Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Moment of Glory


__ADS_3

Dua puluh desain tas yang dibuat Kisako pada akhirnya disetujui. Wanita yang pada akhirnya telah menyelesaikan kontrak kerjanya sebagai desainer bernama Miss K itu tersenyum puas. Kegembiraan terpancar pada matanya meski wajah dinginnya hanya bereaksi datar saja.


Siapa sangka, pertengkarannya dengan sang ibu memberikan sebuah inspirasi luar biasa. Percikan-percikan tinta yang menodai desainnya. Kisako padukan dengan guratan kuas lukis yang dinamis sehingga membuat desainnya penuh estetika.


'Dramatic Chaos' begitu tema yang diusung Kiskao sebagai Miss K kali ini. Ia memadukan warna-warna yang berani pada dasar warna pastel yang lembut.


"Sebuah hasil karya yang luar biasa, Miss K. Kami tak pernah salah memilih orang!" sang Direktur Marketing wilayah Asia sendiri yang memujinya.


Kisako sebagai Miss K hanya tersenyum diplomatis. Ia mengangguk tanda hormat dan mengakhiri presentasinya dengan sempurna.


"Selanjutnya untuk urusan pembayaran, akan diselesaikan dengan bagian keuangan ya, Miss K," sang ketua tim produksi menjelaskan padanya.


"Terima kasih," ucap Kisako.


Ia mengakhiri meeting hari itu dan bergegas membereskan semua barangnya. Mengirim soft file desainnya pada sang ketua tim dan menyerahkan beberapa berkas.


Kisako terlalu lelah setelah berhari-hari mengurung diri dalam kamar di rumahnya. Ia ingin segera berendam dalam bathtub di kamar mandinya ditemani segelas red wine favoritnya.


"Lewat sini, Miss K. Lisha akan mengantar anda," ucap seorang staf pada Kisako.


Kisako mengikuti perempuan berbaju little black dress modis itu. Menerka usia gadis itu masih sangat muda dan kemudian sekilas mengingat dirinya dulu ketika memulai karirnya sebagai Miss K.


Mereka berjalan melewati ruangan penuh dengan kubikel dengan beberapa puluh pekerja. Ada yang diam-diam memfotonya. Ada yang berbisik sambil senyum-senyum ke arahnya. Tak jarang mereka memanggilnya setengah memekik karena terlalu excited.


Kisako membalas dengan sebuah lambaian tangan canggung. Sebagai seorang desainer terkenal yang punya banyak fans, Kisako harus tampak ramah. Meski sesungguhnya ia begitu muak berjumpa dan beramah-tamah dengan orang lain.


Kisako memasuki ruangan berlabel 'Kepala Keuangan' dan berjumpa dengan seorang wanita paruh baya. Ia mengobrol sedikit, membubuhkan tanda tangan di beberapa dokumen dan menerima pembayaran tahap pertamanya via transfer.


Wanita itu bertubuh padat sedikit berisi, dengan baju jumpsuit berlengan 3/4 dan beraksen flare di bagian ujungnya. Ia nampak sudah cukup berumur namun memiliki kulit yang indah.


"Kau masih muda, tapi sungguh berbakat. Berapa usiamu?" tanya wanita itu.


"Maaf?" Kisako nampak tak nyaman menjawab dan hanya melontarkan pertanyaan seolah tak mendengar.


"Well biar aku tebak, pasti sekitar 29 tahun?" tebak Wanita itu seenaknya.

__ADS_1


Kembali Kisako hanya tersenyum tipis menanggapi meski rahangnya sempat mengeras karena kesal.


"Aku punya seorang putra berusia 39 tahun. Mungkin dia lebih tua darimu 10 tahun. Tapi dia seorang CEO yang berbakat," ucap wanita itu lagi


Kisako mengernyitkan kedua alisnya. Pertanda ia sungguh tak nyaman dengan ucapan lawan bicaranya barusan.


"Putraku itu juga seorang wartawan dan punya publishing sendiri. Entah mengapa aku merasa kalian cocok," ucap wanita itu lagi.


Kisako benar-benar kesal. Andai ia tidak sedang menjadi Miss K, ia pasti sudah menyiramkan segelas air pada wanita tersebut. Ia hanya berdehem pelan menanggapinya.


"Ahhh ... maafkan wanita tua yang tak tahu diri ini, nona. Sudahlah, aku tahu kau mungkin tidak suka ucapanku barusan," ucap wanita itu akhirnya.


Kisako memandangnya dengan bengis selama beberapa detik. Lalu kembali berperan sebagai Miss K yang berattitude dengan baik.


"Terima kasih, permisi!" pamit Kisako singkat. Ia kemudian bergegas meninggalkan salah satu lantai di sebuah menara perkantoran berlantai dua puluh tujuh itu. Kisako menuruni lift, menuju parkiran mobil, lalu memacu mobilnya ke sebuah club untuk merayakan pembayaran termin pertamanya.


"Selamat, Kisako! Kamu memang luar biasa!" tawanya bahagia. "Wanita tua itu pasti semakin membenciku. Ahhh Mrs. Rodrigues. Harusnya kamu lebih menyayangiku dibanding Annete," keluhnya sambil kembali tertawa.


