Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
Lainiki Beach


__ADS_3

Annete berlari beberapa langkah di depan Kisako sambil tertawa riang. Ia memakai setelan bikini berwarna pink dengan rumbai bermotif polkadot di bagian celananya. Stelan bikini yang sama dengan yang dipakai Kisako tetapi dengan warna yang berbeda.


Kisako berlari di belakangnya sambil mengendalikan layang-layang yang sedang mereka terbangkan. Angin di pantai Lainiki, Hawai, memang cukup kencang untuk menerbangkan layang-layang.


"Terus ulur, Sist! Biarkan layangannya membumbung tinggi!" seru Annete girang.


"Bantu aku menggulung benangnya, Sist! Ini sangat berat!" balas Kisako yang nampak kesulitan mengendalikan layang-layang di tangannya.


"Baiklah," jawab Annete sambil membantu kakaknya menggulung benang.


"Girls! Jangan pergi terlalu jauh!" seru Mr. Rodrigues yang sedang berjemur sambil membaca buku.


Kisako dan Annete hanya tersenyum pada papanya itu.


"Annete! Jangan melamun, terus gulung benangnya!" seru Kisako.


"Ahhh, Sist! Lihatlah, sepertinya akan seru sekali bermain itu!" Annete nampak melamun dan arah padangannya menuju suatu tempat.


"Apa? Kamu mau main apa?" tanya Kisako.


Annete menunjuk beberapa pengunjung pantai yang nampak sedang bermain banana boat. Ia nampak begitu terpesona dengan keriaan mereka.


"Okay, let me asking mom for permition," kata Kisako. Ia lantas memberikan layang-layang dan benangnya kepada Annete sebelum mendekati mamanya.


"No! Kalian masih terlalu kecil untuk bermain itu!" tolak Mrs. Rodrigues tegas. "Permainan itu terlalu berbahaya, sayang," lanjut Mrs. Rodrigues pada Kisako sambil mengelus rambutnya.


"Okay, I'll tell Annete," jawab Kisako menurut.


Sayangnya Annete merajuk. Ia menangis dan mulai mengamuk. Annete kecil memang lebih ekspresif dan emosional. Ia terbiasa tantrum agar keinginnnya dituruti.


"No, Annete!" seru Mrs. Rodrigues tegas tetapi sambil menenangkan Annete.


"Papa ...!" rengek Annete.


Mr. Rodrigues pun bergeming. Ia sepakat dengan istrinya bahwa kedua gadis mereka masih terlalu kecil untuk bermain banana boat.


"Sudahlah, Sist! Kita main yang lain saja," Kisako menggandeng Annete pergi. Mereka ganti bermain pasir dan membangun kastil.


Tetapi, setengah jam kemudian Annete menjadi bosan dan kembali merajuk.

__ADS_1


"Sist, lihat!" pekik ya sambil menunjuk sesuatu yang sedang tertambat di bibir pantai tak jauh dari mereka bermain.


"Apa?" tanya Kisako tak paham.


"Ituuu!" Annete menunjukkan Kisako apa yang dilihatnya.


"Kano?" tanya Kisako bingung.


Annete hanya tersenyum penuh arti.


"Annete! Jangan bertindak ngawur!" nasehat Kisako.


Annete tak peduli dan mulai mendekati kano yang terparkir tanpa pemilik ataupun penunggunya.


"Annete! Jangan melakukan hal bodoh?" seru Kisako masih memperingatkan saudaranya.


"Ayolah, Sist! Tak akan ada yang tahu saat kita meminjamnya untuk bermain sebentar," usul Annete.


"Oh, Annete! C'mon! Kita bisa dituduh mencuri jika melakukan ini," jelas Kisako sedikit kesal.


Tapi Annete tidak mengindahkan perkataan Kisako. Ia justru sudah berada semakin dekat dengan kano yang terparkir di pantai itu.


Sesungguhnya Kisako tak suka itu. Ia tak suka menantang bahaya. Ia tahu fisiknya tidak cukup kuat seperti Annete yang jago berolah raga. Itulah kenapa ia lebih suka duduk dalam diam dan menenggelamkan dirinya dengan sebuah buku.


Lalu entah bagaimana caranya mereka berdua sudah berada di atas kano tersebut dan terapung di tepi lautan. Mereka mengayuh dengan kaki dan tangan mereka.


"Sist, look! How cool!" seru Annete yang duduk di depan. Ia begitu menikmati permainan itu.


