
"Tidak mungkin salah satu ahli waris keturunan Jansen hanya menjadi wakil CEO, pasti kamu berbohong mengakui ruangan ini milikmu kan?" Aleta tidak akan mau tertipu. Titik! Heran saja dirinya karena seorang keturunan Jansen yang terkenal kaya tujuh turunan, menjadi karyawan.
Kelvin mengabaikan rasa ketidakpercayaan Aleta akan pernyataannya. Ia main geret Aleta sedikit kasar ke sofa. Mendudukkannya secara paksa, lalu membuka paper bag isi kotak bubur yang memang dibelinya di perjalanan tadi khusus untuk Aleta, demi kesehatan wanita itu yang baru kabur dari rumah sakit.
"Makan lalu minum obatmu! Perusahaan tidak akan mau menerima anak magang yang sakit, meski cuma seorang OB sekalipun." Kelvin meminta dengan nada tak mau dibantah.
"Aku akan mengundurkan diri kerja di sini."
Karena Aleta menolak makan dan malah membahas pekerjaan, Kelvin dengan paksa menyuruh Aleta makan segera atau kejadian semalam akan terulang jam itu juga. Kelvin juga sengaja membuka kancing jasnya sebagai bukti ia serius akan melakukan ancamannya.
Wajah Aleta menegang takut, karena selama mengenal pria ini, Elvan tidak pernah main-main dalam berucap. Jelas ia tidak mau pria bajingan ini menodainya untuk kedua kalinya.
Kelvin menyeringai puas, melihat Aleta menurut manis dengan segera memakan bubur yang terkesan buru buru, sampai sudut bibirnya sedikit blepotan tanpa ia sadari.
"Kamu ingin menggoda ku dengan cara ini, eum?"
Aleta kaget, tiba-tiba 'Elvan' mengangkat dagunya. Ia ingin menepis nya, tapi pergerakan pria ini sangat cepat membersihkan noda makanan dengan cara menciumnya.
Kelvin benar-benar sudah candu bibir itu serta selalu terhipnotis oleh pancaran mata Aleta yang jernih, meski masih memakai penyamaran culun dekilnya yang ia sudah tahu kecantikan tersembunyi Aleta.
"Kenapa kamu selalu berbuat tidak sopan___ Hey, aku sedang memarahi mu!"
Kelvin malah beranjak pergi ke arah pintu. Tidak peduli dengan ocehan Aleta yang sudah dibuatnya kesal marah marah di belakang sana.
__ADS_1
Sebelum benar-benar menutup pintu, Kelvin bersuara datar memperingati tegas Aleta dengan kalimat, "Jangan pernah bermimpi keluar dari perusahaan ini tanpa persetujuan ku__"
"Aku tetap akan mengundurkan diri, tidak sudi punya bos mesum dan bajingan seperti mu." Aleta menantang. Tapi saat Kelvin melanjutkan ucapannya yang ia potong membuatnya ciut, "Kalau begitu, balikin uang satu Triliun pada keluarga Jansen. Jika sudah, kamu akan saya bebaskan dari Kelvin Jansen atau pun olehku... 'Elvan Jansen.'" Kelvin menunjuk dirinya sendiri saat menyebut nama samarannya.
Uang dari mana? Lutut Aleta melemas, lunglai duduk ke sofa kembali, tak berdaya melawan kalimat Kelvin yang mengingatkan dirinya kalau ia sudah dijual keluarganya.
Mungkin, menurut manis untuk saat ini jalan satu satunya agar tidak terlalu terkena masalah.
Saat mengangkat pandangannya ke arah 'Elvan', pria itu sudah menutup pintu.
"Baiklah, aku akan bekerja di tempat mu dengan baik. Saking baiknya, kamu sendiri yang akan memecatku ." Aleta menyeringai misterius. Ia berniat membuat 'Elvan' pusing tujuh keliling.
