
Gosip yang dibuat oleh Olivia sudah menjadi trending, jadi Aleta sudah tidak heran mendengar Elvan mengetahuinya.
Mengenai tawaran bantuan 'adik iparnya' ini, Aleta langsung menolaknya dengan cara halus, "Terimakasih, tapi aku tidak mau berhutang budi."
Aleta segera beranjak ke dapur untuk memasak, mengabaikan 'Elvan' yang bergeming mendengar penolakannya. Sebenarnya, hati Aleta cuma gelisah memikirkan pandangan Kelvin Jansen. Bagaimana respon suaminya itu setelah menonton kehebohan yang dibuat Olivia? Aleta bergidik ngeri, membayangkan kemarahan Kelvin kepadanya. Meski bagaimanapun, keluarga San telah mempermainkan keluarga Jansen bukan, dengan cara menukar mempelai wanita nya.
Kelvin menyunggingkan sebelah bibirnya. Orang yang mau ditolong saja menolaknya, jadi mengapa ia harus pusing pusing turun tangan. Kelvin akan memberi kesempatan dan jadi penonton dulu, cara Aleta mengembalikan nama baiknya tanpa ada bantuan dirinya. Aleta yang dijuluki orang bodoh di kampus, kian hari berhasil membuatnya penasaran. Kelvin juga tidak ada pikiran membongkar identitasnya dalam waktu singkat ini. Sayang, ia masih ingin bermain pada semua orang terutama Aleta.
"Apa kamu sudah berpikir kapan akan pergi dari sini?"
Lamunan Kelvin buyar akan kedatangan Aleta yang membawakan sop panas. Cepat juga acara masaknya.
"Tidak ada racunnya, kan?" Kelvin tidak menghiraukan pertanyaan Aleta yang terang terangan ingin mengusirnya dengan cara halus.
Bibir Aleta seketika cemberut kesal mendapat tuduhan 'Elvan'.
"Kamu harus mencobanya di depanku." Kelvin kembali berucap membuat Aleta kian kesal.
Biar 'Elvan' puas, Aleta segera menurut. Ia sudah capek untuk berdebat makanya memilih untuk diam seribu bahasa.
"Oke, sepertinya aman."
Aleta memutar matanya malas. Lanjut membatin mengatai 'Elvan' tak tahu malu.
"Tanganku keram, tidak bisa makan sendiri."
"Jangan bilang, kamu ingin disuapin?"
'Elvan' tersenyum padanya, tapi kesannya sangat menakutkan.
"Tak masalah sih kalau menolak. Video yang ini, bisa ditonton kak Kelvin kapan saja."
Pupil mata Aleta melebar melototi video dirinya yang tidur tanpa sadar beringsut memeluk 'Elvan'.
"Kamu __" Gigi gigi Aleta beradu kesal. Rasanya, ia ingin mencakar cakar wajah tampan Elvan, tapi hanya dalam hati karena tatapan mengancam Elvan tiba tiba membuatnya ciut.
"Baiklah, aku mau."
Aleta merasa kalau ia tidak sanggup melawan kelicikan pria ini. Dengan terpaksa, ia mengambil baki makanan itu sembari bernegosiasi pada Elvan. "Setelah menyuapi mu, kamu harus menghapus videonya berikut foto ciuman itu."
Sayangnya, Kelvin tidak pernah mau diatur oleh siapapun. Ia tidak merespon Aleta, memilih membuka mulutnya menerima suapan Aleta.
__ADS_1
"A-ada yang salah?" Aleta tergagap. Perasaan, ia memasak penuh keikhlasan untuk Elvan yang sakit, meski pria ini menyebalkan namun ia tidak niat menaruh hal aneh ke masakannya. Akan tetapi, kenapa 'Elvan' menatapnya dengan sangat tajam, tanpa berkedip seperkian detik pula?
Kelvin beranjak berdiri dari kasur lantai sembari berkata, "Tidak ada yang salah. Aku ingin ke toilet dulu." Kelvin menolak ada orang yang melihat pancaran mata kesedihannya. Masakan Aleta, membuatnya teringat pada ibunya yang sudah meninggal karena kecelakaan tiga tahun bersamanya yang sengaja disabote oleh orang misterius. Sampai saat ini, Kelvin belum berhasil menangkapnya.
"Deli, kirimkan jemputan. Hari ini, aku akan pulang bersama Aleta."
Meski tidak melihat raut wajah sang bos di balik telepon saat ini, ia sudah bisa menebak dari nada perintah Kelvin yang sangat dingin dari sebelumnya, sang bos hatinya dalam keadaan buruk.
" Baik, Tuan." Deli menjawab cepat, daripada kena sasaran. Sejurus, telepon pun berakhir oleh Kelvin.
"Orang yang sudah ku tandai masuk ke dalam teritori ku, tidak akan bisa keluar dengan mudah." Gumam Kelvin sembari melawan tatapannya melalui pantulan di cermin. Aleta sudah ia cap sebagai wanitanya yang sesungguhnya mulai dari suapan pertama gadis itu tadi.
Tidak ingin sopnya dingin yang bisa membuat rasa rindunya sedikit terobati pada ibunya, Kelvin keluar cepat dari toilet. Tatapannya jatuh pada handphone rusak Aleta yang sedang dibolak-balik gadis itu.
Ia tidak akan membuat miskin terus menerus istri spesialnya ini.
Menyadari kedatangan Elvan, Aleta segera menaruh hapenya masuk ke dalam tasnya lagi.
