
"Apa Nyonya sudah tidur, Deli?"
Kelvin yang baru pulang dari rumah sakit, habis menyerahkan sampel Olivia dan Aleta, bertanya pada Deli yang saat ini menyambut kedatangannya di pintu utama villa.
"Nyonya? Maaf, Tuan Muda, bukankah Nyonya bersama Anda?" Deli bertutur hati hati sembari mengekori langkah Kelvin yang terus menyelusuri ruangan.
Lantas, Kelvin berhenti lalu berbalik penuh menatap Deli.
"Kamu yakin dia belum sampai rumah?" tanya Kelvin memastikan. Deli mengangguk mantap.
"Keluyuran kemana dia malam malam begini? Bukannya tadi mengatakan sudah di jalan pulang?" gumamnya bertanya tanya sendiri sembari merogoh saku untuk mengeluarkan hapenya, mendail nomer Aleta.
Sejurus dering ponsel terdengar nyaring dari arah pintu utama. Deli dan Kelvin kompak memfokuskan atensinya lurus lurus ke arah wanita yang sedang bersiul siul santai dengan langkah girang seperti berlari kecil.
Di mata Kelvin, Aleta terlihat berbeda malam ini. Istrinya itu terkesan ceria. Deli saja sampai gagal fokus dengan tingkah Aleta. Apalagi sang Nyonya saat ini membawa sebuket bunga berisi dua jenis bunga yang selama ini jarang ada hal berbau romantisme di rumah sang Bos.
"Selamat malam..." Aleta dengan iseng mengangkat telepon Elvan 'palsu' tepat di depan orangnya. Senyum manis terkesan aneh di mata Kelvin dari bibir Aleta.
Kelvin yang sempat termangu, segera menurunkan hapenya yang tadinya masih bertengger di telinganya.
"Tuan, Nyonya, saya undur diri," kata Deli tahu batasan. Manatau sang majikan butuh privasi bukan.
Akan tetapi, Aleta mencegahnya dengan pertanyaan, "Deli, katakan padaku. Su-a-mi-ku suka bunga jenis apa? Mawar merah yang cantik tapi berduri yang katanya melambangkan cinta atau bunga azalea yang melambangkan kelembutan dan keanggunan?"
Deli yang bingung karena tidak tahu selera bunga kesukaan sang bos, hendak melirik ke 'Elvan' palsu. Aleta yang sudah tau kenyataan kebohongan seluruh orang di rumah tersebut termasuk Deli yang berperang penting, tidak memberi kesempatan pada Deli dan Kelvin saling tatap kode kodean. Aleta dengan cepat memblokir tengah-tengah jarak dua pria di sekelilingnya.
"Mengapa harus berpikir lama hanya dengan pertanyaan sepele ini. Cepat katakan kesukaan Su-a-mi-ku..." Dua kali ini, Aleta sengaja menekankan kata suami di depan Kelvin langsung. Kelvin ini suka bermain bukan? Ia hanya mengimbangi sampai di mana permainan Kelvin.
"Azelia ah, maksud saya, bos suka dengan bunga mawar merah." Deli yang tidak mengerti, asal jawab saja tapi suaranya itu berintonasi gugup karena tatapan Aleta seperti orang mengintimidasi. Etdah, Sang Nyonya sepertinya ikut tertular sindrom kejam dari Bosnya.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu, bunga azelia ini buat mu." Aleta tersenyum manis sekali.
Mulut Deli menganga tanpa sadar. Benar nih, Nyonya nya memberi bunga tepat di depan bola mata sang bos? Duh, Deli jadi keder. Ambil tidak ya? Lirik dulu ke arah sang bos. Alamak... Kenapa matanya melotot horor? Salahnya di mana coba? Kan Aleta sendiri yang berbaik hati padanya.
"Ih, tangan ku pegal tau. Ayo diambil, Deli." Aleta menaruh paksa ke tangan Deli, bunga azelia yang sudah dipisahkan dari bunga mawar. Sang asisten suaminya ini nampak kaku tangannya. Diam diam, Aleta mengulum senyum yang tentu saja tidak dilihat oleh Kelvin yang berada di belakang tubuhnya. Pokoknya, ini baru permulaan Aleta pada orang orang yang ikut mendukung kebohongan Kelvin.
