
Mr. Barron masih duduk di tepian ranjang tidur Kisako. Ia menjadi sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan. Ia membuat Kisako menumpahkan semua emosinya dan hanya mengamati sambil mencatat.
Sebaliknya, Kisako sangat ekspresif dihadapan Mr. Barron. Ia bercerita, tertawa, marah dan menangis. Kadang ia bercerita sambil berjalan, bergerak, memeluk Mr. Barron dan bahkan melakukan gerakan yoga ringan.
"Kau bahagia?" tanya Mr. Barron sambil menyodorkan segelas air dan makanan.
"Aku tak ingin makanan itu! Aku hanya ingin coklat dan es krim!" seru Kisako manja.
"Baiklah, jika kau bersikap baik. Aku akan berikan coklat ini padamu," ucap Mr. Barron sambil mengeluarkan sebatang coklat dari dalam tasnya.
"Apa lagi yang dokter inginkan? Aku sudah menceritakan semuanya," ujar Kisako.
"Malam itu, apa yang sebenarnya terjadi padamu malam itu?" tanya Mr. Barron sambil menahan nafas.
Kisako terdiam, tangannya yang terulur hendak mengambil coklat mendadak dilipat dan disembunyikannya kembali dalam gulungan piyamanya.
"Ki ...! Kisako!" Mr. Barron kembali memanggilnya.
"Pergi!" hardik Kisako dengan nada tinggi. Ia kemudian berbaring di ranjangnya menghadap tembok. Memunggungi dokter Barron dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Mr. Barron menghela nafas berat. Ia berbalik dan mengelus bagian kepala Kisako yang terbungkus selimut.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Ki. Mereka hanya berjuang mendapatkan kebahagian dan mencoba menyembunyikan air mata. Aku ... akan selalu ada untuk membantumu," ucap Mr. Barron.
Ia kemudian bangkit dan mengemasi barangnya. Mengambil tas koper kecil yang selalu dibawanya ketika menemui Kisako.
"Coklatmu aku letakkan di meja. Makanlah ketika kau terbangun nanti. Besok teleponlah aku pagi-pagi jika kau masih ingin bercerita. Aku akan menemanimu," ucap Mr. Barron sambil membuka pintu kamar Kisako.
"Hiks ... hiks ... hmmmpppp ... hmppp!"
Samar-samar terdengar isak tangis Kisako yang tertahan dari balik selimut yang menutupinya.
Mr. Barron sesungguhnya ingin memeluk Kisako. Menenangkan gadis kecilnya itu dan menghapus luka yang membebaninya.
__ADS_1
Tapi tidak, sang dokter tahu, kali ini gadis kecilnya itu hanya ingin sendiri.
"Ceklek! Srett! Klik!"
Mr. Barron menutup pintu kamar Kisako perlahan dan melangkah pergi. Menuruni tangga mansion mewah itu, menuju ruang tamu.
"Dokter, bagaimana?" tanya sepasang suami-istri yang telah menunggunya disana.
"Ia sepertinya sedang terpukul berat. Ia semakin dewasa dan aku semakin sulit memasuki jiwanya, Sir!" ujar Mr. Barron. Ia duduk bergabung bersama Mr. dan Mrs. Rodrigues.
"Tapi dia ... tidak berpikir untuk menyakiti dirinya lagi seperti waktu itu kan, Dok?" tanya Mrs. Rodrigues khawatir.
"Aku sudah meninggalkan coklat berisi obat penenang di meja kamarnya. Semoga ia mau memakannya sehingga akan menjadi lebih relax dan tidak terbebani penikiran yang berat-berat," jawab Mr. Barron
"Mungkinkah aku harus memanggil Annete untuk meminta maaf?" tanya Mrs. Rodrigues.
"Annete? Untuk apa?"
"Annete sepertinya terlibat dalam masalah hukum yang harus dihadapi Kisako," jelas Mrs. Rodrigues.
