
Kelvin membawa rekaman kerja keras Aleta ke kantornya. Lebih tepatnya ke ruangan direktur Media KJ, Candra Van. Sebelumnya, ia terlebih dahulu melihat hasilnya yang membuatnya marah pada Olivia. Bukan karena di dalam video itu Olivia menghinanya, akan tetapi adik iparnya tersebut menganggap Aleta sebagai wanita yang jijik dan hina bak binatang.
Dengan kaget, Candra yang tadinya sibuk bekerja, segera menangkap sebuah kamera canggih yang dilempar oleh Kelvin.
"Wow... Wow... Wow...!" Hampir saja alat itu jatuh ke lantai akibat Candra kurang siaga.
"Apa kamu sudah menjadi orang narsis, ingin direkam atau di foto oleh ku?" Perangai Candra yang humor, berbanding terbalik dengan sikap Kelvin yang dingin dan tak terbaca.
Kelvin duduk di sofa sembari berkata tak menghiraukan candaan unfaedah Candra. "Jadikan video di dalamnya sebagai tranding topik."
Candra yang penasaran, segera membuka draf. Matanya memelotot. Jakungnya naik turun dengan air liur terasa penuh tiba-tiba di rongga mulutnya. Bagaimana Candra tidak bermimik mupeng, Kelvin menginginkan dirinya menerbitkan video sepasang muda mudi beradu ganas di toilet kampus?
"Kamu serius?"
"Seriuslah!" Kelvin menjawab tegas dan mantap tanpa mengetahui kalau cara pemikiran mereka berdua telah berbeda.
Ia membeli video beserta kamera paparazi tadi dengan sangat mahal, hanya demi membantu Aleta melancarkan rencana istrinya itu. Kelvin tidak gampang mempercayai cara kerja orang lain, seperti paparazi yang mudah dibeli hanya dengan gertakan ancaman.
"Sejak kapan CEO asli Media KJ mempunyai pikiran mesum?"
Kelvin menatap tajam Candra. Raut wajahnya seperti ingin memakan rekannya itu.
Cepat cepat Candra duduk di sebelah Kelvin dan segera memperlihatkan video kesalahan di antaranya, saat menyadari ada mimik monster si pria dingin ini.
"Ehem..." Kelvin berdeham sembari melengos ke samping, menghindari pemandangan yang bisa membuat kelakiannya tersiksa. Ia melonggarkan dasinya sembari mengomeli kekeliruan Candra. "Bekerja dengan baik!"
Candra mengerutkan keningnya, bingung. Baru ingin memprotes, Kelvin sudah menjelaskan kekeliruannya.
"Video Aleta dan Olivia San - lah yang harus kamu upload, bukan tindakan menjijikkan tadi." Kelvin janji, kalau bertemu dengan paparazi tadi, ia akan mengomeli pria itu. Bisa bisanya menaruh hal mesum kepadanya.
Candra memamerkan senyuman tak berdosanya sembari mencari video yang dimaksud Kelvin. Tidak henti henti Candra cekikikan sesekali bersiul menggoda Kelvin. "Uh, ah... Pasti enak, ya kan, Vin!"
"Gunakan mulut mu dengan baik sebelum robek."
Ih, kejam. Candra tidak lagi menggoda daripada Kelvin membuktikan perkataannya yang jarang terdengar omong kosong.
Seperkian detik hanya ada suara dari video yang diputar oleh Candra. Pria kepercayaan Kelvin itu geleng geleng kepala dibuat kebenaran Olivia. "Saat identitas aslimu dipublikasikan, aku yakin Olivia akan struk mendadak telah menyerahkan pria tampan seperti mu ke Aleta. Tapi di lain sisi, dia juga hebat mengambil keputusan yang benar, karena selamat dari CEO __" Aneh dan kejam seperti monster. Kalimat mencibir tersebut, hanya bisa selesai diucapkan dalam hati. Melihat mimik Kelvin yang kian kelam, membuat Candra sadar untuk segera merapatkan bibir.
"Percayakan video ini padaku, hasilnya pasti akan meroket." Candra kembali duduk di kursi Direktur. Bekerja beberapa menit dengan sangat serius mengurus keinginan Kelvin. Melihat gambar Aleta, tiba tiba otak Candra mengingat hal penting yang pasti akan membuat Kelvin tertarik.
" Aku punya berita untuk mu. "
__ADS_1
Kelvin tidak bersuara, menunggu Candra mengatakannya sendiri.
"Kenapa wajahmu selalu datar? Bertanya antusias seperti; Apa tuh, Candra?"
"Jangan katakan!" Kelvin tidak mau ambil pusing.
Candra memutar mata malas. Bisa bisanya ia betah berteman dengan gunung batu seperti Kelvin.
"Baiklah, tidak akan ku katakan berita tentang soal Aleta!"
Aleta?
Beda lagi urusannya kalau nama istrinya. Seperti tidak berdosa, Kelvin menyuruh Candra mengatakan nya yang tadi sempat untuk menyuruh Candra tidak berbicara saja.
"Aku sudah lupa karena selalu dimarahin oleh mu." Candra menggoda Kelvin yang tadinya duduk di sofa kini beranjak pindah ke hadapan meja Direktur.
"Mau aku mutasi?"
Cih selalu mengancamnya. "Tidak apa apa."
