
"Kalau saya mengatakan, aku adalah suaminya, kamu percaya?"
Olivia tertawa garing menanggapi pernyataan Kelvin yang dikiranya lelucon semata. Tanpa berpikir panjang dan tak tahu menahu, ia menghina orang tepat di depannya langsung dengan berkata, "Kamu, Kelvin Jansen?" Olivia tidak bisa menghentikan tawanya. "Mana mungkin Anda adalah Kelvin Jansen. Anda terlalu sempurna untuk di samakan dengan orang cacat seperti dia."
Binar mata Kelvin tajam dan dingin yang tak dilihat Olivia di balik kaca mata hitamnya.
"Kamu benar, aku terlalu sempurna dari pada Kelvin Jansen. 'Kakak' ku itu sangat buruk nasibnya, cacat tidak berguna!" Kelvin menekan kata demi katanya dengan raut wajah datar.
Kakak? Matilah dirinya. Ia menghina Kelvin di depan adiknya sendiri. Bibir Olivia tiba-tiba memucat. "Ka-kakak? Itu tandanya __"
"Tanda nya, aku adalah adiknya. Elvan Jansen namaku." Kelvin menyambung cepat suara Olivia yang tergagap dan mengecil, seperti penjahat yang tertangkap basah.
Kelvin memang sering memakai identitas adiknya yang tidak ada di dalam negeri. Sementara identitas aslinya, orang orang hanya mengetahui bahwa ia adalah pria tidak berguna. Lumpuh, cacat wajah dan impoten. Tanpa banyak orang yang mengetahui, kalau ia adalah CEO perusahaan yang bergerak di bidang entertainment. Di dalam agensi nya, banyak artis artis yang sudah go internasional.
"A-aku... Maaf!" Olivia kehilangan kata kata. Setelahnya, menekan kegugupannya dengan cara mengalihkan pembicaraan. Menyuruh masuk Kelvin dengan manis dan sopan, "Tuan Jansen, mari ... aku akan menjamu mu dengan baik__" Olivia terjeda karena Kelvin main masuk ke mobilnya, menolak telak. Sombong sekali pria itu. Namun, melihat paras dan mengetahui Elvan salah satu keluarga Jansen yang digadang gadang memiliki kekayaan melimpah di kota itu, tidak mempedulikan sikap cuek dan dingin Elvan. Dalam hati nya, bertekad akan mengambil hati pria itu dengan cara apapun. Aleta saja disosor oleh Pria itu, apalagi dirinya yang cantik, ia pasti akan muda nanti mengambil hati Elvan dengan rupanya yang anggun. Pikir nya meremehkan.
Omong omong, Olivia kembali mengingat ada Aleta di dalam rumah. Ia akan memanfaatkan kakak bodohnya itu saja.
Dengan langkah cepat, Olivia masuk ke dalam rumah. Berteriak seperti tidak punya sopan santun saat tubuhnya tidak terlihat oleh Kelvin yang berada di dalam mobil sana. "Aleta!" Terus memanggil nama itu dengan teriakan terhakiki.
"Dia lagi beres beres baju di dalam kamarnya." Esme terganggu sekali dengan suara keras putrinya.
"Pelankan suara mu!" Dean pun menegur dengan suara halus.
Dari anak tangga, Aleta melihat semuanya. Seberapa kesalahan dan tidak sopannya Olivia, orangtuanya itu tidak akan memperlakukan buruk anak kesayangannya. Tidak seperti pada dirinya yang tidak ada harga meski secuil saja.
"Pa, Ma__"
__ADS_1
"Olivia, kamu salah paham tadi!" Aleta yang cemas adik nya ini akan membocorkan diri nya dicium 'Elvan' segera memotong pengaduan Olivia.
Olivia menyeringai. Senyum licik tersemat untuk Aleta lihat. Ia paham betul kalau Aleta tidak mengijinkan membongkar ciuman tadi di depan orang tua mereka. Oleh sebab itu, ia akan memanfaatkan dengan baik. "Kakak, tolong bantu aku untuk dekat dengan adik ipar mu. Sepertinya, dia cocok untuk aku." Suara Olivia memang terkesan sopan. Tapi tatapan nya itu terlihat mengancam 'harus nurut atau aib kamu akan ku bongkar.' Begitulah kira-kira isyarat ancamannya. Namun, Aleta pura pura bodoh. Ia saja tidak punya hubungan baik dengan Elvan, mana bisa ia menjadi mak comblang?
"Adik ipar? Siapa maksud mu, Olivia?" Esme penasaran sekali. Ia sampai berdiri dari sofa. Dean pun demikian sehingga di depan berdirinya Aleta kini, ada tiga kepala yang menatapnya penuh tanya.
Dengan singkat, Olivia pun menceritakan Elvan yang sangat sempurna. Siapa pun yang menggandeng pria tampan plus kaya raya, pasti akan beruntung dan berbinar binar. Olivia memimpikan hal tersebut.
"Bantu adik mu, Aleta!" Dean langsung saja ingin membuat Olivia bahagia.
"Kenapa diam saja, kamu tidak tuli 'kan?" Esme pun angkat suara. Beginilah Aleta, selalu lemot dan bodoh dari dulu. Konek otaknya seperti orang idiot menurut Esme.
