
Pukul tujuh malam Lee Yura dan Min Yoongi baru saja menyelesaikan santap malam bersama kedua orang tua Min Yoongi. Tak lama kemudian keduanya melepaskan kepergian mereka untuk kembali ke kediamannya, rumah yang semula cukup riuh penuh gelak tawa berangsur kembali senyap.
Perempuan itu kini berpindah tempat keruang keluarga dan tampak menyalakan televisi, ia meluruskan tubuhnya diatas sofa membiarkan badannya setengah duduk disana. Sementara Min Yoongi terlihat menyusul istrinya sembari membawa cawan berisi beberapa butir obat juga air hangat didalam gelas lalu meletakkan nampan dikedua tangannya keatas meja.
“Ayo diminum dulu vitaminnya sayang, supaya kamu dan baby selalu sehat. “ Min Yoongi mengulurkan satu pil berwarna putih pada Lee Yura berikut segelas air. Perempuan itu tampak membesengut dan menerima dengan terpaksa pil yang disodorkan padanya.
“Jangan membesengut sayang, demi anak kita ya. “ begitu lembut jemari Min Yoongi mengusap puncak kepala wanitanya. Lalu setelah beres menghabisnya semua vitaminnya Lee Yura kembali menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.
“Mau makan buah tidak? “ suara Min Yoongi kembali terdengar, setelah beberapa saat lalu ia ke dapur membereskan gelas dan cawan bekas obat.
“Tidak Oppa, aku mau Oppa saja. Kemari. “ dengan nada bicara yang manja Lee Yura meminta suaminya itu agar mendekatinya. Bergegas lelaki itu menuruti saja apa yang menjadi kemauan istrinya, meski ada wanita lain dibelakangnya tetap saja Lee Yura adalah nomor satu baginya. Bayi didalam perut Lee Yura adalah harapan besarnya, ia begitu mencintai Lee Yura meski sebelumnya ia mati – matian menolaknya.
“Oppa, kau mengganti parfummu? “ telisik Lee Yura saat ia menelusupkan kepalanya pada dada bidang Min Yoongi.
“Bukan, ini bau pewangi baju. Iya kan? Aku tidak memakai parfum sehabis mandi. “ Min Yoongi turut menarik kaos yang sedang ia kenakan dan berusaha mencium aroma yang dimaksud oleh Lee Yura.
“Benarkah? “ sambung wanita itu tanpa melepaskan dekapannya.
“Lusa kutemani ke kampus ya? “ ucap Min Yoongi menyela riuh suara televisi yang gaduh.
“Tidak usah, aku bisa sendiri Oppa. “
“Jangan bandel! Aku mau mengantarmu, kebetulan lusa aku tidak memiliki jadwal kerja apapun, hanya sedikit urusan di kantor agensi. Itupun waktunya sangat fleksibel. “ kukuh Min Yoongi.
“Nak, dengarlah Appa –(Ayah) begitu protektif pada kita. “ Lee Yura tampak mengusap perutnya yang masih rata sembari terus merekahkan senyuman bahagia.
__ADS_1
“Iya, Appa tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian jadi harus terus dalam pengawasan. Anak Appa yang hebat, Appa mohon jangan membuat Ibumu kesakitan dan pingsan lagi ya. Appa percaya, bahwa anak Appa adalah anak yang penurut. “ Min Yoongi turut mengelus perut istrinya itu. Bahagianya sungguh tidak terkira sejak kali pertama ia mendengar ada buah cinta didalam rahim Lee Yura.
***
Hampir pukul dua dini hari, Lee Yura sudah terlelap dalam dekap hangat Min Yoongi didalam kamar utama. Perempuan itu tidak melepaskan pelukannya barang sejenak dari suaminya, Min Yoongi bahkan harus bergerak dengan sangat berhati – hati saat ia hendak pergi ke kamar kecil. Ia tidak ingin membangunkan Lee Yura dari tidur nyenyaknya.
Kini lelaki itu bersiap kembali naik ke atas pembaringan, bersamaan dengan itu ponselnya yang berada diatas nakas tampak berderit pelan. Dilihatnya sebuah pesan masuk, tampak nama Park Eunji yang ia samarkan dengan nama lain berjejak disana. Perempuan itu masih terjaga, ia tidak bisa tidur dan membutuhkan Min Yoongi disana.
Dalam cahaya temaram didalam kamar, Min Yoongi terlihat perlahan memasukkan kunci kombinasi pintu rahasianya. Bergegas ia menyelinap masuk kedalam kamar tidur Park Eunji, dalam sekerjap ia sudah berpindah tempat. Dilihatnya Park Eunji duduk diatas sofa didalam kamar dengan pakaian yang begitu terbuka seolah ia sengaja tengah menggoda.
