Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 7# Melukai Tanpa Mengotori Tangan


__ADS_3

"Kedatangan Anda ke rumah keluarga San adalah sebuah kehormatan bagi kami." Dean mengulurkan tangan untuk bersalaman. Mencoba ramah pada 'Elvan.'


Namun, sikap ramahnya itu mendapat aura keangkuhan Kelvin. Tangan Dean hanya bersalaman dengan angin kosong. Rahangnya sedikit mengetat menahan kesal akan sikap sombong Kelvin.


" Kebetulan, saya tadi memasak banyak. Bagaimana kalau kita semua makan bersama. Jarang jarang loh, ada Tuan muda Jansen datang berkunjung. Iya kan, Aleta?" Esme ingin mencairkan suasana karena menyadari wajah kesal sang suami. Dia juga sengaja menekan lembut nama Aleta yang tentu saja Aleta sadar itu hanya akting.


"Kebetulan, aku memang belum makan."


Aleta melirik malas ke arah Elvan yang main setuju saja. Sebenarnya, ia sudah muak di antara mereka. Tapi, Olivia segera mengamit satu lengannya untuk memaksanya berjalan masuk ke arah dapur setelah berkata, "Tunggu beberapa menit, kami berdua spesial akan menyiapkannya di meja makan."


Setelah sedikit jauh, Olivia berbisik mengancam, "Kamu harus bantu aku dekat dengan nya atau kalau tidak, foto berciuman mu tadi akan ku sebarkan." Olivia hanya berbohong punya foto yang dimaksud. Karena terlalu terkejut melihat pemandangan Aleta dan Elvan, ia tidak sempat mengabadikannya. Sebenarnya, ia juga merutuki kebodohannya.


Aleta malas merespon.


"Makanan apa kesukaan Elvan?"


Mana Aleta tahu. Bertemu saja baru kemarin.


"Kamu punya mulut kan? Jangan diam saja!" Olivia mendesak.


Aleta yang hatinya berkecamuk, asal asalan menyahut, "Dia suka makanan yang pedas, seperti ceker ayam salah satunya."


"Benarkah?" Olivia kok merasa aneh dengan menu makanan kesukaan Elvan. Mual sendiri mendengar ceker ayam, olahan makanan yang paling ia hindari. "Kamu kan tahu, ceker ayam paling dilarang ada di rumah ini."


"Sediakan yang ada!" Aleta menjawab malas sembari menata piring piring ke atas meja makan.


Olivia yang masih ingin mengeluarkan suara, tertahan manakala kedua orangtuanya sudah menggiring Kelvin.


"Silakan duduk!" Olivia menarik kursi untuk 'Elvan.' Tersenyum penuh kemenangan saat Elvan yang tadinya berperilaku angkuh ini, menerima layanannya. Esme dan Dean menyeringai penuh arti, 'Siapa yang menolak pesona anak cantiknya? Begitulah dalam hati mereka, bangga.


Dengan semangat, Olivia lanjut melayani piring Elvan. "Semoga suka, Tuan."

__ADS_1


Elvan mengangguk samar dengan sudut matanya sedari tadi melirik Aleta yang duduk diam seribu bahasa di sebelah kursinya. Bahkan, istri nya itu memulai makan dengan raut wajah menyedihkan. Di matanya, pipi Aleta bengkak sebelah, ulah tamparan Dean.


Sedikit pun, Kelvin belum menyentuh sumpit makannya. Membuat Tuan rumah merasa sungkan untuk memulai makan.


Olivia yang baru menyadari kalau Elvan sibuk menatap Aleta, dibuat kesal. Dengan sikap agresif, ia berkata, "Tuan Kelvin, apakah Anda sudah ada pendamping?"


Kelvin belum sempat menjawab yang sebenarnya tidak ada niat menyahut. Olivia mengeluarkan suaranya kembali, "Kalau boleh tau, kriteria wanita Anda seperti apa. Sebenarnya, saya jatuh hati di pertemuan pertama kita."


Atensi Kelvin teralih penuh ke Olivia. Nampak seringai tajam tapi tipis di bibirnya. Ia sudah menemukan cara bagus untuk memberi pelajaran Dean sekaligus Olivia.


"Saya suku wanita yang memiliki wajah lebar." Pernyataan Kelvin membuat Aleta menghentikan sumpitnya yang sudah hampir masuk ke dalam mulut. Entah apa yang dipikirkan oleh Pria itu, apa benar merespon tulus Olivia atau punya 'niat tertentu?' Namun saat mengatakan wajah lebar, Elvan melirik pipinya yang bengkak. Apa jangan jangan...?


Olivia tertawa kecil lalu berkata, "Demi kamu, aku akan makan banyak supaya bisa memiliki wajah menggemaskan." Olivia yang sok pintar belum paham maksud Kelvin.


"Tapi, aku mau nya sekarang." Bukannya ada acara makan, di meja itu hanya ada percakapan yang didominasi permainan Kelvin. "Ada cara instannya untuk memiliki wajah yang kuinginkan."


"Apa?" Olivia dengan percaya diri, merespon antusias.


Hah...?


