SOMEBODY DOES LOVE

SOMEBODY DOES LOVE
28. MIN YOONGI DAN KECEMBURUANNYA


__ADS_3

    Pukul dua siang hari Lee Yura tampak bersolek didepan cermin didalam kamar utama, sementara Min Yoongi duduk dikursi kerja sembari menghadap laptopnya. Min Yoongi sedang mengerjakan beberapa hal sebelum ia harus kembali berangkat ke kantor agensi untuk latihan bersama rekan – rekannya.


    Lelaki yang semula disibukkan oleh komputer jinjing berwarna abu – abu didepan matanya itu, tiba – tiba saja mengalihkan pandangannya menatap Lee Yura yang sedang mengoleskan lipcream pada bibirnya yang tipis. Lelaki itu memandang kesal ke arah Lee Yura yang tengah sibuk berdandan, gegas Min Yoongi bangkit dari tempatnya dan menghampiri Lee Yura.


    Tanpa aba – aba dilumatnya dengan sedikit kasar sepasang bibir Lee Yura yang sudah merona, sampai – sampai lipcream berwarna jingga yang telah menempel itu turut berpindah tempat mewarnai sebagian bibir Min Yoongi.


    “Yoongi –a, “ keluh Lee Yura saat lelaki itu sudah melepaskan tautannya.


    “Waeyo –(kenapa)? Apa kamu tidak melihat dicermin kalau kamu berdandan terlalu menor? Begini saja sudah cantik. “ sembari mengusap bibir Lee Yura dengan tisu, Min Yoongi terdengar memberikan alasan.


    “Tapi tidak begini caranya Min Yoongi! “ Lee Yura sedikit kesal, ia kembali menyeka pinggiran bibirnya yang masih menyisakan bercak sisa lipcream yang tidak rapi.


    “Apa? Min Yoongi? “ gumam Min Yoongi kesal. Terlihat jelas bahwa ia tidak suka mendengar Lee Yura menyebut namanya dengan lengkap.


    “Kenapa hari ini kamu sangat mengesalkan? “ omel Lee Yura lagi, namun Min Yoongi hanya terdiam. Ia tidak menjawab kekesalan istrinya yang dilontarkan kepadanya.


    “Aku berangkat. “ kata Lee Yura pada akhirnya. Meski sedang kesal, Lee Yura tetap tidak melupakan ritualnya menangkup tubuh Min Yoongi dan mengecup pipinya saat ia berpamitan.


    “Dibawah sudah ada Manajer Jang, biarkan dia mengantarmu. Pukul empat aku jemput. “ tandas lelaki itu.


***


    Setelah berpamitan pada Manajer Jang, Lee Yura langsung masuk kedalam sebuah restoran barbekiu yang terlihat cukup lengang. Perempuan itu langsung menemukan keberadaan Choi Siwan yang sudah datang terlebih dahulu dan menunggunya disalah satu sudut tempat.


    “Oppa! Apa kamu sudah lama menunggu? “ sapa Lee Yura sembari menarik kursi kayu berpunggung tinggi yang masih kosong dan menempatinya.


    “Belum juga, tetapi aku sudah memesan beberapa menu yang kamu suka. “ lelaki berperawakan tinggi kurus itu mengulum senyum. Kedua sudutnya yang saling menarik menciptakan segurat senyuman yang tampan diwajahnya.


    “Bagaimana perjalanan mu ke Jepang? “ sambung Choi Siwan.


    Lee Yura gegas mengulurkan satu buah bungkusan berwarna cokelat yang tadi ia ambil dari bagasi mobilnya tepat sebelum dirinya meninggalkan rumah, dan menyerahkannya pada Choi Siwan.

__ADS_1


    “Apa ini? “


    “Ah hanya dasi dan sepasang kaos kaki, aku tahu kau pasti sedang tidak sempat berbelanja bukan? “ Lee Yura tersenyum.


    “Gomawo –(terima kasih) Yura –ya. “


    Makanan sudah tiba, Choi Siwan tampak sibuk memanggang daging sementara Lee Yura begitu antusias menunggu makanannya matang. Pria berwajah tampan itu lalu mengutip beberapa potong daging dari atas pemanggang dan meletakkan nya pada piring milik Lee Yura.



(Source : Pinterest)


    “Makanlah Yura –ya. “


    “Oppa, ada yang ingin kusampaikan. “ ucap Lee Yura serta merta.


    “Ada apa? Katakan saja, aku mendengarkan. “ Choi Siwan kemudian meletakkan alat pencapit ditangannya dan kedua netranya kini hanya difokuskan pada wanita yang duduk dihadapannya.


     Hening menyeruak diantara Lee Yura dan Choi Siwan, dalam sekejap lelaki itu seperti tengah berada diruang hampa udara. Hiruk pikuk disekelilingnya mendadak sirna, jantung dan dadanya seakan berhenti serta terasa cukup menyesakkan. Ia seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


    “Jangan bercanda Yura –ya. “ suara Choi Siwan terdengar bergetar.


