
Sudah 24 jam Kisako tidak keluar dari dalam kamarnya. Para maid hanya meletakkan makanan di depan pintu kamarnya tanpa berani mengetuk pintu ataupun mengganggu. Mereka sudah paham, bahwa ketika majikannya itu mengurung diri dan tak mau diganggu. Tak akan ada yang bisa mengganggunya.
Mrs. Rodrigues mematung di dapur sejak beberapa saat lalu. Wanita itu merasa ada yang tak beres dengan putri sulungnya itu. Ia mengerti tabiat anak gadisnya dengan baik. Jika hanya menyelesaikan sebuah pekerjaan, Kisako tak akan pernah mengabaikan makanannya.
"Dia tidak keluar kamar dan menyentuh makannanya sama sekali?" tanyanya pada salah satu maid senior.
Maid itu hanya menggeleng dengan wajah sedikit cemas. Sebagai seorang maid senior yang telah bekerja pada keluarga itu, iapun tahu tabiat Mrs. Rodrigues.
"Pip-pip-pip-pip!"
Mrs. Rodrigues menggunakan telepon pintarnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, Annete sayang. Kamu baik-baik saja?" Ia langsung bertanya ketika telepon tersambung.
"No! I'm not okay, ma! Kisako, dia berulah dan mengganggu bisnisku!" keluh Annete kesal.
"Apa kamu butuh bantuan papa atau mama untuk membereskannya?" tanya Mrs. Rodrigues lagi.
"Nope! Aku bisa mengatasinya sendiri, ma. Aku memang agak kesulitan. Tapi, I'm fine," tolak Annete. Sebagai anak bungsu ia tak mau kakaknya makin menghina harga dirinya karena terus menerima bantuan dan fasilitas orang tuanya.
"Are you sure?" tanya Mrs. Rodrigues penuh selidik.
"Don't worry. I can handle it!" jawab Annete yakin.
"Baiklah, take care," ucap Mrs. Rodrigues sebelum menutup telepon.
Mrs. Rodrigues menghela nafas berat. Wanita paruh baya itu kemudian bergegas menaiki tangga menuju lantai dua. Ia mengetuk kamar Kisako. Lalu ....
"Buka!" hardiknya tajam meski tak terlalu kencang.
Lima menit kemudian, pintu dibuka oleh Kisako. Wajahnya terlihat tidak suka ketika membukakan pintu.
Mrs. Rodrigues masuk ke dalam kamar Kisako, lalu menutup pintu. Ia kemudian membalikkan badan menghadap Kisako dan ....
"Plak!"
Wanita itu menampar keras anak sulungnya. Ia tampak begitu marah hingga kulitnya yang seputih pualam terlihat memerah.
"Sudah aku katakan berulang-ulang padamu. Berhentilah mengganggu adikmu! Ia tidak layak diperlakukan seperti itu!" ucapnya sambil menatap tajam Kisako.
Kisako jatuh terduduk dan memegangi pipinya. Pukulan ibunya memang selalu penuh kekuatan dan menyakitkan. Bukan sakit fisik, tetapi ... luka batin yang makin meradang. Ia menundukkan kepala hingga rambutnya terjuntai menutupi wajah.
__ADS_1
"Tidak sadarkah kamu? Dia itu adikmu, adik kandungmu sendiri. Meski kalian terlahir berbeda, tetapi dia tetaplah adikmu!" Mrs. Rodrigues nampak berkaca-kaca.
Kisako tetap bergeming ada posisinya semula. Ia menundukkan kepala dalam-dalam hingga Mrs. Rodrigues tak bisa melihat raut wajahnya.
"Mrs. Rodrigues, jauh lebih sayang pada Annete dibanding padaku!" ucap Kisako tajam. Suaranya bergetar karena amarah dalam dirinya yang tak tertahankan.
"Plak!"
"Dendammu pada Annete sungguh tidak beralasan! Kamupun tahu sejak dulu Annete selalu menyayangimu! Ia bahkan selalu memaafkan setiap kamu menyakitinya!" hardik Mrs. Rodrigues.
Wanita itu menunduk dihadapan Kisako. Ia kemudian memegang dagu Kisako dengan sebelah tangannya. Lalu memalingkan wajah itu untuk menatap wajahnya.
Kisako menatap dengan tajam, lurus ke arah pupil mata Mrs. Rodrigues. Gurat kebencian nampak jelas di wajahnya.
"Minta maaf pada adikmu dan perbaiki kesalahanmu!" seru Mrs. Rodrigues.
Kisako menghempas tangan Mrs. Rodrigues dari wajahnya dan bergerak bangkit dari duduknya.
"Aku tidak akan sudi meminta maaf padanya!" bentak Kisako kesal.
"Plak!"
Kisako meradang, matanya berkaca-kaca dan pipinya memerah. Meski demikian, kebencian sungguh terlihat di matanya. Mereka saling tatap selama beberapa menit kemudian.
"Berdamailah dengan dirimu agar hidupmu tenang. Aku melakukan semua ini agar kamu menyadari bahwa tindakanmu salah. Kamu sudah cukup dewasa, Kisako! Berhentilah bermain-main dengan adikmu!"