Tumben Candra bersedia dimutasi dan bersikap santai menanggapi ancamannya. Kelvin curiga kalau info yang di maksud Candra memang penting. Tapi, Kelvin itu orangnya kejam, jarang meminta maaf kepada orang yang suka menggangunya duluan.
Bukannya memohon meminta Candra mengatakannya, Kelvin malah menelpon asisten nya. "Deli, siapkan berkas pemindahan mutasi kerja Candra, dia sudah bosan bekerja di perusahaan utama__"
Kelvin tidak memberi ekspresi terkejut atau lainnya, selalu datar. Malah terkesan tidak mendengar sesuatu. Tetapi dalam hati nya, ia sedang marah. Apa kartu hitam masih kurang cukup untuk Aleta? Kenapa malah merepotkan diri bekerja alih alih memakai uangnya?
Tidak paham akan suasana hati Kelvin, Candra masih berani menggoda dengan berkata, "Bagaimana kalau aku terima jadi OB khusus di kantor ku?" Senyum Candra manis dengan alis naik turun.
Pulpen seketika jatuh ke kening itu dari ulah Kelvin.
"Ish... Aku hanya becanda!" Suara Candra seperti wanita yang memerengut. Kelvin jijik mendengarnya.
"Tapi, aku ingin kamu menerimanya."
Candra tidak salah dengar kan?
"Yakin? Ini OB yang kerjaannya bersih bersih loh?" Mana tau, pak CEO sesungguhnya ini tidak waras. Masa istri sendiri direlakan jadi kacung terendah?
"Eum, yakin. Tapi, buatkan ruangan khusus untuk di sini."
Candra tersenyum bahagia. Itu tandanya, Kelvin akan ngantor membantunya menyelesaikan tugas CEO yang aslinya memang tugas Kelvin? Asyik...
__ADS_1
"Kawan, ruangan ini milik mu, jadi mengapa harus membuat ruangan baru lagi? Biarkan aku yang pindah __
"Aku akan menjabat sebagai wakil Direktur!"
"Hey, itu tandanya aku masih tetap atasan?" Bukannya senang, Candra malah protes.
Kelvin tidak peduli suara Candra yang dibuat buat memelas. "Dan ingat, jika pun Aleta jadi OB di sini, maka hanya boleh menjadi OB khusus ruangan ku saja."
Tiba tiba, Candra tertawa lucu. Lalu mengoda Kelvin lagi dengan berkata, "Si gunung batu roman romannya posesif parah nih. Hahah..."
Kelvin tidak lagi menghiraukan. Ia pergi seperti biasanya, tidak pamit membiarkan Candra tertawa seperti orang gila.
***
Di kampus, Aleta mencari cari keberadaan paparazi yang sebelumnya ia tugaskan soal video.
"Lihat Abbe, tidak?" Mahasiswa yang ditanya Aleta menggeleng acuh. Mereka semua masih menatap rendah Aleta soal video yang dibuat oleh Olivia. Mendadak, seluruh kampus mengenal Aleta yang tadinya hanyalah sebuah kerikil tak terlihat di antara batu batu besar nan kokoh. Tapi, image di mata mereka tentang Aleta adalah bad.
Merasa dicuekin, Aleta tidak ada niat untuk bertanya kesana dan kemari. Kampus bertingkat lima itu, ia kelilingi sampai sosok yang ia cari terlihat memasuki perpustakaan.
Aleta melebarkan langkahnya, masuk ke perpustakaan. Kebetulan, suasana ruangan itu terbilang sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang mencari buku di rak rak yang tersusun rapi.
"Abbe..." Aleta menepuk pundak pria itu.
Abbe terkejut, buku jurnalisnya yang ia pegang jatuh ke lantai. Aslinya, pria itu gugup karena merasa bersalah pada Aleta.
"Sini, aku mau bayar hasil kerja mu setelah kita menonton hasilnya." Aleta menarik temannya ke rak buku paling pojok yang jauh dari pandangan orang.
"Aleta, soal bayaran... Aku, aku tidak mau mengambilnya darimu, karena masalahnya __"
"Hust... jangan berisik di perpus." Aleta menjeda Abbe yang ingin jujur tentang pembelian Kelvin yang main mengancam.
"Kita duduk di sini sambil melihat unggahan video sampai mana kepesatannya."
Abbe tidak kuasa melihat kekecewaan Aleta, jikalau tahu ujung ujungnya video itu sudah hilang berikut kameranya. Ia kehilangan kata kata membiarkan Aleta membuka handphone baru pemberian Kelvin.
"Wow... Kerjaanmu sangat memukau, Abbe!"
Mendapat pujian, Abbe menarik hape Aleta, penasaran. Video hasil rekamannya jadi topik utama. Banyak sekali netizen yang balik membully Olivia. Bahkan, unggahan dari tag name akun 'Orang Misterius' beberapa kali dibagikan dari para netizen.
Kalimat di setiap komentar video yang tajam dan julid itu, berujung menyebut nyebut nama Esme dan Dean juga sebagai orang tua yang tidak adil.
__ADS_1
Gara gara kecerobohan Olivia, perusahaan San yang dikelola Dean, ikut berdampak buruk ulah percikan komentar yang menyerempet produk buatan San, "Orang tua yang tidak bisa berlaku adil pada salah satu anaknya sendiri, pasti cara memimpinnya di perusahaan tidak akan jauh berbeda." Dan komentar itu, dibuat oleh pegawai Candra, sesuai perintah dari Bosnya itu.