Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 26# Mengambil Sampel Rambut


__ADS_3

Baru pertama kali ini, Aleta bersemangat pergi bersama Elvan, karena suami yang menyamar jadi adik iparnya itu, menjanjikan sebuah kebenaran dari masalahnya.


Kelvin yang menyadari wajah tenang Aleta, tidak bisa menahan diri untuk melemparkan sebuah pertanyaan. Sembari menyetir membelah jalanan kota yang lancar lancar padat, Kelvin pun membuka suara, "Apa kamu tidak menaruh curiga padaku yang bisa saja aku membawa mu ke tempat lain, alih alih menepati janji menjalankan misi?"


Lantas Aleta menatap wajah Kelvin. "Meski kamu bajingan yang pernah menodaiku, tapi hati kecilku seperti mengatakan kamu adalah orang baik." Aleta berkata terus terang penuh keseriusan.


"Orang baik?" Kelvin tersenyum masygul. Ia tidak sebaik yang diasumsikan Aleta. "Jangan gampang percaya pada siapapun, Aleta. Belajarlah dari kepahitan yang mungkin pernah kamu lalui."


Aleta terdiam seketika. Membuang pandangannya ke arah jendela. Semua perkataan Elvan memang tidak salah juga. Orang yang dianggap keluarganya saja bisa jahat, apalagi Elvan bukan? Tapi, hati kecilnya yang tidak punya mulut sekalipun seakan-akan mengatakan kalau Elvan ini memperlakukan spesial dirinya. Entahlah, apa iya salah menebak?


"Stop, Elvan!" Aleta tiba-tiba memekik. Sepintas, ujung matanya melihat mobil Olivia berbelok masuk ke arah gedung di seberang jalan sana.


"Ada apa?" tanya Kelvin sembari mencari tempat strategis menghentikan mobilnya.


"Olivia."


Kelvin mengikuti arah tunjuk Aleta ke arah gedung yang merupakan club Xide- tongkrongan para borjuis yang memiliki pergaulan se* bebas. Gedung tersebut


"Yakin Olivia masuk ke sana?"


"Kamu pikir aku buta? Yakinlah!" Pertanyaan ambigu Kelvin tidak dipahami oleh Aleta.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, kenapa harus ngegas?" Tidak mau ada perdebatan unfaedah berkelanjutan lama, Kelvin segera menyalakan kembali mesin mobilnya, menuju ke Club Xide.


Mobil sudah terparkir. Sebelum Aleta turun, Kelvin menahan pergelangan tanggan wanita itu. "Kamu tidak boleh ikut masuk."


"Kenapa?" Aleta siap mendebat.


"Pokoknya tidak boleh? Berbahaya!" Kelvin segera turun setelah memberi warning keras ke Aleta.


"Dasar pria aneh. Setidaknya melarang itu harus ada alasan jelasnya. Bahayanya apa dan lain sebagainya." Aleta menggerutu sendiri. Meski kesal tidak diajak masuk, Aleta tetap menuruti perintah 'Elvan.'


Bosan menunggu, Aleta keluar dari dalam kabin, mencari angin sembari menyadarkan punggungnya ke body mobil mewah Kelvin.


Di dalam club, kedatangan Kelvin membuat para wanita malam yang belum mendapat pasangan, berhasrat menggoda yang dikira pelanggan baru di club itu. Namun satu persatu yang mendekati, Kelvin tolak begitu dingin. Satu dari beberapa wanita itu, tidak ada yang berhasil menyentuh seinci baju Kelvin apalagi kulit pria yang memiliki aura mematikan tersebut.


"Hai, Tampan__" Satu wanita memblokir jalan Kelvin, mencoba mendekati agresif. Baru ingin membelai bagian depan tubuh Kelvin, pria itu sudah menepis keras. Lantas, membuat sang bitc* jatuh tersungkur ke lantai.


