
Annete sudah 14 hari mengurung diri di dalam rumahnya. Ia hanya meminum susu dan memakan sereal untuk bertahan hidup, itupun tak banyak. Ia menolak semua kunjungan dan panggilan masuk dari beberapa rekan serta keluarganya.
Annete sungguh terpukul dengan semua mimpi buruk yang harus dijalaninya. Ia harus menyembuhkan hatinya yang terluka. Memberi klarifikasi bahwa pernikahannya dibatalkan pada semua undangan dan kolega. Serta menanggung kerugian besar karena biaya yang harus dibayarkan kepada wedding organizer.
Beberapa kali Hanaga menghubunginya, mengunjungi rumahnya dan mengetuk-ngetuk pintu cukup lama. Tak sekalipun Annete membukakan pintu. Ia terlanjur sakit hati dan kecewa.
Annete kesal, betapa laki-laki itu terlalu bodoh dan naif hingga bisa berkali-kali dipermainkan oleh Kisako. Ia tahu Hanaga hanya korban dari kegilaan permainan Kisako dalam menghancurkan hidupnya. Tetapi kebodohan Hanaga tak juga dapat dengan mudah dimaafkannya.
Bagaimanapun, Annete juga wanita yang punya perasaan. Annete terluka dengan luka yang begitu dalam. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan mengendalikan emosinya.
"Ssshhhhh!" Annete menarik nafas lalu menghembuskannya dengan berat. Ia menyesap minuman hangatnya beberapa kali. Lalu bergegas mandi dan membersihkan diri.
"Aku harus bangkit! Harus mampu mengangkat wajah dan menghadapi dunia," batinnya.
Annete merapikan rambutnya, berpakaian rapih dan memulaskan make up ringan di wajahnya. Ia bersiap untuk mendatangi beberapa francise toko kuenya dan mulai bekerja.
"Bip!" Annete menyalakan telepon pintarnya.
"Ring-ring-ring-ring-ring!"
Suara pesan masuk bersahut-sahutan tak terjeda. Wajar, Annete sudah mematikan gawainya selama 14 hari. Ia benar-benar ingin menenangkan diri dan terbebas dari tanggung jawab apapun.
3427 pesan chat.
"Wow! sebanyak ini?" batin Annete tak percaya. Ya, seumur hidup Annete memang tak pernah mematikan gawainya selama itu.
Ada perasaan sedikit lucu yang menyenangkan ketika menyadari ia mendapat pesan sebanyak itu. Perlahan Annete membuka satu-satu. Membalas beberapa pesan penting dan mengabaikan sisanya. Ia tak ingin membalas pesan-pesan yang membahas pembatalan pernikahannya dengan Hanaga.
"Biarlah orang berpikir sesuai apa yang mereka inginkan," batin Annete.
"Ring-ring!"
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat familiar baginya. Hanaga!
Ada terselip rasa ngilu di hati Annete melihatnya. Tetapi ia cukup mampu menahan diri untuk mengabaikannya. Annete memblokir nomor Hanaga.
Annete kemudian bersiap berangkat. Mengunci rumahnya dan menyalakan mobilnya. Menyetir untuk mengunjungi satu retail toko kuenya.
"Tenang Annete! Yakin kamu bisa melewatinya," ujar Annete mengucap mantra penguat diri.
Bersyukur jalanan tidak begitu padat sehingga perjalanan Annete cukup lancar. Ia tiba di toko pertama dalam 30 menit. Menyapa beberapa pegawai toko dan berjalan santai menuju ruang kepala toko. Ia memang mendengar beberapa orang pegawai berbisik-bisik di belakangnya. Tetapi ia berusaha untuk tidak perduli.
"Hai, Michelle! Bisa aku melihat pembukuan selama 14 hari belakangan?" Annete menyapa salah satu kepala toko kuenya.
Michelle nampak canggung dan kaget. Lalu kemudian dapat menguasai diri dan mengangguk mengerti. Ia cukup paham untuk tidak membahas soal pernikahan Annete. Mereka kemudian dapat berinteraksi dengan normal.
"Terima kasih, Michelle. Aku minta laporannya sore ini ya. Semua laporan dalam satu file dan di email kepadaku," pinta Annete setelah beberapa jam memeriksa dan mengobrol.
__ADS_1
"Baik, Annete. Aku akan siapkan segera. Kamu buru-buru?" tanya Michelle.
"Ya, aku harus segera ke lokasi selanjutnya. Aku sudah mengabari semua kepala toko untuk bersiap-siap," jelas Annete.
"Baiklah, Annete. Hati-hati di jalan," nasihat Michelle penuh perhatian. Sebagai teman di masa sekolah Annete, Michelle cukup paham situasi yang harus dihadapi Annete. Meski tidak terlalu dekat, Michelle tahu diri untuk tidak banyak bicara.
"Bye, Michelle," pamit Annete. Ia kemudian meninggalkan toko pertama dan melanjutkan perjalanan ke toko kedua.
Di toko kedua Annete kembali berusaha bersikap wajar. Ia masuk dengan tenang dan menyapa beberapa pegawai dengan ramah.
"Hai, Rin! Aku datang," sapanya raman pada Rin, sang kepala toko kedua.
