
Esok paginya Lee Yura membuka mata, disingkapnya tirai jendela kaca disebelahnya lalu sorot cahaya mentari
menyeruak begitu saja menerobos dinding kaca. Setelah semalaman ia mengurai segala benang kusut didalam kepalanya, bercerita segala hal pada Profesor Han dadanya terasa sedikit lega. Beban berat yang bertumpu dikedua pundaknya sebagian luruh terangkat. Profesor mengizinkan Lee Yura untuk tinggal sementara disana, sampai perempuan itu benar – benar menyelesaikan kemelut rumah tangganya. Profesor Han tidak ingin rumahnya dijadikan sebagai tempat menghilang, ia hanya mengizinkan Lee Yura untuk meredam riuh isi kepalanya.
“Tinggallah disini hingga redam, luruskan benang – benang kusut itu dikepalamu. Lalu pulanglah, temui Min Yoongi. Bicaralah dalam keadaan yang sudah tenang, baru putuskan berhenti ditengah jalan seraya merayakan perpisahan atau berlanjut dengan menerima keadaan. “
“Kedua bayi itu sama – sama tidak berdosa, baik milikmu atau milik perempuan itu. Mereka tidak sepantasnya menerima hukuman, dipisahkan dari Ayahnya karena keadaan. “ ucapan Profesor semalam masih jelas terngiang didalam kepala Lee Yura.
Perempuan itu kemudian beranjak dari pembaringan, merapikan bantal serta selimut yang dikenakannya semalaman lalu menyesap air minum yang sengaja sudah disiapkan diatas meja. Lee Yura meraih ponsel yang masih tersembunyi didalam tas jinjingnya, masih dalam senyap mode penerbangan. Sehingga tidak ada sebutir pesanpun yang berjejak belum dibaca, juga tidak ada laporan panggilan tak terjawab. Hanya terlihat fotonya bersama Min Yoongi yang masih bertengger manis dilayar ponselnya itu. Membuat Lee Yura merindukan suaminya untuk sesaat.
“Mungkin kau sedang kalut, atau mungkin kau sedang bersama dia? “ lirih Lee Yura sendu, matanya menatap keruh keluar dinding kaca, terlihat dari tempatnya berdiri ombak ditepi pantai yang saling berkejaran menyisakan riak kecil yang sepi.
Tok.. tok.. tok..
Suara kering daun pintu yang diketuk membuyarkan lamunan Lee Yura untuk sesaat, gegas perempuan itu membukanya. Profesor Han tampak mematung diambang pintu seraya menenteng satu baki berisi penuh sarapan lengkap untuk Lee Yura. Wanita paruh baya itu mendorong pelan nampan kearah Lee Yura, hingga bersisa satu jengkal dari hidungnya.
“Gyousu Nim, maaf aku mual. Ada aroma susu yang sedikit mengganggu. “ Lee Yura berlari kecil menuju kamar mandi dan menumpahkan sebagian isi perutnya. Profesor Han turut mendekat, lalu membantu memijat tengkuk kepala perempuan malang itu.
“Kehamilan tanpa suami pasti semerepotkan ini ya, apakah dirumah Min Yoongi memperlakukanmu dengan baik saat kamu begini? “ ucap Profesor Han sembari mengulurkan handuk bersih untuk menyeka ujung bibir Lee Yura.
“Ya, dia selalu merawat ku dengan baik Profesor. Meski ya kau tau lah bagaimana kelakukan buruknya dibelakangku. Maafkan aku Profesor, aku tidak bermaksud memilih – milih makanan. “ sembari menyeka ujung bibirnya, Lee Yura menatap teduh wanita paruh baya yang masih setia disampingnya.
“Tidak masalah, meski aku belum pernah mengandung setidaknya aku bisa mengerti. Keinginan Ibu hamil memang terkadang tidak bisa diterka, tetapi jangan pernah sungkan. Katakan saja jika kamu memiliki keinginan, jangan ditahan. “ Profesor Han mengusap lembut lengan Lee Yura yang tampak kurus.
“Terima kasih banyak Gyousu Nim. “
__ADS_1
***
Siang itu setelah beres membantu pekerjaan rumah tangga, Lee Yura tampak mendekati Profesor Han yang masih berkutat dengan perangkat komputernya yang terduduk tegas diatas meja kayu bercat hitam. Kedua bola mata Profesor Han yang terhalang kaca mata tampak bergerak kekanan dan ke kiri mengikuti jejak langkah tulisan yang tengah ia ketik pada perangkat canggih itu.
“Gyousu nim, apa yang sedang kau kerjakan? “ suara Lee Yura memudarkan perhatian wanita paruh baya itu.
(Source : Pinterest)
“Aku sedang mengerjakan proyek penelitian terbaru, tidak jauh dari feminimisme. Tentu saja hanya seputar itu pekerjaanku sekarang. “ ujar wanita itu seraya menyesap kopi yang tersisa setengah bagian dengan endapan keruh didasar cangkir.
