SOMEBODY DOES LOVE

SOMEBODY DOES LOVE
24. RUANG KERJA


__ADS_3

    Sembari membopong satu buket bunga berukuran besar, Lee Yura terlihat sedang berjalan keluar dari gedung seminar sore itu. Belum sampai jemarinya meraih handle pintu mobil, terasa ponsel didalam tasnya berderit perlahan menandakan ada panggilan telepon yang harus segera ia jawab.


    “Tidak lama kan? Aku hanya perlu menjemputmu lalu kita langsung pulang bukan? "


    "Oke kalau begitu aku kesana sekarang ya. “ ucap Lee Yura pada seseorang yang berada diseberang panggilan.


    Perempuan itu kemudian meletakkan buket bunga yang tadi diterimanya dikursi penumpang bagian belakang. Ia bergegas menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas perlahan, beruntung hari itu jalanan Seoul tidak semacet biasanya sehingga ia bisa dengan cepat tiba ditujuan.


    Ia merapatkan mobilnya pada arena parkir salah satu gedung agensi terbesar di Seoul, Lee Yura langsung menghubungi seseorang sesaat sebelum ia turun dari kendaraannya. Beberapa menit menunggu, tampak kemudian seorang pria berwajah tampan dengan balutan cardigan berwarna cokelat mengetuk kaca mobil Lee Yura.


    “Ayo turun sebentar, aku masih mengerjakan beberapa hal. “ ucap lelaki yang tak lain adalah Min Yoongi itu pada Lee Yura.


    Meski bersungut - sungut Lee Yura segera melepas sabuk pengamannya dan berjalan pelan mengikuti langkah kaki suaminya. Setibanya didepan elevator keduanya bergegas masuk kedalam bilik besi itu, hingga membawa mereka sampai dilantai dua puluh tujuh. Min Yoongi meraih jemari Lee Yura dan menggandengnya dengan erat disepanjang perjalanan menyusuri koridor yang lengang.


    Min Yoongi kemudian memasukkan beberapa kombinasi angka sandi pada sebuah pintu, Lee Yura melirik beberapa saat dan tanpa sengaja ia melihat nomor – nomor acak yang Min Yoongi masukkan itu. Pintu terbuka.


    Sebuah studio musik pribadi yang memang khusus disediakan oleh perusahaan untuk Min Yoongi sebagai produser musik dan juga rapper, satu ruangan luas penuh dengan berbagai macam piranti membuat musik. Tampak meja kerja berikut layar monitor berukuran besar dan sofa - sofa yang diletakkan dibeberapa sudut ruangan. Min Yoongi langsung menempati kursinya dan memutar tempat duduk itu menghadap kearah Lee Yura yang sedang mengamati dengan seksama hampir di seluruh isi studio.


    “Duduklah, tunggu aku sebentar ya. Jika haus ada minuman dilemari pendingin disana ya, sebentar lagi aku selesaikan dahulu. “ ucap lelaki itu dari kursinya. Lee Yura hanya mengangguk mengiyakan.


    Segera Min Yoongi kembali menghadapi perangkat pembuatan lagunya dan membiarkan Lee Yura memanjakan matanya menikmati setiap hal yang ada ditempat itu. Termasuk menikmati pemandangan indah, melihat Min Yoongi yang sedang sibuk bekerja.


    “Pesonamu semakin bertambah – tambah saat bekerja seperti ini. “ ucap Lee Yura didalam hati sambil terus menatap bahu yang tersembul dibalik kursi berpunggung tinggi itu.


    Ding dong.. ding dong..


    Tiba – tiba terdengar suara bel pintu ditengah keheningan didalam ruang kerja itu, Min Yoongi yang masih mengenakan head phone terlihat tidak mendengar berisik bel pintu yang masih bergaung.

__ADS_1


    Lee Yura bergegas beranjak dari sofa dan segera ia membuka pintu berwarna abu – abu itu. Betapa terperanjatnya ia saat mendapati Kim Namjoon berdiri diambang pintu sembari membawa beberapa lembar kertas ditangannya.


    “Oh Lee Yura Gyousu Nim, maaf aku tidak tahu jika hyung sedang ada tamu. “ ucap Kim Namjoon setengah terbata.


    “Ah iya Kim Namjoon –ssi, tidak apa - apa, masuklah. “ sama gugupnya, Lee Yura  mempersilahkan mantan mahasiswa sekaligus leader boygroup tempat  suaminya itu bergabung, agar masuk kedalam studio.


    “Hyung, “ panggil Kim Namjoon pada Min Yoongi seraya menepuk pundak lelaki itu perlahan. Min Yoongi yang tersentak tampak melepaskan head phone yang melekat pada kedua sisi telinganya dengan sedikit terburu – buru.


    “Oh Namjoon –a, ada apa? “ jawab lelaki itu gugup.