Kisako bergeming! Rahangnya terkatup erat dan nampak mengeras.
Pada akhirnya Mrs. Rodrigues dan Kisako kembali saling pandang dengan tatapan membunuh satu sama lain.
"Sayang, apakah kalian baik-baik saja?" Mr. Rodrigues mengetuk pintu kamar Kisako.
"Camkan kata-kataku! Berhentilah, sebelum aku yang akan menghentikan semua kegilaanmu! Dan aku tidak main-main padamu, Kisako!" ucap Mrs. Rodrigues tajam.
Wanita itu kemudian meninggalkan Kisako yang masih menegang dalam posisi ketika mereka saling berhadapan.
"Ceklek!"
"Ehem, sayang. Kami berdua baik-baik saja. Aku hanya mengingatkan Kisako untuk memakan makananya," ucap Mrs. Rodrigues setelah membuka pintu kamar Kisako. Ia menyunggingkan senyum penuh kelembutan pada suaminya.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Mr. Rodrigues. "Makanlah tepat waktu. Kami tak ingin kesehatanmu terganggu," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Laki-laki itu hanya menengok ke dalam kamar Kisako sekejap, lalu menghilang bersama istrinya menuju lantai satu.
"Brak!!!!" pintu ditutup paksa.
"Aaarrrghhhhh!!!!" erang Kisako sambil memberantakkan meja kerjanya. Wanita itu begitu kesal hingga meluapkan semua emosinya pada benda-benda di sekelilingnya.
Kisako membanting barang, melempar benda bahkan membuat beberapa cat air dan kuas berserakan. Beberapa tumpah dan mengotori kertas dimana telah tergambar beberapa desain tas yang sebelumnya dibuat Kisako.
"Aku membencimu, Annete! Aku sungguh membencimu seumur hidupku!" sumpah Kisako dalam hati.
Sementara di lantai bawah, Mr. dan Mrs. Rodrogues sempat mendengar kegaduhan yang diperbuat Kisako.
"Sayang, apakah kau yakin anak kita akan baik-baik saja?" tanya Mr. Rodrigues. Lelaki itu nampak khawatir pada putri sulungnya.
Mrs. Rodrigues tersenyum lembut, ia menggandeng erat lengan suaminya. Membawa lelaki itu ke bungalo di sudut taman rumah mereka.
"Tenanglah, sayang. Kisako akan baik-baik saja. Seperti biasa, dia sedang stress menghadapi pekerjaannya," jelas Mrs. Rodrigues tenang.
Mr. Rodrigues mengerutkan dahinya.
"Kau tahu, Kisako masih memiliki masalah dengan pengendalian emosinya. Ia bisa saja meledak-ledak suatu saat. Ia membutuhkannya untuk pelepasan energi negatif dalam dirinya. Sama seperti Annete. Hanya saja, Annete mungkin akan lebih ekspresif dan terbuka," jelas Mrs. Rodrigues lagi. Ia kemudian menuntun Mr. Rodrigues untuk bersandar di bungalo dan menikmati senja yang semakin memerah.
"Ngomong-ngomong soal Annete, kau sudah meneleponnya?" tanya Mr. Rodrigues.
"Ya, pagi ini aku meneleponnya. Ia bilang ada sedikit masalah tetapi sedang berusaha menyelesaikannya dengan caranya sendiri," jawab Mrs. Rodrigues.
"Annete telah banyak berubah semenjak peristiwa gagalnya pernikahan itu," gumam Mr. Rodrigues.
"Ya, kau benar, sayang. Bantulah ia sedikit dana, sepertinya Annete perlu beberapa puluh juta untuk persaingan bisnisnya," pinta Mrs. Rodrigues. Wanita itu sekarang bergelayut manja di lengan suaminya. Bersandar di pundaknya dengan mesra, meski ia bukan lagi seorang wanita muda yang sedang jatuh cinta.
"Baiklah, aku akan menambah investasiku pada bisnisnya. Sebagai Mr. Smith dari Amerika tentunya," jawab Mr. Rodrigues sambil tertawa renyah. "Apakah dia belum tahu siapa Mr. Smith hingga kini?" tanya Mr. Rodrigues dengan tampang lucu.
Mrs. Rodriguespun tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh iya, sayang. Sepertinya Kisako sedikit stress dengan pekerjaannya. Bisakah kau berikan sebuah liburan ke Maldives atau Eropa selama beberapa minggu? Ia mungkin membutuhkannya," kembali Mrs. Rodrigues mengajukan permintaan.
"Baiklah, sayangku. Your request is my command, madame," ucap Mr. Rodrigues sambil meraih tangan Mrs. Rodrigues dan menciumnya.
Mereka tertawa bersama dan selalu terlihat mesra meski telah bersama selama berpuluh tahun.
Sementara tak jauh dari bungalo, lewat jendela kamarnya Kisako bisa melihat semuanya. Melihat kemesraan yang memuakkan dari kedua pasang manusia berbeda jenis kelamin itu. Ia memandang mereka penuh kebencian.
__ADS_1