"Hmmm, tak bisakah kedua anak gadisku itu akur, Dok?" tanya Mr. Rodrigues putus asa.
"Mereka akan sulit sekali disatukan, Mr." Sang dokter berucap sambil menyunggingkan senyum. "Kisako dan Annete, memiliki rasa sibbling rival yang tinggi satu dengan lainnya," jelas Mr. Barron.
"Mengapa? Aku membesarkan mereka dengan perlakuan yang sama," ujar Mr. Rodrigues.
"Entahlah, kita akan tahu lebih banyak andai Kisako mau berkomunikasi," jawab Mr. Baron.
"Besok, apakah anda akan kembali berkunjung dan memeriksa Kisako?" tanya Mrs. Rodrigues.
"Kita lihat perkembangannya, Nyonya. Jika memang dia telah tenang dan mau berkomunikasi saya akan datang. Jika tidak, cukup kita pantau dari CCTV saja," jawab Mr. Barron lagi.
"Arghhhhhh!!!!"
__ADS_1
Ketika Mr. Barron hendak berpamitan, terdengar teriakan kencang dari kamar Kisako.
"Kisako!" pekik Mrs. Rodrigues.
Mereka bertiga kemudian berpacu menaiki tangga dan membuka pintu kamar Kisako dengan terburu-buru.
"Kisakooooo!!!!" teriak Mr. Barron.
Wanita itu telah bersimbah darah. Pergelangan tangannya robek dan darah mengucur dari kulitnya yang terluka.
"Jangan mati, nak! Papa mohon jangan mati!" bisik Mr. Rodrigues sambil memeluk tubuh Kisako yang mulai memucat.
"Aku akan menelepon ambulance. Kita rawat dia di ruang isolasi saja," ucap Mr. Barron.
"Aku ... ingin mengakhiri semuanya saja, dokter. Aku akan pergi, ke tempat itu. Tempat dimana semua rasa sakitku sirna," bisiknya samar-samar.
"Tidak, nak! Kau tidak boleh pergi begitu saja. Papa, papa janji akan bereskan semuanya." Me Rodrigues berkata sambil merengkuh tubuh kurus anak gadisnya tersebut.
Mr. Barron bergerak tanggap. Ia meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol obat dengan suntikan. Tak berapa lama, pria itu menyuntikkan satu dosis obat penenang pada Kisako.
"Mengapa, mengapa seperti ini? Mengapa kau tidak menjadi gadis baik dan memakan coklatmu?" bisik Mr. Baron sambil mengelus sisi lengan Kisako yang lain. Sisi lengan dari tangan yang tak terluka. Lengan yang baru beberapa saat yang lalu disuntiknya dengan obat penenang.
"Sudah ... aku, ingin ... me ... nyu ... dahi ... sa ... ja," bisik Kosako samar seiring dengan obat penenang yang mulai bekerja.
"Ambulance akan datang beberapa saat lagi. Mari kita obati dulu lukanya agar tidak kehabisan darah," ujar Mr. Barron.
Mrs. Rodrigues bergegas mengambil kotak P3K di dekat tangga lantai dua. Air matanya bercucuran melihat kondisi Kisako yang demikian. Bagaimanapun ia seorang ibu, ia adalah wanita yang melahirkan Kisako.
"Tuhan, oh Tuhan. Andai aku boleh memohon. Kumohon selamatkan ia. Jangan jadikan ia sepertiku dulu dan sembuhkan ia. Dia anakku, bagaimanapun dia anakku," isak Mrs. Rodrigues sambil terduduk dan menepuk-nepuk dadanya.
"Nyonya, nyonya Rodrigues!" panggil salah seorang Maid.
Ia kemudian memapah Mrs. Rodrigues duduk di sebuah kursi dan menyerahkan kotak obat pada Mr. Barron.
__ADS_1
Mr. Rodrigues yang melihat kondisi istrinya semakin terpukul. Sungguh sebagai seorang kepala keluarga ia semakin terpukul.