Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 10# Gadis Penuh Cinta


__ADS_3

Aleta merasa ketiban sial terus selama menjadi istri dari Kelvin Jansen yang belum sama sekali dilihatnya. Bukannya direpotkan suami sendiri, ini malah dibikin susah oleh adik iparnya, 'Elvan Jansen.'


Aleta yang baru selesai dari apotik membeli obat pesanan Elvan, saat ini sangat kedinginan. Sebelum nya, salju tidak turun. Namun di perjalanan pulang, butiran lembut putih itu berjatuhan ke rambutnya.


"Dingin...!" Aleta menggigil sampai mulutnya mengeluarkan nafas menggebul bak orang merokok. Tadi buru buru keluar rumah, sehingga lupa memakai mantel tebal. Tidak mau terjebak salju, Aleta berjalan cepat masuk ke gang kecil menuju kontrakannya.


Di kontrakan, Kelvin berbaring di kasur lantai berukuran cukup satu orang milik Aleta, sembari mengoperasikan teleponnya. Ia ingin memastikan pekerjaan bodyguard tentang si penembak misterius.


"Bagaimana?"


"Maaf, Tuan. Kami kesusahan mencari nya karena tidak ada jejak."


Kelvin menatap langit langit dengan dingin. Bukan salah bodyguard nya juga karena ia memang telat mengabari.


"Terus selidiki!"


"Baik, Tuan."


Kelvin hendak mematikan, tapi anak buahnya kembali berkata dengan suara cemas, "Maaf, apakah Tuan butuh bantuan sekarang?"


"Aku baik baik saja! Konsen saja sama tugas yang aku berikan."


Bersamaan itu, pintu terbuka oleh Aleta dengan tangan sudah membawa kresek obat pesanannya.


"Baik baik apanya?" Aleta berceletuk. Namun suara tetap lembut sedia kalanya.


Kelvin langsung mematikan teleponnya. Ia memang sangat niat merepotkan Aleta. Ingin menguji kesabaran dan kebaikan Aleta.


"Besok kamu tetap harus ke rumah sakit. Jangan menolak!" Aleta menyela Kelvin yang ingin bersuara. Lama lama wanita ini ternyata cerewet tapi perhatian juga. "Kamu tidak mau kan, luka tembak mu infeksi dan berujung ada belatungnya?"

__ADS_1


Belatung? Ck, jorok sekali. Kelvin bergumam dalam hati.


"Cepat berikan obat ku." Kelvin geli mendengar omong kosong Aleta yang menjijikkan di dengarnya.


"Sebelum minum obat kamu harus makan." Aleta mengeluarkan makanan dari kantong lainnya.


Sudut bibir Kelvin tersenyum tipis akan perhatian Aleta. Namun hanya sekilas di saat Aleta kembali berkata, "Aku baik padamu karena kamu adalah adik ipar ku. Jadi, jangan macam-macam lagi seperti..." Aleta teringat aksi kurang ajar 'Elvan'. Ia ragu ragu melanjutkan ucapan nya. Namun ia memang harus menekankan ke pria mesum ini. "Seperti tadi. Aku tidak ingin ada yang ke tiga kalinya. Mengerti Elvan Jansen?"


"Tiga kalinya?" Kelvin pura pura bodoh. Ada sebuah kepuasan sendiri di hati nya saat menggoda gadis berpenampilan culun ini.


Wajah Aleta terasa panas. "Ciuman yang ke tiga kalinya," katanya memperjelas. Setelah memperingati, Aleta segera masuk ke dalam kamar mandi kecil yang berada di dekat dapur. Kontrakan itu hanya ada satu sekatan tembok, sehingga Kelvin masih bisa melihat punggung Aleta sampai pintu kamar mandi tertutup rapat.


"Tapi aku menolak," gumamnya sendiri sembari meraih sepotong makanan ala kadarnya yang dibelikan Aleta.


Selama menunggu Aleta, Kelvin menyuntik punggung tangan kirinya sendiri untuk memasang infus sebisanya, lanjut minum obat lalu berbaring di kasur.


Sementara di dalam kamar mandi, Aleta membuka penyamaran wajah dekil nya dengan mencuci mukanya. Ia memandangi wajah cantiknya yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh orang-orang termasuk keluarga San.


Air mata Aleta jatuh begitu saja. Bukannya bangga, Esme tidak memperolehkan dirinya lebih unggul dari Olivia. Karena dulu ia masih begitu polos, dirinya pun selalu patuh pada perintah Esme. Berpura pura bodoh dengan cara memberi nilai ulangan nol besar. Dan terakhir, ia juga selalu memakai bedak khusus yang lebih gelap dari kulit aslinya. Lama lama, dirinya terbiasa dan merasa nyaman meski kebanyakan orang yang ilfil padanya.


