Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
A Man Who Love You


__ADS_3

Kisako baru saja menghabiskan gelas terakhirnya di tempat itu. Ketika seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya malam itu muncul. Laki-laki yang selalu hadir di saat tak tepat. Well ya ... tentu saja tak tepat bagi Kisako. Tetapi mungkin sangat tepat bagi sang lelaki.


"Sayangku, kau terlihat butuh teman," sapanya sambil duduk di samping Kisako dan merengkuh pinggangnya.


"Oh ya Tuhan! Sudahlah, aku sedang tidak ingin ribut denganmu," keluh Kisako. Meski sudah meneguk beberapa gelas wine, ia masih memiliki kesadaran sepenuhnya akan dirinya.


"Sayang ... jangan menolakku malam ini. Aku tahu kau sedang butuh sandaran malam ini," ucapnya penuh percaya diri.


"Oh c'mon, Jims. Aku yakin kau sudah tahu masalahku. Jadi berhentilah menggangguku!" keluh Kisako kesal. Ia melepaskan pelukan Jims dari pinggangnya.


Kisako lalu menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu di bawah gelas terakhirnya. Ia hendak pergi, ketika sang bartender datang lagi dan menyajikan dua gelas vodka. Lalu membereskan gelasnya beserta uang pembayaran dan tip yang diselipkan Kisako.


"Sayang, ayolah jangan buru-buru. Segelas vodka dariku untuk penutup malammu rasanya bukan hal yang sulit," ucap lelaki itu, Jims Morisson, yang tak pernah lelah merecoki hidup Kisako.


Kisako nampak sangat kesal. Tetapi meski ia menghempas tangan Jims yang menggenggam erat pergelangan tangannya untuk menahan kepergian Kisako tadi. Tak urung kini, Kisako kembali duduk juga.


"Berjanjilah untuk tidak lagi menggangguku setelah gelas ini, Jims. Aku lelah harus bersitegang denganmu terus. Setidaknya untuk saat ini!" tegas Kisako.


Ia berbicara begitu dekat dengan wajah Jims Morison. Sehingga tanpa disadarinya, laki-laki itu mampu mencium wangi tubuhnya.


"Ya Tuhan, Kisako! Kerasnya sikapmu ini membuatku sungguh semakin tergila-gila padamu!" batin Jims Morisson.


Ia memejamkan mata sesaat. Menghirup aroma tubuh Kisako lebih dalam. Sungguh apapun yang menyangkut wanita dingin di hadapannya itu, mampu membuat Jims mabuk kepayang.


Kisako yang merasa tak nyaman memilih untuk memundurkan tubuhnya dan menjaga jarak. Kisako tidak ingin menjadi lemah dengan bersandar pada seorang pria. Itulah mengapa ia mati-matian menolak Jims Morisson.


Jims Morisson membuka matanya dan mengagumi wanita yang telah membuatnya tergila-gila itu sekali lagi. Entah kenapa, ia begitu menginginkan wanita di hadapannya ini. Meski penolakan demi penolakan yang tak manusiawi, acap kali dialaminya.


Kisako yang merasa risih hampir saja hendak bergegas pergi. Tetapi ....


"Minumlah, temani aku sebentar saja," pinta Jims Morisson dengan mimik muka serius. Jims berkata sambil mengendus wangi vodka dalam sloki kecilnya. Membuat Kisako menjadi segan untuk menolak.

__ADS_1


Kisako sebenarnya tak begitu suka vodka. Baginya minuman ini terlalu keras. Tetapi demi melihat wajah laki-laki yang dibencinya itu mengiba, Kisako tak tega juga. Ia lalu memilih untuk segera menghabiskan minumannya dan pergi.


"Aku bisa menolongmu menyelesaikan masalah yang sedang kau hadapi. Tetapi ... kau tahu bukan, nilai tukarnya haruslah sangat istimewa," ucap Jims Morisson setelah meneguk minuman dari gelasnya.


Kisako memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan masih ragu meneguk habis minumannya itu. Ia hanya menempelkan gelasnya di bibir dan merasa ujung lidahnya seperti terbakar.


"Menikahlah denganku, Kisako. Lalu aku akan menyelamatkanmu, membebaskanmu dari segala tuntutan. Kau tidak perlu lagi terpuruk dan memikul semua beban ini sendirian," ucap Jims Morisson bersungguh-sungguh. Ia menggenggam erat kedua jemarinya sendiri dan berkata tanpa menatap Kisako sama sekali.


"Glek!"