"Annete! Kita sudah terlalu jauh dari pantai!" pekik Kisako ketakutan. Gadis kecil itu tak begitu bisa berenang karena fisiknya yang lemah. Jika di kolam renang saja ia hanya mampu berenang 1-3 meter, lalu bagaimana ia harus bertahan di lautan.


"Okei, ayo kita kembali ke pantai," ujar Annete santai. Meski lebih muda fisik Annete lebih kuat dari Kisako. Tinggi mereka pun sama kala itu.


"Wait! Bagaimana kita kembali?" tanya Kisako. "Kita tak punya dayung atau apapun yang bisa membawa kita ke pantai," lanjutnya.


"Ayo kita kayuh dengan tangan!" usul Annete.


Mereka kemudian mengayuh kano itu bersama. Sepuluh menit kemudian mereka menyadari bahwa kano itu tidak pernah bergerak mendekati pantai karena arus ombak dan angin laut yang kencang.


"Sist, aku lelah," gumam Kisako.

__ADS_1


"Okei, aku akan turun ke laut dan berenang sambil mendorong kano ini! Bertahanlah, Sist!" Annete kemudian terjun ke laut dan mulai berenang. Sayangnya tenaga Annete tidak cukup kuat untuk mendorong kano dan melawan gelombang laut.


Tiga puluh menit kemudia Annete kelelahan dan naik kembali ke atas Kano.


"Tolong!" teriak Kisako akhirnya. Satu yang gadis itu sadari adalah mereka dalam kesulitan besar dan membutuhkan bantuan orang dewasa untuk membawa mereka ke pantai. "Tolong ...!! Tolong ...!!!"


Sudah tiga jam lebih mereka terapung di laut dan entah sudah berapa jauh mereka dari pantai. Kisako sudah sangat kelelahan berteriak. Ia sangat haus dan tenggorokannya kering.


Annete di bagian belakang kano nampak masih berusaha mengayuh kano agar mendekat ke pantai meski hasilnya nihil. Ia juga mulai kelelahan dan kehausan.


"Sist, aku nggak kuat lagi," bisik Annete lemah.


"Tooloonggg!!!" kembali Kisako berteriak dengan sisa-sisa tenanganya. Ia begitu ketakutan menyadari mereka semakin terbawa arus ke arah laut lepas. "Tolong!!! Tolong!!!"


Matahari semakin terik membakar tubuh keduanya yang nampak sudah sangat lelah, haus dan lapar. Perlahan Kisako mulai kehilangan kesadarannya, penglihatannya menjadi kabur lalu ia pingsan.


Entah bagaimana pada akhirnya seorang nelayan yang sedang melaut menemukan mereka berdua dalam kondisi pingsan di atas kano. Entah berapa lama pula mereka terapung di atas kano di lautan Hawai yang meski berarus tenang, namun cukup berbahaya untuk anak-anak berusia 12 dan 9 tahun itu.


Mereka berdua segera dilarikan ke rumah sakit terdekat begitu mencapai pantai. Tak terkira paniknya kedua orang tua mereka kehilangan kedua gadis kecilnya, lalu ditemukan dalam kondisi kritis.


Kondisi Annete lebih parah, daripada Kisako. Ia siuman dua hari lebih lama dari Kisako karena dehidrasi akut dan kelelahan fisik. Kisakopun harus menerima penghakiman dari sang ibu yang sempat putus asa dengan kondisi Annete yang tak kunjung siuman.


"*Kamu jahat, Kisako! Kamu kakak yang tidak bertanggung jawab dan lalai menjaga adikmu!"


"Kamu jahat, Kisako! Kamu kakak yang tidak bertanggung jawab dan lalai menjaga adikmu!"


"Kamu jahat, Kisako! Kamu kakak yang tidak bertanggung jawab dan lalai menjaga adikmu*!"


"Aaarrrggghhhhhh!!!!" Kisako menjerit histeris di atas ranjang tempat tidurnya.


Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, bahkan seprei dan sarung bantalnya juga basah oleh keringat.


"Shit! Mimpi ini lagi!" maki Kisako kesal.


Ingatan akan kejadian itu selalu membuatnya terbangun dalam kondisi kelelahan dan sesak nafas.


Kisako mengambil segelas air dan meminumnya hingga habis. Ia mengatur nafas. Lalu kembali menenangkan dirinya, meyakinkan semuanya baik-baik saja.


"Annete! Selalu saja! Bahkan dalam mimpikupun kamu tak pernah membuatku nyaman!" batin Kisako kesal.

__ADS_1



__ADS_2