Bukan hanya karena desakan Esme, namun suatu hari lalu, ia pernah menyaksikan ada seorang wanita cantik digodain oleh preman preman. Di sisi lain, Aleta merasa tertolong juga dengan penampilan buruknya. Setidaknya, ia terhindar dari mata mata pria jahat dan juga bisa menilai teman yang tulus.


"Cukup, Aleta. Air mata mu begitu berharga kalau terus menangisi nasib buruk yang sudah berlalu. Terpenting, hari ini dan esoknya. Selalu tanamkan di hati mu, kalau keluarga San hanya memanfaatkan mu. Jangan biarkan, ada Aleta bodoh lagi."


Aleta menasehati wajah aslinya sendiri. Sejurus, menghapus sisa sisa air matanya. Lanjut memberi polesan khusus agar 'Elvan' tidak mengetahui penyamarannya. Ini belum saatnya ia membongkar jati dirinya.


Aleta keluar dari kamar mandi. Mengintip 'Elvan' dari ambang pintu kecil itu. Syukurlah, pria itu sudah tidur. Setidaknya, ia tidak harus kesal dibuatnya.


Masalahnya... "Di mana aku harus tidur?" Aleta bergumam pelan dengan mata memindai ruangan yang sempit itu.

__ADS_1


Bantal kepala serta guling masing-masing hanya ada satu. Itu pun dipakai Elvan. Tubuh pria ini sangat panjang di ukuran kasurnya yang kecil. Terpaksa Aleta harus di lantai. Diapit oleh lemari plastik sebelah kiri dan sebelah kanannya ada Elvan.


"Mudah mudahan, dia tertidur seperti orang mati." Aleta memasang selimut agar tubuh Elvan hangat. Sayang, selimutnya hanya ada satu, sehingga Aleta berbaring di lantai dengan berbantalkan beberapa helai baju dari lemari.


Aleta susah memejamkan matanya, membolak balik tubuhnya, gelisah. Takut pada Elvan yang bisa saja kurang ajar padanya.


Tidak tenang, Aleta sedikit mengintip ke arah wajah 'Elvan'. Pria ini sangat tampan, polos seperti bayi kalau sedang tertidur. Aleta terpaku, andai tidak kurang ajar, pasti ia pun bisa menghormati adik iparnya.


Merasa aman, Aleta pun lebih tenang. Matanya berangsur terpejam dengan sendirinya.


Tengah malam, Kelvin terganggu. Dadanya yang nyeri terluka, terasa ditimpa beban.


Ingin memastikan, Kelvin membuka matanya yang sebenarnya masih mengantuk efek obat yang dikonsumsinya tadi.


"Eh..." Kelvin kaget. Tangan Aleta memeluknya dengan kaki di bawah sana menjadikan tubuhnya seperti guling.


Kelvin menelan kasar ludahnya, saat menyadari ada yang bangun di balik selimut karena tekanan paha Aleta.


Aleta melenguh ketika Kelvin menyingkirkan tangan itu dari dada terlukanya. Saat menyentuh kulit Aleta, Kelvin baru sadar kalau gadis ini demam tinggi. Mungkin karena hujan salju di luar, membuat Aleta kedinginan saat ke apotik tadi, ditambah harus tidur dilantai tanpa ada alas apapun. Kasihan juga perempuan yang meringkuk mencari kehangatan ini. Karena dirinya, Aleta pun jadi korban.


Seumur hidup dewasanya, ini pertama kalinya Kelvin mengijinkan seseorang menjadi parasit atau mengambil keuntungan dengan cara memeluk tubuh mahalnya. Kelvin sekadar menyingkirkan jenjang kaki Aleta yang menghempit 'adiknya'. Bahaya kalau terus membiarkannya.


Tiba tiba, Kelvin menyeringai, ia baru ingat kalau sebelum Aleta keluar dari kamar mandi, ia sudah menyalahkan perekam video dari handphone canggihnya, sebagai jaga jaga aksi Aleta padanya. Masih dengan posisi intim itu, tangan Kelvin yang panjang meraih benda pipih tersebut.


"Coba lihat, apa dia modus saat aku tidur atau memang real tidak sadar memelukku."


Video on...


Semua gerak gerak Aleta yang baru keluar dari kamar mandi, terekam. Perhatian Aleta yang memberinya selimut pun tak luput dari tontonan Kelvin. Tidak sadar, senyum yang jarang terlihat orang, tersemat indah. "Prediksi ku memang tidak pernah salah. Dia wanita baik dan penuh cinta." Kelvin menatap lekat wajah Aleta setelah video selesai ia tonton. Aleta tidak modus memeluknya.

__ADS_1


"Kulitnya semakin panas." Kelvin mencabut infusnya, memiringkan tubuhnya perlahan demi bisa mencari posisi nyaman. Sepanjang malam, ia memeluk Aleta. Mentransfer kehangatan tubuhnya pada Aleta yang demam.


__ADS_2