Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 9# Mengobati Dengan Tangan Gemetar


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu setelah meninggalkan rumah orang tuanya, Aleta sebenarnya pergi menyewa kontrakan sepetak. Itu pun, ia memakai hasil penjualan kalung yang dulu pernah dibeli dari bonus gajinya.


Karena Kelvin menolak diajak ke rumah sakit, otomatis Aleta membawa pria itu ke kontrakannya yang tidak terlalu jauh dari TKP kecelakaan Kelvin tadi.


Kawasan kumuh dengan gang kecil saat ini dilalui Aleta dan Kelvin. Mereka beriringan melangkah di jalanan yang sedikit berlubang.


"Apa sesakit itu?" Aleta bertanya cemas saat melihat wajah Kelvin yang putih kian memucat. Bibir pria itu biasanya pink alami. Namun di mata Aleta sekarang seperti tidak dialiri darah.


"Kamu akan membawa saya kemana?" Alih alih menjawab, Kelvin malah bertanya balik. Ini pertama kalinya, orang tajir sedari kecil seperti Kelvin ini masuk ke area kumuh. Pantas saja kalau ia merasa sedikit risih.


"Ke kontrakan ku. Aku tinggal di sini sekarang. Kenapa? Jijik?" Aleta mencibir ejek.


Kelvin tidak merespon karena berusaha menjaga kesadarannya. Dalam hatinya hanya berkata, "Anak pertama keluarga San, tinggal di area kumuh?" Kelvin tidak habis pikir. Aleta sangat membuatnya tertarik. Beda menurut nya dari gadis gadis anak orang kaya pada umumnya.


"Eh..." Aleta terkesiap. Pijakan kaki Kelvin yang sebenarnya sudah melemah, membuatnya sigap menahan laju Kelvin yang hampir terhuyung ke tanah.


Tubuhnya yang mungil, membuatnya hampir tidak kuat menahan beban Elvan yang berotot. "Kamu sangat berat. Jangan mengerjai ku." Aleta pikir, Elvan hanya iseng.


Dengan terpaksa, Kelvin menarik tangannya yang dipapah oleh Aleta. Gadis ini sebenarnya bodoh atau pura-pura idiot? Jelas jelas raut wajahnya sudah sangat pucat. Tapi masih saja dianggap menggoda.


"Ini hanya luka kecil. Kamu sudah seperti mayat berjalan," cibir Aleta lagi.


"Siap siap menerima hukuman dari Kelvin. Aku akan melapor kalau Kakak ipar ku ini berusaha menggoda ku setiap ada kesempatan." Dengan cara mengancam, Kelvin yakin, kalau Aleta akan bungkam yang secara tidak langsung mengatainya pria manja nan lemah.


"Tidak tahu malu!"


Benar saja prediksi Kelvin. Aleta sekedar menggerutu. Lalu segera melangkah sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


Hingga pada akhirnya, sampai lah mereka berdua di depan rumah kontrakan Aleta.


Kelvin bernafas lega. Secepatnya masuk begitu saja saat pintu dibuka Aleta.


"Segera obati aku!" Kelvin berkata sembari membuka kancing mantelnya membuat mata indah yang tersembunyi di balik kaca mata Aleta, membelalak.

__ADS_1


Secepatnya Aleta melerai. "Jangan dibuka mantel nya." Ia pikir, otak 'Elvan' mulai kurang ajar. Musim diluar sedang dingin, di kamarnya juga tidak ada penghangat. Jadi, tidak ada alasan kepanasan. Pasti otak Elvan sedang kotor dan mencari alasan menipunya.


Namun, Kelvin tidak menghiraukan. Tangan yang sempat berhenti, secepatnya menanggalkan mantel hitam tersebut.


Mata Aleta terbelalak ke dua kalinya. Ia barulah menyadari kalau ada luka tembak di dada Elvan. Di penglihatannya, kemeja putih bagian depan Kelvin, sudah hampir dipenuhi darah.


"Ya ampun ... bekas tem__ tembakan?" Aleta tergagap. Ia panik nan cemas sendiri. Ia juga menyesal karena sempat mengejek pria itu. Ternyata benar-benar terluka parah. "Bagaimana caranya aku mengobati luka tembakmu?" Entah apa yang dialami sebelumnya oleh Elvan? Ia tidak tahu dan tidak mau bertanya kepo dulu. Lebih penting menolong orang sekarat.


"Ambil pisau, P3K, serta air hanyat," titah Kelvin menyadarkan kebodohan Aleta.


