SOMEBODY DOES LOVE

SOMEBODY DOES LOVE
44. MENGHILANGNYA LEE YURA DAN KEMELUT SEORANG AYAH


__ADS_3

    Min Yoongi menatap nanar foto pernikahan dirinya dengan Lee Yura yang masih bertengger pada dinding kamarnya, seulas bibir yang membentuk secarik bulan sabit menghiasi wajah cantik istrinya. Ia sangat merindukan Lee Yura, senyumannya, suaranya saat tertawa, suaranya ketika tengah memarahinya, aroma tubuhnya juga segala tingkah manja wanita itu terhadapnya. Baru satu hari Lee Yura meninggalkan rumah, seolah dunia Min Yoongi rubuh, segalanya terasa hampa, giatnya ia bekerja menjadi begitu tidak bermakna.


    Lelaki itu tampak meraih ponsel yang sejak lama bersembunyi dibalik lipatan saku celananya, ia mengeluarkan benda itu dan berusaha kembali menghubungi istrinya. Namun sama saja, nihil. Panggilannya bahkan tidak terhubung, ponsel Lee Yura masih belum menyala atau memang sengaja ditinggalkan dalam keadaan mati agar orang – orang tidak dapat menemukan keberadaannya.


    “Kamu dimana sebenarnya sayang. “ ucap Min Yoongi dengan gelisah.


    Pada gelebah resah dilubuk hatinya, dalam sekelebat ingatan Min Yoongi tertuju pada beberapa tempat yang layak untuk ia coba datangi, bergegas pria itu bangkit dari tempatnya lalu segera ini menghambur keluar rumah secepat cahaya. Min Yoongi lantas memacu kendaraannya, berusaha menemukan keberadaan istrinya. Lelaki itu mencoba mendatangi Universitas tempat Lee Yura mengajar, namun tentu saja perempuan itu tidak berada disana. Rumahnya yang dulu? Tentu saja tidak mungkin, rumah itu telah dialihkan pada penyewa lain oleh pemiliknya. Panti asuhan tempat Lee Yura dibesarkan? Setidaknya patut dicoba, meski jelas hasilnya juga sama saja nihil.


    Lelaki berkulit putih cenderung pucat itu tampak memukul roda kemudi mobilnya dengan keras saat ia sudah masuk kembali kedalam kendaraan, sekeluarnya ia dari gedung Panti Asuhan. Lee Yura tidak berada disana, tidak mungkin baginya untuk kembali ke asrama karena berlari dari suaminya, tentu saja ia akan segera ditemukan keberadaannya. Min Yoongi kembali meraih ponsel yang ia letakkan sembarangan pada kursi penumpang disamping tempat duduknya yang lengang. Ia mencoba menghubungi seseorang.


    “Eomma, apakah istriku ada dirumah Eomma sekarang? “ ucap lelaki itu saat suara ibunya terdengar menyapa diseberang panggilan.


    “Tidak ada, apakah sesuatu sedang terjadi? “ getar nada kecemasan tersirat dari ucapan Ibu Min Yoongi pada putra bungsu nya itu.


    “Oh –(iya) Ibu. Maafkan aku karena tidak bisa menjaganya, Lee Yura meninggalkan rumah. “ isak Min Yoongi penuh penyesalan. Air mata gugur begitu saja dari kedua netranya yang berbinar memantulkan cahaya lampu kuning jalanan.


    “Apa yang terjadi Min Yoongi? Kau dimana sekarang? Mari bicara dirumah, Ibu kesana sekarang. “ tanpa mendengar jawaban Min Yoongi, wanita paruh baya itu terdengar mangakhiri panggilan. Tidak ada sepucuk salam penutup yang diulukkan, tergambar jelas betapa paniknya Ibu Min Yoongi saat mendengar isak tangis dari putranya.


***


    Perasaan berkecamuk menggerogoti seluruh tubuhnya saat Min Yoongi menapakkan kakinya yang telanjang, masuk kedalam rumah. Terlihat Min Jisung ayahnya beserta Ibu nya sudah duduk dengan cemas diatas sofa didalam ruang tamu, gurat kegelisahan terlukis jelas pada mimik muka pasangan suami istri setengah baya itu.


    “Duduk, jelaskan apa yang terjadi? Kenapa bisa menantuku yang sedang mengandung itu pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan. Apa yang sudah kau lakukan padanya Min Yoongi? “ Min Jisung menatap tajam putranya yang kini sudah duduk mengisi salah satu bagian sofa yang kosong.

__ADS_1



(Source : Pinterest)


    Hening menyeruak diantara ketiga orang itu didalam sana, hanya terdengar detakan jarum jam yang bergerak lambat berputar memburu waktu. Min Yoongi menarik secarik nafas lalu menghembuskannya perlahan, gegas lelaki itu bangkit dari tempatnya dan bersujud tepat dibawah kaki Ibunya seraya menangis.


    “Ada apa Yoongi –a, coba  katakan pada Ibumu nak. “ wanita berwajah tegas itu turut meluruhkan derai air mata, turut merasakan kesedihan yang menyesakkan dada putra kesayangannya.


    “Maafkan aku Bu, Lee Yura meninggalkan rumah karena ia tahu jika saat ini Eunji sedang mengandung anakku. “ lirih lelaki itu.