"Jangan berani menyentuh ku, atau tangan mu akan lenyap." Sisi kejam Kelvin dipertontonkan. Auto wanita wanita haus belaian demi isi dompet itu, pada kicep, tidak berani lagi menggoda pria pendatang baru yang di club tersebut.


Mata elang predator Kelvin kembali beroperasi, sampai saatnya ia mengenali punggung seorang wanita yang sedang duduk di atas pangkuan pria di ujung ruangan sana.


Kelvin sebenarnya jijik melihat aksi ****** Olivia yang sedang dinikmati dadanya oleh pelanggannya, tapi terpaksa ia harus mendekat demi niatnya membantu Aleta.

__ADS_1


"Kalau tau lebih awal akan masuk kemari, harusnya Candra yang aku suruh mengambil sampel rambut Olivia," batin Kelvin dongkol. Bagaimana tidak, sedingin dinginnya sikap nya itu, tapi 'adiknya' di bawah sana memiliki sisi normal, tidak impoten seperti rumor yang ia sebarkan sendiri. Kelvin panas dingin sendiri.


" Ehem..."


Olivia yang sedang menikmati dunia gilanya, pupus oleh deheman Kelvin. Wanita itu menoleh namun pria yang menikmati dadanya tidak mau peduli akan keadaan sekitar. Bagi pria pria di dalam sana, gangguan kecil tidak akan berefek.


"Elvan?" Olivia yang terkesiap, reflek mendorong kepala bayi besar yang menikmati dadanya. Turun dari pangkuan pelanggannya dan buru buru membetulkan baju serta rok mininya. Sang pelanggan tidak bisa protes apapun karena dia memang belum membayar Olivia. Sesuai prosedur di sana, layani dulu baru mendapat bayaran sesuai servis.


Seperti tidak terjadi apa apa barusan, Olivia tersenyum menawan menggoda Elvan. "Kamu di sini mencari kepuasan?"


"Iya, ikut aku ke tempat yang lebih privat."


Olivia tidak menyangka, Elvan yang dari keluarga terhormat pun mencari kepuasan di tempat ini. Ah, Olivia membatin, "Apapun latar belakang orang itu, tetap saja manusia biasa butuh belaian."


Olivia sangat girang mengikuti langkah langkah panjang Elvan menuju... "Ruang VIP?" Olivia excited. Hampir saja berteriak girang, tapi demi Elvan ia harus terlihat anggun. Ternyata, begitu mudah dirinya menaklukkan salah satu keturunan dari keluarga Jansen.


"Owh, sabar dong." Punggung Olivia terasa berdenyut manakala Elvan berbalik dan segera menyudutkan Olivia ke tembok. "Ini bahkan masih diluar, kamu ternyata nakal, Sayang __ Auuhhh..." Olivia kembali terpekik. Elvan ini main tarik rambutnya kasar. Masih belum curiga dan mengira Elvan pemain kasar, Olivia tetap berpikir positif.


"Aku kemari bukan untuk menikmati tubuh kotormu yang bahkan bekas pria random seperti tadi. Aku kemari hanya butuh ini mu..." Kelvin mengangkat tangannya, memperlihatkan rambut Olivia yang ia tarik barusan.


"Rambut ku? Buat?"

__ADS_1


Kelvin sekadar menyeringai. Menaruh rambut tersebut ke saku jas, berlalu pergi tak peduli dengan Olivia yang mengerang marah.


"Oh, astaga... Apa Elvan diutus oleh Aleta? Jadi, Aleta waktu itu memang mendengar pernyataan Mama tentang dia bukan anak kandung?" Olivia menepuk jidatnya. Kalau Papanya tau, pasti yang kena sasaran adalah dirinya. Tidak bisa dibiarkan, Elvan harus segera ia hentikan. Dengan berlari cepat menyusul Elvan, Olivia membuat keributan di tempat ramai itu dengan berteriak, "Tolooong, dia maling...!" tuduh nya sembari menunujuk punggung Elvan.


__ADS_2