Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 23# Membuka Penyamaran


__ADS_3

Paginya, Kelvin diam diam memperhatikan Aleta yang kini sedang menuruni anak tangga. Menunggu gadis itu meminta pertolongan ke 'Elvan' mengenai penyelidikan kasus Aleta yang katanya bukan anak kandung dari keluarga San.


"Ehem..." Kelvin sengaja berdaham karena Aleta seperti menganggapnya hantu. Melewati dirinya begitu saja.


Aleta berhenti yang tadinya hendak ke dapur mencari sarapan, menoleh malas lalu berkata ejek dengan tampan polos bak anak kecil, "Sakit tenggorokan? Minum racun tikus, pasti sembuh."


Dari kejauhan, Deli yang mendengar itu terbatuk demi menyamarkan suara tawa lucunya. Hanya Nyonya lah yang berani melakukan hal kurang ajar pada Kelvin. Tapi, Deli menikmati momen langkah itu.


"Terlambat lima menit saja masuk kantor, siap siap dapat hukuman."


Aleta meringis. Dia sudah membuat Elvan marah, sehingga berujung menyangkut pautkan soal kerjaan. Sialnya, jam kerja hampir masuk, sementara perutnya mencari nutrisi di pagi hari.


Daripada telat kerja, Aleta mengabaikan perutnya yang keroncongan. Segera mengejar langkah langkah panjang Deli yang mengikuti Kelvin yang sudah beranjak keluar rumah.


Kelvin kesal karena sepertinya Aleta tidak ada niat meminta tolong pada 'Elvan.'


Baiklah, Kelvin masih ingin menunggu pertahanan Aleta, sampai di mana wanita itu menahan diri menjauhinya?


"Deli, aku boleh nebeng ya?" pinta Aleta agar meminimalisir ketelatan masuk bekerja. "Kan kita satu arah."


Deli garuk kelapa, bingung mau menjawab apa.


Kelvin yang hendak masuk ke dalam mobil, berbalik. Berkata tegas menjawab kebingungan Deli, "Ini mobil saya, bukan milik Deli. Memintalah padaku!"


"Nggak jadi!" Aleta jual mahal. Ogah ogahan menjatuhkan harga dirinya ke pria kurang ajar seperti 'adik iparnya.' Elvan bisa saja besar kepala jika dirinya memohon.


"Oh, ya sudah. Aku menunggu mu di kantor." Kelvin naik mobil dengan sangat arogan. Senyum ejek ia sematkan ke Aleta.

__ADS_1


"Hey, bisakah kamu menawarkan jasa mu pada kakak ipar sendiri?" Aleta menatap kesal Elvan di balik jendela mobil yang terbuka separuh. Sebenarnya, ia ingin ikut. Daripada nanti ujung ujungnya juga dihukum oleh 'Elvan' di kantor. Tapi, ia ingin Elvan sendiri yang memintanya bukan dirinya yang memohon seperti pengemis.


"Tidak bisa!" tolak Kelvin yang keburu dibuat kesal oleh sikap Aleta.


Aleta siap mengomel tapi menutup kembali mulutnya saat mendengar Elvan mentitah Deli, "Berangkat cepat!"


"Hais, nyebelin amat sih!" Aleta mengomel sendiri sembari menatap sengit mobil yang di kemudikan Deli keluar gerbang villa.


Di perjalanan, Deli kerap ketahuan melirik Kelvin dari kaca mobil.


"Apakah ada laporan penting yang ingin kamu katakan, Deli?" tanya Kelvin menebak.


"Soal orang orang yang pernah menembak Anda, Tuan," tutur Deli penuh kehati-hatian.


Wajah Kelvin menjadi dingin. "Katakan!"


"Saya dan tim gagal. Setelah mendapatkan info tempat persembunyian mereka, saya dan tim bergerak cepat datang meringkus. Tapi, mereka semua sudah tidak bernyawa. Apakah kemungkinan ada orang dalam yang mematai-matai segala pergerakan kita?"


