Sister (The Siblings Rival)

Sister (The Siblings Rival)
In Her Bed


__ADS_3

Hanaga terbangun dari kasur dan mengerjapkan matanya dengan heran. Ia bingung sedang berada dimana. Ia tak mengenal tempat itu. Berkali-kali ia mencoba mengingat tetapi tak bisa. Tubuhnya sudah mulai bisa dikendalikan meski kepalanya masih berat. Ia merusaha mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperbaiki penglihatannya.


Hanaga terbangun dari sebuah ranjang bermodel klasik dengan ukuran king size. Berbalut sprei polos berwarna biru tua dan selimut kuning emas. Di kanan-kiri ranjang terdapat nakas kecil yang di satu sisinya tersapat lampu tidur sementara di sisi lain menjadi tempat untuk menumpuk buku dan kacamata.


"Arghhhh!" serunya sambil memegang kepalanya.


Kosong! Tempat itu sudah kosong saat Hanaga melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Sambil terhuyung Hanaga kemudian berpakaian. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu.


Hanaga berjalan keluar sambil mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya. "Kak Kisako ... minum ... lemas dan entah apalagi?" gumamnya masih bingung.


Hanaga berjalan di sepanjang lorong, menuju lift dan memencet tombol lantai dasar. Ia kemudian keluar dari gedung apartemen itu dan menghentikan taksi. Segera menaikinya dan meminta pengemudi taksi itu mengantar ke alamat apartemennya sendiri.


Ia melihat Annete sudah berada dalam gedung apartemennya, ketika ia membuka pintu. Wajah Annete nampak lelah meski ia duduk tenang di ruang tamu dengan mulut dikerucutkan cemberut.


"Kamu dari mana?" tanya Annete. Air mukanya nampak kesal. Ia ingin mengintrogasi Hanaga. Kemana saja kekasihnya itu hingga lupa menjemput Annete, bahkan tak pulang ke apartemennya sendiri.


"Aku ... ehem, minum dengan rekanku. Maafkan aku sayang, aku mabuk dan tidak bisa menjemputmu," jawab Hanaga berbohong. Ia yakin jika Annete mendengar Kisako minum dengannya, kekasihnya itu tak akan suka.


"Mandilah, kamu tampak kacau, babe," nasehat Annete. Annete mengabaikan semua daftar pertanyaan dan amarahnya demi melihat kekasihnya itu masih nampak begitu lelah. "Mungkin Hanaga masih hangover," batinnya mengalah.


Hanaga bergegas pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan pancuran dingin air shower. Ia sengaja mengguyur tubuhnya tanpa membuka baju karena merasa sangat lengket dan kotor. Hanaga harus membersihkan sisa-sisa Kisako dari seluruh tubuhnya, sebelum Annete menyadari ada yang tidak beres.


Perlahan potongan-potongan ingatan berkelebat di kepala Hanaga. Bagaimana ia mendapat kunjungan dari Kisako, lalu mereka minum, hingga ia menjadi lemas dan berada pada mobil Kisako. Lalu ... ciuman itu! Hanaga teringat sepotong ingatan tentang bagaimana berhasratnya ia ******* bibir calon kakak iparnya tersebut.


"Argh!" Hanaga menjadi pusing dan kesal. Ia menggosokkan shampo dengan keras ke kulit kepalanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Annete yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Annete kemudian memeluk tubuh Hanaga yang basah. Membantu Hanaga melepaskan kancing-kancing kemejanya dan baju bagian bawahnya.


"Ehem, tidak. Aku hanya merasa sangat lengket dan kotor," jawab Hanaga. Ia pasrah saja ketika Annete melucuti pakaiannya.


Annete membuat Hanaga berputar dan menghadap ke arahnya. Menunjukkan maha karya sang pencipta yang terpatri indah pada bentuk tubuhnya yang nyaris tanpa celah. Annete begitu pandai menggoda bagi Hanaga. Ia tahu laki-lakinya itu lemah dengan beberapa bagian tubuhnya yang begitu indah.


"Shit, Annete! Ini masih pagi!" keluh Hanaga kesal, meski hasratnya sebagai laki-laki memberontak.

