Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 20# Aku Pemilik Ruangan ini


__ADS_3

Saat ini, Kelvin berada di ruangan khusus Dokter yang memeriksa keadaan Aleta lebih lanjut. Mendengarkan penjelasan keanehan gejala sakit kepala Aleta yang berlebihan.


"Kasus yang dialami pasien cukup fatal. Separuh memorinya seperti sengaja dihilangkan. Tiap pasien mencoba mengingat memorinya yang hilang itu, maka efek sakit pun kian bertambah."


"Solusi kesembuhannya bagaimana?"


"Kami akan mempelajari kasus langka ini lebih lanjut, Tuan. Untuk sementara waktu, baik dari keluarga atau orang terdekat jangan ada dulu yang mencoba memaksanya mengingat masa lalunya. Takut, akan ada efek besarnya."


Kelvin terus menjadi pendengar baik tiap penjelasan sang Dokter. Intinya, ia tidak boleh membuat pikiran Aleta tertuju ke hal masa lalu yang entah apa itu? Baiklah, ia punya cara sendiri dengan cara menggangu dan menyibukkan hari hari Aleta.


Dalam diamnya, Kelvin begitu penasaran tentang masalah apa yang sebenarnya dilewati Aleta, kenapa katanya ada sebuah memori yang sengaja dihilangkan?


"Kuncinya hanya pada Keluarga San," gumamnya dalam hati.


Setelah keluar dari ruangan Dokter, Kelvin ingin menyempatkan menjenguk Aleta sebelum pergi mengurus bisnisnya.


Namun sayang, ia dihadapkan brankar kosong. Aleta pergi kemana? Di toilet pun tidak ada. Saat ingin menanyakan ke suster jaga, dering ponselnya mengganggu. Awas saja kalau Candra menelpon hanya sekadar menggoda di saat keadaan kurang kondusif.


"Katakan!"


"Santai dong, Tuan CEO. Coba tebak, sekarang di kantor ada siapa..."


Tut...


Kelvin malas menebak nebak yang unfaedah. Ia main mematikan teleponnya tanpa menunggu kalimat Candra selesai.

__ADS_1


"Ih, dasar ya..." Di sisi Candra, pria itu menatap omel hapenya. Ia menyeringai sembari menatap gadis yang duduk di sofa lobby sana.


Lift khusus CEO di depannya sudah terbuka, tapi Candra mengabaikannya. Malah memotret diam diam Aleta yang hari ini datang ingin wawancara pekerjaan. Kemarin, ia sudah memerintahkan pihak supervisor menghubungi Aleta untuk training bekerja hari ini juga. Masalah yang dihadapi Aleta, jelas Candra tidak tahu menahu. Yang ia tahu, perintah Kelvin yang ingin menjadikan Aleta OB khusus di ruangan sang bos seorang, sudah berjalan setengah lancar.


"Nyonya Jansen berkunjung ke Media KJ." Foto di send ke kontak Kelvin dengan caption demikian. Candra pun dengan santai masuk ke dalam lift sembari bersiul siul kecil.


"Hehe... Langsung nelepon dia." Candra iseng mengabaikan telepon Kelvin sejenak. Siapa suruh tadi panggilannya diputus begitu saja. Sesekali cuek ke bos tidak masalah bukan.


Panggilan kedua kalinya, Candra pun mengangkat telepon Kelvin. Pria itu sudah sampai di ruangan CEO.


"Halo__"


"Kenapa Aleta harus masuk hari ini juga, hah?"


"Apa aku salah?" Suara Candra seperti kucing manis saat minta makan ke majikannya.


"Salah! Aleta kabur dari rumah sakit."


"Mana aku tau kalau dia sakit. Aku hanya menjalankan perintah mu__"


Tut...


"Dimatiin lagi. Kebiasaan deh," dumelnya sembari menaruh hapenya ke atas meja. Candra pun segera menelpon pihak supervisor melalui telepon kantor.


"Halo, Tuan."

__ADS_1


" Bagaimana soal OB itu? "


"Dia sudah menandatangani surat kontrak kerja seusai keinginan Anda, Tuan. Sekarang mulai bekerja."


Astaga ... Candra ngeri mendadak disate oleh Kelvin. Tapi, ia juga tidak bisa mengomeli karyawannya ini yang bekerja sesuai keinginannya kemarin. Dengan helaan nafas berat, Candra pun mengakhiri telepon. Menatap penampilannya di depan kaca full body dengan nanar, takut nanti tidak bisa menikmati ketampanannya ulah Kelvin yang susah ditebak tingkahnya.


"Ah, ini kan bukan kesalahan ku sepenuhnya." Tiba-tiba Candra membela dirinya sendiri di depan kaca itu. "Lebih baik aku meeting. Biarkan Kelvin mengurus rumah tangganya yang aneh itu."


Di sisi Aleta, ia sudah memasuki ruangan, tempat hari harinya ia habiskan untuk mencari nafkah. Belum mencurigai pekerjaannya. Ia juga mengira kalau sebagian ruangan yang ada di gedung tinggi itu memiliki OB khusus, seperti dirinya yang ditempatkan langsung di kantor wakil Direktur.


"Apa yang akan saya kerjakan?" Aleta meneliti setiap inci ruangan. Semuanya bersih terkendali. Bahkan tong sampah pun masih mengkilap. Meja dan rak dokumen bebas dari debu.


Ceklek...


Aleta segera berbalik badan saat pintu ruangan tiba-tiba dibuka oleh..." Elvan?!" Aleta seperti melihat hantu di balik ketampanan Kelvin.. Matanya membelalak dengan mulut terbuka mengomel, "Bisa tidak sih, sehari saja jangan ganggu aku. Kamu bagaikan penguntit ulung, tau nggak."


Kelvin tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Seperti burung gacor, Aleta terus membeo, "Apakah kamu belum puas menghancurkan harga diri ku semalam dengan cara menodai ku, hah?!" Aleta memandang Elvan penuh kebencian. Tapi Kelvin tidak peduli dengan kebencian Aleta.


"Aku butuh pekerjaan untuk menyambung hidupku, jadi please jangan hancurkan jalan rezeki ku. Pergi, Elvan! sebelum bos pemilik ruangan ini datang."


Karena takut kehilangan pekerjaan yang belum satu jam ia jalani, dengan penuh terpaksa dan tenaga, Aleta mendorong dorong dada 'Elvan', ke arah pintu. "Elvan, Please keluar lah. Kamu ada dendam apa sih sama aku? Kenapa terus mengganggu ku?" Aleta berujung memelas dengan suara tak berdaya manakala pria yang masih dianggapnya adik ipar itu masih bergeming di tempat. Tenaganya tidak cukup mendorong tubuh besar Kelvin.


Menyadari wajah Aleta pucat bak orang sakit, Kelvin tidak mempedulikan usiran dan ocehan Aleta. Tangan halus yang masih berusaha mendorongnya ini, Kelvin tangkap sembari berkata, "Aku pemilik ruangan ini."


"Hah...?"

__ADS_1


__ADS_2