
Aleta mengetuk pintu ruang kerja Kelvin dengan perasaan jantung berdetak dua kali lebih cepat. Takut dan penasaran berbaur jadi satu.
Ia berharap, Kelvin tidak termakan gosip yang dibuat Olivia.
Dalam keadaan ruangan dingin, ia masih bisa berkeringat. Aura Kelvin benar-benar membuat dia ketakutan meski hanya suara perintah 'masuk' dari dalam.
Aleta memutar gagang pintu dengan mantap. Matanya langsung di suguhkan sosok pria yang duduk di kursi kerja seraya membelakanginya. Hanya separuh kepalanya yang dilihat Aleta.
Mengingat julukan 'Elvan' pada Kelvin adalah raja kejam, seketika Aleta membeku di tempat. Ia kehilangan kata kata begitu saja, padahal sedari awal ia sudah menyiapkan dirinya untuk menjelaskan kebenaran gosip itu.
"Bicaralah..." Suaranya rendah tapi serak, membuat Aleta merinding sendiri.
Daripada membuat Kelvin kian kesal dengan tingkah bodohnya, Aleta pun segera bersuara meski Kelvin masih membelakanginya, "Soal berita di internet, semuanya tidak benar."
Kelvin tidak bersuara. Aleta pun kembali berucap, "Waktu hari H pernikahan, Olivia berpura-pura kecelakaan. Ibu ku mengatakan kebohongan, dia sedang sekarat. Pada akhirnya, akulah yang menggantikan Olivia atas paksaan Ibu dan maaf tentang itu. Tapi sungguh, aku tidak berniat merebut calon suami orang manapun termasuk kamu dari Olivia."
Kelvin menyeringai dingin yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh Aleta. Jadi kebenaran keluarga San seperti itu? Sengaja memberikan anak sulungnya yang terlihat culun pada dirinya yang dirumorkan lumpuh? Keluarga San pikir, Olivia itu terlalu cantik untuk nya yang tidak berguna? Cih...
" Bagaimana kalau aku membuat Olivia benar-benar sekarat?"
Mendengar suara penuh keseriusan Kelvin, Aleta tidak meragukan perkataan 'Elvan' lagi, kalau pria yang dinikahinya memang raja kejam.
"Percayakan padaku, sekali ini saja. Aku akan meredahkan gosip yang ikut menyeret nama baik mu."
Meski Olivia sudah keterlaluan, tapi Aleta juga tidak akan tega membiarkan adiknya itu mati di tangan Kelvin.
"Tunggu apalagi?" Kenapa suaranya kian membuat Aleta ketakutan.
"Terimakasih atas pengertiannya__"Aleta terjeda oleh Kelvin yang memotongnya, "Aku belum makan."
Wajah yang tegang, tiba-tiba kendur. Aleta tersenyum polos. Itu tandanya, Kelvin memberinya kesempatan menjadi istri yang berbakti?
"Aku akan memasak untuk mu." Keantusiaan Aleta seperti api yang berkobar kobar. Melalui masakannya, ia ingin melembutkan hati Kelvin. Semoga bisa.
"Permisi!"
Kepergian Aleta yang sudah menutup pintu ruangan kerjanya, membuat Kelvin segera membalik badannya tanpa beranjak dari kursi mewahnya. Tatapan matanya yang kelam nan tajam, jatuh pada foto seluruh keluarga San yang terpangpang di layar monitor komputernya.
"Kamu akan terkecualikan, Aleta!" Entah apa rencana Kelvin serta apa niatnya, hanya dia yang tahu.
***
Beberapa menit di dapur menyiapkan bumbu bumbu, Aleta terganggu akan kehadiran 'Elvan' yang mengambil air di dalam kulkas. Pria itu siap berperan sebagai adik ipar Aleta.
"Jangan minum air es di cuaca yang bersalju. Kamu tidak mau jadi Olaf, kan?" Aleta mengambil air dingin itu, lalu segera bergerak mengambil air hangat sebagai gantinya.
Tanpa ekspresi, Kelvin meraih gelas yang diberikan Aleta. Wanita ini terlihat tulus perhatian.
Sebenarnya, ia cuma ngasal mengambil barang. Niatnya ke dapur ingin melihat Aleta memasak untuk dirinya sebagai Kelvin, bukan untuk Elvan.
"Kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Tidur..." Aleta menjawab asal asalan. Bawaan Kelvin yang tidak suka becanda, terpancing oleh Aleta untuk 'bermain.' Dengan santai, ia menundukkan kepalanya agar kian mendekat ke posisi tubuh mungil Aleta.
Gadis itu memundurkan cepat kepalanya, tapi tubuh belakangnya tertahan ujung pantry dapur sampai tidak bisa mengelak lagi. "Ja-jangan macam-macam, atau aku akan melaporkan tingkah kurang ajar mu ke Ke-Kelvin." Aleta gugup tergagap. Bisa bisanya adik iparnya ini berperilaku tidak tahu malu, padahal sangat mengetahui ada Kelvin di rumah.
Dari belakang, posisi intim mereka seperti sedang beradu bibir. Dan pemandangan tersebut tidak sengaja dilihat oleh Deli yang tadinya bermaksud membuat kopi.
Deli yang sudah khatam betul sikap Kelvin yang tidak suka diganggu kesenangannya, segera pergi daripada piring melayang ke kepalanya.
"Kakak ipar boleh mengadu ke kak Kelvin. Itupun kalau dia percaya padamu, ketimbang adiknya sendiri."
Kelvin berucap sembari mengelus rambut Aleta yang sedang terpejam takut. Ia tidak tega juga melihat istrinya gemetar bak kucing kesiram air dingin.
Spontan, Aleta membuka matanya. Menatap 'Elvan' yang sudah menegakkan tubuh kekarnya. Rotasinya masih menghilang seperkian detik dibuat Elvan yang tidak kalah seramnya dari Kelvin auranya. Apa karena keduanya adik kakak, jadi punya hobi sama yaitu membuatnya ketakutan? Entahlah, kadang kadang Aleta ingin berpikiran mati saja.
"Kenapa kakak ipar terlihat takut? Apa ada hantu di sini?" Kelvin berujar seperti orang polos yang tidak tahu apa apa. Membuat Aleta kesal tertahan.
"Aku sedang memasak untuk kakakmu. To-tolong, jangan ganggu."
Kelvin tersenyum tapi senyumnya itu seperti pemeran jahat yang ada di film film. "Sekalian masak untuk ku juga."
Aleta mengangguk patuh, daripada dapat masalah lagi.
Sejurus, Kelvin membalik tubuhnya beranjak pergi, ia puas melihat respon manis Aleta.
Tiba tiba, langkahnya yang hampir berbelok keluar dari dapur, terhenti saat suara Aleta terdengar ragu ragu bertanya padanya, "A-ku tidak tahu makanan kesukaan kakakmu, apa kamu ingin memberitahukannya padaku?" Semoga, ia tidak salah bicara lagi yang berujung menyinggung perasaan 'Elvan' seperti tadi yang cuma menjawab asal asalan pertanyaan pria itu.
Suara rendah kalem Elvan menyahut sungguh-sungguh. "Dia akan memakan habis apapun masakan dari orang yang spesial." Lalu, bayangan pria itu benar benar menghilang dari dapur.
"Spesial?" Aleta mencerna kata tersebut. "Tidak, tidak! Elvan itu orang yang tidak tahu malu, pasti cuma ngaur. Kelvin mana mungkin kan menganggap ku spesial?" Ia menepis kege-eran di hatinya. Menganggap Elvan sekadar ber-omong kosong.
Tidak mau kena masalah karena masakan tidak jadi jadi, Aleta memutuskan untuk berkonsentrasi memasak ala ala rumahan yang sudah dikuasainya.
Sampai pada akhirnya, perjuangannya selesai. Tiga jenis masakan porsi yang cukup untuk tiga orang, terhidang di piring estetik. Semoga Kelvin menyukainya.
Aleta sudah menata cantik di meja makan hidangannya. Saat makan, Kelvin tidak akan memakai masker atau memberinya punggung kan? Aleta berpikir akan melihat wajah asli Kelvin kali ini.
"Eh..." Gadis itu sedikit terkejut, saat Elvan tiba tiba datang dan duduk seenak bokong di kursi istimewa Tuan rumah. "Bukannya, kursi itu milik Kelvin?" Aleta bertanya dengan suara hati hati. Kapok menyinggung Elvan yang nekat menurutnya.