__ADS_1


"Masih ada waktu sampai nanti siang untuk mengambil undangan dan menyebarkannya. Lalu ke butik tante Luna dan fitting baju," jawab Annete. Ia melakukan gerakan yang begitu sensual sehingga lelaki manapun di muka bumi ini akan menelan ludah dan tak dapat menahan diri untuk melahapnya.


Begitupun Hanaga, ia adalah seorang laki-laki sehat dan normal. Digoda oleh kekasihnya macam itu lantas membuat Hanaga tak bisa lagi menahan dirinya. Ia kemudian melahap tubuh Annete dengan rakus dibawah guyuran shower.


"Do it like always, babe," bisik Annete sambil tersenyum nakal. Ia selalu merasa bahagia saat lelakinya tak bisa menahan diri terhadap kemolekan fisiknya.


***


Annete sudah rapi, pada dasarnya dia sudah sangat cantik dan sempurna. Hanya perlu sedikit sapuan make up tipis dan merapikan rambut indahnya yang tergerai. Penampilannya akan nyaris tanpa celah.


"Kamu sudah siap, babe?" tanya Hanaga dibalik kemudi.


Annete tersenyum, mengangguk dan bersandar manja di lengan calon suaminya itu.


"Krukk!" Perut Annete berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Hanaga.


Annete tersenyum lucu sambil memegangi perutnya.


"Thank you, babe. You are my perfect boyfriend," ucap Annete sambil memperketat pelukannya pada lengan Hanaga.


Ada sedikit rasa ngilu di relung hati Hanaga. Sebagai seorang laki-laki, ia merasa bersalah pada kekasihnya itu. Meski Annete bukan yang pertama dalam hidupnya dan ia bukan yang pertama dalam hidup Annete. Tetapi Hanaga bukan pria berengsek yang semudah itu bisa tidur dengan banyak wanita sekaligus.


"Babe, awas!" teriak Annete saat mobil Hanaga hampir menabrak seorang pengendara lain di depannya yang mengerem mendadak.


"Ckitttt!!!!!"


Hanaga menginjak pedal rem dengan sekuat tenaga. Sungguh hanya dalam sepersekian detik saja ia bisa menabrak jika tak cepat menginjak rem.


"Are you okay?" tanya Hanaga pada Annete.


"No, I'm okay! Now, I'm asking you, are you okay?" balas Annete. Ia nampak tak bisa lagi menahan diri.

__ADS_1


Hanaga mengangguk buru-buru.


"Babe! Ada apa?" tanya Annete curiga. Matanya memicing dan menatap tajam mata Hanaga.


"Dinnnn! Dinnnn!"


"Dinnnn!!! Diiiiinnnnn!!!"


Beberapa mobil di belakang mobil mereka menyalakan klakson. Wajah-wajah pengemudi yang kesal terlihat dari kaca depan mobil mereka.


Hanaga yang masih terkejut bergegas menjalankan mobilnya. Perjalanan selanjutnya mereka habiskan dalam diam. Mereka seolah sibuk dengan segala macam pikirannya sendiri.


Hanaga terlalu malas untuk berpikir kebohongan apalagi yang hendak dia ciptakan sehingga Annete percaya.


Sementara Annete juga terlalu lelah untuk curiga dan berspekulasi. Ia tahu ada yang tak beres dengan kekasihnya. Tetapi ia terlalu malas untuk berdebat. "Ini bukan saat yang tepat," batinnya meski tak tenang.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Hanaga berusaha menetralisir suasana.


"Terserah," jawab Annete singkat.


Hanaga memahami kekasihnya itu mulai tak nyaman. Ia menggenggam jemari Annete dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan aku, aku tadi melamun," ucapnya kemudian.


Annete hanya mematung dan tak bereaksi.


"Sayanggg!" Hanaga menepikan mobilnya dan melepaskan sabuk pengamannya. Ia kemudian menopangkan dagunya pada pundak Annete.


Annete menggeliat berusaha menghindari Hanaga.


"Sayang ...," kembali Hanaga berbisik di telinga Annete. Ia menciumi anak rambut dan puncak kepala Annete.


"Baiklah, aku memaafkanmu," kata Annete. Ia mengalah, meski tahu ada yang tidak beres dengan Hanaga. "Kita lihat nanti, apa yang sebenarnya terjadi padamu," batin Annete.


(Annete)

__ADS_1



__ADS_2