    “Aku tidak bercanda Oppa, sebelum aku mengundangmu kerumah kami dan memperkenalkan mu pada suamiku aku ingin mengatakan ini secara langsung terlebih dahulu. “ Lee Yura seperti merasa bersalah pada pria didepan matanya  itu.


    “Kenapa tidak mengabariku? Apa yang terjadi? “ desak Choi Siwan.


    “Tidak ada yang terjadi Oppa, hanya saja aku memang menikah dengan sedikit terburu – buru dan pernikahanku digelar secara tertutup. Maafkan aku Oppa. “ Lee Yura tertunduk lesu, ia kian merasa bersalah.


    “Yura ­–ya, sebenarnya kamu menggap aku ini apa? Bisa – bisa nya kamu menikah dan tidak mengabariku? Apa kamu tahu mimpiku? “ tanya lelaki itu dan Lee Yura menggeleng.


    “Menggandengmu berjalan menuju altar, menggantikan peran ayahmu. “ seketika dada Lee Yura terasa panas hampir meledak. Ia benar – benar merasakan penyesalan yang begitu mendalam dilubuk hatinya.

__ADS_1


    “Dengan siapa? Aku bahkan tidak mengenalnya Yura –ya, dengan siapa kamu menikah? “ Choi Siwan berjalan mengambil tempat disisi kosong Lee Yura dan mengusap kepalanya perlahan.


    “Karena semuanya sudah terjadi, apa boleh buat? Perkenalkan aku padanya, dan kamu harus bahagia. Apa kamu mengerti Lee Yura? “ kedua netra Choi Siwan yang kehitaman tampak berkaca – kaca, dalam lirih diamnya ia meneteskan air mata untuk Lee Yura. Bergegas Lee Yura merengkuh tubuh Choi Siwan dan keduanya bertangis – tangisan.


    “Aku bahagia jika kamu sudah menemukan keluarga yang selama ini tidak kamu punya Yura –ya. “ lelaki itu menarik tubuhnya, kembali ia mengusap – usap kepala Lee Yura. Wanita cantik yang akan terus menjadi gadis kecil dimata Choi Siwan.


***


    Waktu belum menunjukkan pukul empat sore, namun Min Yoongi sudah tiba dikedai tempat Lee Yura dan Choi Siwan bertemu. Setelah beres berpamitan, perempuan itu segera berpisah dengan pria yang benar – benar sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya itu.


    “Oppa, jangan lupa besok sabtu ya! “ teriak Lee Yura pada Choi Siwan saat ia sudah membuka setengah pintu mobil yang sudah diisi oleh Min Yoongi dan Manajer Jang didalamnya.


    Choi Siwan mengangguk seraya tersenyum lalu menghilang didalam kendaraannya, Lee Yura pun segera menjatuhkan tubuhnya  tepat disisi Min Yoongi yang tengah memasang wajah yang masam. Ia mengamati wajah Lee Yura yang bersemu kemerahan, lalu melacak khas aroma alkohol yang menguar dari tubuh istrinya. Min Yoongi mendekatkan pembauannya kearah Lee Yura dan menghirup – hirup beberapa kali udara yang ada didekatnya.


    “Kamu minum? “ wajah Min Yoongi berubah mengeras.



(Source : Pinterest)


    “Oh –(iya), sedikit saja. “ sembari menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya, Lee Yura berusaha meyakinkan Min Yoongi bahwa ia hanya minum alkohol dengan jumlah yang tidak seberapa.


    “Yura –ya, tadi kamu berpamitan untuk bertemu serta mengobrol dengan Oppa mu itu bukan? Kenapa sekarang menjadi mabuk – mabukkan? “ ucap lelaki itu sembari bersedekap tangan, jelas wajahnya menyiratkan kemarahan.


    “Aku tidak mabuk Yoongi –a, aku hanya mengecap beer sedikit. “ Lee Yura beralasan.


    “Ck lain kali jika seperti ini, lebih baik tidak usah bertemu dengan teman – temanmu! Entah itu sedikit atau banyak, beer atau soju itu sama – sama alkohol! Apa kamu mengerti? “ omel Min Yoongi, Lee Yura hanya terdiam tidak menjawab.


    “Mengerti tidak Lee Yura? “ Min Yoongi menatap wanita disebelahnya lagi.


    “Iya aku mengerti. Aku sungguh hanya minum sedikit saja. Oppa hanya ingin merayakan pernikahan kita. “ Lee Yura menimpali.

__ADS_1


    “Yura –ya, tolong diingat. Untuk kedepan, kamu hanya boleh minum denganku. Tidak dengan siapapun entah itu dengan Oppa mu, temanmu atau siapapun itu. Jika tidak ada aku, maka aku tidak mengizinkannya. Terlebih jika kamu minum dengan laki – laki. “ Min Yoongi terdengar menghembuskan nafasnya dengan kasar, sementara Lee Yura hanya terdiam tidak memiliki keberanian untuk membantah.


__ADS_2