Empat keluarga dari San ini, memberi respon kaget dengan kompak termasuk Aleta sendiri. Dalam hati nya berkata, "Apa dia ingin membalas perlakuan mereka padaku?" Aleta terus bertanya tanya dalam kebingungan menebak sikap datar datar kejam Kelvin. Meski belum pasti, tapi Aleta sudah merasakan haru di dalam hati nya. Baru pertama kali ini, ia merasakan ada orang yang mau membelanya.


"Kami sudah menjamu mu dengan baik, Tuan Elvan! Tidak seharusnya bersikap kurang ajar." Wajah Dean San memerah menahan kesal luar biasa.


Kelvin masih sedia kalahnya menampilkan ekspresi datarnya. Namun aslinya, kesabaran nya sudah habis. "Setahu ku, belakangan ini perusahaan San dalam keadaan krisis. Butuh suntikan dada besar. Bagaimana kalau relasi bisnis San mengetahuinya? Apa yang mereka lakukan kira kira?"


Tidak bisa terpikir oleh Dean akan kehancuran bisnisnya, kalau rahasia krisis keuangan nya terbongkar. Pasti relasi nya pada mencabut saham masing-masing dengan meminta kompensasi atau kerugian tinggi. Tidak bisa dibiarkan. Dalam kekalutan nya seperti cacing yang kepanasan, Dean berkata dalam hati, "Dari mana dia tahu rahasia perusahaan San?"


"Jam berharga ku sudah terbuang buang dengan tidak berguna __"


"Aku akan melakukan apa yang Anda minta." Dean lebih memilih memukul Olivia dari pada pintu kemiskinan menyapanya.

__ADS_1


"Pa..." Olivia hampir tidak percaya. Ia reflek berdiri dari kursi saat Dean menghampirinya. Tidak mungkin, Papa yang selama ini memanjakannya berani memukul nya, kan?


Namun suara 'Plak' begitu merdu di dengar oleh Kelvin. Aleta melongo tak tahu harus berkata apa apa. Ia pun bingung dengan perasaannya yang harus senang atau sedih akan pertunjukan kejam Elvan pada keluarganya sendiri.


Inilah yang dimaksud oleh Kelvin; Tidak menyentuh tapi berhasil melukai lawan.


"Pipi satunya masih ada." Kelvin berkata santai mengintruksi Dean untuk kembali menampar Olivia yang meringis kesakitan.


Dengan wajah yang pucat, Dean terpaksa memukul Olivia lagi. Mata Dean memancarkan kepiluan, membuat Aleta bersedih cemburu dalam diamnya. Tadi, Dean sama sekali tidak ada rasa sesal memukulnya, tapi untuk Olivia...? Hati Aleta terenyuh, sampai kapan pun ia dan Olivia selalu dibedakan. Oleh sebab itu, Aleta tidak berniat menghentikan kegilaan Kelvin. Biarkan 'adik iparnya' itu melakukan apa yang diinginkan.


"Belum terlihat lebar, masih kurang." Kelvin masih belum puas. Tangan Dean sudah keram dan panas, apalagi pipi Olivia yang digamparnya bolak balik.


Olivia menangis. Wajahnya bukan lagi menggemaskan, tapi ia prediksi sudah bengkak mirip seperti bab*.


Esme yang memohon pada Kelvin, benar-benar menulikan telinganya. Dengan santai, Kelvin malah memainkan ponsel. Ia tidak akan menghentikan kecuali Aleta sendiri yang memintanya.


Tidak dianggap oleh Kelvin, Esme beralih ke Aleta yang menelan paksa suapan di sumpit demi sumpitnya.


"Aleta, kamu mau kan memaafkan Papamu. Dia adik mu, Aleta. Jangan begini, kasihani wajahnya."


Kasihan?


Kalau ia yang berada di posisi sulit Olivia, apakah Esme - ibunya ini akan memohon pada orang, demi keselamatan dirinya? Tidak pernah akan. Contohnya tadi, Dean menamparnya saja, Esme sama sekali tidak mau membelanya. Justru sebaliknya, mencaci tanpa hati.


Akan tetapi, hati Aleta yang tidak memiliki raja tega, segera berdiri dari kursi. "Aku sudah kenyang. Permisi!"


Kelvin yang belum puas, masih enggan untuk meninggalkan tempat. Sebelumnya kan, ia hanya berhenti kalau Aleta menyuruhnya 'stop' bermain, bukan pergi.


Pertunjukan di depan Kelvin masih sangat seru. "Ck, ck, ck ... tidak selamanya pepatah mengatakan kebenaran, kalau seekor hewan buas sekalian pun, pasti akan melindungi anak nya sampai titik darah penghabisan. Ternyata, ada juga sebaliknya."


Kurang ajar, Kelvin malah puas mengolok oloknya alih alih menyuruh nya berhenti. Sampai pada akhirnya, Olivia terkulai lemas.

__ADS_1


"Terimakasih atas jamuannya. Masakan Nyoba San, sangat nikmat. Permisi." Padahal, Kelvin sama sekali tidak menyentuh secuil makanan di piringnya. Ia pergi begitu saja setelah puas bermain.


__ADS_2