    “Ini, menurutmu apakah sudah tepat jika liriknya aku ubah begini begini? “ Kim Namjoon tampak mengulurkan lembaran kertas yang ia bawa sejak tadi kepada Min Yoongi, dan laki – laki itu menerimanya lalu membacanya sekilas.


    Min Yoongi lantas memainkan beberapa nada pada piano nya sembari bergumam melantunkan sebait irama dengan memadu padankan beberapa larik kata yang ia baca dari kertas yang baru saja diberikan oleh Kim Namjoon kepadanya.


    “Menurutku ini sempurna Namjoon –a! “ ucap Min Yoongi sembari mengulurkan kembali secarik kertas putih itu pada rekannya.


    “Hyung, apakah aku boleh meminta  tanda tangan pada istrimu? “ kata Kim Namjoon sembari memasang wajah polosnya. Lee Yura yang duduk tidak begitu jauh dari tempat Namjoon berdiri tampak tersenyum saat mendengar perkataan lelaki itu.


    “Oh, silahkan saja kalau Lee Yura bersedia. “ Min Yoongi melirik ke arah istrinya dengan ekspresi wajahnya yang datar.


    “Tentu saja aku bersedia, ini suatu kehormatan untukku Kim Namjoon –ssi. “ Lee Yura tersenyum meluluskan permintaan mantan mahasiswanya itu.


    “Kalau begitu tunggu sebentar Gyousu Nim, aku ambil buku dulu diruanganku. “


    Kim Namjoon yang beberapa saat lalu menghilang dari pandangan mata Lee Yura dan Min Yoongi, kini ia kembali menampakkan batang hidungnya. Lelaki itu masuk kedalam studio seraya menenteng tiga buah buku best seller garapan Lee Yura dibawah penerbit Moonlight Publisher. Wajah lelaki itu tampak berseri – seri saat melihat Lee Yura mulai menorehkan tintanya pada lembar pertama buku kepunyaan Kim Namjoon.


__ADS_1


(Source : Pinteresr)


    “Nunna –(sebutan untuk kakak perempuan dari adik laki – laki), terima kasih banyak. Aku adalah penggemar beratmu. “ kedua mata Kim Namjoon tampak berbinar, layaknya seorang anak kecil yang sedang terpukau atas suatu hal.


    “Terima kasih banyak Namjoon –ssi, aku juga sangat mengidolakanmu. “ sambung Lee Yura sama antusiasnya sembari ia menyodorkan kembali ketiga buku itu kepada Kim Namjoon.


    Dari tempatnya Min Yoongi tampak memperhatikan Lee Yura dengan begitu seksama, tidak sedetikpun pandangan matanya lengah dari istrinya. Ia baru menyadari memang Lee Yura sungguh memiliki pesonanya sendiri. Ia tidak perlu berpenampilan seksi, ia tidak perlu memamerkan tarian – tarian yang menggoda diatas pentas, ia tidak perlu meliuk – liukkan tubuhnya untuk mengundang atensi, dalam diamnya saja ia sudah menarik jiwa – jiwa untuk tergerak hatinya hanya melalui rangkaian kata – kata.



(Source : Pinterest)


    “Lee Yura –ssi, aku ingin berfoto denganmu apakah kau berkenan? “ tanya Kim Namjoon lagi.


    “Oh iya tentu saja boleh. “


    “Hyung, tolong fotokan kami. “ tanpa ragu Kim Namjoon mengulurkan telepon genggamnya dan meminta Min Yoongi agar memotret dirinya bersama Lee Yura.


    Kim Namjoon dan Lee Yura kini duduk bersandingan seraya bersama – sama memegang buku berwarna putih, buku pertama yang Lee Yura terbitkan. Senyumannya merekah, ia terlihat begitu cantik.


    “Sekali saja Namjoon –a, aku tidak mau mengulangnya lagi.” Min Yoongi berdecak kesal.


    “Haha, ayolah hyung! “ Kim Namjoon tertawa kecil saat mendengar keluhan rekan sekaligus sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakak laki – lakinya itu.


    Setelah puas mengambil gambar dan mendapat tanda tangan, Kim Namjoon segera pamit dan undur. Ruang kerja Min Yoongi kembali sunyi, lelaki itu menatap lurus kearah Lee Yura yang masih terduduk diatas sofa, belum berpindah dari posisinya semula.


    “Apa kebanyakan penggemar mu adalah pria Yura –ya? Dan apakah mereka selalu melakukan hal yang seperti Namjoon lakukan? “ telisik Min Yoongi.

__ADS_1


    “Ah tidak juga, aku tidak memiliki penggemar. Ayo sudahlah, apakah masih lama? Aku sangat mengantuk Yoongi –a. “ rengek Lee Yura pada akhirnya.


__ADS_2