
Sudah seminggu ini Hanaga bersikap sangat manis pada Annete. Ia selalu berdiri di teras depan rumah Annete. Menyambut kedatangan Annete dengan membawa sekotak coklat dan sebuah buket besar bunga mawar merah. Ia terlihat bersungguh-sungguh ingin memperbaikin hubungannya dengan Annete.
Sudah seminggu ini pula Annete selalu berusaha mengacuhkannya. Ia melewati Hanaga begitu saja tanpa memandang sedikitpun ke arahnya. Menganggap seolah tidak ada siapa-siapa disana. Ketika Hanaga memaksanya untuk berbicara, Annete lebih memilih menepis Hanaga atau membuang muka.
"Sayang, mau sampai kapan seperti ini? Kamu tahu aku bukan laki-laki hidung belang," jelas Hanaga.
Annete membisu dan hanya membuang muka. Ia hendak membuka kunci pintu rumahnya ketika Hanaga menggenggam tangannya erat dan berlutut. "Please forgive me, I love you," ucap Hanaga.
Annete memandang Hanaga iba, separuh hatinya tak kuasa melihat apa yang tengah diperbuat Hanaga. Tetapi ... Annete tahu, kembali terlibat dengan Hanaga hanya akan membuat lelaki itu dalam bahaya.
Kisako tak akan pernah berhenti mengganggu hidupnya. Ia akan terus berusaha dan mencari cara agar Annete menderita. Dan Hanaga, adalah sebuah kelemahan sempurna yang akan dengan mudah dipermainkan Kisako.
Awalnya Annete mengira, Hanaga cukup tangguh untuk tidak larut dalam permainan Kisako. Sayangnya ternyata perediksi Annete salah. Pria itu telalu lemah dan mudah dipermainkan Kisako.
Satu lagi yang mengecewakan Annete adalah bagaimana Hanaga membohonginya. Andai Hanaga jujur dengan pertemuannya bersama Kisako, Annete mungkin tak akan semarah ini.
Annete adalah tipe perempuan yang tidak suka dibohongi. Ia memegang teguh prinsip kejujuran dalam setiap hubungan yang dijalinnya. Maka Annete pun tak akan bisa mentolelir sikap Hanaga.
Kebisuan Annete membuat Hanaga beringsut kecewa. Ia melepaskan tangan Annete dan membiarkan Annete masuk ke dalam rumahnya. "Masuklah, aku ... tahu kamu lelah," ucapnya kemudian.
"Klik! Blam!"
Annete masuk ke dalam rumah dan bergegas menyibukkan diri dengan aktifitas mandi dan membersihkan diri. Berusaha membunuh perasaannya yang sempat tersentuh dengan sikap Hanaga yang sangat manis beberapa saat lalum. Ia benar-benar harus bersikap seacuh itu untuk membuat Hanaga menyerah.
Di sela mandinya Annete sempat mendengar rintik air yang jatuh menghantam atap-atap rumahnya. Hujan!
"Semoga Hanaga sudah pergi dan dia tidak kehujanan," batin Annete sambil bergegas menyelesaikan ritual mandinya.
Annete masih menggunakan kimono mandinya ketika ia mendengar ketukan pintu di sela-sela derasnya hujan yang berderai.
"Siapa?" batin Annete penasaran. Ia bergegas berpakaian dan membuka pintu ruang tamu.
__ADS_1
"Hanaga?!" pekik Annete tak percaya.
Laki-laki itu masih berdiri di sana dengan tubuh basah kuyup dan buket bunga mawar yang telah rusak terguyur air hujan.
"Boleh ... aku masuk?" tanyanya memelas.
Pertahanan Annete runtuh, seketika. Iba! Ia lalu menyilahkan Hanaga masuk dan mengambilkan handuk serta beberapa kebutuhan Hanaga untuk berganti baju.
"Terima kasih kamu masih menyimpan barang-barangku dengan baik, sayang," ucapnya sebelum masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Annete kemudian membuatkan dua gelas coklat panas dan menghidangkan biskuit untuk sekedar menghangatkan tubuh mereka.
Hanaga nampak berbinar melihat hidangan yang telah disiapkan di meja ruang tamu ketika ia telah selesai berganti pakaian.
"Terima kasih, sayang. Kamu memang sangat perhatian," bisik Hanaga sambil mengambil posisi duduk di samping Annete. Ia lalu merengkuh tubuh Annete dalam pelukannya.
