Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 30# Diculik


__ADS_3

Kelvin terkantuk kantuk di kursi kerjanya sembari menunggu rekaman cctv yang berada di depan lorong kamar Aleta. Sudah jam dua dini hari, tapi orang yang mengaku ngaku menjadi dirinya belum terlihat juga mendekati kamar Aleta.


Matanya yang sepet, sudah tidak kuat Kelvin tahan sampai kelopak itu berangsur angsur terlelap.


Paginya, Kelvin terbangun gelagapan, memeriksa laptop dengan keadaan linglung, ujung jarinya malah tidak sengaja menekan tombol 'delete' rekaman cctv yang belum sempat di lihatnya.


"Sial..." Makinya kesal sembari mengusap wajahnya kasar.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Kelvin segera keluar ruangan, mencari Aleta yang pasti sudah bersiap siap pergi ke kantor.


"Tunggu...!" seru Kelvin ke Aleta yang saat ini berjalan ke arah pintu utama.


Aleta berbalik penuh ke arah Kelvin yang mengikis arah padanya.


"Selamat pagi?" Seperti semalam, Aleta berperilaku ceria. Penampilannya pun kini berbeda, terlihat sangat cantik dan elegan. Baju mahal bermerk yang ia siapin di kamar Aleta, baru kali ini dipakainya.


"Kamu mau kemana?" tanya Kelvin menyelidik. Belum sempat Aleta menjawab, Kelvin tiba tiba mengulurkan tangannya ke arah leher Aleta. "Itu__"


"Ih, apa sih?" Aleta menepis tangan Kelvin.


"Itu tanda cupa** kan?" tembak Kelvin sewot. Sialan, siapa yang memberi tanda laknat itu ke istrinya.


"Ih, kepo deh. Kamu kan sudah kuberi tau kalau Kelvin akan datang ke kamarku. Jelas akan ada..." Aleta sengaja menjeda kalimarnya yang terdengar ambigu. Biarkan Kelvin di depannya ini kapok mempermainkan dirinya. "Sudah ya, aku ada kuliah pagi."


"Aleta...!"

__ADS_1


Wanita yang dipanggil tegas namanya itu hanya melambaikan tangannya 'bye-bye' tanpa membalik tubuhnya apalagi berniat berhenti. Tanda yang ia buat dengan make up di lehernya ternyata berhasil mengecoh Kelvin.


"Deliii...!" Kelvin berteriak murka.


Deli yang bangunnya kesiangan pun, buru buru keluar dari kamarnya sembari membetulkan celana yang belum dinaikkan resletingnya.


"Iya, Tuan!"


"Periksa seluruh cctv. Kirimkan padaku jika ada hal yang mencurigakan terkhusus di dekat kamar Aleta." Kelvin sangat merutuki kebodohannya karena hasil rekaman cctv di area kamar Aleta semalam, ia hapus dengan secara tidak sengaja.


"Baik, Tuan." Deli tidak berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena takut pada wajah murka Kelvin.


***


Di kampus, kedatangan Aleta yang sudah tidak berpenampilan culun lagi, membuat orang-orang yang ia lewati terperangah kagum dan bertanya tanya, siapakah gadis cantik yang berpenampilan modis itu?


"Jalan pakai mata __" Maki Olivia terjeda. Mencoba mengenali pemilik wajah yang tidak asing di depannya. Olivia sampai menyerinyit dengan mata enggan berkedip.


Di tatap intens seperti itu, Aleta sekedar tersenyum tipis. "Apa kabar, Olivia? Apa kamu pun tidak mengenal ku?"


"Hah...?" Mulut Olivia terbuka lebar menyadari pemilik suara tersebut. "Ale_ta? Kamu ... Kamu operasi plastik?"


"Coba pikir, apakah operasi plastik bisa sembuh dengan waktu hitungan jari?" Aleta berlalu cuek meninggalkan Olivia yang nampak tidak suka melihat penampilan aslinya.


"Aaarggh..." Olivia menjerit kecil setelah menyerap kalimat Aleta yang benar adanya kalau proses penyembuhan operasi plastik membutuhkan waktu lama. Ia marah karena ekspektasi tentang hidup Aleta yang akan menderita setelah dinikahi pria cacat, ternyata meleset. Aleta kian bahagia dengan penampilan modis nan kecantikannya. "Damn it! Harusnya, baju dan blackcard yang dipegangnya adalah milikku!" Olivia mulai iri dan cemburu apa yang telah Aleta dapatkan dari mantan calon suaminya.

__ADS_1


Kali ini, kemarahannya sudah tidak bisa ia tahan. Aleta akan ia beri pelajaran. Lihat saja!


***


Sampai rumah, Olivia menceritakan tentang Aleta pada kedua orangtuanya sampai ke blackcard pun tak tertinggal membuat jiwa jiwa serakah Dean dan Esme meronta ronta.


"Bukan hanya itu, sebenarnya Aleta juga berhasil menyuruh Elvan mengambil sampel rambutku." Olivia memilih jujur dari pada ujung ujungnya rencana kedua orangtuanya gagal tanpa mengambil tindakan terlebih dahulu.


"Apa?!!!"


Kedua bahu Olivia sampai berjengit kaget mendapat bentakan keras dari kedua orang tuanya secara kompak.


"Ish, bodoh banget sih!" Esme sampai menoyor dahi Olivia yang tertunduk takut seketika.


"Kita harus bertindak sekarang! Papa tidak mau penantian Papa sia sia." Dean beranjak dengan tergesa-gesa.


Esme mencoba menyamai langkah-langkah panjang suaminya. "Papa mau kemana?"


"Ini sudah waktunya, Ma. Orang yang selama ini melindungi kita harus turut membantu. Aku tidak mau rugi.


***


"Hmmppt..." Saat berjalan di trotoar menuju halte bus, tiba-tiba tangan seseorang dengan kain kecil yang sudah diberi obat bius, menempel di hidung dan mulut Aleta.


Seketika pingsan begitu saja, orang suruhan itu segera menaruh tubuh lemah Aleta naik ke mobil. Membawanya pergi begitu mudah tanpa ada hambatan.

__ADS_1


"Tuan Dean, korban sudah ada di tangan," lapor salah satu orang di dalam mobil yang jumlah mereka ada dua orang.


"Bagus, segera bawa dia ke gedung tua sesuai rencana awal." Dean tertawa demon.


__ADS_2