“Kau tidak berencana kembali ke Seoul? “ tanya Lee Yura dengan begitu berhati – hati.
“Apakah orang – orang itu masih berkelakuan sama? Menunggangi dunia pendidikan hanya demi sebuah keuntungan semata? “ sambung Profesor Han lagi.
“Tidak ada yang berubah Gyousu Nim, mereka yang berbondog – bondong menjatuhkanmu tetap masih menjadi komplotan yang sama. Aku juga tetap saja menjadi bagian terkucilkan, meski ya kau tahu bagaimana pontensiku. “ lirih Lee Yura. Bekerja didunia pendidikan tidak semulus yang orang – orang pikirkan. Tetap saja sama, ditunggangi oleh para penguasa yang sejatinya hanya menantikan keuntungan berupa uang semata.
Sesaat Lee Yura ingat, bagaiman para tua – tua disana memaksa Profesor Han turun dari jabatannya sebagai seorang rektor lantaran ia menolak tegas nepotisme di Universitas yang ia pimpin. Pelakunya bukan lain ketua parlemen yang tengah menjabat pada tahun pertama periode kedua jabatannya. Profesor Han dipaksa lengser dan menanggalkan jubah kebesarannya itu karena ia bekerja dengan bersih. Karena pendiriannya itu, Profesor Han memilih mengasingkan diri dan hidup jauh dari hiruk pikuk Kota Seoul.
“Jangan jadi sama seperti mereka, kamu punya langkah sendiri yang bebas kau pilih Lee Yura. “
“Aku tahu Profesor, aku selalu berada di pihakmu. “ Lee Yura mengulaskan senyuman, meski sendu tetap saja ketulusan terpancar dari mimik wajahnya. Ia bersungguh – sungguh, Lee Yura selalu menjadi pendukung terbesar Profesor Han meski sebagai bayarannya ia harus dikucilkan oleh sebagian orang.
“Lalu bagaimana perasaanmu sekarang? Tidakkah kau merindukan suamimu? “ Profesor Han dengan cepat merubah topik pembicaraan.
__ADS_1
“Aku belum tahu Profesor, aku merasa ada yang hilang dari dalam diriku. Tapi, “ suara Lee Yura tercekat.
“Mustahil kau memaafkannya bukan? “
Lee Yura menganggukkan kepalanya perlahan, ia tidak menyanggah sedikitpun ucapan Profesor Han baru
saja. Jujur saja ia sangat merindukan Min Yoongi, tetapi hati nya jelas tidak dapat menerima. Ia sungguh terluka karena tingkah lelaki itu dibelakangnya, dalam benaknya terus bertanya – tanya, berapa usia kehamilan Park Eunji, kapan tepatnya mereka berhubungan, apakah saat Min Yoongi memutuskan untuk berkomitmen dengannya, lelaki itu masih berstatus kekasih Park Eunji dan keduanya aktif melakukan persetubuhan.
“Tidak perlu terburu – buru, jaga kewarasanmu demi bayi mungil didalam rahim mu itu. “ Profesor Han menunjuk perut Lee Yura yang sudah sedikit membuncit dengan ujung dagunya.
***
Sementara itu jauh di Seoul, Min Yoongi masih terus berusaha menemukan keberadaan Lee Yura. Ia memeriksa dengan begitu seksama tempat – tempat yang mungkin akan dituju oleh istrinya, hingga ia tiba pada tujuan akhirnya. Kediaman Choi Siwan. Meski ragu, Min Yoongi menanggalkan begitu saja harga dirinya. Sekalipun harus dihajar hingga babak belur sungguh ia tidak peduli, yang terpenting adalah memastikan Lee Yura dalam keadaan baik – baik saja.
Min Yoongi menyentuh pelan intercom yang dipasang pada dinding disebelah pintu, tak butuh waktu lama suara seseorang dari dalam rumah terdengar menggema. Setelah tahu siapa tamunya, Choi Siwan bergegas membuka pintu dan membiarkan suami Lee Yura itu masuk kedalam rumah dan mempersilahkan lelaki itu duduk diatas tempat duduk.
“Wah ada keperluan apa Min Yoongi –ssi hingga repot – repot datang kemari? Dimana Lee Yura? Dia tidak ikut? “ ucap Choi Siwan dengan lugas.
“Ehm, maaf mengganggu mu diwaktu selarut ini Choi Siwan –ssi, justru kedatanganku kemari karena aku ingin mecari istriku. Apakah dia tidak ada disini? “ tandas Min Yoongi.
Choi Siwan menatap heran lelaki yang duduk tercenung didalam ruang tamu kediaman rumahnya itu, kebingungan itu terlihat begitu jelas dari kerutan yang tercetak pada dahinya. Sehingga kedua ujung alisnya yang tebal kehitaman tampak saling bertemu, menempel dengan sudut yang sejajar.
“Lee Yura meninggalkan rumah? Apa terjadi sesuatu pada kalian? “ Choi Siwan menatap tajam kedua bola mata Min Yoongi yang menatapnya sendu.
__ADS_1