
Deli memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari restoran yang dimasuki oleh Aleta.
Karena sudah terbiasa bersama dengan Kelvin Jansen, Deli pun mempunyai insting yang tidak biasa. Ia melihat kecurigaan. Di depan pintu restoran, Aleta sempat memberi kode 'oke' hanya dengan pergerakan jempol ke seorang pria yang berpenampilan culun berkaca mata seperti Aleta, membawa sebuah kamera kecil di tangannya.
Setelah Aleta masuk, pria itu pun tidak berselang lama meninggalkan motornya yang tadi didudukinya, masuk ke restoran dan duduk di table lain, berdampingan meja Aleta. Deli melihat itu semua, karena dinding restoran terbuat dari kaca bening dan kebetulan, Sang Nyonya memilih duduk di dekat dinding kaca itu.
"Nyonya berencana apa membawa paparazi?"
Ya ... Deli memprediksi, pria itu adalah sejenis wartawan namun relatif bekerja sendiri tanpa naungan sebuah agensi. Berita berita yang didapatkan paparazi akan dijual ke pihak media tertentu yang menurutnya bisa memberi keuntungan.
Di mobil lain, sebenarnya Kelvin yang penasaran akan kerjaan apa yang diperbuat Aleta, tidak sabaran turun tangan menunggu laporan Deli. Kelvin memutuskan untuk melihat juga dari sedikit kejauhan.
Kelvin meraih hapenya. Menelepon seseorang yang tak lain adalah Deli.
"Halo, Tuan Muda.
"Selesaikan urusan mu yang lain."
"Tapi, Tuan. Nyonya bagaimana __"
Tut ... tut...
Deli hanya mampu memandang layar hapenya, nalar. Bosnya memang sangat aneh. Tadi saja menyuruhnya membuntuti Aleta dan mentitahnya melaporkan segala sesuatu aktivitas Aleta, namun sekarang...?
"Hem ... padahal aku sendiri penasaran." Dengan berat hati, Deli menyalakan mesin mobilnya. Pergi dari tempat tanpa melihat keberadaan mobil yang ditumpangi Kelvin.
Berselang Deli pergi, Olivia pun datang. Kelvin memicingkan penglihatannya dari balik jendela mobilnya. Adik iparnya itu berjalan sombong menghampiri meja Aleta. Disayangkan, ia tidak akan bisa mendengar percakapan adik kakak tersebut yang membuatnya penasaran.
"Kamu punya uang banyak membayar menu di resto ini, eum?" Baru duduk, Olivia sudah mencibir Aleta.
Aleta tersenyum polos, masih terlihat bodoh bagi Olivia.
"Tidak banyak sih, cuma ada sedikit." Aleta rela menguras isi dompetnya dari sisa bayar sewa kontrakan untuk membayar paparazzi dan mentraktir makanan Olivia yang selalu berselera mewah, itu demi mendapatkan hasil seimbang.
__ADS_1
"Pelayan! Pesan menu yang paling mahal. Tiga menu sekaligus minumnya." Olivia niat sekali membuatnya miskin. Tapi tidak masalah. Aleta ingin melihat, siapa yang akan tertawa paling belakang. Mengenai uang, apakah ia harus memakai kartu hitam yang jumlahnya tak terbatas dari Kelvin? Sepertinya, ide baik sekaligus buruk. Takutnya, Kelvin suatu saat akan menagihnya. Secara, kata 'Elvan', suaminya itu adalah raja kejam.
"Katakan, apa yang membuatmu berani menggangu waktu ku?" Olivia menatap Aleta dengan remeh.
Aleta masih mengikuti topeng perannya; gadis polos dan terlihat bodoh. Wajahnya dibuat buat memelas tapi hatinya begitu gereget. "Soal video itu, kenapa kamu memfitnah ku?"
Paparazi yang tak lain salah satu teman Aleta di kampus, sedari tadi sudah bersiap siap mendapat keuntungan.
Olivia mendengar keluhan Aleta dengan malas.
"Kamu kan tahu cerita sesungguhnya, Olivia. Tapi kenapa kamu tega memfitnah kakak mu sendiri? Aku tidak pernah merebut Kelvin Jansen dari mu."
Olivia tersenyum sinis. Ia suka melihat wajah bodoh dan tak berdaya Aleta.
"Kakak? Aku jijik mengakui mu sebagai saudara ku. Kamu jelek dan bodoh, gen mu tidak setara dengan Keluarga San. Malu maluin!"
Jujur, hati Aleta terenyuh sakit mendengar kalimat Olivia. Tapi, ia sudah berjanji untuk tidak menjadi Aleta lemah yang sering dimanfaatkan.