"Kamu berharap si monster kejam itu turun dan makan di sini?"
Aleta tidak paham maksud Elvan. Ia hanya diam.
"Dia selalu beraktivitas di ruang kerjanya. Deli yang biasanya mengurusnya. Kamu makanlah!"
Seperti kucing, Aleta menurut manis tanpa banyak bicara yang takut salah lagi di depan Elvan. Tangannya cekatan menyisihkan separuh masakannya ke piring lain untuk Kelvin. Ia sedikit kecewa karena gagal lagi bertatap langsung dengan suaminya.
Keduanya makan dengan tenang. Beberapa kali, Aleta mencuri curi pandang ke 'Elvan'. Pria ini selalu lahap memakan masakan nya.
"Ini untuk mu." Tiba-tiba, adik iparnya menyodorkan sebuah paper bag yang memang dibawa Elvan sejak pertama duduk di table makan.
Penasaran, Aleta meraihnya. Lalu mengintip isinya. Sebuah kotak hape yang Aleta tahu spesifikasinya keren abis dan harganya lagi dipuncak.
__ADS_1
"Aku tidak pantas menerima barang mewah ini." Dengan lembut, Aleta menolaknya sembari mendorong paper bag itu ke sisi Elvan.
"Kamu pikir itu dari aku? Kalau mau menolaknya, maka sana ke kakak ku."
Dari Kelvin?
Senyum Aleta mengembang. Ia akan menerimanya dengan senang hati kalau dari suami sendiri.
"Tadi wajah mu nampak menolak, tapi sekarang berseri seri. Cewek aneh." cibir Elvan padanya. Namun dalam hatinya, berpikir kalau Aleta menghormati pemberiannya.
Aleta tidak peduli. Tidak perlu juga selalu menjawab adik iparnya ini kan?
Di depan 'Elvan', Aleta membuka paper bag. Tidak sengaja, sebuah kartu hitam terjatuh dari dalam wadah.
" Kartu ini? "
" Itu juga dari Kakak. Gunakan semau mu." Kelvin sudah berjanji tidak akan membuat istrinya menjadi orang miskin. Ia beranjak cepat, tidak mau lagi mendengar kecerewetan Aleta yang pasti akan menolak kartu yang isinya banyak.
***
Ke esokan harinya, pagi pagi sekali Aleta sudah siap pergi. Ia sudah memikirkan rencana matang matang untuk mengembalikan keadaan. Olivia perlu diberi sedikit pelajaran.
Turun ke lantai bawah, pemandangan Elvan yang sedang menikmati secangkir teh ditemani koran, terlihat di mata Aleta.
"Apa kakakmu sudah bangun?" Aleta mencari Kelvin Jansen yang nyatanya ada di depannya.
"Aku bukan babysitter-nya."
Hey, apa yang salah dengan pertanyaan sopannya. Bawaan Elvan ini sangat negatif terus.
Kebetulan ada Deli yang sedang membawa beberapa berkas. Ia akan minta izin pada asisten suaminya saja daripada adik ipar nya yang berasa setan itu.
" Deli, tolong sampaikan pada Kelvin, aku akan pergi menjalankan tugas yang ku janjikan."
Deli selalu melirik ke Kelvin dulu, baru menjawab, "Iya, Nyonya."
"Ah, satu lagi. Tolong beritahu padanya rasa terimakasih ku atas pemberiannya semalam."
Meski tidak paham, Deli menyahut sesuai alur. Dalam hati, dosanya yang ikut berbohong ke Aleta, biar dicatat ke daftar dosa Kelvin saja.
Aleta pergi dengan persiapan apik melawan Olivia.
" Tuan muda, Nyonya berterima kasih katanya."
" Aku sudah mendengarnya, Deli!"
Hais, disemprot.
"Ikuti dia. Aku tugaskan untuk menjaganya hari ini."
Sang Tuan seperti nya sudah menspesialkan Nyonyanya, Deli berpikir demikian. Tanpa sadar tersenyum diam diam, tapi terlihat oleh Kelvin.
__ADS_1
"Ada yang lucu?"
"Ah, tidak, Tuan. Permisi...!"