
Lee Yura membeku ditempatnya, kaki nya yang semula kuat menopang berat tubuhnya perlahan memudar. Bagaikan pokok kayu yang keropos, ia seolah hampir luruh keatas lantai. Dadanya terasa begitu panas dan pedih, seperti ada borok didalam sana yang sedang disiram dengan perasan air lemon. Matanya turut menggulirkan seberkas air sebening telaga yang kini sudah tidak sanggup untuk dibendungnya.
Ia melihat sosok Park Eunji yang tengah terduduk diatas tempat tidur dengan pakaian yang begitu minim terbuka dan sedikit acak – acakan. Mata Lee Yura juga menangkap kotak es krim yang belum tuntas dinikmati ditinggalkan begitu saja diatas meja. Lalu dua batang alat penguji kehamilan yang terhambur diatas lantai kemudian ia memungut saja kedua benda itu.
“Chagiya, ayo kita bicara dirumah. “ Min Yoongi dengan nafasnya yang naik turut disergap rasa takut berusaha meraih tangan wanitanya, namun lagi – lagi Lee Yura menepisnya.
“Jadi ini alasanmu keluar masuk kesini? Pintu itu menghubungkan kamar kita dan kamarnya? Jadi kalian masih bersama? Dan ini, dia hamil anakmu? “ Lee Yura menatap nanar benda ditangannya itu, hatinya begitu remuk, dunianya hancur, kebahagiaan yang baru seumur jagung ia rasakan kembali direnggut oleh keserakahan manusia.
“Wah, sungguh aku ini manusia paling bodoh dimuka bumi ini, kamar ini tempat kalian bertemu diam - diam dibelakangku? Ranjang ini? Tempat kalian menghabiskan waktu? Berdosa apa aku ini, sehingga dihukum Tuhan dengan cara begini. “ lirih Lee Yura sembari terus mengucurkan tangisnya sembari memukul - mukul dadanya.
Park Eunji yang semula ada diatas pembaringan kini ia turun dari atas ranjang, ia berjalan penuh waspada mendekati Lee Yura yang masih sibuk dengan derai air matanya. Lalu perempuan itu mendorong dengan kasar tubuh Lee Yura hingga perempuan itu hampir terjelungup keatas lantai, namun beruntungnya Min Yoongi dengan tubuhnya yang padat berisi itu mampu menahan wanita nya agar tidak terantuk dan justru jatuh kedalam dekapan bidang dadanya.
“Park Eunji! Apa yang kau lakukan! “ suara Min Yoongi terdengar keras meninggi. Tidak pernah sekalipun baik Lee Yura maupun Park Eunji mendengar lelaki itu berteriak dengan kasar. Semarah apapun Min Yoongi, ia bukan tipikal lelaki yang meledak – ledak seperti saat ini.
“Dia yang mengacaukan hubungan kita Oppa, dia pantas menerima perlakukan ku ini! Dia yang membuatmu meninggalkanku! “ teriak Park Eunji kesal, lantaran ia menyadari tidak ada yang bisa membelanya.
“Cukup! Jadi benar dia juga sedang mengandung anakmu? Jelaskan! Dia masih tinggal ditempat ini? Lalu setiap kali kau beralasan bekerja distudio, kau menghampiri dia?! “ Lee Yura memukul – mukul dada bidang suaminya. Tentu saja derai air mata tak dapat ditahannya, perempuan mana yang sanggup jika lelakinya menyimpan satu wanita selain dirinya. Bahkan dalam keadaan Lee Yura sedang hamil, keduanya sedang sama - sama mengandung.
“Jawab Min Yoongi! “ suara Lee Yura memekik histeris.
__ADS_1
“Oh –(Iya). “ suara Min Yoongi bergetar, matanya berkaca – kaca bahkan seluruh wajahnya pucat pasi. Ia benar – benar menyesal telah melukai hati Lee Yura lagi dan lagi, terlebih wanita itu juga sedang mengandung benih
buah cinta mereka berdua.
“Brengsek! “ Lee Yura membuang kasar alat uji kehamilan ditangannya lalu ia berjalan dengan cepat meninggalkan kamar tidur Park Eunji dan kembali masuk kedalam kamar utama. Min Yoongi sama paniknya, ia turut mengejar istrinya yang tengah kalut karena perbuatan tidak terpujinya itu. Namun perempuan itu telah terlebih dahulu menghilang, masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat – rapat.
