SOMEBODY DOES LOVE

SOMEBODY DOES LOVE
39. PERTUNJUKAN DAN KEKHAWATIRAN


__ADS_3

    Musik terdengar menghentak begitu kencang, ratusan pekerja seni dalam industri hiburan musik di seluruh Korea Selatan tampak berkumpul guna menyemarakkan acara festival penghargaan musik yang digelar di KSPO Dome Stadium malam itu. Termasuk disana Min Yoongi beserta grupnya yang turut hadir memeriahkan acara bertajuk Korea Music Awards itu sebagai pemusik yang masuk dalam nominasi penghargaan. Tak luput Park Eunji beserta anggota girl group nya yang lain juga turut hadir, meski hanya sebagai pengisi acara.


    Min Yoongi beserta rekan – rekannya terlihat menempati deret terdepan kursi – kursi yang telah disusun dengan begitu rapi menghadap tepat kearah panggung utama. Sesaat masuk kedalam ruang pegelaran Min Yoongi beserta anggotanya yang lain tampak saling berbisik dan sesekali tertawa saling berkomentar akan banyak hal.


    Hingga puncaknya ketujuh lelaki tampan yang tergabung didalam grup BTS itu naik keatas podium untuk menerima piala kemenangan. Setelah memberikan pidato singkat, ketujuh pria itu tampak turun dari atas panggung dan kembali menempati bangku – bangku mereka semula. Kini tiba saatnya acara hiburan disajikan.


    Park Eunji beserta grup musiknya tampak memasuki arena pertunjukan, perempuan yang kini tengah mengandung anak Min Yoongi itu terlihat mengenakan pakaian yang cukup terbuka dan bersiap mempertontonkan kemampuannya diatas pentas. Min Yoongi terlihat mengerutkan dahinya saat menyadari Park Eunji masih saja melakukan perform ditengah kehamilannya.



(Source : Pinterest)


    Dalam sekejap wajah lelaki yang semula merona bahagia atas kemenangan yang diterimannya beserta seluruh rekan – rekannya itu berangsur pudar. Bahkan wajah tampan itu terlihat mengeras menatap Park Eunji yang begitu lincahnya meliuk – liukkan tubuhnya sembari terus bernyanyi diatas panggung. Meski perasaannya untuk wanita itu telah pupus, tak dapat dipungkiri bahwa ia merasakan kekhawatiran yang mendalam, terlebih pada bayi yang ada didalam rahim Park Eunji.


    “Bisa – bisanya dia masih bertingkah seperti itu diatas panggung! “ gumam Min Yoongi tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Park Eunji yang tengah memainkan pertunjukannya seolah – olah tidak ada yang salah dengan tubuhnya.



(Source : Pinterest)


    “Apa kamu memang sekuat itu Park Eunji? Dan hanya karena Lee Yura yang lemah? Sehingga dia sering mengalami kelelahan dan sakit? “ bisik lelaki itu lagi.

__ADS_1


    Banyak hal kini berlalu lalang didalam benak Min Yoongi, karena ia sungguh merasakan adanya perbedaan yang begitu mencolok antara Lee Yura istrinya dengan Park Eunji. Lee Yura terkesan mudah sakit, mudah pusing, mudah mual dan muntah bahkan selera makan serta kadar ketergantungannya pada Min Yoongi juga turut berubah. Wanita yang semula cukup cuek dan sangat mandiri serta merta menjadi perempuan yang begitu manja, bahkan dalam kesehariannya Lee Yura seolah enggan jika harus lama – lama berpisah dari Min Yoongi. Apabila lelaki itu terlambat saja memberikan kabar yang sekedar berupa pesan, Lee Yura akan terus merengek dan merajuk hingga sulit untuk dibujuk.


    Sementara Park Eunji? Seolah tidak ada yang berubah dari dirinya, ia masih mahir berjoget, ia tidak kewalahan saat harus melompat, berlari sekaligus menyanyi. Ia juga biasa saja dengan segala jenis makanan, hanya sesekali ia menginginkan buah atau makan tertentu. Tidak seperti Lee Yura yang kini begitu pemilih, sekedar pewangi pakaian saja bisa membuat perempuan itu mual muntal selama berjam – jam.


    Tanpa terasa pagelaran pun usai, meski benang kusut didalam kepala Min Yoongi belum kunjung terurai. Lelaki itu bergegas keluar dari ruang festival setelah sebelumnya ia berfoto dan menyapa beberapa orang yang ia kenal. Gegas Min Yoongi naik kedalam mobilnya, tentu saja bersama Manajer Jang. Ia harus segera pulang, karena ia yakin Lee Yura sedang resah menunggunya dirumah hanya bersama Bibi. Dalam separuh perjalanan Min Yoongi terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, tidak ada satupun pesan maupun panggilan dari istrinya.


    “Apa dia sudah tidur? “ ucap Min Yoongi terheran sembari menatap nanar layar ponselnya yang menyala cukup redup.


