
Sudah 'disentuh' oleh Pria lain, membuat Aleta merasa malu dan tidak pantas untuk bertemu dengan Kelvin - suaminya. Di hatinya, ia juga menyimpan kekesalan mendalam pada Kelvin yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Meski tidak dianggap sebagai istri, setidaknya Kelvin tidak keterlaluan mengabaikannya sehingga berujung digoda dan dikotori oleh Elvan.
Sempat berpikir, Aleta ingin mengadu pada Kelvin tentang kelakuan buruk Elvan, tapi mengingat mereka adik kakak, pasti lebih memilih percaya saudara sendiri daripada mempercayai ceritanya yang hanya istri tak dianggap.
Biasanya, ketika berpapasan dengan Deli, Aleta selalu menyempatkan bertanya tentang Kelvin, tapi ini tidak. Membuat Deli berpikir, bahwa sang Nyonya mengalami perubahan sikap.
Entah apa yang dilakukan oleh Tuannya?
"Nyonya..." Deli menyapa sembari membungkuk. Tapi Aleta tidak merespon, berjalan terus keluar dari pintu villa. Wanita itu berubah menjadi sosok yang dingin.
"Tuan, Nyonya pergi tanpa sarapan." Deli melapor saat sampai di ruang kerja Kelvin.
"Eum..."
Eum, doang? Respon yang sangat datar. Malahan, Sang bos pergi begitu saja. Deli hanya menghela nafas, tidak mau ambil pusing.
***
Aleta yang datang memenuhi panggilan Esme semalam, saat ini sudah disambut oleh pembantu rumah tangga.
"Nyonya dan Tuan sudah menunggu Nona Aleta."
"Mereka di mana?"
"Ruang keluarga, Nona."
Aleta melangkah masuk. Kakinya tiba-tiba terpaku di lantai saat samar samar mendengar kenyataan dahsyat yang mengejutkan.
"Seharusnya, Papa habisi Aleta dari dulu agar tidak membuat ulah. Lihatlah perbuatannya, dia berhasil mempermalukan kita. Semua orang-orang di luar sana, mencap keluarga San itu buruk yang tidak adil pada anak sendiri. Bagaimana mau adil, dia kan bukan anak kita."
__ADS_1
Bukan anak kita? Kalimat demi kalimat Esme bagai petir yang menyambar. Aleta membekap mulutnya agar suara terkejutnya tidak terdengar oleh tiga orang di sana. Jadi praduganya benar kalau ia bukan anak kandung di rumah itu?
Kepala Aleta terasa berputar seketika. Dalam tubuh yang tidak seimbang, terbesit sebuah puzzel bayangan masalalu kecelakaan beruntun. Ia memaksa bayangan itu nampak nyata.
Tapi...
"Aaarggh..." Aleta menjerit karena kepalanya seakan di hantam batu, rasanya sakit yang luar biasa hebatnya.
Suara gaduh jeritan disusul tubuh Aleta pingsan ke lantai, membuat atensi Olivia dan dua orang tuanya tertuju pada Aleta.
Mereka bertiga saling pandang alih alih menolong Aleta. Bukan cemas karena keadaan Aleta yang buruk, tapi mereka takut pembicaraan rahasia mereka didengar oleh Aleta.
"Apa dia mendengar perbincangan kita?" Esme panik.
"Tenang. Kita harus membawa dia ke tempat biasa."
Dean beranjak ke posisi Aleta yang tak sadarkan diri. Meraup tubuh itu dan membawanya ke arah pintu utama di susul Olivia dan Esme.
"Dia pingsan, kami akan membawanya ke rumah sakit." Dean menjelaskan tanpa di minta dengan cepat. Ia sebenarnya bukan mau ke dokter tapi ke tempat rekannya, ingin membuat Aleta kian melupakan masalalu nya dengan cara khusus. Mensugesti Aleta di bawah alam sadarnya dengan sebuah alat agar hal barusan yang didengar terlupakan.
Suaranya yang terdengar gugup, membuat Kelvin curiga.
Tanpa ekspresi, Kelvin mengambil alih tubuh istrinya di tangan Dean yang tidak bisa berbuat banyak.
"Bi-biar kami yang __" Esme ingin mencegah tapi disergah oleh Kelvin.
"Dia sekarang Nyonya Jansen. Tangguh jawab keluarga San sudah beralih penuh kepada kami." Kelvin seperti menekankan kalau Aleta sudah ia beli senilai satu Triliun.
Esme dan lainnya, tidak bisa menahan kepergian 'Elvan' membawa Aleta. Wajah Dean memerah menahan murka. Ia menggeret masuk istrinya. Sementara Olivia, hanya diam seribu bahasa, takut.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara, Mama. Ceroboh sekali mengungkit masalalu. Kita kan sudah sepakat semua, agar jangan ada yang bongkar apapun tentang kebenaran Aleta, sampai pada akhirnya seluruh harta keluarga San yang asli jatuh pada kita! Ingat, Mama. Bertahun tahun kita menunggu umur Aleta menginjak dua puluh tiga, jangan ceroboh lagi!" Dean mengomel murka sembari menunjuk nunjuk kasar wajah Esme.
Hanya kata 'maaf' yang bisa Esme ucapkan dengan wajah menunduk dalam.
***
Merasa ada sesuatu yang menekan di atas dadanya, Aleta reflek menepis meski kesadarannya belum balik sepenuhnya. Setelah 'perlakuan' kurang ajar Elvan, tingkat kewaspadaan Aleta bertambah.
" Halo, Nyonya... "
Seorang Dokter perempuan menyapanya diiringi senyum ramah.
"Kok aku di rumah sakit?" Aleta linglung, bertanya sembari menarik tubuhnya untuk duduk.
"Kamu pingsan di rumah orang tua mu."
Suara itu milik Elvan, Aleta menoleh cepat ke arah kursi belakang Dokter. Ada Elvan yang duduk di sana. Ia benci dengan laki laki itu, segera Aleta menatap Dokter yang berdiri si sisi brankar. "Saya baik baik saja, Dok. Permisi!"
Kelvin berdiri dari sofa. Lengan Aleta ia tarik sebelum wanita itu turun dari tempat pemeriksaan.
"Berbaring manis!" Bukan permintaan tapi sebuah perintah. Meski nadanya lembut, tapi tatapan Kelvin mengesiratkan tidak mau dibantah.
Aleta ciut di buatnya. Sang Dokter tersenyum tipis, pasangan yang sangat perhatian, puji nya ke Kelvin dalam hati.
"Apa ada keluhan, Nona?" Dokter mulai masuk ke sesi pertanyaan.
Aleta tidak langsung menjawab karena memang ia sudah merasa baik baik saja. Tapi, saat mengingat kejadian dirinya tadi berada di rumah San, kepala Aleta berputar sakit lagi. Meringis ringis sembari memegangi bagian tubuhnya yang luar biasa sakitnya.
"Aleta..." Dengan refleks, Kelvin menarik kepala itu untuk ia rengkuh. Aleta yang kesakitan, tidak bisa menolak. Jujur, meski Elvan bajingan, tapi baru kali ini ia pun merasa diperhatikan dan dilindungi saat dirinya sakit. Ia terharu di dalam kebenciannya ke pria itu.
__ADS_1
"Aaarggh, sakit...!" Aleta menjerit tiba tiba. Kian ia mengingat masa lalunya, maka rasa itu semakin menyakitinya.
"Kita harus melakukan pemeriksaan detail, Tuan. Saya curiga ada sesuatu yang serius," tutur sang Dokter ke Kelvin.