    Senyap menjeda, bagai dihunus dengan sebilah sembilu ulu hati Min Jisung terasa begitu perih teriris. Udara seolah telah punah, dadanya terasa begitu sesak, otaknya seperti mati rasa tidak bekerja. Perkataan Min Yoongi baru saja seperti gong yang dipukul dengan keras menimbulkan gaung bising menyakitkan yang ditangkap oleh indra pendengarannya.


    “Kau! Bajingan!  Anak kurang ajar! Benar – benar laki – laki biadab tidak tahu diuntung Min Yoongi! “ tanpa sadar Min Jisung melemparkan tinju pada wajah tampan anak lelakinya, dan membuat Min Yoongi tersungkur lemah diatas lantai.


    “Hoejang- nim, hentikan. Aku mohon jangan sakiti putraku, dengarkan dulu! Pasti ada yang bisa Min Yoongi jelaskan! “ sembari berurai air mata, Ibu Min Yoongi merengkuh putranya kedalam pelukannya.


    Wanita itu kemudian menarik tubuh Min Yoongi, dan membiarkan lelaki itu duduk disampingnya. Diusapnya wajah tampan anak lelakinya yang berlumur dengan air mata, naluri seorang Ibu begitu tahu bagaimana sesaknya dada Min Yoongi saat itu. Setelah redam dalam sejenak, Min Yoongi memulai membuka kisahnya, kini ia sudah menelanjangi seluruh kebodohannya itu dihadapan kedua orang tuanya.


    “Kita harus menemukan Lee Yura secepatnya, dan sudahi kebodohanmu itu Min Yoongi! Bawa Park Eunji ke dokter kandungan segera, pasti kita akan menemukan cara. Menghilangkan bayi didalam kandungannya bukan sesuatu yang buruk, karena aku sudah bilang sejak mula – mula, bahwa aku tidak ingin cucu yang terlahir dari rahimnya! “ wajah Min Jisung mengeras, ia tahu keputusannya adalah salah tetapi baginya itu merupakan satu – satunya cara untuk tetap mempertahankan Lee Yura sebagai menantunya.


***


    Lee Yura menyesap cokelat hangat dari cangkir berwarna  merah dalam genggaman tangannya, udara hangat yang berasal dari tungku api pembakaran dibelakang rumah perlahan merambat memeluk tubuhnya yang sejak tadi diterpa semilir angin yang terhembus dari bibir pantai. Deru ombak yang menggebu dipecah oleh kokohnya batu karang juga menjadi senandung lirih yang menyapa gendang telinganya. Sejak kedatangannya, sendu kedua mata itu seolah tak ingin luruh. Kesedihan seolah terus mengikutinya sepanjang kedipan perlahan kelopak matanya.

__ADS_1


    “Apa yang sebenarnya begitu mengganggu mu? “ jemari lembut wanita setengah baya itu tampak menyentuh lembut pucuk pundak Lee Yura yang sedikit terangkat.



(Source : Pinterest)


  “Gyousu –nim, apakah memang seperti ini rasanya? “ lirih Lee Yura pada Profesor Han yang kini sudah menempati kursi penjalin yang kosong yang disisinya.


    “Tercabik – cabik karena perasaan cinta? Apakah aku tidak salah menerka Yura –ya? “ wanita itu tampak mendorong pelan jembatan kacamatanya  yang merosot dari tulang hidungnya yang tidak begitu mancung itu.


    “Aku sedang mengandung Gyousu –nim, dan aku meninggalkan rumah karena suamiku juga menghamili wanita lain. Tepatnya mantan kekasihnya. “ ucap Lee Yura dengan nada bicara yang terdengar tegar. Wanita disamping Lee Yura itu tampak melongo, bahkan bibirnya yang membulat tidak terkatup untuk sepersekian detik lampau.


    “Lee Yura! Jangan mengada – ada! “ teriak wanita itu dengan suara yang tercekat.


    “Aku sungguh – sungguh Profesor, aku sudah menikah. Min Jisung Hoejang Nim menikahkan ku dengan putra bungsunya. Caranya begitu licik memang, namun pada akhirnya perasaanku yang dangkal ini menyerah. Aku jatuh cinta pada nya, namun sayang sekali belum sempat aku benar – benar bahagia tetapi senyumanku tiba – tiba saja direnggut oleh masa lalunya. “


    “Bahkan kami tinggal di bangunan yang sama, terpisah sekat dinding yang tidak seberapa. Aku menggugat cerai tetapi dia tidak mengindahkannya Profesor. Jujur saja aku tidak memiliki tempat tujuan, dan hanya dirimu yang terpikirkan olehku. Maafkan aku profesor. “ Lee Yura memandang arah laut yang gelap, hanya tampak sorot temaram cahaya biduk – biduk besar dilautan yang jauh.


    “Brengsek! Memang semua lelaki sama saja! " umpat dosen senior itu dengan kesal.


    "Lalu Lee Yura, kau anggap apa tua bangka ini sebenarnya? Sampai – sampai pada saat menikah kau tidak mengabariku sama sekali? “ wanita paruh baya itu tampak meraih rokok yang teronggok diatas meja bersama pemantiknya. Ia menarik sebatang, namun ekor matanya melirik kearah Lee Yura yang duduk menempel disebelahnya. Profesor Han urung menyulut nikotin untuk melepas getir yang mengisi penuh mulutnya.


    “Apa yang bisa kulakukan untuk mu Lee Yura? “ wanita itu kini menatap perempuan mungil yang sudah ia anggap seperti putrinya itu dengan sorot mata iba. Meski bibirnya berucap sembarangan, hati Profesor Han sama remuknya. LeeYura yang malang, begitu pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2