
Min Yoongi masih bersimpuh diatas lantai memohon pengampunan dari istrinya, namun wanita itu sedikitpun
tidak bergeming. Seolah hatinya sudah bulat, berpisah dari suaminya adalah cara yang paling tepat baik bagi dirinya maupun bagi perempuan itu. Seluas apapun hati Lee Yura tetap saja ia tidak dapat menampik kekecewaan yang sedang bergemuruh didalam dadanya, ia tidak sanggup membayangkan jika cinta suaminya untuk putranya kelak akan terbagi dua. Terbagi dengan bayi lain yang bukan darah dagingnya, ia merasa sangat sulit untuk menerima.
“Pergilah dari sini Min Yoongi, selama apapun kamu duduk disana tidak akan merubah apapun. Keputusanku sudah bulat, biarkan aku pergi dan hiduplah bersama dia. “ lirih Lee Yura seraya berbaring memunggungi suaminya yang masih terduduk diatas lantai.
Sekecap kata pun Min Yoongi tidak mejawabnya, dalam remang cahaya temaram kamar itu butiran air mata turun dari kedua pelupuknya. Ia benar – benar tidak ingin berpisah dari istrinya, tetapi apa dayanya? Bahkan hingga detik itu, dirinya belum dapat menemukan cara bagi Park Eunji.
“Pergilah Min Yoongi, jangan disini! Aku sungguh sesak berdiam berdua bersama mu! “ ucap Lee Yura lagi. Min Yoongi masih belum bergeming, ia tetap terpaku diatas lantai seolah tubuhnya melekat disana karena lem super yang menempel pada badannya.
“Kalau kamu tidak mau pergi, biar aku yang pergi! “ tanpa aba – aba lagi Lee Yura bangkit dari tempat semula ia membaringkan tubuh dan hendak keluar dari dalam kamar. Namun secepat cahaya Min Yoongi menghadang tubuh mungil wanita itu, lalu ia merengkuh Lee Yura kedalam dekapannya.
“Maafkan aku sayang, tidurlah. Biar aku yang keluar. “ bariton suara Min Yoongi terdengar lirih ditelinga Lee Yura. Lelaki itu kemudian melerai pelukannya dan dalam sekilas mengecup kening wanita yang berdiri dihadapannya itu, lantas ia segera keluar dari dalam kamar membiarkan Lee Yura sendiri dipeluk malam.
***
Esok paginya, Lee Yura terlihat keluar dari kamar tidur yang ia tempati lantas perempuan itu turun kelantai satu memeriksa kondisi rumah. Seperti biasa kediaman itu tampak lengang, Bibi sedang berbelanja dan tentu saja Min Yoongi sudah pergi bekerja. Bergegesa Lee Yura masuk kedalam bilik yang terkadang juga ia gunakan sebagai ruang kerja, perempuan itu lantas menghidupkan komputer yang bertengger senyap diatas meja. Setelah komputer teroperasi dengan benar, Lee Yura tampak memutus seluruh akses kamera pengawas didalam tempat tinggalnya itu.
__ADS_1
Selepas membereskan kamera pengawas dan mematikan kembali komputer, Lee Yura bergegas menuju kamar utama dan meringkas beberapa barang – barang pribadinya. Seperti beberapa lembar pakaian, perlengkapan perawatan wajahnya dan barang – barang pribadi lain miliknya yang akan ia perlukan ketika berada jauh dari rumah. Lee Yura memutuskan pergi dari kediaman Min Yoongi. Sebelum ia keluar dari kamar tidurnya, perempuan itu tampak meninggalkan tiga keping kartu debit berwarna hitam diatas meja rias. Kesemuanya itu adalah kartu yang sengaja diberikan oleh Min Yoongi pada Lee Yura untuk memenuhi segala kebutuhannya bahkan akan lebih – lebih untuk memenuhi segala hasrat berbelanjanya.
Setelah meletakkan benda pipih itu, Lee Yura berjalan santai seraya mendorong koper berukuran sedang disebelah tangannya, kemudian ia naik kedalam taksi yang beberapa saat lalu sudah ia panggil secara daring dan telah menunggu tepat didepan tempat tinggalnya. Perempuan itu meminta supir taksi membawa Lee Yura menuju stasiun Seoul.
