Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Take the Deal


__ADS_3

Laki-laki itu tersenyum di hadapan Annete. Senyum smirk yang membuat Annete tak nyaman. Mereka berjabatan tangan cukup lama dan mengambil perjanjian untuk saling bekerja sama. Tujuan mereka satu, menjatuhkan Kisako.


Meski Annete tidak yakin ia bisa sejahat itu kepada kakaknya sendiri. Tetapi Annete merasa ia harus memberi sedikit pelajaran bagi Kisako. Bahwa seorang Annete, tidak bisa lagi dengan mudah diremehkan.


"Boleh aku tanya sesuatu sebelum perjanjian ini bergulir," tanya Annete. Ia menatap tajam lelaki dihadapannya itu.


"Silahkan," jawab lelaki itu. Ia nampak tenang dan santai saja.


"Mengapa anda begitu bersemangat untuk menjatuhkan Kisako? Apakah anda punya dendam pribadi?" tanya Annete penuh selidik.


Laki-laki itu tertawa renyah, sedikit keras, tetapi tidak sampai menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. "Tidak, aku tidak punya dendam pada kakakmu itu. Hanya sepertimu, ingin memberi sedikit pelajaran," jelasnya kemudian.


Annete memandang penuh selidik, ia tak percaya laki-laki itu tak punya motif. Jika memang tiada kepentingan, harusnya ia tak perlu buang-buang waktu dan energi untuk mengajak Annete bekerja sama.


"Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan? Maksudku untuk langkah awal, aku harus bagaimana?" tanya Annete kemudian. Ia memilih untuk mengesampingkan kecurigaannya dahulu. Setidaknya biar ia mengikuti permainan laki-laki asing tersebut dahulu. Baru jika memang berbahaya, ia akan menghentikannya.


"Langkah pertama yang harus kau ambil adalah temukan dimana Kisako menyimpan hasil desainnya. Lalu kemudian ambil disainnya dan berikan padaku. Itu saja, sisanya biar aku yang atur, nona!" ucapnya mantap. Laki-laki itu seolah sudah matang dengan rencananya.


"Wow, sebuah rencana yang sangat mencurigakan. Hanya membuatku berperan sebagai seorang pencuri lalu dia mengeksekusi sisanya! Haruskah kupercaya?" tanya Annete dalam hati.


"Kalau kau masih ragu, kau bisa mundur saat ini juga, nona! Aku tak memaksamu untuk ikut dalam rencanaku. Kalau kau tak percaya padaku, kita tak akan bisa menjadi partner kerjasama yang baik, bukan?"


Seolah bisa membaca pikiran Annete, lelaki itu menebak dengan sangat tepat.


Annete mati kutu, ia disudutkan pada sebuah pilihan yang mau tak mau harus diambilnya.


"Well let say, aku sudah mengalah dan bersabar cukup lama. Inilah saatnya aku memberi pelajaran hidup bagi kakakku itu. Lelaki dihadapanku ini mungkin sepenuhnya tak bisa kupercaya. Tapi siapa peduli? Aku hanya butuh dirinya untuk membalas sakit hatiku selama bertahun-tahun ini dari Kisako!" batin Annete berkecamuk. Ada yang pro dan kontra.


"Hubungi aku jika kau sudah menemukan dimana desain-desain Kisako disimpan. Selamat siang!" pamit laki-laki itu sebelum pergi dan menghilang dari sudut penglihatan Annete.


Tinggalah Annete sendiri di tempat mereka bertemu. Termenung dan larut dalam pertarungan pikirannya sendiri. Sungguh andai Kisako lebih ramah sedikit padanya, Annete tak akan tega mencelakakan kakaknya sendiri. Tetapi kejahatan Kisako padanya telah melebihi batas kesabaran Annete.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kisako. Aku rasanya perlu sedikit memberimu pelajaran," batin Annete.


Ia kembali membaca berkas dan dokumen perjanjian salah satu brand fashion terkenal dengan kakaknya itu. Sebuah kontrak fantastis yang harganya cukup untuk membayar biaya hidup kakaknya selama satu tahun. Pantas saja Kisako seperti tak pernah kekurangan uang. Ternyata, begini caranya mendapatkan uang.


"Hemmm, orang jenius memang berbeda cara berpikirnya. Mereka bisa punya sistem yang baik sehingga pundi-pundi uang yang dihasilkanpun melimpah!" tandasnya sambil tersenyum. Ada rasa bangga pada dirinya ketika melihat karir sang kakak yang sukses.


Sayangnya kesuksesan karirnya tidak mampu membuat Kisako menjadi manusia yang bahagia secara psikologis. Ia butuh pelampiasan emosi yang kadang dilakukan dengan tindakan yang ekstreem.


"Ring-ring!"


Gawai Annete berbunyi, sang ibu meneleponnya.


"Siang sayang, kamu dimana?"


"Aku, sedang makan siang, mama."


"Mampirlah ke rumah hari ini. Kamu lupa papamu berulang tahun?"