"Annete, ya ampun! Aku rindu sekali. Lama kamu mengisolasi diri," ujar Rin. Rin menyapa Annete ramah.
"Terima kasih perhatiannya, Rin. Oh iya, sudah kamu siapkan semua pembukuannya?" tanya Annete kemudian.
"Tentu saja, yuk masuk. Kita bahas di ruanganku," ajak Rin.
Annete mengangguk setuju dan mengikuti Rin ke ruangannya. Ia memeriksa berbagai pembukuan dan mengecek beberapa hal.
"Baiklah, Rin. Aku butuh laporan penjualan dan pembelian bahannya sore ini. Siapkan dalam satu laporan dan satu file. Oh iya, untuk kerugianmu yang cukup besar beberapa minggu lalu, aku juga minta laporannya. Siapkan dalam satu file tersendiri ya," pinta Annete.
Rin mengangguk meski wajahnya sedikit murung. Keadaan toko kedua memang tidak sebaik toko pertama. Rin sebagai kepala toko agak tidak enak pada Annete.
"Tak apa, Rin. Kita cari jalan keluar dari masalah tokomu sama-sama," kata Annete berusaha membuat Rin kembali bersemangat. "Aku pamit dulu ya," lanjutnya kemudian.
Rin mengangguk dan melambaikan tangan saat mobil Annete melaju pergi.
"Ring-ring!"
"Hai, Annete. Apa kabar?" kali ini Chiko, kepala tokonya sudah menyambut di meja kasir.
"Hai, Chiko. Tidak ada pegawai kasir lagi?" tanya Annete.
"Ya, Annete. Lagi-lagi mereka berhenti karena tidak sanggup bergiliran shift malam," jawab Chiko bersedih.
Annete tersenyum, ia kemudian menyapa salah satu pegawai senior yang telah lama bekerja di tokonya.
"Terima kasih ya, mbak Lala. Cuma kamu pegawai setia toko ini," ucap Annete sambil tersenyum.
Lala yang sedang menata kue-kue menjadi tersipu malu.
"Chiko, boleh aku melihat laporan penjualan selama aku tidak ada?" tanya Annete.
Chiko mengangguk dan mengajak Annete masuk ke ruangannya.
"Kamu baik-baik saja? Aku mendengar beritanya dari Gladys," bisik Chiko takut-takut.
__ADS_1
Annete menarik nafas berat, ia berusaha menghembuskannya dengan santai agar sesak di dadanya bisa sedikit terobati.
"Aku sudah baik-baik saja, Chiko," jawab Annete berusaha tersenyum.
"Hanaga mencarimu," lanjut Chiko.
Nafas Annete tercekat di tenggorokan. Ia kembali merasa sesak jika seseorang membahas mantan kekasihnya itu.
"Ma ... maafkan aku, Annete. Tapi, dia kesini beberapa kali untuk mencarimu," lanjut Chiko.
"Biarkan saja. Aku sudah tidak peduli padanya," jawab Annete diplomatis. "Tak bisakah kita tidak membahasnya?" tanya Annete.
Chiko mengangguk paham dan lebih memilih untuk menutup mulutnya.
"Baiklah, Chiko. Aku mau laporan toko dalam bentuk file sore ini ya. Diemail dalam satu file ke emailku," pinta Annete kemudian.
"Ya ... baiklah, Annete. Akan aku siapkan segera," jawab Chiko.
Annete kemudian berpamitan dan bersiap untuk pergi ke toko keempat.
"I need a talk, please!" seseorang meraih tangannya di depan parkiran toko.
Annete menoleh, dan melihat Hanaga telah berada disana.
"No! There is nothing we need to talk!" bentak Annete sambil menghempas tangan Hanaga dari tangannya.
"Please, Annete. Forgive me!" wajah Hanaga memelas.
"Seorang pria baik-baik tidak akan tergoda pada calon kakak iparnya sendiri!" seru Annete kesal.
"Aku tidak bisa mengendalikan diriku waktu itu. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku tetapi aku pastikan padamu, aku bukan playboy yang tidur dengan banyak wanita!" tegas Hanaga.
"Tapi kamu berbohong padaku! Dan kamu mengulanginya lagi! Kamu mencium Kisako di sore setelah aku membatalkan pernikahan!" bentak Annete.
Hanaga terhenyak kaget. Bagaimana mungkin Annete bisa tahu ia berjumpa dengan Kisako sore itu?
"Kamu berengsek, Hanaga. Lepaskan aku! Aku harus pergi dan aku masih banyak urusan!" seru Annete kesal.
"Apakah Kisako tidak berkata apa-apa padamu?" tanya Hanaga bingung.
"Tidak! Dia hanya mengirimiku video ciuman kalian yang menjijikkan berdurasi tiga menit itu!" tegas Annete.
"Kisako sialah!" seru Hanaga kesal. Ia tampak shock mengetahui dirinya ditipu Kisako.
"Kamu bodoh, Hanaga. Sangat bodoh!" ejek Annete kesal. Ia membanting pintu mobilnya dan bergegas pergi.
Meninggalkan Hanaga yang tampak uring-uringan sendiri.
__ADS_1
(Annete Bakery Shop)