" Terimakasih, Nyonya. Saya permisi." Kabur lebih baik menurut Deli sebelum Aleta terlebih dahulu meninggalkan dirinya berduaan dengan Kelvin yang entah apa yang ia terima karena sang bos nya ini terlihat cemburu.
"Kak Kelvin tidak suka bunga mawar," ujar Kelvin datar menghentikan Aleta yang hendak masuk ke dapur. Apa istri nya lapar di tengah malam?
Aleta berbalik penuh. "Masa? Kok kamu seakan-akan tahu segalanya?" Aleta maju maju, mendekat dengan bola mata sangat intens ke netra kebiruan Kelvin.
Tatapan dalam Aleta seperti sihir, membuat Kelvin mundur dua langkah. Tersadar dari kegugupannya, Kelvin pun mengembalikan raut wajah datarnya.
"Karena aku saudaranya?" tantang Kelvin tak mau kalah debat.
Kelvin yang penasaran akan sikap aneh Aleta, Ia pun menunggu wanita itu keluar dari dapur sembari duduk di sofa dengan majalah modus ia baca.
Berselang beberapa menit, Aleta sudah keluar dari dapur dengan tangan membawa baki berisi mangkok penuh dengan kelopak bunga mawar. Selain itu, ada lilin aroma terapik memabukkan.
Kelvin menyerinyitkan alisnya. Ia tidak tahan menahan rasa penasarannya. Oleh sebab itu, ia cepat cepat mengikuti langkah-langkah Aleta di anak tangga menuju ke lantai dua.
"Benda itu mau buat apa?"
"Oh, kepo ya...?" Aleta sengaja bertutur ejek.
"Aleta, aku serius!"
"Oh, oke. Aku jawab serius juga meski sedikit privasi. Eumm... Sebenarnya, bunga bunga serta lilin memabukkan ini akan aku tata di kamar __"
__ADS_1
"Untuk?" Kelvin yang tidak sabaran, bertanya cepat. Ia tidak suka cara bicara Aleta yang bertele tele.
"Untuk...?" Aleta sudah sampai di depan pintu kamarnya."Tentu saja untuk melalui malam yang indahhh dan panjaaaanghh bersama suamikuhh." Aleta iseng menambahkan huruf H di beberapa kata tertentunya agar terlihat lebih hot mendesah memanasi kuping Elvan palsu ini. Dan berhasil, Elvan berdecak kasar terang terangan.
"Kamu mimpi?" Kelvin masih menganggap Aleta mengigau.
"Eh... Stop it. Jangan mengejek ku. Aku ada bukti kok. Kalau Kelvin malam ini akan datang ke kamarku. Satu jam yang lalu, dia mengirimkan chat chat mesra padaku."
Mana ada seperti itu? Ada yang aneh di benak Kelvin.
"Kamu tidak percaya. Fine, demi membunuh rasa penasaran mu, aku akan memperlihatkan bukti chat mesra Kelvin yang katanya juga akan datang ke kamar ku malam ini."
Fitnah ini mah, fitnah... Mana ada ia mengirim chat seperti itu ke Aleta.
Kelvin yang tidak merasa melakukan hal tersebut, dengan cepat menyerubut hape Aleta. Membaca chat lebay yang ada emoji kissingnya yang sangat bertolak belakang dengan sikap Kelvin yang datar pakai dingin. Heeiii... Siapa yang sudah berani menyamar menjadi dirinya. Awas saja, siapapun yang mendekati kamar Aleta malam ini, maka fixed... Orang itu pelaku nya. Kelvin akan begadang malam ini demi menangkap tersangkanya.
"Sini hape ku. Kamu terlalu kepo. Uda ya, aku masuk dulu. Mau siap siap menyambut malam yang panjang bersama kakakmu yang katanya pria buruk rupa nan cacat, tapi... Aku sebagai istrinya akan berusaha menerimanya bukan."
"Aleta...!"
Blaamm...
Kelvin berdesis geram. Aleta main banting pintu tepat di depan wajahnya.
Ceklek...
Terbuka lagi dengan hanya kepala Aleta yang melongok keluar. "Ada apa lagi? Kalau mau bicara tentang kerjasama kita yang menyangkut tes DNA, tahan besok ya."
Kelvin kehilangan kata kata saat itu juga karena tidak bisa juga membongkar penyamaran nya begitu saja. Yang ada Aleta mana percaya kalau ia tiba-tiba mengakui identitasnya. Damn it!
__ADS_1