
Pagi itu Kisako terbangun dalam kondisi tidak baik-baik saja dan tidak mengenali dimana ia berada. Sebuah ruangan asing yang tak pernah diketahuinya. Ia membuka matanya dengan kepala seolah dihantam beban yang teramat berat.
"Nyut!"
Kepalanya berdenyut dan Kisako kemudian dihantam rasa nyeri yang bertubi-tubi. Ditengah hantaman rasa nyeri esadarannya semakin pulih dan ia merasakn sakit di seluruh persendiannya.
"Ahhh," keluhnya ketika mencoba untuk duduk di atas ranjang dan merasakan sakit di pundaknya.
"Morning, babe!" seseorang membuat kesadarannya yang masih samar menjadi kembali dengan cepat.
"Jims! What the hell are you doing!" teriak Kisako histeris.
Dalam sepersekian detik wanita berhati dingin itu tersadar bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan berisi sebuah tempat tidur ukuran king size. Kisako mengedarkan pandangan, lalu menemukan bahwa tempat ini adalah sebuah ruangan kamar cukup luas, lengkap dengan interior minimalis, sebuah mini bar dan satu set sofa yang menghadap jendela lebar dengan pemandangan khas gedung-gedung perkotaan menghampar.
Indah! Tapi bukan itu! Ini adalah sebuah tempat asing yang tidak Kisako kenal sama sekali. Keadaannya semakin mengerikan ketika orang yang paling tidak diinginkan untuk hadir, malah menyapa pagi Kisako.
"Kebodohan apa yang aku lakukan dengannya semalam?" tanya Kisako pada dirinya sendiri. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya tidak memerlukan jawaban.
Kisako cukup dewasa untuk bisa memahami bahwa dua orang manusia dewasa berlainan jenis yang sedang mabuk dapat melakukan hal bodoh yang mungkin akan disesalinya seumur hidup.
"Shit!" degusnya meruntuki diri.
"Tenanglah sayang ... minumlah agar dirimu lebih baik," ucap Jims menyerahkan segelas teh jahe hangat.
"Prang!!!!"
Kisako menampik gelas pembelian Jims dengan kasar. Sambil terhuyung ia merapikan diri, memungut semua benda miliknya dan memakainya. Ia ingin sekali bergegas meninggalkan tempat itu.
"Aku akan mengantarmu, sayang!" seru Jims dengan nada suara sedikit khawatir. Ia membantu mengambilkan barang-barang Kisako, meski disambut Kisako dengan kasar.
Wajah Kisako merah padam menahan amarah. Rasanya ia begitu membenci Jims hingga ke ujung kepalanya. Rasa benci itu kian hari kian bertumpuk, terlebih hari ini. Ketika Kisako terbangun dalam kondisi tanpa sehelai benangpun di kamar bersama seorang Jims Morisson. Ia tahu ada yang salah dan tidak seharusnya terjadi.
"Leluconmu tidak lucu, Jims!" hardik Kisako penuh kebencian. Air matanya tak terbendung . "Kau menjebakku! Aku yakin ada sesuatu dalam vodka atau air yang kau berikan padaku!" lanjut Kisako semakin histeris.
__ADS_1
Alih-alih menangis dan melepaskan sesak di dadanya, Kisako lebih memilih bersikap galak pada Jims Morisson. Ia benci, benci sekali pada laki-laki itu!
Jims merenggut Kisako dalam pelukannya. Memeluk dengan erat hingga membuat sesak nafas Kisako.
"Aku menginginkanku menjadi milikku dan aku tidak ingin berbuat kasar. Cairkanlah hatimu yang membeku dan lunakkanlah sikapmu padaku," bisik Jims di telinga Kisako.
"Kau! Tak akan pernah mendapatkan hatiku! Meski berkali-kali kau menyiksaku seperti ini. Kau tak akan pernah bisa mendapatkanku, Jims!" tegas Kisako tajam.
Dengan sisa tenaganya Kisako melepaskan diri dari dekapan Jims Morisson. Setelah merapikan diri dan mengambil tasnya, Kisako bergegas pergi.
Rasa sakit dan sesaknya semakin membuncah. Ia begitu benci dan sakit hati pada laki-laki itu.
"It's your carma, Ki!" terdengar bisikan suara Annete di telinga Kisako.
Bayangan rentetan kejadian antara dirinya dan Hanaga kembali berputar di dalam kepala Kisako.