Kisako menyempatkan diri menghapus make up dan dandananya ala Miss K sebelum memasuki club langganannya. Ia lebih nyaman minum sebagai Kisako yang suram daripada Miss K yang menarik perhatian.


Kisako duduk meja di depan bartender dan langsung memesan minuman favoritnya.


"Berpesta setelah pembayaran termin pertama, sayang!" sebuah suara mengagetkannya.


"Shit!!!! Aku lupa lelaki gila itu juga sering kemari!" batin Kisako kesal. Ia berpura-pura tak mendengar dan asyik meneguk minumannya.


Laki-laki itu duduk tepat di samping Kisako. Semat mengelus punggungnya sebelum benar-benar duduk di kursinya lalu memesan minuman.


"Mengapa kau merayakan sendiri, sayang. Lebih asyik mengajak seseorang untuk merayakannya," ucap lelaki itu dengan suara manja.


"Selamat siang, Mr. Morrison. Sial sekali bertemu anda!" ucap Kisako sambil menoleh dingin pada lelaki di sampingnya itu. Tanpa sadar gerakannya itu membuat rambut di bahunya terurai eksotis.


"Ahhh ... cantik sekali. Kecantikan yang dingin dan angkuh," ucap lelaki yang sempat terkesima pada tindakan Kisako dalam sepersekian detik.


Satu hal yang tidak pernah disadari Kisako adalah lelaki itu tidak pernah berbohong ketika memujinya. Dan ... lelaki itu sungguh menyukainya. Ehem tergila-gila mungkin, bahkan ... bisa jadi terobsesi.

__ADS_1


Kisako menyesap cairan terakhir dari gelasnya. Menuang kembali minuman ke dalam gelas itu, lalu meminumnya setengah.


"Jadi kapan kita akan merayakannya berdua saja, sayang? Pembayaran termin pertamamu cukup besar. Tidak inginkah kau liburan ke Bora-bora atau Maldives bersamaku?" lelaki itu kembali membuka percakapan.


Kisako hanya melirik Jims Morisson dari sudut matanya. Lalu kembali meneguk minumannya hingga tandas.


"Ahhh ... tenang saja, aku akan membayar biaya liburanku sendiri, sayangku. Oh, bahkan jika kau mau aku bisa membayarimu sekalian. Aku cukup kaya dan pantas kau kencani, sayang," kembali lelaki itu berbicara. Meski siapapun di sana yang melihatnya pasti akan mengira lelaki itu sedang bermonolog.


"Terima kasih, Mr. Morrison yang sangat kaya. Tetapi aku tak tertarik dengan hartamu! Terlebih lagi, aku tak tertarik dengan hubungan percintaan yang kau tawarkan," cemooh Kisako dingin.


Kisako menuang minuman dan menenggak habis gelas terakhirnya. Ia kemudian meletakkan beberapa lembar uang dan bergegas pergi dari club.


"Please, jangan buru-buru! Kau mau kemana sayang? Kita bahkan belum memulai apa-apa."


Sial! Jims Morrison nampaknya tidak melepaskannya dan terus menempel pada Kisako. Ia bahkan merenggut tubuh Kisako dalam pelukannya ketika mereka berjalan beriringan meninggalkan club menuju parkiran.


"Jims! Kau jangan gila! Sungguh aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu!" Kisako memperingatkan Jims Morisson sungguh-sungguh. Ia mendorong tubuh lelaki itu menjauh.


"Sayang, jangan begitu. Aku sungguh tulus mencintaimu. Mengapa kau memperlakukanku seperti ini," ucap Jims Morisson dengan tawa licik yang menyebalkan.


Dua pasang lelaki dan perempuan yang sedang lewat memandang mereka dengan senyum remeh.


"Oh ... pertengkaran antar kekasih. Hahaha ... mungkin lelakinya selingkuh? Atau bisa juga wanitanya sudah muak karena lelakinya miskin!" celotehan mereka terdengar dan membuat baik Kisako maupun Jims Morisson meradang.


"Jangan ikut campur!" kompak mereka memperingatkan dua pasangan tersebut.


"Wahhh kompak sekali. Sudahlah baikan saja! Kalian masih sangat cocok!" seru salah satu dari mereka sambil bergegas mengajak yang lain pergi.


Kisako semakin meradang sementara Jims Morisson pada akhirnya hanya tertawa kecil. Menganggap lucu apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Kisako.


Kisako memanfaatkan momen lengahnya Jims Morisson untuk bergegas pergi dan melepaskan diri dari lelaki itu. Ia setengah berlari mencapai mobilnya, lalu tancap gas meninggaskan Jims Morisson yang nampak tersenyum sambil memandang kepergian Kisako.


"Sungguh wanita dingin yang mempesona. Aku bersumpah tak akan pernah melepaskanmu, Kisako! Kau akan menjadi milikku bagaimanapun caranya!" ucap Jims Morisson sambir tertawa mengerikan.


__ADS_1


__ADS_2