Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 16# Emosi Dean


__ADS_3

"Papa, Mama ... Ini, ini ... kesalahan, Aleta."


Di rumah, Olivia tergagap mendapat amukan murka dari Dean. Wanita yang memakai dress biru berdada rendah itu, bersembunyi di balik punggung Esme, takut mendapat pukulan dari Dean yang sangat meletup letup emosinya. Mata papanya merah seperti binatang yang mendapat gangguan dari musuh. Majalah dan koran yang berada di atas meja, diacak acak oleh Dean sembari merutuki Olivia, "Bodoh!" Ia ingin memukul Olivia tapi diblokir oleh istrinya.


"Papa, jangan dipukul!" Esme menahan tangan suaminya yang hampir saja melayang ke wajah Olivia.


Agar dikasihani, Olivia seketika menangis sesunggukan. Dean memalingkan kepalanya dengan tangan berdecak kesal di pinggang. "Harusnya kamu berpikir menggunakan otak, bukan dengkul mu. Ceroboh sekali mengumbar aib keluarga di tempat terbuka!" omelnya dengan suara tinggi.


"Hiks, hiks ... Ini, pasti sudah di rencanakan Aleta, Pa. Dia menjebak ku!"


"Daripada marah marah, kita harus mencari jalan keluar meredamkan video pengakuan Olivia, Pa." Esme menyelah Dean yang tadinya ingin memarahi Olivia lagi.


Helaan kasar terdengar dari Dean untuk meredamkan emosinya. "Kamu benar dan kuncinya itu hanya pada Aleta. Kita harus mengundang wartawan, menyuruh Aleta mengklarifikasi bahwa video itu settingan. Tapi sebelumnya, Papa harus pergi ke rumah Tuan Rick Jansen untuk meminta maaf. Aku tidak mau perusahaan hancur karena ulah mu, Olivia."


Esme segera mengelus elus lengan suaminya, menenangkan dengan suara lembut, "Aku akan mengurus Aleta. Papa pergi saja dari pada keluarga Jansen marah tak terkendali."


Olivia hanya melebarkan telinganya mendengarkan percakapan orang tuanya. Ia takut bersuara yang berdampak memperoleh amukan lebih parah dari tadi. Dalam hatinya, ia menaruh dendam dan kemarahan besar terhadap Aleta yang berani sekali menipunya sampai pada akhirnya video itu ada dan tersebar tak terkendali.

__ADS_1


***


Di sisi Aleta, gadis itu berada di sebuah kafe, di traktir paksa oleh Abbe. Mau tak mau, Aleta memenuhi keinginan teman nya yang sudah membantunya.


"Harusnya, akulah yang membayar jasa mu dan mentraktir mu, Abbe. Ini malah sebaliknya." Aleta tidak enak hati. Tanpa sepengetahuannya, Abbe lah yang lebih merasa demikian. Meski berujung video itu berhasil viral, tapi tetap saja bukan kerjaannya.


Sebenarnya, Abbe memaksa Aleta ikut bersama nya bermaksud menjelaskan semuanya dengan jujur, tapi baru ingin membuka suara, dering hape Aleta mengganggu.


'Elvan' lah yang meneleponnya.


"Halo!"


Suara adik iparnya ini seperti harimau, seram dan serak. Aleta mengelus lehernya yang merinding tiba-tiba. Ia curiga, Elvan berada di sekitar cafe. Kalau bukan begitu, orang menyebalkan seperti Elvan, tidak mungkin tahu kan dia berdua dengan Abbe?


Edarkan pandangan ke luar jalan raya yang kebetulan cafe itu bertema outdoor. Mampus, benar ada Elvan di sana yang bersandar ke body mobil mewahnya.


"Kemari!"

__ADS_1


Suara Elvan seperti perintah mutlak baginya. Aleta mematikan telepon, lalu segera pamit pulang ke Abbe.


"Ada masalah?" tanya Abbe manahan lengan Aleta dan pemandangan itu tidak luput dari pengawasan Kelvin.


Sebenarnya, Abbe menyukai Aleta yang sangat baik dan sederhana. Mengetahui wanita ini sudah menikah akan pernyataan video Olivia kemarin, membuatnya patah hati dan kecewa.


"Tidak ada, cuma sedang ditunggu seseorang." Setelahnya, Aleta benar-benar pergi ke arah Elvan.


"Itu teman ku! Habis bahas yang menyangkut tugas." Aleta menjelaskan tanpa diminta daripada adik iparnya ini berpikiran jauh.


"Masuk ke mobil!"


Duh, dingin sekali suaranya. Aleta sampai terjungkit kaget. Ia bingung, kenapa 'Elvan' terlihat begitu marah?


Tidak mau jadi bahan tontonan orang sekitar, termasuk Abbe yang terlihat berjalan mengikis jarak, Aleta buru buru naik mobil. Kelvin sendiri masih bergeming di tempat. Menunggu Abbe datang kepadanya.


Aleta menurunkan kaca mobil. "Ayo, tunggu apa lagi?"

__ADS_1


Alih alih menjawab, Kelvin malah menjauh. Berjalan ke arah Abbe yang tiba-tiba berhenti dan tertegun di sana, setelah menyadari kalau pria yang memanggil Aleta adalah orang sama yang membeli video beserta kamera nya.


Aleta merasa ada kesalahan pada Elvan, buru buru menarik handle pintu, ingin turun. Namun ternyata, Elvan sudah mengurungnya melalui kunci remot.


__ADS_2