"Aku butuh uang, bisakah kalian memberikannya sedikit padaku." Karena tidak tau harus menjawab keinginan tiga orang di depannya ini, Aleta sengaja mengalihkan pembicaraan karena memang tidak sanggup mengikut keinginan Olivia.
" Kamu itu, selalu tidak nyambung di ajak ngomong." Olivia bernada judes.
Haruskah ia jujur tentang keinginannya yang mau menyewa rumah sebagai tempat singgah disaat Kelvin - suami nya itu sibuk diluar kota.
Sepertinya ide yang buruk. Ia ingin menjaga martabat sang suami meski Kelvin tidak peduli dan tidak tahu sekali pun. Salah satu alasannya, ia menghindari kegilaan Elvan.
"Buat bayar semester terakhir." Aleta berbohong.
"Aku kan sudah pernah bilang, jangan sok - sokan kuliah di tempat mahal. Jadinya kan repot." Esme merasa tidak rela mengeluarkan uang banyak untuk Aleta yang menurutnya tidak ada gunanya. "Otak kamu itu lemot, Aleta. Jangan mimpi akan lulus dan jadi sarjana. Contohnya, kamu dan Olivia berada di semester terakhir dengan waktu yang sama."
Aleta melengos ke samping. Ya ... memang ia akui, Olivia dan dirinya berada di akhir semester dengan waktu yang sama. Tapi alasannya bukan karena ia idiot, melainkan ia pernah mengambil cuti panjang karena soal biaya. Orang tuanya sama sekali tidak pernah keluar sepersen pun. Alasannya karena uang perusahan untung nya cuma bisa membiayai satu anak. Alasan yang tidak bermutu, tapi Aleta masih bersabar waktu itu. Selagi tangan dan anggota tubuhnya mendungkung, maka ia akan bekerja banting tulang sendiri demi menggapai cita cita nya.
"Aku tidak meminta uang kalian. Tapi uang ku sendiri!" Aleta menuntut uang satu triliun dari Kelvin. Tidak banyak, ia hanya meminta secukupnya saja untuk menyewa rumah dalam satu atau dua bulan.
__ADS_1
"Uang mu?" Olivia bertanya sembari bersedap dada.
"Uang yang mana?" Dean menahan emosinya. Baru satu hari Aleta keluar dari rumah, tapi sudah pandai melawan.
"Uang satu triliun itukah yang kamu maksud?" Esme pun ikut mencerca.
Aleta sekadar mengangguk.
"Perhitungan!" Plak... Tamparan dari Dean yang tidak terduga, begitu menyakiti pipi Aleta. Saking kerasnya, kepala Aleta sampai miring ke kanan. Kaca mata bulatnya jatuh ke lantai. Sakit memang sakit bekas tamparan itu, tapi hatinya lebih perih dari apapun. Seorang ayah memukul anaknya? Miris sekali untuk Aleta rasakan.
"Uang itu sudah masuk ke modal perusahan, Aleta. Jangan terlalu egois! Berbaktilah pada keluarga!" Bukannya iba, Esme malah mencaci. Saking capeknya, Aleta tidak menangis cengeng. Hati nya sudah mati rasa.
Berbakti? Kurang apa dirinya dalam hal tersebut? Ia tidak banyak protes saat mengetahui dirinya ditipu mentah - mentah dalam pernikahan paksa yang seharusnya Olivia yang seharusnya menjadi istri Kelvin. Jadi, kebaktian apalagi yang diminta orang tuanya? Nyawanya? Aleta ingin berteriak murka, tapi ia mati matian menahan emosinya.
"Bukannya kamu adalah istri dari keluarga Jansen yang digadang gadang kaya raya di kota ini? Oh, atau suami mu itu pelit dan melantarkan mu?" Olivia berkata ejek. Ia sangat bersyukur ada Aleta yang menggantikan posisi nya. Kalau tidak, maka ia pasti akan menderita seperti yang di alami Aleta.
Merasa tidak akan menang berdebat, Aleta lebih memilih mengalah. Berjongkok mengambil kaca matanya dengan batin berkecamuk. Dalam hatinya, ia menaruh amarah pada tiga orang tersebut.
Tanpa mereka semua tahu, ada Kelvin yang menyaksikan keributan tersebut dari awal, dengan posisi berdiri, menyenderkan sisi tubuhnya ke kusen pintu. Tatapannya ke arah Dean seperti elang siap memangsa. Lihat saja, tangan orang tua itu akan panas dibuatnya tanpa ia 'sentuh' secuil pun, karena sudah berani menyakiti wanita yang sudah ia beli mahal.
"Ehem." Kelvin berdeham. Meminta perhatian. Gayanya seolah-olah tidak pernah melihat kejadian sebelumnya.
"Elvan Jansen? Ayo ... Ayo, silahkan masuk!" Olivia menyambut antusias. Sejurus berbisik pada orang tuanya yang berada di kedua sisinya. "Dia yang aku maksud tadi."
Dean dan Esme yang mempunyai jiwa jiwa penjilat, tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Pria yang berjalan ke arah nya ini, memang sangat cocok untuk Olivia. Seperti putri dan raja.
Sementara Aleta, melihat kedatangan Elvan sama saja melihat bencana. Ia merasakan aura tidak bersahabat pria itu. Aleta ingin kabur tapi lirikan Kelvin seolah-olah berkata, diam di tempat.'
__ADS_1