
Satu jam duduk di sofa tanpa suara nan gerak banyak, membuat Aleta seperti orang yang penyakitan ambeien. Capek duduk terus ditambah muak melihat ketenangan 'Elvan' yang bekerja tanpa dosa di kursi kebesarannya. Aleta memerengut bosan. Ia tidak habis pikir, otak apa yang dimiliki Elvan sampai membiarkan karyawannya benar-benar akan makan gaji buta. Jam juga terasa bermusuhan padanya, jarumnya terasa lelet berputar mengakhiri jam kerjanya itu.
"Jika satu Negara punya otak seperti mu, maka hancurlah masa depan bangsa. Mengajarkan karyawan makan gaji buta adalah tanda-tanda kiamat kecil."
Elvan mengangkat pandangannya ke arah Aleta sejenak, sejurus kembali sibuk bekerja, acuh. Jika direspon, yang ada kerjaan penting di depannya tidak akan selesai.
Inhale exhale ... sabar. Elvan sepertinya ingin membuat dirinya mempunyai penyakit darah tinggi.
Kembali ke rencana sebelumnya yang sangat berharap 'Elvan' mengatakan pemecatan spontan padanya, Aleta pun mulai berulah. Tidak dibiarkan keluar mengambil alat bebersihnya yang ia taruh di ruangan lain, Aleta tak kehabisan akal. Wadah tissue yang berada di hadapannya, Aleta ambil.
Sudut mata Elvan sangat jeli memindai pergerakan Aleta. "Sedang apa?"
Punya mata kan? Sudah tau lagi bersihin lantai, tapi pakai nanya lagi.
"Inilah definisi kerja cerdas, Pak. Istilah kerennya adalah two in one. Nyapu sekaligus ngepel pakai tissue." Aleta berkata ala-ala orang genius yang sedang mempersentasekan pekerjaan penting.
"Yang ada itu pemberosan tissue. Merugikan perusahaan."
Sekadar tissue bisa membuat kantor gulung tikar? Ck, jika perlu otak mu yang akan ku lap pakai tissue sampai kuman kuman menjijikkan keluar lewat lubang telinga. Tentu saja, Aleta hanya berani menggerutu dalam hati. Niatnya disini akan membuat Elvan pusing tujuh keliling dengan cara halus halus manja. So, she must be calm.
"Jika lantai bersih itu punya mulut, maka ia akan meneriaki mu bodoh! Bagaimana tidak, lantai bersih tidak perlu dibersihkan lagi," tukas Kelvin selalu tak pakai hati memilih kosa kata.
Bagaimana kalau mulut pedas mu yang ku lap sampai bebas dari kata kata kasar.
__ADS_1
Dengan senyum manis yang terpaksa keluar, Aleta bangkit dari lantai. Berjalan ke arah meja kerja Kelvin. Satu tissue yang ia tarik keluar dari wadahnya, digerakkan Aleta untuk membersihkan meja tersebut.
"Jangan sampai ada debu setitik pun, Pak. Nanti kulit Bapak gatal gatal. Wah, itu di sela sela keyboard laptop Anda banyak debu meresahkan. Permisi ya..." Aleta main serubut benda elektronik tipis itu. Sudut matanya melirik 'Elvan' yang belum ada tanda tanda akan murka. Sejujurnya, jantungnya kini berpacu cepat, takut diapa apain oleh Elvan.
" Jadi Aleta ingin menguji kesabaran ku? Baiklah, aku jabani," batin Kelvin yang mudah sekali membaca raut wajah Aleta yang sok sok berani tapi aslinya takut. Lihatlah, kening Aleta selalu berkeringat jika dalam keadaan tertekan.
"Bersihkan..." Kelvin menggerakkan mundur kursinya tanpa niat berdiri. Memberi ruang pada Aleta.
Kenapa belum marah sih? Harusnya kan memaki dan langsung memecat seperti di film film itu. Aleta jadi tidak semangat. Bahu kecilnya yang membelakang Kelvin saat ini, merosot lemah. Rencananya gagal.
"Kalau sudah selesai, pundakku butuh di pijat."
Seperti angin, Aleta membalik cepat tubuhnya seratus persen ke arah Kelvin. Wajahnya nampak dingin.