"Kita harusnya ke rumah sakit. Aku akan segera menelepon ambulan." Aleta tidak akan membiarkan pria ini mati di tempatnya. Bisa saja ia yang dituduh melukai 'Elvan' bukan?


"Jangan panggil ambulan!"


"Tapi__"


"Jangan lupa handuk kecilnya juga."


Tidak berselang waktu lama, Aleta balik ke ruang tamu sekaligus kamarnya dengan tangan membawa barang permintaan Kelvin. Pria ini sudah bertelanja*g dada memperlihatkan roti sobek yang bisa membuat wanita tergila - gila. Aleta sekadar mengagumi dalam hati postur sempurna tubuh 'Elvan.' Ia semakin penasaran, sosok kakak Elvan yang tak lain adalah Kelvin. Meski cacat, pasti keduanya sedikit mempunyai kemiripan bukan?


"Kenapa hanya berdiri seperti patung?" Kelvin langsung membetulkan posisinya. Berbaring setengah dengan bantal menahan punggungnya.


"Cepat congkel pelurunya."


"Apa?" Tangan Aleta bergetar. Ia tiba-tiba kebelet menahan air kecil. Ia kira, Elvan sendiri yang akan mencongkel pelurunya. Tapi, ia yang malah akan melakukannya?


Ini gila!


"Buruan atau aku akan mati dan yang akan ku hantui untuk pertama kalinya adalah kamu!"


Ragu ragu Aleta duduk di sisi Kelvin. Masalah dihantui? Sepertinya tidak akan seram mengingat wajah 'Elvan' sangat tampan. Namun masalah kehidupan, Aleta sangat menghargai sebuah arti dari nyawa.


"Ba-baik..." Kening Aleta ditumbuhi keringat di musim yang dingin. Tangannya yang sedari tadi bergetar, kian bergoyang goyang saat mulai mengikuti instruksi pria yang menurutnya 'gila.'

__ADS_1


Karena penglihatannya terganggu di waktu yang menegangkan baginya, Aleta menarik cepat kaca mata culunnya. Menaruh nya asal asalan di sisi tubuh Kelvin. Membuat Kelvin terpesona akan keindahan bola mata yang dimiliki Aleta.


"Hiks..."


"Aku yang terluka, tapi kenapa kamu yang menangis." Kelvin tersadar dari hipnotis keindahan mata Aleta, saat gadis ini tiba-tiba tergugu pilu, menghentikan operasi dadakan itu.


"Aku takut darah ..." Suara Aleta tercekat. Ia memang fobia darah banyak. Entah kenapa dan mulai dari kapan? Intinya, ia selalu pusing jika melihat apalagi ada darah yang sudah mengotori tangannya.


"Aku akan mati kalau kamu tidak melawan fobia mu!"


Biarkan saja dia mati. Aleta sempat berpikir demikian. Tapi ia juga mengingat pembelaan 'Elvan' pada dirinya akan perbuatan keluarga San. Jadi, Aleta berusaha keras melawan ketakutannya.


"Aku akan mencobanya lagi."


Tangan bergetar Aleta yang memegang pisau runcing, perlahan menyayat sedikit kulit Kelvin. Bukan hanya wajah Kelvin yang memucat, tapi diri nya pun.


Sebenarnya, kesadaran Kelvin sudah mulai menurun. Ia tidak sekuat itu menahan operasi kecil tanpa adanya perlengkapan dan ahli medis. Namun, menatap terus menerus mata Aleta, membuatnya ada sebuah kekuatan.


"Jangan terus menatap ku." Aleta grogi dibuat 'Elvan.'


Seperti orang tuli, Kelvin tidak menghiraukan.


Jam terasa berhenti berputar menurut Aleta yang tiba-tiba menjadi ahli bedah gadungan. Hingga pada akhirnya, sebuah peluru berhasil ia keluarkan. Darah yang mengotori tangannya, segera ia tenggalamkan ke wadah air di lantai itu. Ia merinding dan meringis ringis.


"Terimakasih..." Suara Kelvin sangat kecil.


Aleta tidak salah dengar kan? Orang angkuh perangainya ternyata punya etika. Takut salah dengar, Aleta menatap serius wajah Kelvin, bertanya meyakinkan, "Apa kamu mengatakan terimakasih, tadi?"


"Mungkin telinga mu bermasalah."


Nyebelin! Lihatlah, orang yang tadi sekarat tidak sama sekali suaranya seperti orang sakit.


"Aku tadi mengatakan ambil buku catatan. Tulis resep obat yang ku butuhkan."

__ADS_1


__ADS_2