***
Saat kembali ke ruangan wakil Direktur, Kelvin mematung di depan meja kerjanya. Ruangan itu kosong dengan keadaan ... berantakan. Tempat pulpen tumpah, isinya berserakan. Tiga agenda tebal, berada di lantai yang Kelvin tau, pasti perbuatan Aleta.
"Yang benar saja, Aleta kan jam kerjanya sudah lewat. Kamu tidak lupa kan, kalau kamu menikahi mahasiswi?"
Benar juga, Aleta sekarang pasti sedang di kampus. Seperti biasa, Kelvin main mematikan telepon.
***
Di kampus, kedatangan Aleta yang baru sampai, tiba-tiba jalannya diblokir oleh wartawan.
__ADS_1
Meski dirinya bukan artis, Aleta sudah menjadi istri dari Kelvin Jansen, pewaris utama dari keluarga terkaya di kota itu. Jadi, para wartawan tersebut tentu saja tidak mau kehilangan kesempatan meliput kebenaran video yang belakang viral sampai saat ini.
Olivia dan mahasiswa yang berada di lokasi, ikut menyaksikan keramaian tak terduga itu.
"Nona Aleta, apakah video yang sedang beredar itu, benar atau sekadar sensasi saja?"
"Kalau benar Nona adalah istri Kelvin Jansen, kapan sebenarnya pernikahan terlaksana? Tolong jelaskan pada kami semua."
Aleta diberondong pertanyaan. Saat berniat ingin kabur, sudut matanya melihat Olivia.
Terbersit suara Esme yang mengakui dirinya bukanlah anak kandung dari keluarga San, membuat Aleta menyeringai tipis. Demi kebenaran terungkap, ia akan membuat suasana kian kisruh. Aleta menunggu emosi keluarga San meledak dan berujung keceplosan meluapkan segala kebenaran. Semoga saja rencananya sesuai keinginannya.
"Video di resto itu tidak ada settingan. Benar adanya kalau aku menggantikan Olivia - ADIK saya menjadi pengantin Kelvin Jansen dengan PAKSAAN. Berarti jelas, aku adalah istri dari Kelvin."
Olivia mengepalkan kedua tangannya, geram. Aleta kembali menjatuhkan harga dirinya.
"Anda menuruti keinginan Ibu Anda dengan kata bakti, itu tandanya apakah ada rasa sesal telah dinikahi pria yang dirumorkan lumpuh?"
Mata Aleta tertuju dingin ke arah salah satu wartawan yang berani mengungkit kekurangan suaminya. Entah kenapa, meski ia kesal pada semua keluarga Jansen, tetap saja Aleta tidak suka mendengar ada penghinaan.
"Sesal? Oh, tentu tidak ada." Aleta tentu saja berbohong. Ia menyesal menikah dengan Kelvin karena berujung dinodai 'Elvan.' Sumpah demi apapun, suatu saat ia akan membalas Elvan. "Saya malah bersyukur bisa keluar dari keluarga San yang baru aku sadari, mereka tidak adil memperlakukan dua anak. Ah, sebenarnya kalian juga bisa bertanya loh pada ADIK saya..." Semua wartawan mengikuti arah tunjuk Aleta yang tertuju ke Olivia yang kian meradang di sana. "Jangan lupa tanyakan padanya, alasan apa dia bisa menolak calonnya dan malah menyuruh saya menggantikannya."
Olivia yang sekarang di uber wartawan. Kesempatan Aleta untuk kabur, tidak niat lagi mengikuti kelas.
__ADS_1
"Aleta sialan! Kamu akan menyesal telah mempermalukan ku serta keluarga San." Olivia berlari, menolak diwawancarai dengan hati panas berjanji akan membalas Aleta. Mengetahui darah di antara mereka berbeda yang awalnya pun ia tidak tahu, membuat Olivia kian memburu Aleta dengan caranya sendiri. Aleta akan ia buat hancur dan menyesal sudah berani berbuat masalah besar.
Semua keributan tersebut, tidak luput dari pengawasan Kelvin. Tapi, seperti biasa, Kelvin membiarkan masalah membesar. Ada saatnya ia bergerak sesuai rencananya sendiri.