
Hanaga terdiam di balik meja kerjanya. Ia menyadari sebuah situasi sulit yang sedang dihadapinya. Ia sudah meminta Mia pulang duluan setelah Annete mengacak-acak kantornya.
Hanaga menyadari kesalahan besarnya. Ia tahu Annete memiliki emosi yang meledak-ledak. Terlebih lagi dia telah bercinta dengan calon kakak iparnya sendiri dan berbohong pada Annete.
Hanaga mencoba mencari lagi video yang diperlihatkan Annete padanya. Hilang, video itu telah dihapus oleh pengunggahnya. Hanya dalam sepersekian detik video itu diunggah, menjadi viral, lalu kemudian dihapus. Sungguh rapi sekali pekerjaan sang pembuat masalah.
"Kisako! Aku harus menemukannya! Dimana?" batin Hanaga kacau.
Hanaga mencoba menghubungi nomor yang pernah meneleponnya. Kisako bilang itu nomornya. Tapi ....
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi."
"Shit!"
Hanaga membanting gawainya kesal. Ia tidak suka ada yang mengacaukan hidupnya yang tenang. Hanaga adalah tipe pria perfeksionis yang tenang. Ia tak suka sensasi dan bermain-main dengan hal-hal yang memicu adrenalin.
"Apartemen itu!" seru Hanaga. Ia berusaha mengingat apartemen tempatnya terbangun pagi itu.
Hanaga bergegas turun ke parkiran dan mengambil mobilnya. Mengemudi dengan kecepatan tinggi, mengingat-ingat dimana apartemen tempat ia dan Kisako bercinta.
"Ketemu! Ya, disinilah tempatnya!" seru Hanaga memasuki basement apartemen untuk memarkir mobilnya.
Hanaga kemudian kembali berusaha mengingat dari lantai berapa ia turun. Memencet lift dengan nomor lantai yang diingatnya dan mengetuk hampir semua kamar di lantai itu.
Pintu pertama kosong, pintu kedua, kembali tak ada jawaban, bahkan hingga pintu ketiga, keempat dan kelima tetap kosong.
"Kamu mencariku?" sebuah suara menarik perhatian Hanaga.
Kisako nampak telah berdiri di lorong. Beberapa lebam dan darah kering terlihat pada kulit tubuhnya yang seputih pualam.
"Kak! Apa yang kamu lakukan pada kami?" tanya Hanaga kesal. Ia menghampiri Kisako dan mencengkram lengannya erat.
"Laki-laki yang baik, tidak akan tergoda oleh calon kakak iparnya sendiri, Hanaga!" seru Kisako sambil berjalan masuk ke ruang apartemennya.
Hanaga mengikutinya, menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak pernah menggodamu Hanaga. Kamu yang begitu bernafsu menikmati diriku!" tegas Kisako. "Kamu lihat bagaimana Annete menghajarku. Tidakkan kamu iba padaku?"tanya Kisako kemudian dengan wajah memelas.
"Kamu harusnya lebih tahu bagaimana tabiat dan emosi adikmu sendiri. Jika sudah tahu begitu, mengapa kamu mengacaukan semuanya?" tanya Hanaga tak acuh.
Hanaga masih sangat kesal meski ada sedikit iba melihat keadaan wanita itu. Ia tahu bagaimana Annete jika sedang marah. Kekasihnya itu akan bertindak histeris, brutal dan tak terkendali.
"Aku tidak tahu, siapa yang merekam dan menyebarkannya. Kita sedang berada di mobil waktu itu, dan semuanya terjadi begitu cepat. Akupun tak mengerti bagaimana semua ini terjadi," ujar Kisako. Air matanya mulai mengalir dan ia mengangis sesenggukan.
Shit! Hanaga begitu lemah melihat air mata wanita. Ia menjadi tak tega menuntut penjelasan lebih dalam dari Kisako.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Aku mohon bantulah aku meminta maaf pada Annete. Aku tidak mau ia membatalkan pernikahan kami yang tinggal beberapa hari lagi," pinta Hanaga. Ia berharap dengan tidak memperanjang masalah, Kisako akan berbaik hati dan membantunya menjelaskan semuanya pada Annete.
"Baiklah, baiklah aku akan berusaha membantumu Hanaga," ucap Kisako sambil menghapus air mata di wajahnya. "Bisa tolong kamu oleskan obat luka pada wajahku? Aku sepertinya akan kesulitan, mengingat tangan dan beberapa buku jariku terluka," pinta Kisako.
Hanaga mematung tak bergeming. Dalam dirinya ia tak mau mudah percaya dan jatuh dalam jebakan Kisako lagi. Tetapi ada rasa iba dalam dirinya, ketika melihat Kisako benar-benar terlihat kesulitan membuka botol obat.