"Ahhhh ... shit! Alkohol ini begitu membakar tenggorokanku sehingga membuatku berhalusinasi dengan pendengaranku!" ucap Kisako sambil meletakkan sloki vodkanya dengan buru-buru.


Kisako kemudian bangkit dan bergegas meninggalkan Jims Morisson yang masih duduk termangu di sebelahnya.


Jims tidak menghalanginya, ia membiarkan Kisako berlalu meninggalkannya sendirian.


"Wahhhh ... bagaimana, Mr. Morisson? Ditolak lagi rupanya anda malam ini," sang bartender yang terlihat akrab dengan Jims Morisson nampak sudah sering melihat usahanya mendekati Kisako. Bartender itu seolah sudah bisa membaca situasinya.


"Hahahaha," tawa Jims Morisson santai.


Jims Morisson menggeleng, ia lalu menatap lurus pada sang bartender. Sebuah tatapan mata yang mampu membunuh semua lawan bicaranya.


"Kau saksinya, dia pasti akan menjadi milikku sebentar lagi!" ucap Jims Morisson. Lalu dengan sangat tenang, laki-laki itu bangkit dari kursinya. "Siapkan saja, tempat spesialku malam ini!" lanjut Jims memberi perintah.


"Dengan Inggrid?" tanya bartender itu sok tahu.


"Tidak! Buang saja wanitamu itu, aku sudah bosan!" ucap Jims dingin. "Akan aku tunjukkan bagaimana cara seorang Jims Morisson harus mendapatkan keinginannya?" tegas Jims sebelum berlalu.


Bartender itu nampak tidak paham, tetapi tak urung ia menelepon dan memerintah seseorang di lantai lain longue itu untuk menyiapkan sebuah ruangan pribadi milik Jims.


***

__ADS_1


Kisako berjalan sedikit sempoyongan. Ia menatap dengan pandangan kabur mencari mobilnya di parkiran. Satu yang ia sadari adalah ia harus bergegas pergi dari tempat itu. Pergi sejauh-jauhnya dari jangkauan Jims Morisson.


Entah mengapa Kisako begitu muak dengan pria tampan berhati dingin itu. Meski kalimat Jims beberapa saat yang lalu terdengar begitu serius, tetapi Kisako memilih untuk tidak tertipu dan menghindari pria licik itu.


Haus! Kisao merasa tenggorokan dan saluran pencernahannya sedikit terbakar. Ia butuh segelas air mineral untuk menghilangkan rasa tidak enaknya.


"Ahhh ... mungkin ini efek dari minumanku barusan," batinnya sambil sedikit terengah-engah.


"Sayang ... mengapa begitu terburu-buru. Kau melupakan anti mabukmu. Minumlah," ucap Jims yang berhasil menyusul Kisako beberapa saat kemudian. Ia lalu memberikan sebotol minuman dingin beraroma lemon untuk Kisako.


"Ahhh ... Jims, belum juga menyerah rupanya pria itu!" batin Kisako kesal. Tetapi tak urung diambil dan diminumnya juga pemberian Jims hingga tandas.


Untuk sesaat Kisako merasakan sensasi segar dan dingin. Menghilangkan rasa panas dan terbakar di tenggorokannya.


Tetapi tak lama kemudian ia merasa seluruh persendiannya melemah hingga kakinya lunglai. Kisako seperti oleng, tak sanggup menopang tubuhnya.


"Bruk!"


Jims Morisson menangkap tubuh lunglai Kisako dalam pelukannya.


"I will help you, babe!" bisik Jims dengan suara serak tepat ditelinganya.


"Zrrrttt!" Kisako seolah disengat listrik ribuan volt saat bibir Jims Morisson sedikit menyentuh daun telinganya. Sebuah sentuhan kulit Jims di lengan dan pundaknya kemudian terasa membakar kulitnya.


"Oh, Shit! Jims! Apa yang kau berikan padaku?!" bentak Kisako dengan sisa-sisa tenaganya. Ia hendak menghempas tubuh Jims menjauh dari dirinya. Tetapi Kisako tak kuasa.


Jims Morisson tak lagi berbicara. Ia hanya tersenyum licik di sudut bibirnya dan memapah Kisako menuju suatu tempat di bagian lain gedung itu.


"Jims! Kau memang benar-benar lelaki berengsek!" racau Kisako yang semakin tak kuasa menolak lelaki itu.


Jims Morisson nampak tenang. Ia memapah Kisako penuh perhatian dan membuka pintu sebuah ruangan terbaik di tempat itu.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, malam ini ... aku akan memperlakukanmu dengan istimewa," bisik Jims sambil menghirup nafas dalam-dalam di ceruk leher Kisako.



__ADS_2