Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 8# Tertembak Oleh Orang Misterius


__ADS_3

Aleta pergi bak angin kecepatan nya. Kelvin kira masih di depan rumah keluarga San menunggunya di mobil. Batang hidungnya sudah tidak ada membuat Kelvin bermimik dingin.


"Beri kabar kalau Nyonya sudah sampai villa."


Belum ada sahutan dari bodyguard yang diteleponnya, Kelvin sudah mematikannya. Lanjut menyalakan mesin mobil pergi dari depan rumah keluarga San.


Di tengah perjalanan, suara telepon menggangu Kelvin. Candra Van yang meneleponnya. Orang itu adalah bayang bayangannya sebagai CEO di Media KJ- perusahaan yang bergerak di Entertaiment.


"Halo!"


"Pengantin baru."


Sialan. Candra mengejeknya. Orang itu salah satu kepercayaannya sekaligus teman setia yang membantunya menutupi identitas serta semua urusan pribadinya.


"Jangan basa basi!"


Di balik telepon, Candra meringis. Kelvin selalu dingin sama siapa pun tak terkecuali padanya. Candra jadi membayangkan nasib wanita yang menjadi istri Kelvin. Malang sekali nasib orang yang bernama Aleta San.


"Oke, oke." Gagal niat Candra menggoda Kelvin. "Datang ke kantor__"


Belum selesai, Kelvin sudah menyela dingin, "Besok masih ada hari lain."


"Masalahnya, aku membutuhkan tanda tanganmu. Penting!"


Soal pekerjaan, Kelvin tidak pernah main main. Keseriusan adalah salah satu kunci kesuksesan nya.


Dengan terpaksa, ia pun mengiayakan Candra. Berbelok arah tidak jadi pulang ke villa.


Sampai di gedung Media KJ, Kelvin selalu mendapat perhatian istimewa dari para pegawai yang tidak mengetahui bahwa ialah pendiri perusahaan. Setahu mereka, Kelvin hanya tamu VIP sang CEO- Candra Van.


"Tuan, silahkan masuk. Tuan Van sudah menunggu." Sekretaris pria menyambut ramah Kelvin. Membuka pintu itu dengan takzim.


Kelvin sekadar mengangguk tipis. Sekilas, orang yang tidak mengenalnya akan mengira dirinya sombong sampai mendarah daging.


"Akhirnya pengantin baru sudah sampai." Candra tidak menghiraukan mata tajam Kelvin. Terpenting ia bisa menggoda teman kakunya ini.

__ADS_1


Sembari duduk di kursi kebesaran Candra, Kelvin berkata mengancam, "Apa kamu mau saya mutasi ke Kenya? di sana perusahaan baru masih menunggu OB?"


Candra menelan kering ludahnya. Ia masih betah di Amsterdam takut di mutasi. Tapi ... Ia masih ingin menggoda. Bodo amat dengan ancaman Kelvin untuk sesaat saja. "Rasanya bagaimana Malam pertama kalian?" Alis Candra naik turun. "Enak kan?"


Seperti harimau, mata Kelvin siap mencabik cabik buruannya. Namun mengingat ia perlu mengetes kesetiaan Aleta, ia pun akhirnya meredam emosinya. Berkata memperingati Candra terlebih dahulu, "Kapan hari kalau kamu bertemu dengan Aleta, jangan panggil aku Kelvin di depannya."


"Gila! Itu artinya, Aleta pun kamu bohongin tentang identitas sejati mu?" Candra tak habis pikir. Namun kembali sadar, kalau di depannya adalah Kelvin Jansen yang sesuka hati bertindak. Susah ditebak dan sedikit tidak berperasaan.


"Menurut saja!"


Kelvin mengangkat telapak kanannya, pertanda ia tidak mau lagi membahas soal pribadi. Candra yang paham, segera memberi dokumen penting sembari mendumel, "Sampai kapan aku menjadi bayang bayanganmu? Pekerjaan sangat menumpuk. Seharusnya, kamulah yang harus duduk sepanjang hari di kursi itu."


Kelvin tidak menghiraukan dumelan Candra yang bukan pertama kalinya. Ia terus membubuhi tanda tangannya di lembaran demi lembaran yang sebelumnya di baca terlebih dahulu isinya.


Selesai dengan pekerjaan, Kelvin pergi tanpa kata pamit ke Candra.


***


Di waktu yang sama, lima pria di dalam ruangan, dengan salah satu orang itu duduk di kursi kayu goyang, terlihat sedang mengintruksi.


"Siap, Tuan." Empat pria berotot itu, kompak menyahut. Membuat sang bos misterius mereka menyeringai kejam.


***


Masih dalam perjalanan menuju villa yang masih jauh jangkauannya, Kelvin yang ingin memastikan keberadaan Aleta, kembali menelepon ke penjaga rumah.


"Nyonya sudah pulang?"


"Maaf, Tuan. Nyonya belum sampai."


Tut ... tut... Sambungan mati sepihak dari Kelvin. Handphone mahal ia lempar ke kursi samping. Memutar matanya ke jalanan malam. Berharap keberadaan Aleta terlihat meski kecil kemungkinannya.


"Kenapa pula aku harus peduli padanya?" Kelvin bermonolog bingung sendiri. Hatinya yang kemarin sangat dingin menolak adanya pernikahan, justru sebaliknya memikirkan Aleta. Entah sihir apa yang dimiliki gadis itu?