Hanaga meraih botol obat dan cotton bud di tangan Kisako. Ia kemudian meraih wajah Kisako dan membantu mengoleskan obat ke beberapa luka di wajah Kisako.
"Aw ... ssshhhh! Pelan-pelan, sakit!" pekik Kisako.
Mereka melakukannya dalam diam. Hanya Kisako yang terdengar mendesis karena nyeri.
Lalu ketika mengoles obat pada luka di sudut bibir Kisako, Hanaga merasa mereka begitu dekat. Wajah mereka hampir bersentuhan karena suasana apartemen yang temaram.
"Cup!"
Kisako mengecup bibir Hanaga. Lembut, begitu lembut hingga Hanaga kemudian ikut terhanyut. Mereka berciuman hingga beberapa saat.
"Ya Tuhan! Sial!" pekik Hanaga saat sadar dan melepaskan diri dari Kisako.
"Ma ... maafkan aku, Hanaga. Aku terbawa suasana," pekik Kisako gugup.
Hanaga yang kesal membanting botol obat dan cotton bud di tangannya. Ia kemudian bergegas pergi, meninggalkan Kisako sendirian di apartemennya.
"Hahahahahahahaha ... gotcha! Kamu begitu bodoh Hanaga! Laki-laki bodoh yang dengan mudahnya terperosok ke lubang yang sama. Ah ... begitu mudahnya aku menjebak semua laki-laki dan mengacaukan hidup mereka. Dasar bodoh!"
__ADS_1
Tawa Kisako memenuhi ruangan yang hening. Menggema hingga ke lorong-lorong kosong gedung apertemennya di lantai itu.
Kisako kemudian berjalan santai menutup pintu apartemennya. Menyalakan lampu-lampu di setiap ruangan dan merapikan sedikit kekacauan yang dibuat Annete dan Hanaga. Kisako lalu merebus air dan menyeduh teh hijau kesukaannya.
Masih sambil tersenyum bahagia, Kisako beranjak membawa segelas teh hijau dan gawainya ke kamar mandi. Ia melepas semua bajunya yang basah oleh keringat dan kotor karena bergumul dengan Annete beberapa saat yang lalu. Dalam beberapa detik kemudian Kisako sudah menikmati berendam dalam air hangat beraroma mint dan lavender sambil menikmati segelas teh hijau.
"Permainan belum berakhir, Annete! Aku berikan satu lagi pukulan telak untukmu," ucap Kisako sambil mengirimkan file video berdurasi tiga menit ke nomor chat Annete.
Kisako meletakkan gawainya pada rak dinding di dekat bathtubnya. Ia lalu tertawa bahagia dan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathtub selama beberapa menit. Mengangkat tubuhnya, lalu menggosokkan busa mandi ke seluruh tubuhnya. Kembali Kisako tertawa bahagia dan bersenandung riang.
Tak ada yang bisa membuat moodnya begitu riang selain keberhasilannya memporak-porandakan hidup adiknya. Ya ... ada kepuasan tersendiri bagi Kisako bila berhasil mengacaukan hidup saudari kandungnya itu. Jangankan melihat langsung bagaimana kacaunya Annete, membayangkannya saja sudah membuat Kisako serasa terbang ke langit ketujuh.
"Hahahahahaha ... dududu ... syalalala ... dududidamdam ... syalalala ... hahahahahaha ... hahahahahaha .... Annete oh Annete, jangan harap kamu bisa hidup tenang dan bahagia selama aku masih ada di dunia ini," senandungnya masih sambil berendam dan menikmati segelas teh hijaunya.
***
Sementara di tempat lain ....
Annete yang masih kacau berusaha ditenangkan oleh kedua orang tuanya. Mereka meminta Annete berulang-ulang lagi memikirkan rencana pembatalan pernikahannya.
"Undangan sudah disebar, Annete. Semua persiapan juga sudah matang. Apakah kamu tidak malu membatalkan semuanya. Belum juga semua biaya yg harus dan telah dibayarkan," nasihat Mrs. Rodrigues.
"Kamu tahu bagaimana Kisako. Kamu pun tahu bagaimana Hanaga. Kamu tidak seharusnya terbawa emosi hingga begini. Maafkanlah mereka," pinta Mr. Rodrigues.
"Ring-ring!"
Gawai Annete berdering ditengan suasana suram itu. Annete dengan malas mengambil gaway di nakas dekat tempat tidurnya. Membuka pesan yang masuk dengan malas, lalu ....
"Aaarrggggghhhhhh! Kisako berengsek!" teriak Annete kesal melihat apa yang dikirim kakaknya padanya.
Sebuah video berdurasi tiga menit yang menunjukkan dua manusia dewasa sedang berciuman.
Mr. dan Mrs. Rodrigues yang ikut menyaksikan menjadi terdiam dan tidak lagi dapat berkata-kata.
__ADS_1