"Ya, sayang. Mama sudah memasak beberapa makanan, datanglah. Papamu merindukan anak-anaknya."


"Oke, mama. I'll be there this afternoon."


"Kamu ajak Hanaga?"


"No, never! Aku nggak mau Kisako mempermainkannya lagi!" geram Annete.


Setelah berbasa basi sebentar ia lalu mematikan sambungan telepon. Menyelesaikan makan siangnya dan bergegas meninggalkan restoran tempat ia bertemu lelaki asing itu.


Annete kemudian mampir ke rumahnya untuk meletakkan berkas tersebut di dalam brankas yang aman. Selanjutnya ia membeli pudding kopi kesukaan papanya di salah satu toko kuenya dan berangkat ke rumah orang tuanya.


"*Happy brithday, papa. I love you*!"

__ADS_1


Mr. Rodrigues menyambut anaknya dengan pelukan hangat. Ia mengecup puncak kepala Annete dan menerima puding kopi kesukaannya dengan senyum lebar.


"Made with love?" tanya Mr. Rodrigues.


"No, papa. Sorry Annete sibuk, ini pegawai toko yang buat. But I swear to you, I love you to the moon and back," jawab Annete sambil merayu papanya. Ia tak mau terlihat abai karena melupakan ulang tahun papanya.


"Hahaha ... it's okay, Annete. I do love you," ucap Mr. Rodrigues.


Mereka berjalan beriringan ke meja makan. Disana sudah terhidang berbagai jenis masakan favorit keluarga.


"Bebersihlah dulu, Annete. Kita tunggu Kisako. Ia bilang akan datang meski agak terlambat," pinta Mrs. Rodrigues.


"Oh, oke! Baiklah, Mama. Aku akan naik ke kamarku dulu," pamit Annete. "Sebuah kesempatan bagus. Aku akan menyelinap ke kamarnya sebelum sang pemilik kamar datang," batin Annete kemudian.


Annete bergegas menuju kamarnya, meletakkan tas tangan dan kunci mobilnya. Lalu menyelinap dengan mengendap-endap ke kamar Kisako yang berhadapan dengan kamarnya di lantai dua.


Suasana gelap dan pengap menyeruak ketika Annete membuka pintu kamar kakaknya itu. Meski rapih dan bersih karena maid selalu membersihkan setiap kamar di rumah ini, tetapi Kisako lebih suka membuat kamarnya tampak gelap dengan penerangan temaram. Itulah yang membuat Annete malas mengunjungi kamar kakaknya itu.


Annete menjelajah kamar Kisako. Beberapa barang tersusun rapi berdasarkan warnanya. Tiga buah rak buku penuh berisi buku-buku koleksi Kisako, diletakkan rapi berjajar menempel di dinding. Ada buku kedokteran, ada buku kimia dan fisika serta beberapa jurnal populer tertata rapi di rak pertama. Ada buku-buku bacaan fiksi dan majalan mode di rak kedua. Lalu banyak boxfile dan ordner di rak ketiga.


Annete tertarik untuk melihat salah satu isinya. Ia mengambil sebuah ordner berwarna biru dan mulai memeriksanya. Seberkas copy kontrak kerja sama terlihat di halaman depan. Lalu selanjutnya gambar beberapa sketsa kasar dan sketsa rapi yang telah diwarnai di halaman-halaman selanjutnya. Setelah itu, ada pembatas antara usulan sketsa desain dan sketsa desain yang telah dipilih dan disetujui untuk di launching sebagai produksi massal.


"Rapi!" batin Annete. "Kamu memang selalu seperti ini, sist. Wow, 2010 hingga kini. Semua hasil karyamu tersusun rapi dan berurutan," gumam Annete sambil membuka beberapa ordner lainnya.


Semua kontrak dan hasil desainnya tertata rapi dalam ordner dan rak. Bahkan pemilihan warna ordnerpun diperhatikan sehingga meski dengan penerangan temaram, kamar Kisako tetap terlihat manis dan indah.


Kisako memang jenius yang detil dan rapi. Semenjak kecil sifat rapinya itu sudah terlihat. Ia bahkan pengidap obsessive compulsive disorder yang tergila-gila dengan kebersihan dan higienitas. Itulah yang membuatnya membatasi diri dalam bergaul. Baginya semakin banyak berjumpa orang dirinya akan semakin kotor dan penuh kontaminasi.


"Let see ... latest ordner," bisik Annete. Ia bergegas menuju ordner dengan tahun terbaru dan memeriksa beberapa file. "Oh my God! Jadi desainer tas itu Kisako! Pantas saja ketika aku menghadiahi mama tas limited edition itu dia hanya tersenyum sinis!" pekik Annete heboh.


Annete baru akan memeriksa beberapa ordner lagi saat dari jendela ia melihat mobil Kisako memasuki halaman rumah menuju garasi. Annete kemudian bergegas merapikan semuanya dan meninggalkan kamar Kisako dengan mengendap-endap.

__ADS_1



__ADS_2