"Dan ah, kamu menikah dengan Kelvin, si cacat itu memang karena ditipu mentah mentah oleh ku. Tapi kan, itu bukan kesalahan ku sepenuhnya. Harusnya, saat kamu dibujuk Ibu, jangan pernah mau." Olivia menatapnya dengan sangat remeh.
" Itu bukan urusan ku! Kamu nikmati saja apa yang sudah menjadi milik mu yaitu Kelvin Jansen. " Olivia masih mengira pria yang dihina nya adalah orang yang tidak normal.
Pembicaraan mereka terjeda oleh pelayan resto yang sudah datang menyuguhkan pesanan tiga porsi yang harganya mahal - mahal. Olivia tidak ada niat memakannya. Ia sekadar ingin merepotkan Aleta. Biarin kakaknya itu dijadikan babu seharian di resto karena tidak sanggup membayarnya.
"Ini billnya, Nona." Pramu saji memberikan nota ke Olivia. Tapi gadis berpenampilan seksi ini menunjuk ke arah Aleta sembari berkata santai, "Dia yang membayar."
" Nona, ini billnya. Sejumlah dua juta tiga ratus, mau bayar tunai atau debit?"
Aleta mana ada kartu... Olivia membatin remeh. Ia tahu betul kalau keuangan Aleta dicekal ketat oleh orangtuanya.
"..." Aleta tertohok shock. Tiga menu daging yang isinya tidak bisa mengenyangkan perut kuli Aleta, benar-benar menguras seluruh dompetnya.
Dan Olivia sangat menikmati raut wajah teraniaya Aleta. Ia masih tidak bergeming di tempat karena ingin memvideokan Aleta yang pasti akan dimarahi pihak restoran. Siapa suruh ngajak ketemuan, buang buang waktu. Rasakan, ia memang sengaja memilih tempat tersebut agar Aleta dipermalukan sampai ke titik nadir.
__ADS_1
Perlahan, Aleta mengambil dompet yang warnanya sudah usang di mata Olivia dan petugas resto. Berat hati, Aleta menghitung nilai pembayaran.
Mata Olivia membelalak, tidak sengaja melihat kartu hitam milik Kelvin yang terselip di dompet. Ingin memastikan, Olivia dengan lancang merebut dompet Aleta.
"Olivia!" Aleta kehilangan kontrol membentak. Ia merebut dompet berikut kartunya kembali.
"Kartu siapa yang kamu curi?" Tanpa hati, Olivia menuduhnya. Ia belum sempat memegang kartu tersebut, tapi ia yakin sekali kalau Aleta memiliki kartu sultan.
Senyum Aleta terangkat tipis. Adiknya dan dua orang tuanya adalah manusia yang gila harta. "Kenapa aku harus mencuri, kalau suamiku memberi kemewahan." Aleta ingin membuat Olivia menyesal. "Apa kamu menyesal memberikan calon suami mu padaku?"
Gagal mempermalukan Aleta, Olivia segera bangkit dengan kesal menarik tasnya.
Aleta tidak niat mencegah karena sudah cukup mendapat pernyataan Olivia.
Ingin bermain halus, paparazi yang sudah merekam seluruh aktifitas adik kakak itu tadi, tidak langsung menemui Aleta. Sekadar mengirim chat, " Tunggu saja hasil nya, Aleta. Aku pergi, takut jaringan Olivia ada yang melihat."
"Oke." Aleta membalas singkat seraya melirik paparazi tersebut yang sudah bersiap siap meninggalkan tempat.
Aleta sendiri lebih memilih duduk menikmati hidangan mahal yang sudah menguras isi dompetnya. Sayang kalau ditinggal begitu saja.
Di luar, paparazi yang sudah pergi, tiba-tiba laju motornya diblokir oleh mobil Kelvin tepat di tikungan yang sepi.
Teman Aleta itu sempat takut mengira begal, tapi menyadari jenis mobil orang kaya yang pengeluarannya limited edition, sedikit membuatnya tenang dan berani turun dari motornya untuk menghampiri kaca jendela Kelvin yang perlahan turun.
"Aku ingin berbisnis dengan mu tentang hasil video mu barusan." Kelvin jarang sekali berbasa basi.
"Anda...?" Kok tahu, ucapan paparazi ini hanya bisa selesai dalam hati karena Kelvin sudah menjulurkan uang banyak. Siapa Pria ini, apa pihak dari Olivia?
"Cukup, kan?"
"Cukup sih, tapi ini soal kesetiaan pada relasi saya." Relasi yang dimaksudnya adalah Aleta.
"Pilih setia atau karirmu yang baru berumur jagung itu akan hancur?"
__ADS_1
Aura orang kaya di depannya sangat kuat. Paparazi itu yakin betul kalau si lawan bicara mempunyai kekuasaan. Dengan terpaksa, ia menyerahkan hasil video nya ke Kelvin dengan terus berkata maaf dalam hati menyebut nama Aleta.