Setibanya di stasiun Lee Yura membeli satu tiket KTX –(Korean Train Express atau Kereta api cepat) keberangkatan pukul sepuluh pagi dengan tujuan Busan. Perempuan itu lantas berjalan menuju peron tempat ia akan naik kereta, tanpa menunggu lama kereta cepat miliknya sudah tiba, Lee Yura langsung naik keatas kereta dan bergegas mengisi bangkunya.
Dalam sikap tenangnya tersimpan gemuruh yang menderu didalam hati dan jiwa Lee Yura, berbagai macam pikiran berlalu lalang begitu saja dalam angan – angannya. Sebagai wanita, harga dirinya begitu terluka karena telah dicurangi oleh suaminya. Namun disisi lain, hatinya yang penuh belas kasihan itu merasa tidak tega pada bayi didalam perut Park Eunji yang juga butuh pengakuan dari ayahnya. Sehingga dalam riuh isi kepalanya itu, Lee Yura memutuskan pergi dari kehidupan Min Yoongi.
Sepanjang perjalanan kereta melaju, kilauan mata Lee Yura tidak henti – hentinya menggugurkan bening air mata dari telaganya. Ia menangisi perpisahan yang tak sempat ia ucapkan dengan suaminya, ia menangisi kisah hidupnya yang penuh dengan rintangan tanpa kunjung bertemu dengan kebahagiaan, ia menangisi cintanya yang direnggut dalam semalam. Ia benar – benar kehilangan.
(Source : Pinterest)
Perempuan itu lantas keluar dari kereta dan bergegas meninggalkan gedung stasiun, ia kemudian masuk kedalam salah satu taksi yang berjajar tepat didepan gedung stasiun. Lee Yura lantas mengulurkan secarik kertas pada supir taksi dan meminta pria itu agar membawanya kesana. Setelah membaca sekilas selarik alamat rumah, lelaki berambut ikal itu kemudian melajukan kendaraannya perlahan, taksi mulai berjalan menjauhi gedung stasiun.
Tidak membutuhkan waktu lama, Lee Yura kini sudah berdiri tepat didepan sebuah rumah bercat putih dengan pagar besi setinggi badan. Wanita itu menekan intercom dengan tegas, bayangan wajahnya langsung terlihat oleh sang pemilik rumah, terdengar nyaring suara seseorang yang terperanjat oleh kehadiran Lee Yura disana. Gegas dentang suara pintu terbuka, seseorang berperawakan tinggi itu lantas menarik Lee Yura yang mematung didepan pagar dan merengkuh tubuh mungil Lee Yura kedalam dekapannya.
__ADS_1
“Ya -(hei) Lee Yura! Kenapa tidak mengabariku jika akan datang! “ getar suara yang dibuntuti dengan tangis yang sengaja dicegah agar tidak membuncah terdengar sayup menyapa telinga Lee Yura. Keduanya bertangis - tangisan seraya saling terus berdekapan.
***
Hari sudah malam, Min Yoongi baru saja tiba dirumah karena telpon dari Bibi yang terdengar begitu cemas. Wanita paruh baya itu mengabarkan bahwa istri pemilik rumah telah menghilang, Lee Yura pergi meninggalkan rumah dengan membawa serta beberapa barang juga laptop miliknya tanpa berpamitan. Bahkan telepon genggam Lee Yura sama sekali tidak dapat dihubungi, ia tidak meninggalkan catatan apapun, selain kartu debit milik suaminya yang sengaja ia tinggalkan begitu saja.
“Jadi pagi tadi, Bibi juga belum sempat bertemu dengan istriku sama sekali? “ wajah Min Yoongi mengeras menatap wanita paruh baya yang berdiri didekatnya tanpa berani mengangkat muka nya.
“Iya Tuan benar, Bibi hanya menyadari satu koper didalam lemari dan seluruh perlengkapan perawatan wajah Nyonya sudah tidak ada dimeja rias saat hendak mengambil pakaian kotor di kamar ganti. Jadi saya langsung menghubungi Tuan. “ lirih wanita itu.
“Baik Bi, terima kasih. “ Min Yoongi lantas masuk kedalam kamar utama, perasaan kian kacau saat ia menatap tiga keping kartu debit yang ditinggalkan begitu saja oleh Lee Yura. Seolah perempuan itu benar – benang ingin menghilang dari kehidupannya.
“Sayang aku mohon, kembalilah! “ teriak lelaki itu dengan kalut, kemudian tubuhnya rebah diatas sofa.
(Source : Pinterest)
__ADS_1