Kembali pada perangainya, Kelvin memusatkan untuk cuek pada Aleta. Sejurus, ia menghentikan mobilnya. Turun dari kemudi, membiarkan tubuhnya diterpa angin malam di musim dingin itu.

__ADS_1


Di depan sana, ada sebuah kursi panjang. Kelvin duduk, menyalakan cerutu yang sudah diapit di bibirnya. Baru beberapa detik menikmati hisa*an rokoknya, sebuah mobil yang tak jauh dari duduknya, berhenti. Menurunkan kaca jendela. Dan ... Dor... Dor...


Awalnya Kelvin begitu sigap membanting tubuhnya ke tanah, di saat tangan pria di atas mobil menjulur keluar menodong senjata api ke arahnya. Namun tembakan kedua dari orang yang satu nya, menyusul. Timah panas pun, bersarang di area dada.


"Sial...!" Kelvin mengumpat. Refleks ia mengangkat kursi panjang besi berwarna putih yang tadi didudukinya, lalu melemparnya ke arah mobil demi menggagalkan tembakan selanjutnya. Sang penjahat yang menggunakan masker tersebut, menancap gas karena menghindari amukan Kelvin. Mereka tidak mau rugi dengan mempertaruhkan kemulusan mobilnya.


"Aaarggh..." Kelvin mengerang murka. Ia tidak akan melepas orang yang berani melukai tubuhnya. Dengan cepat, Kelvin berlari ke mobilnya. Berniat mengejar laju mobil penjahat tersebut.


Mantel hitam yang di dalamnya dilapisi kemeja putih, sebenarnya merembes darah segar dari efek tembakan tadi. Namun, Kelvin yang kuat, seakan akan tidak merasakan sakit. Otaknya hanya terobsesi mengejar penjahat itu, ingin mengetahui motif penyerangan berusan.


"Aku atau Elvan yang dikejar?" Karena memakai identitas adiknya, Kelvin jadi bertanya tanya, siapa sebenarnya yang diincar penjahat tersebut.


"Tembakan tadi tidak berefek, dia masih hidup. Lihat di spion!" Penjahat itu mengira tembakan yang berhasil mengenai permukaan jantung Kelvin, bisa membuat pria itu sekarat di tempat. Namun kenyataannya, mereka malah diburu oleh sasaran nya sendiri.


Malam yang dingin, membuat pengguna jalan cukup sepi, Kelvin sangat gigih mengejar laju si pelaku. Ia mengemudi ugal ugalan tanpa hambatan sembari memberi kabar pada bodyguard untuk segera ke TKP membantunya. Namun, tepat di belokan, Kelvin terpaksa banting setir. Seorang wanita hampir ia tabrak saat menyeberang jalan. Alhasil, bumper depan menghantam pembatas trotoar.


Wanita yang tak lain adalah Aleta, histeris tegang. Ia tidak menyadari mobil yang pernah ia tumpangi tadi itu adalah milik Kelvin.


"Kecelakaan! tolong!" Aleta berteriak panik sembari berlari ke arah pintu mobil yang perlahan terbuka. Ia terpaku sejenak, saat sadar kalau orang yang dibuat kecelakaan 'Elvan.'


Beberapa pejalan kaki yang baru melintas, ikut mengerubungi TKP membuat Kelvin tidak suka kalau dirinya menjadi pusat perhatian.


"Saya tidak kenapa - napa. Bubar...!" Suara Kelvin sangat dingin dengan wajah merah kesal tertahan. Ia benci pada keleletannya yang membuat para penjahat itu lolos begitu saja. Dan itu semua karena ... Aleta.


"Tapi, jidat mu berdarah!" Aleta mengulurkan tangannya hendak menyentuh darah yang bercucuran di pelipis Kelvin. Tapi, pria itu menghindar pelan, menolak di sentuh. Ia hanya melihat luka jidat Kelvin tanpa mengetahui kalau mantel hitam Kelvin sudah berlumuran darah.


"Ayo, kita ke rumah sakit." Tanpa pikir panjang, Aleta meraih telapak tangan lebar Kelvin. Menariknya dan berjalan melewati beberapa orang yang tidak menghiraukan usiran Kelvin tadi.


Demi terhindar dari orang banyak, Kelvin akhirnya pasrah di genggam tangannya. Entah kenapa, jemari lembut Aleta, memiliki setrum tertentu.


"Aku tidak mau ke rumah sakit!" Kelvin berhenti melangkah sembari melepas tangannya dari genggaman Aleta, saat mereka berdua sudah jauh dari orang orang tadi. Ia yang tidak suka berusan dengan polisi, tentu saja tidak mau berobat ke rumah sakit yang pasti akan dipertanyakan luka tembaknya oleh Dokter dan pasti akan sampai ke telinga para polisi. Kelvin orangnya suka membereskan 'kuman' dengan caranya sendiri.


Otomatis, Aleta pun berhenti sembari bertanya, "Kenapa? Luka mu harus di obati, takutnya infeksi!"


"Benar, tapi kamu sendirilah yang harus mengobatiku. Kamu harus bertanggung jawab. Gara gara kamu menyeberang jalan dengan ceroboh, aku sampai terluka."

__ADS_1


Wajah Kelvin terlihat pucat di penglihatan Aleta. Pasti pria ini merasakan denyut hebat, pikir Aleta. Dan tanpa berlama lama, Aleta pun menyetujui. Meskipun mengingat kalau Kelvin ini pria kurang ajar yang sudah dua kali menciumnya dalam satu hari ini, Aleta tetap menolongnya. Demi kemanusiaan.


__ADS_2