(Source : Pinterest)
“Aku tidak bisa tidur Oppa, perutku sedikit sakit sejak sore tadi. “ ucap perempuan itu seraya mengelus perutnya.
“Eunji- ya tidak bisakah kamu berpakaian lebih sopan lagi? “ Min Yoongi memandang Park Eunji dengan raut wajah kesal lantaran melihat baju perempuan itu begitu tidak senonoh dan sangat terbuka.
“Oppa, kau bahkan sudah melihat seluruh bagian tubuhku jadi tidak usah bicara perihal kesopanan disini. Aku hanya ingin ditemani tidur, baby ingin tidur bersama Daddy nya. “ Park Eunji tampak beranjak dari sofa yang ia tempati lalu bergegas meraih tangan Min Yoongi dan mengajak lelaki itu naik keatas pembaringan.
Min Yoongi menghembuskan nafasnya kasar seperti ia begitu enggan namun tidak dapat menolak, lelaki itu gegas naik mengisi sisi ranjang yang kosong setelah Park Eunji sudah terlebih dahulu menjatuhkan tubuhnya bersandar pada tumpukan bantal yang empuk. Tanpa malu – malu, Park Eunji langsung menyusupkan tubuhnya yang gempal berisi kedalam dekapan Min Yoongi dan jujur saja bagi lelaki itu hal ini bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ia harus meninggalkan Lee Yura dalam senyap ranjang tidurnya demi wanita lain, rasa bersalah kembali menggerogoti nuraninya.
Meski terasa lama, cahaya mentari akhirnya mulai temaram menyusup melalui jendela kaca kamar Park Eunji, perempuan itu tidur begitu lelapnya dan tentu saja tanpa melepaskan tautan lengannya dari Min Yoongi. Berhati – hati Min Yoongi melepaskan tangan perempuan yang masih melingkar pada pinggangnya, ia lantas bangkit dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar itu.
Perlahan Min Yoongi mendorong pintu didepannya lalu menutupnya dengan begitu hati – hati saat dirinya sudah berpindah tempat didalam kamar utama. Ia ingin segera kembali naik keatas tempat tidur menyusul Lee Yura, istrinya. Namun siapa sangka perempuan itu justru telah terjaga, kedua netra Lee Yura menatap tajam kearah Min Yoongi yang baru saja masuk kedalaam kamar.
__ADS_1
(Source : Pinterest)
“Chagiya –(sayang). “ lirih Min Yoongi.
(Source : Pinterest)
“Tega sekali Oppa meninggalkan ku semalaman, bahkan aku mengetuk pintu itu berkali – kali tapi sekalipun Oppa tidak menyahutnya. “ Lee Yura yang sedang marah lantas beranjak dari pembaringan.
“Kenapa sekarang Oppa sering sekali keluar masuk kedalam sana, buka pintunya aku mau melihat isi didalamnya. Aku semalaman tidak bisa tidur, tapi Oppa justru tidak kunjung kembali! Buka pintunya sekarang! “ perintah Lee Yura dengan semakin kesal.
“Tidak ada apa – apa didalam sana sayang, hanya perangkat pembuat lagu saja. Aku sedang mengerjakan sesuatu disana, maafkan aku ya sayang. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi ditengah malam. “ Min Yoongi terdengar memohon, berharap Lee Yura menggugurkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan dibelakangnya.
“Aku ingin masuk, buka pintunya! “ ucap Lee Yura lagi.
“Sudah ayo, ikut aku saja ke kantor ayo temani aku dikantor ya? Supaya aku bisa menebus waktu – waktu kita yang hilang semalaman. “ Min Yoongi bergegas merengkuh tubuh wanita mungil didepannya itu.
Namun siapa sangka justru Lee Yura mendorong tubuh Min Yoongi yang tengah mendekapnya dengan cukup erat. “Minggir, aku tidak suka aroma Oppa, sepertinya ini aroma parfum orang lain! Minggir aku mau muntah! “ Lee Yura bergegas berlari menuju kamar mandi sembari menutup mulutnya.
Sesaat terdengar suara muntahan dari wanita itu didalam kamar mandi, rasa bersalah kembali berbercak didalam dada Min Yoongi saat menatap istrinya tengah menumpahkan segala isi perutnya didalam wastafel. Tangan kekar Min Yoongi tampak memijat – mijat tengkuk leher Lee Yura, lalu sekerjap ia turut menyeka bibir perempuan itu dengan kain handuk yang baru saja ia ambil dari lemari kabinet.
“Mandilah Oppa, aku tidak tahan dengan aroma yang menempel pada baju mu. Ini bukan parfum yang biasa kau pakai. “ Lee Yura berjalan sedikit sempoyongan keluar dari dalam kamar mandi, tangannya tampak menolak bantuan Min Yoongi yang hendak memapahnya berjalan.
__ADS_1