Suasana sedikit hening, Aleta tidak pernah bisa menebak gerak gerik Elvan. Tadi, pria ini terlihat shock memakan masakannya dan juga kekeuh memaksanya menyuapi. Tapi, saat ini 'Elvan' makan lahap sendiri dengan sangat sangat tenang.
"Padahal, itu cuma sop tanpa daging. Doyan apa lapar ya?" Aleta bertanya tanya heran dalam hati sembari mencuri pandang ke Elvan yang sibuk menghabiskan isi mangkok sampai suapan terakhir.
Melihatnya tenang seperti itu, di mata Aleta, Elvan seperti anak manis yang menurut memakan masakan orang tuanya.
Pertanyaan tiba-tiba 'Elvan' membuat Aleta menggeleng polos.
"Dia akan menyiksa bodyguard yang lalai karena membiarkan sang Nyonya pergi dari villa. Atau bisa lebih parah dari itu, contoh nya membakar rumah sewa ini."
Aleta menelan pahit ludahnya. "Ma-masa?"
"Eum, suami mu yang buruk itu adalah raja kejam." Kelvin sangat puas melihat ketakutan Aleta yang terbaca jelas di raut wajah gadis ini. Ia tidak sepenuhnya berbohong, kalau Aleta menolak balik ke villa bersama nya, maka siapa pun pemilik kontrakan tersebut akan kehilangan properti nya dalam hitungan jam.
"Tapi kan, dia di luar kota. Tidak akan tahu kalau kamu menutup mulut mu." Aleta mencoba tenang. Meski keresahan menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu, suaminya seperti apa yang nikahi.
"Oh..." Seperti orang mengancam, Kelvin menarik hapenya. Itu berhasil membuat Aleta kicep.
"Aku akan pulang ke villa. Jangan telepon dia." Aleta tidak mau membuat orang menderita kalau benar Kelvin bisa sekejam itu membakar rumah hak orang.
Kelvin menyeringai puas mendengar keputusan Aleta. Selama istrinya ini berperilaku baik dan manis, maka Aleta akan hidup tenang di sisinya. Begitupun sebaliknya, Aleta bisa celaka jika berkhianat.
Sejurus kemudian, suara ketukan pintu mendominasi.
__ADS_1
Aleta beranjak cepat membukanya.
"Deli?"
"Nyonya." Deli menunduk takzim memberi hormat ke Aleta.
"Itu tandanya, Kelvin sudah pulang dari luar kota?"
Tidak mau salah menjawab, Deli sekilas mencuri pandang ke arah belakang Aleta, dimana ada Elvan bin Kelvin yang mengangguk memberinya jawaban tepat.
"Sudah, Nyonya."
"Mampus aku!" Aleta menepuk jidat nya. Gelagapan sendiri. Menarik tasnya buru buru sembari berkata, "Ayo, Elvan. Kita harus pulang sekarang." Aleta hanya bisa mengharapkan Kelvin Jansen, jangan sampai suaminya pun itu membuang nya seperti keluarganya sendiri. Ia hanya mempunyai Kelvin meski belum tentu dianggap istri oleh Pria itu. Selama Kelvin Jansen tidak menyusurnya, maka Aleta masih berharap pernikahan nya akan bahagia.
Diam diam, Kelvin dan Deli saling lirik tanpa sepengetahuan Aleta. Deli segera memberi anggukan takzim sebagai tanda paham.
" Nyonya tidak perlu membawa tas baju. Cukup buku buku kuliah yang menurut Nyonya penting. Semua keperluan Anda, sudah Tuan Kelvin urus."
"Baiklah!" Aleta lebih dahulu keluar dari rumah itu.
***
Sampai villa, Aleta tidak melihat sosok pria yang memakai kursi roda, padahal ia berharap hari ini bisa bertatap muka dengan Kelvin secara langsung. Ia ingin membuat rasa insecure Kelvin hilang dengan cara memperlihatkan dirinya yang culun. Meski mempunyai penampilan buruk, tetap harus menjalankan kehidupan normal bukan?
"Deli, Kelvin di mana? Apakah aku boleh bertemu?"
Kelvin yang mendengar hal tersebut, kian mempercepat langkahnya menjauh dari Aleta dan Deli.
"Saya akan bertanya dulu, Nyonya. Permisi!"
"Kenapa orang orang pada buru buru menghindar." Aleta sedikit aneh. Tapi belum sadar sedang dalam permainan Kelvin.
Ia pun mengikis jarak ke kamarnya. Ingin memastikan perkataan Deli, Aleta membuka lemari. Benar saja, semua keperluan wanita yang sebelumnya tidak ada, sekarang tersedia dengan brand brand terkenal.
Aleta terharu dibuat perhatian Kelvin, ini pertama kalinya mendapat baju baru dari seseorang. Biasanya, Ibu nya - Esme hanya memberi bekas baju Olivia.
Baru beberapa menit istirahat dalam di dalam kamar mewah itu, pintu kamarnya diketuk.
"Nyonya, Tuan Kelvin menerima keinginan Anda untuk bertemu. Silakan ke ruangan kerjanya."
Aleta tersenyum manis dibuat laporan Deli. Ia berharap, itu tanda baik hubungan nya dengan sang suami yang sejak awal ia kasihani karena selalu mendapat hinaan sebagai pria tidak berguna seperti ucapan Olivia dan Elvan Jansen sendiri.
__ADS_1
" Aku akan datang." Aleta sangat bersemangat.