    “Biasanya dia akan berkali – kali menelpon kenapa senyap sekali? “ merasa ada yang janggal dengan istrinya, Min Yoongi tampak menghubungi Lee Yura melalui sambungan telepon. Sekali panggilan, dua kali, tiga kali bahkan hingga lima kali melakukan panggilan, telepon itu tidak dijawabnya.


    Ia pun segera menelpon Bibi, namun sama saja nihil. Wanita yang bekerja dirumahnya itu juga tidak menjawab panggilan telepon dari Min Yoongi. Kini ia berusaha menghubingi telepon rumahnya, tetapi tidak terdengar nada sambung sedikitpun, panggilan teleponnya tidak tersampaikan.


    “Tolong percepat laju kendaraannya, istriku tidak bisa dihubungi aku takut sesuatu terjadi padanya. “ desak Min Yoongi pada lelaki yang duduk disamping Manajer Jang.


    Kendaraan melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Seoul yang tidak pernah sepi, sesekali klakson dibunyikan untuk mempercepat perjalanan. Hingga akhirnya mobil van berwarna hitam itu terparkir di area parkir VIP komplek perumahan elit di kawasan Hannam. Secepat kilat Min Yoongi turun dari kendaraannya berlari menuju elevator di basement, ia langsung memencet tombol disana dan dalam sekerjap dinding besi terkatup. Tidak butuh waktu lama, Min Yoongi sudah tiba dilantai tempat ia tinggal, ia bergegas menuju unit tempat tinggalnya dan memasukkan kode kombinasi kunci digital.


    Pintu terbuka lebar, ia langsung melesat masuk kedalam rumah hendak menuju lantai dua. Namun dalam sekerjap langkah kakinya terhenti saat melirik kearah ruang makan, Lee Yura terlihat tengah duduk disana ditemani oleh Bibi. Dihadapannya terlihat satu buah mangkuk besar penuh terisi nasi putih dengan segelas air didekatnya, Lee Yura hendak memasukkan satu suap nasi dengan sendok besar kedalam mulutnya namun ia urung. Matanya menatap heran pada lelaki yang berlarian masuk kedalam rumah dengan wajah yang terlukis cemas.



(Source : Pinterest)

__ADS_1


    “Waeyo Oppa –(ada apa sayang?) “ tanya Lee Yura keheranan.


    “Astaga, huff aku sudah panik sepanjang jalan. Kupikir sesuatu terjadi padamu, aku menelponmu dan menelpon Bibi tetapi tidak ada seorangpun yang menjawab! “ Min Yoongi melenguhkan nafasnya, ada perasaan lega yang terhembus melalui bibir mungilnya.


    “Tuan maaf, ponsel saya ada dikamar. “ Bibi tertunduk merasa bersalah.


    “Iya, hp ku juga ada dikamar Oppa, ponselku sedang mengisi daya. Aku tidak kenapa – kenapa, aku lapar dan tidak bisa tidur jadi aku makan saja. “ ucap Lee Yura dengan polosnya.


    Sekali lagi Min Yoongi menghembuskan nafasnya lega, rasa takutnya terkiris sudah karena ia tahu Lee Yura baik – baik saja. Sesaat dilirknya semangkuk nasi diatas meja yang tengah disantap oleh istrinya, lalu ia menatap sayu mangkok yang besarnya tidak jauh berbeda dari sebuah baskom itu.


    “Kenapa hanya makan nasi? “ Min Yoongi turut duduk diruang makan sembari sebelah tangannya mengusap lembut rambut istrinya.


    “Mana lauknya? “ celoteh lelaki itu lagi.


    “Nyonya tidak mau lauk Tuan, hanya ingin nasi diberi sedikit garam. “ suara Bibi terdengar terbata. Min Yoongi kembali menghembuskan nafasnya kasar, seperti ia tidak habis pikir dengan tingkah lucu istrinya.


    “Ih memangnya kenapa kalau aku hanya makan nasi? Kenapa Oppa menjadi kesal begitu? Sudahlah aku tidak mau makan lagi. “ Sambil menangis Lee Yura mendorong mangkok diatas meja menjauh dari dirinya, Min Yoongi tertawa pasrah melihat istrinya yang benar – benar sensitif. Dalam hatinya ia tidak marah, ia hanya heran mengapa Lee Yura hanya memakan nasi putih tanpa sayur ataupun lauk.


    “Sayang, sayang aku tidak marah, aku hanya bertanya. Ayo sini makan lagi, biar Oppa yang menyuapi. Aku cuci tangan dahulu. “ Min Yoongi yang menggeleng – gelengkan kepalanya keheranan seraya tertawa kecil itu tampak melenggang menuju wastafel dan membasuh tangannya lalu kembali mendekati istrinya yang masih menangis. Dihusapnya wajah Lee Yura yang banjir air mata, lalu ia tampak menyendokkan nasi dan mengulurkannya kearah bibir perempuan itu.


    “Ayoo aaa, buka mulutnya. Makan lagi ya? “ ucapnya dengan sabar mencoba memperbaiki suasana hati wanita yang duduk dihapannya.

__ADS_1


__ADS_2