Bagi Kelvin, keluarga San sebenarnya bisa dengan mudah ia habisi, tapi kalau melakukan hal tersebut untuk sekarang ini, ia khawatir tidak bisa meringkus 'otak' dibalik kecelakaan dirinya bersama sang Ibu tercinta. Si otak ini lah yang Kelvin ingin ringkus lebih utama.


"Waspadai segala gerak gerik anak buah kita. Bunuh siapapun yang berkhianat tanpa ampun."


"Baik, Tuan." Deli menjawab cepat. Dalam hatinya membatin, 'Inilah sosok raja kejam itu.'


***


Satu jam berlalu, Kelvin sudah berada di kantor sedari tadi. Tapi Aleta yang tukang bersih bersih di ruangan itu baru datang membuka pintu.

__ADS_1


Kelvin mendongak. Menatap lurus lurus ke arah wanita yang berdiri di sana dengan kening berkeringat merusak poni. Ada yang berbeda di penampilan Aleta saat ini, yakni bedak dekil di penyamarannya sedikit luntur.


"Maaf, saya terlambat, Pak." Sebagai pekerja profesional, Aleta harus mengakui kesalahannya. Apalagi ia ngeri sudah ditatap tak berkedip oleh 'Elvan.'


"Mendekat!" titah Kelvin dengan suara rendah rendah bikin merinding bagi Aleta. Mungkin dirinya yang paranoid soal hukuman apa yang akan diterima dari 'Elvan.'


Aleta menurut, berdiri tepat di hadapan meja kerja Kelvin.


Spontan, Aleta meremas ujung bajunya saat 'adik iparnya' ini beranjak dari kursi kebesarannya. Entah kenapa, ia masih saja takut pada Elvan, padahal sebelumnya ia itu sudah memantapkan diri akan membuat Elvan pusing tujuh keliling agar dipecat saja dari kerjaan yang menjebak dirinya kian mempunyai banyak waktu bertemu dengan Elvan alih alih menjauh.


Elvan sudah berdiri di depannya. Saat ingin mundur, Elvan dengan cepat mengelap wajahnya menggunakan tissue basah sembari berkata menyindir, "Apakah wanita zaman sekarang berlomba lomba memakai warna bedak yang lebih gelap dari kulit aslinya, eum?" Kelvin memamerkan tissue basah yang sudah bernoda.


Aleta tergagap. Kehilangan kalimat pembelaannya karena menyadari Elvan ini sudah pernah melihat wajah aslinya. Pada akhirnya, Aleta hanya bisa memanyunkan bibir.


"Kalau mau menghukum ku, maka hukum __ Hey, kacamata ku!" Aleta mencoba merebut kacamatanya yang tiba-tiba dilepas oleh 'Elvan.' Sayangnya, tinggi tubuhnya tidak bisa menggapai tangan Elvan yang terangkat ke atas kepala.


"Kenapa wajah cantik yang kamu miliki, malah disembunyikan?" Kelvin sangat penasaran maksud Aleta yang memilih dicap jelek dan bodoh di depan orang.


Seperkian detik, Aleta tidak bersuara. Kelvin yang tidak suka diabaikan, malah kesal sendiri. Emosional yang tidak bisa terkontrol adalah musuh pertama Kelvin. "Masuk ke toilet pribadi ku dan segera buang penyamaran mu!"


"Tapi ___"


"Aku tidak menerima penolakan, Aleta!"


Aleta yang diserga dengan suara tegas, segera beranjak gugup ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan kerja itu.


"Ya Tuhan, dia sangat menyeramkan!" Aleta bermonolog sendiri sembari membasuh wajahnya yang belang-belang efek tadi menguber waktu di perjalanan ke kantor.

__ADS_1


Sejenak Aleta tertegun di depan cermin. Perintah Elvan yang menyuruhnya membuka penyamaran, sepertinya akan ia setuju.


" Mari kita lihat, apa pendapat keluarga San soal wajah asli ini?" Aleta menyeringai di depan cermin. Senyumnya bak antagonis yang merencanakan sebuah kejahatan. Saatnya ia membuka topeng penyamaran nya, demi lebih bersemangat menggali rahasia keluarga San yang sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan terhadapnya.


__ADS_2