
Wajah Min Yoongi mengeras, saat mendengar Lee Yura berucap perihal perpisahan. Meski pernikahannya bukanlah pernikahan yang sungguh – sungguh ia inginkan, tetap saja tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya perihal perpisahan.
“Apa? Berpisah? Bercerai maksudmu? “ suara Min Yoongi sama kakunya dengan raut wajahnya yang kesal penuh amarah itu.
“Iya! Untuk apa kita bersama – sama seperti ini jika semuanya hanya sebuah sandiwara belaka? Lebih baik kita berpisah bukan?! “ Lee Yura sama tegasnya. Min Yoongi tersenyum getir, sorot matanya yang berubah menjadi sangat dingin menembus tatap sayu dari kedua netra Lee Yura yang terduduk diatas tempat tidur dihadapannya.
“Tidak akan Yura –ya, jangan pernah kamu bermimpi kita bisa berpisah. Sekalipun kamu mengajukan gugatan cerai di pengadilan dan aku harus menghabiskan seluruh uangku disana untuk melawanmu dan segala tuntutanmu, mati – matian aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita. Bagaimanapun keadaannya kamu tetaplah istriku Lee Yura. “
Seolah tidak ingin mendengar penolakan, Min Yoongi bergegas beranjak dari kursi berwarna cokelat yang ia tempati. Ia melepas jaket yang semula membungkus tubuhnya, dan membiarkan pakaian berwarna hitam itu teronggok diatas lantai. Gegas lelaki itu masuk kedalam kamar mandi, disusul bunyi gemerick air yang mengalir dari shower. Sementara Lee Yura, hanya terpaku diatas pembaringan. Ia kian tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Min Yoongi inginkan.
***
Esok paginya, setelah usai mempersiapkan segala keperluan sembahyang, upacara peringatanpun dilaksanakan. Satu persatu rangkaian tradisi peringatan dilakukan hingga usai, dan setelahnya seluruh anggota keluarga masih berkumpul untuk menikmati makan bersama. Pasangan suami istri Min Jisung, Min Geum Jae bersama istrinya juga Min Yoongi dengan Lee Yura. Semuanya duduk mengitari meja yang penuh dengan sajian lauk pauk beraneka rupa.
“Bagaimana Lee Yura? Ini upacara peringatan yang pertama kali kamu ikuti bukan? “ ucap Min Jisung seraya memandang paras ayu menantunya.
“Iya Hoejang Nim, baru kali ini saya mengikuti upacara seperti ini. “ Lee Yura mengulaskan senyuman yang terlihat seperti sedikit dipaksakan.
“Semoga ini tidak merepotkanmu Yura –ya. “ sambung Ibu Min Yoongi, tatap mata nya selalu sama. Ia begitu tulus terhadap Lee Yura.
“Tidak merepotkan sama sekali Eomeonim – (Ibu Mertua). “ perempuan itu kembali tersenyum. Sementara Min Yoongi, wajahnya benar – benar tampak datar tanpa seberkas senyumanpun merekah pada kedua sudut bibirmya.
“Yura –ya, apakah kamu baik – baik saja? Kenapa wajahmu sangat pucat dan terlihat sedang tidak sehat? “ sambung Ibu Min Yoongi lagi.
“Aku baik – baik saja Eomeonim, mungkin karena kurang tidur. “ bohong wanita itu seraya mengusap – usap kedua sisi pipinya dengan sepasang tangannya yang mungil. Wajahnya yang pucat bukan karena sakit, sebab hampir semalaman ia menangisi hubungan Min Yoongi dengan Park Eunji, ditambah perdebatan dirinya dengan Min Yoongi yang masih belum reda.
__ADS_1
“Selepas ini beristirahatlah lagi, supaya badanmu lebih bugar Lee Yura. “ sambung wanita paruh baya itu sembari meletakkan sepotong daging kedalam mangkung istri Min Yoongi.
“Tidak Ibu, kami harus kembali ke Seoul hari ini. “ Lee Yura kembali tersenyum tipis.
“Tidak, kita kembali Seoul besok. “ tegas Min Yoongi tanpa memandang wajah perempuan yang duduk tepat disampingnya. Ia terus saja melahap makananya dengan cepat, hampir tidak dikunyah.
“Yoongi – a, besok aku harus bekerja. “ keluh Lee Yura, kali ini nada bicaranya hampir meninggi.