"Sial! Sial! Sial!" umpat Kisako sambil bergegas memasuki lift yang masih nampak sepi.
Kisako menuju basement, mencari mobilnya dan menyetir dengan kondisi tidak baik-baik saja.
Mrs. Rodrigues terperangah melihat anak gadisnya sepagi itu hadir di hadapannya dengan kondisi berantakan. Ia tahu ada hal buruk yang baru saja menimpa Kisako. Meski ia tidak begitu dekat dengan Kisako tetapi melihatnya seperti itu membuat jiwa keibuannya terluka.
"Kau kenapa?" tanya Mrs. Rodrigues iba.
Kisako hanya diam, acuh saja dan berjalan gontai menuju lantai dua mansion orang tuanya yang mewah itu.
"Sayang ... siapa yang da ...?"
Mrs. Rodrigues membuat tanda di bibirnya agar Mr. Rodrigues tidak melanjutkan kalimatnya. Ia lalu menunjuk Kisako yang sedang menaiki tangga.
"Aku ... akan mendampinginya," ucap Mr. Rodrigues paham.
Sebagai seorang ayah Mr. Rodrigues cukup memahami situasinya. Ia menyusul anak gadisnya itu. Mr Rodrigues memeluk dan membimbing Kisako ke kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Kisako sempat menepis tangan Mr. Rodrigues. Tapi kecupan di ujung kepalanya dari sang ayah mampu membuatnya luluh. Kisako menurut.
Mr. Rodrigues memeluk erat pundak Kisako dan memapahnya. Laki-laki paruh baya itu berusaha memperlakukan putrinya dengan penuh kelembutan.
"Aku tahu hidupmu sungguh berat, Ki. Aku tahu kau memendam semuanya sendirian. Aku orang tuamu, biar papa yang selesaikan semua urusanmu. Tenanglah, bersihkan dirimu dan beristirahatlah. Papa akan meminta mamamu menyiapkan makanan hangat. Kau bisa beristirahat disini, hingga kapanpun kau mau. Lalu pergilah liburan saat kondisimu sudah membaik," ucap Mr. Rodrigues penuh perhatian.
Kisako hanya membisu, sisi lemah dalam dirinya muncul dan menikmati kehangatan yang diberikan sang ayah saat itu. Ia tidak menangis, hanya membisu dan bergerak dengan tatapan kosong.
"Tak usah kau pikirkan tuntutan pelanggaran kontrak yang sedang kau hadapi. Papa dan tim legal perusahaan akan mengurusnya. Papa akan membayar semua ganti rugi. Sementara kau, menghilanglah sesaat. Kemudian selanjutnya berhentilah menjadi Miss K sang desainer misterius," bisik Mr. Rodrigues.
Kisako terhenyak mendengar kalimat terakhir yang disampaikan Mr. Rodrigues. Ia tak menyangka ayahnya tahu perihal Miss K. Ia hendak bertanya bagaimana Mr. Rodrigues bisa tahu. Tetapi sudah tak memiliki banyak energi untuk menguntai kalimat.
"Tak apa, kau adalah gadis hebat. Kuatkan dirimu," ucap Mr. Rodrigues sebelum meninggalkan Kisako di kamar anak gadisnya itu.
Sepeninggalan ayahnya, Kisako melepaskan seluruh pakaiannya. Membiarkan tubuh polosnya terguyur air hangat dari shower hingga benar-benar basah. Kisako ingin aliran air menghapus jejak Jims Morisson dari tubuhnya.
"Carma! Dosis yang sama, sesuai dengan apa yang kau lakukan padaku dan Hanaga!" sebuah suara membut Kisako kembali terhenyak.
Ia mematikan showernya sesaat dan memandang sekeliling kamar mandinya.
Kosong!
Kisako kembali menyalakan shower dan bergegas membasuh tubuhnya hingga bersih.
Setelah memakai handuk, Kisako berdiri di depan cermin dan ....
"Carma!"
Kali ini Kisako melihat sosok Annet di dalam cerminnya dan kembali mendengar suara adiknya itu seolah mencemoohnya.
Kisako terdiam, ia terhenyak dan membeku.
"Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai, Ki! Carma!"
__ADS_1
"Arghhh!!! Sialll!!! Sialan kau Annete!!! Aku membencimu!!! Aku membenci semua yang ada padamu!!!" jerit Kisako.
Gadis itu terduduk dan meringkuk di bawah guyuran shower. Menangis dan meresapi setiap luka, serta kesedihan yang merundungnya.