"Well, jangan salah paham Hanaga!" tolak Annete. "Aku melakukannya hanya sebagai seorang teman. Tidak lebih!" tegas Annete. Ia berusaha melepaskan pelukan Hanaga dan membuat jarak.
Hanaga menarik nafas panjang dan lelah. Ia menyerah, lalu mengambil gelas coklatnya dan mulai menghirup isinya. Hangat! Kehangatan minuman panas itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya.
Annete memperhatikan Hanaga dari tempat duduknya. Ia tahu ekspresi itu, hafal betul bagaimana cara Hanaga selalu menikmati coklat panas buatannya.
"Tidak! Jangan hanyut dalam perasaan, Annete!" bentaknya pada diri sendiri. Annete kemudian mengambil laptopnya dan mulai bekerja untuk mengabaikan Hanaga.
Hanaga membuka mata, ia melihat dari sudut matanya Annete nampak sibuk dengan laptopnya.
"Bisnis kuemu lancar, sayang?" tanya Hanaga.
Annete hanya mengangguk, tanpa memperhatikan Hanaga.
"Argh! Dia masih bersikap dingin," batin Hanaga sedikit kesal. Ia kemudian menyibukkan diri dengan telepon pintarnya. Menjawab semua pesan yang masuk dari beberapa rekan bisnis dan koleganya di kantornya.
__ADS_1
Sejam berlalu, namun rinai hujan masih terdengar di luar dengan kerapatan yang konstan. Hanaga menggeliatkan tubuhnya yang telah lelah. Ia melirik Annete, melihat apakah wanita itu masih sibuk bekerja atau ... Ah! Dia sudah terlelap di kursi panjang di samping Hanaga.
Hanaga mendekatkan tubuhnya pada tubuh Annete yang tertidur dengan bersandar pada bahu kursi. Wanita itu terlihat tak nyaman dan kelelahan.
Hanaga mengambil laptop dari pangkuan Annete dan meletakkannya di meja. Ia kemudian menggendong tubuh Annete ke kamar dan menidurkannya dengan nyaman di atas ranjang.
"Tidurlah sayang, aku selalu menyangimu," bisik Hanaga sambil mengecup pipi Annete lembut.
"Jedharrr!" petir menyambar kencang.
"Path!" mati lampu.
"Sial!" pekik Hanaga. Ia segera berusaha mencari senter di laci dekat tempat tidur Annete.
Belum selesai Hanaga mencari senter, ia mendengar dari ranjang Annete, wanita itu terisak.
Hanaga bergegas mendekati Annete dan memeluknya. "It's okay, babe. Aku disini," bisiknya sambil menenangkan Annete.
Annete mau tak mau memeluk Hanaga erat. Ia begitu ketakutan dan berkeringat dingin. Wanita itu memiliki phobia pada tempat gelap. Dadanya sesak dan ia akan diserang kepanikan yang luar biasa ketika berada di ruang gelap. Tubuhnya selalu mengeluarkan reaksi trauma akibat pengalaman masa kecil.
"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Hanaga beberapa saat kemudian. Ketika isak tangis Annete sudah mulai mereda.
Annete mengangguk meski tak melepaskan pelukannya pada tubuh Hanaga.
"Tidur lagi ya, aku akan memelukmu sepanjang malam," bisik Hanaga sambil membaringkan Annete di ranjang. Ia kemudian mengambil posisi di sebelah Annete dan kembali memeluknya.
"Thanks," bisik Annete parau.
Hanaga mengecup pucuk kepala Annete dan berkata," I love you, babe. I always love you," bisiknya.
Meski separuh dirinya masih tak bisa memaafkan Hanaga, tetapi separuh yang lain tak pernah bisa menolaknya. Annete berada pada posisi lemah saat ini. Ia tak bisa mengendalikan diri sepenuhnya akibat trauma masa kecil yang membuatnya ketakutan berada di tempat gelap.
__ADS_1
Yah! Tentu saja Kisako turut andil dalam trauma yang dimiliki Annete. Wanita itu yang mengunci Annete di gudang sempit san gelap di rumah kecil mereka semalaman. Ketika paginya kedua orang tua mereka menemukan Annete disana. Annete sudah dalam kondisi pingsan dan trauma berat.