“Tidak, kita kembali besok. “ lelaki itu meletakkan sepasang sumpitnya dengan tiba - tiba kemudian beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang makan tanpa permisi. Ia langsung menuju kamarnya dilantai atas.
Lee Yura dengan wajah nya yang gelisah pun turut pamit dari ruangan tersebut dan bergegas menyusul Min Yoongi yang sudah tidak terlihat barang seujung rambutnya pun. Saat sudah masuk kedalam kamar, terlihat Min Yoongi sudah tergolek diatas tempat tidur dengan tangan yang terlipat menutupi hampir seluruh wajahnya.
(Source : Pinterest)
“Kamu tahu bukan bahwa besok aku harus bekerja, kenapa merubah jadwal sesuka hatimu saja? “
(Source : Pinterest)
“Aku masih ingin disini. “ ucap Min Yoongi tanpa merubah posisi tidurnya.
“Kalau begitu aku kembali ke Seoul sendiri. “ perkataan Lee Yura baru saja jelas menyulut amarah Min Yoongi, lelaki itu langsung beranjak dari posisinya semula, lalu berjalan mendekati Lee Yura yang masih mematung ditepi ranjang.
__ADS_1
“Ya –(hei)! Lee Yura! “ kali pertama Min Yoongi meneriaki Lee Yura dengan nada bicara yang tinggi dan tegas, seraya menarik lengan perempuan itu.
“Aku sudah bilang tinggal, ya kita tinggal! Aku ini suami mu Lee Yura, dengarkan aku! “ sambung lelaki itu sembari menghembuskan nafas kasar melalui kedua rongga hidungnya.
“Untuk apa cepat – cepat pergi ke Seoul? Mengurus berkas perceraian? Sudah kukatakan padamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu! “
“Bukankah pernikahan kita ini sia - sia? Aku bisa menerima pernikahan dengan lapang dada dan terus berada disisimu, seolah – olah kita memang suami istri yang sesungguhnya, tetapi kamu di lain tempat sudah memiliki kekasih dan bahkan dia ada disekitarku! “ tangis Lee Yura pecah. Air matanya tak terbendung lagi, emosi didalam dadanya yang membuncah, meledak begitu saja.
Min Yoongi menatap nanar Lee Yura yang menangis tersedu –sedu sembari menangkup wajah mungilnya dengan kedua tangannya. Sesaat hati Min Yoongi tersayat pedih saat melihat buraian air mata banjir dari pelupuk mata Lee Yura. Tanpa sadar, lengannya yang berotot itu merengkuh Lee Yura dan membawanya kedalam dekapan dadanya yang bidang.
“Mihane –(maafkan aku) Yura –ya, maafkan aku karena tidak jujur atas keberadaan Park Eunji selama ini. Maafkan aku karena sudah berteriak dan marah padamu baru saja. Aku mohon beri aku waktu, aku bisa menyelesaikan semuanya dan mari kita tetap bersama Lee Yura. “ bisik lelaki itu sambil terus mengusap – usap punggung Lee Yura dana berusaha menenangkannya.
“Kamu meminta waktu? Untuk melepaskan Park Eunji? “ tanya Lee Yura masih dalam balutan tangis yang tersembuyi didalam rengkuhan dada Min Yoongi.
“Iya, beri aku waktu. “
“Kenapa? Apa kamu menyukaiku? Kamu mencintaiku? “ sambung Lee Yura lagi, ia seolah tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Min Yoongi.
“Aku tidak tahu, aku hanya ingin tetap bersama mu. Aku ingin terus menghabiskan hari – hari bersamamu, merasakan kehangatanmu untuk hal – hal sederhana, tertawa bersama saat kita menonton televisi, melihatmu bekerja dikamar kita, mendengar omelanmu saat aku malas mandi, usapan lembutmu saat membangunkan aku dari tidur, aku ingin terus merasakannya Lee Yura. “ tanpa sadar Min Yoongi mengecup puncak kepala Lee Yura.
“Apakah kamu tidak ingin memberikan kesempatan untukku? “ Min Yoongi mengendurkan pelukannya.
“Mungkin aku terlihat tidak memiliki pendirian, tapi percayalah aku sudah memutuskan semuanya sejak lama, bahkan jauh – jauh hari sebelum kamu bertemu dengan Eunji. “ sorot mata Minyoongi yang redup tampak menerobos kedalam kedua manik kecokelatan Lee Yura.
“Mari kita hidup dan menua bersama Lee Yura. “
__ADS_1