Aleta mundur mundur manakala Kelvin berdiri dari kursinya. Sial, bokongnya malah terbentur ke meja. Saat ingin mengambil langkah ke samping, tau taunya 'Elvan' sudah menahan pergelangan tangannya.
"Bagaimana kalau kita mengulas kembali kejadian malam indah di antara kita?" goda Kelvin dengan memasang seringai mupeng.
Mengulas? Jantung Aleta kian berdebar-debar takut. Mau menjerit minta tolong, rupa rupanya tidak akan ada orang lain yang mendengar kemalangannya, secara ruangan ini kedap suara. Habislah dirinya kala ini.
Tidak, ia harus melawan.
" Elvan!" pekik Aleta mencoba menghentakkan pergelangannya. Namun hanya sia sia. "Kenapa kamu melakukan hal kurang ajar padaku? Apakah kamu tidak berpikir panjang, bagaimana perasaan Kelvin jika mengetahui istrinya sudah ternoda? Lebih lebih orang yang mengkhianatinya adalah seorang adik yang begitu dipercayainya."
__ADS_1
Ultimatum Aleta berhasil membuat Kelvin itu menjauh sembari berkata dengan wajah amat teramat tenang, "Aku hanya bercanda."
Uhhh... Jika ditakdirkan untuk lahir kedua kalinya, Aleta akan berdoa untuk tidak bertemu dengan manusia aneh seperti 'Elvan.'
"Ah, aku baru ingat kalau Kata Kak Kelvin, ada hal sesuatu yang akan kamu pinta dari ku. Apa itu?" Kelvin terpaksa mengungkit terlebih dahulu karena segala tingkah Aleta yang membuat sedikit kesal hari ini, sepertinya tidak ada niat meminta tolong padanya. "Aku akan bersedia membantumu!" imbuh Kelvin kemudian dikala melihat wajah wajah Aleta yang pasti akan menolaknya.
"Jadi dia sudah memberi tahu mu?" Aleta bertanya sembari berlalu lesu ke sofa. Itu tandanya, takdir selalu membuat dirinya dekat dengan bajingan tampan ini. Apa boleh buat, Aleta pun menceritakan pasrah masalahnya ke orang yang sama seperti semalam tanpa ia ketahui. Daripada rasa penasarannya berlarut larut bukan? Toh, Elvan sendiri yang bersedia, bukan dirinya yang memohon mohon. No debat!
"Oke, tiga hari paling lama waktu yang aku butuhkan. Silahkan keluar dari ruanganku."
"Keluar?" Mata Aleta yang jernih, berbinar bahagia. Disuruh pergi oleh Elvan, sudah seperti mendapat rejeki nomplok.
"Tidak jadi! Lagian, jadwal kuliah mu hari ini memang kosong. Temani aku sampai malam!" Kelvin menyesal akan kalimatnya yang menyuruh Aleta keluar. Masih ingat wajah wajah mupeng Candra dan Deli saat melihat kecantikan istrinya. Rasanya, ia tidak rela melepaskan Aleta untuk berjalan seorang diri
" Haiss..." Wajah Aleta nampak layu kembali seperti bunga yang lama tidak disiram air. Memandang nanar remot kontrol pintu yang sekarang diamankan oleh Kelvin masuk ke laci meja.
"Setelah selesai kerjaanku, kita akan mulai membuktikan kebenaran tentang keluarga San dan diri mu." Kelvin memberi semangat pada Aleta. Lihatlah, begitu mudah istrinya itu luluh. Tersenyum lebar padanya seperti sudah melupakan kekesalan yang barusan terlewat. Tanpa sadar, Kelvin membalas senyum tulus Aleta.
" Eh, tapi tidak akan ada permintaan aneh aneh setelah membantuku kan?" Aleta memasang wajah curiga. Sejurus, ia kembali lega saat melihat kepala Kelvin menggeleng.
"Hanya minta dimasakin setiap hari. Bagaimana, deal?" Memakan masakan Aleta, terasa dekat dengan ibunya, itulah sebabnya Kelvin meminta syarat mudah tapi berarti besar baginya.
"Deal...!" Kalau hal masak sih, Aleta tidak masalah sampai sampai membalas ucapan Kelvin tanpa berpikir panjang.
__ADS_1