“Chagiya! Buka pintunya ayo kita bicara, chagiya! “ Min Yoongi mengetuk daun pintu kamar mandi dan berteriak lirih, air matanya terus mengucur dari kelopak matanya. Ia benar – benar menyesali segala perbuatan buruknya terhadap Lee Yura.
Sementara Lee Yura kini terduduk dibawah pancuran air yang dibiarkan menyala, air hangat jatuh membasahi pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Tangisnya pun kian menjadi, gugur begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Hatinya hancur berkeping – keping, ia sungguh tidak menyangka jika lelaki yang kini terlihat begitu mencintainya ternyata mencuranginya dengan sengaja. Bahagianya yang belum seberapa telah musnah dalam sekejap mata, rasanya seperti mimpi baginya.
Terlebih wanita lain itu juga sama - sama tengah mengandung buah cinta dengan suaminya, rasa sakitnya berkali - kali lipat luar biasa dasyatnya. Lee Yura tidak dapat menahan kekecewaan yang menggerogoti sepanjang ulu hatinya, ia meraung – raung menumpahkan tangisnya. Bahkan Min Yoongi yang masih bersimbah didepan pintu kamar mandi turut mendengar jerit tangis istrinya didalam sana. Pria itu berkali – kali mengetuk daun pintu kamar mandi akan tetapi Lee Yura tidak menggubrisnya. Hingga hampir empat puluh lima menit lama nya, perempuan itu pada akhrinya mengakhiri derai air matanya.
yang mematung disana, Lee Yura bergegas menyelinap menuju kamar ganti. Gegas ia menukar pakaiannya yang basah dengan pakaian berlengan panjang untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa begitu dingin. Segera ia keluar dari tempat itu dan menghampiri suaminya.
“Aku tidak mau tidur disini bersamamu, jangan ikuti aku. “ lirih Lee Yura sembari menahan air mata yang tentu saja hampir luruh lagi dari kedua sudut matanya.
“Chagiya, aku benar – benar sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Aku hanya terpaksa tetap merawatnya, karena dia mengandung. Maafkan aku. “ tutur Min Yoongi seraya mendekap tubuh istrinya, ia mencoba menahan wanita itu agar tidak meninggalkan kamar utama.
“Lepaskan aku, biarkan aku berpikir. Lepaskan, “ lirih Lee Yura.
__ADS_1
(Source : Pinterest)
Bagi Lee Yura ini semua bukanlah sesuatu yang mudah diterima dengan akal sehatnya, perempuan itu menepis tangan Min Yoongi yang melingkar pada tubuhnya lalu bergegas ia keluar dari ruangan itu kemudian menghilang. Lee Yura kemudian masuk kedalam salah satu kamar kosong dilantai dua, membiarkan tempat itu tetap remang tanpa cahaya.
Tubuhnya yang lemas tergolek begitu saja diatas tempat tidur berseprei abu – abu itu, air mata kembali gugur
begitu saja meski tanpa suara. Berbagai macam pikiran berlalu lalang dalam benaknya, ia membayangkan kembali senyuman Min Yoongi, lalu omelannya yang menggemaskan. Sikapnya yang cuek tetapi perhatian, lenggak lenggok tubuhnya lucu ketika sedang didapur memasak untuk dirinya dan segala perlakuan istimewa yang diterima dari suaminya itu.
“Apakah kau juga melakukan hal serupa untuknya Oppa? “ lirih Lee Yura pilu.
“Aku tidak bisa begini, aku tidak mau seperti ini! “ ucap Lee Yura lagi. Perasaannya masih carut marut, pikirannya masih kacau meski perlahan ia sudah berusaha meredam bisingnya isi kepalanya. Lalu perlahan ia memilih keputusannya.
Sementara Min Yoongi memilih duduk bersila diatas lantai didepan kamar, tempat dimana Lee Yura mengistirahatkan tubuhnya. Lelaki itu tidak berpindah barang sejengkalpun dari tempatnya, ia terus terpaku disana seraya meratapi kebodohannya. Ia sungguh menyesali segala perbuatannya, ia siap bahkan jika Lee Yura ingin menghajarnya habis – habisan. Karena ia sadar, bahwa dirinya bersalah.
(Source : Pinterest)
__ADS_1