disana. Ia seolah ingin masuk dan mendampingi Kisako. Tetapi ... sepertinya itu bukan pilihan sikap yang tepat.


Sementara di dalam kamar Kisako ....


"Hallo, Ki. Kau masih mengingatku?" sapa Mr. Barron.


Kisako menatap kosong dari atas tempat tidurnya dan tak bereaksi.


"Ki, ada apa?" tanya Mr. Barron lagi. Ia mendekat dan mengusap kepala Kisako yang terkulai di atas bantal.


Lagi-lagi Kisako tak berkata-kata. Ia masih dalam posisi yang sama. Diam tak bergeming.


"Kisako," panggil Mr. Barron sambil berbisik di telinga Kisako.


Masih tak ada respon. Bahkan ketika Mr. Barron berusaha mengubah posisi tubuh Kisako dari tertidur menjadi duduk, Kisako masih tak bergeming.


"Say something my baby boo. Kisako ... please, respon me!" ucap Mr. Barron lagi.


Kali ini ia nampak melakukan beberapa teknik untuk mengembalikan kesadaran Kisako.


"Say something ... baby ... boo."


Masih menyangga tubuh Kisako yang di dudukkan, Mr. Barron lalu menggunakan jarum akupuntur kecil pada beberapa bagian tubuh Kisako.


"Engeh!" sebuah suara keluar dari mulut Kisako.


"Ki ...!"


"Dok! Dokter Barron!" pekik Kisako seperti bocah kecil yang berjumpa ayahnya.


Mr. Barron tersenyum dan memeluknya.


"Kau menghilang lagi, kali ini cukup lama," ucap Mr. Barron.


"Aku ... ingin menjadi gila saja, dok!" ucap Kisako. Ia kembali dingin dan melepaskan pelukan Mr. Barron. Ia menarik diri dan duduk di sudut tempat tidurnya.


"Tidak! Kau tak boleh membuatnya hadir kembali!" pekik Mr. Barron sambil menarik tubuh Kisako. Ia kembali mendudukkannya dan menahan agar kesadaran Kisako tetap pulih.

__ADS_1


"Mengapa?"


"Jika ia hadir, ia akan hadirkan kekacauan yang sangat dahsyat!" seru Mr. Barron dengan air muka penuh ketakutan.


__ADS_2