Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 24# Gila Pangkat Kubik


__ADS_3

Saat Aleta keluar dari toilet kantor ruangan Kelvin, mata Candra dan Deli mendelik nan enggan untuk berkedip seperkian detik, yang sebelumnya mereka sibuk membahas pekerjaan bersama Kelvin. Bosnya ternyata tipe dingin tapi suka nyembunyiin cewek cantik di ruangannya.


Dalam keterpakuannya di tempat, Aleta yang ditatap intens seperti itu, segera memeriksa kancing seragam OG nya. Semuanya terpasang aman kok.


"Ehem..."


Candra dan Deli, terlalu terhipnotis akan kecantikan wanita asing menurut mereka di ruangan sang bos, sampai tidak menyadari deheman peringatan halus halus mematikan dari Kelvin.


Diacuhkan peringatannya, wajah Kelvin mendingin. Apalagi melihat mata keranjang Candra yang berkilat seperti predator menemukan mangsa.


Braak...


"Eh, babi..." pekik Candra spontan lata, karena kaget dibuat geprakan meja dari tangan Kelvin.


Jangankan Candra dan Deli, Aleta pun berjengit sembari memegang dadanya. Adik iparnya itu memang punya emosi naik turun yang buruk.


"Maaf, apakah saya harus membuat kopi?" Dari pada salah tingkah ditatap terus, Aleta mencari alasan saja biar bisa bebas dari tiga pria di depannya. Akan tetapi, 'Elvan' menolak. Dirinya malah disuruh duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


"Alamak..." desis Deli pelan yang baru menyadari sesuatu. Suara dan postur tubuh itu milik sang Nyonya. Pantas saja Tuan muda nya ini memukul meja murka. Jelas, karena tidak suka ada pria lain yang mengagumi kecantikan sang istri terang terangan tepat di hadapannya. Tapi, kenapa Nyonyanya itu tiba-tiba jadi cantik dan putih yang tadinya dekil? Tenggorokan Deli terasa kering seketika, tidak mau berpikir hal lainnya dulu. Segera ia undur diri ke toilet dengan berpura-pura memasang wajah kebelet, daripada diamuk oleh Kelvin. Untuk Candra, serah sang bos saja. Mau digorok atau dilempar ke lantai bawah, Deli tidak peduli.


"Vin, kamu punya simpanan, hah? Gila kamu ya. Istri__"


"Shut up!" Ujung pulpen yang dilempar Kelvin ke mulut ember Candra, berhasil membungkam pria itu. Hampir saja keceplosan mengatakan hal yang mungkin membongkar identitas aslinya. "Dia adalah OG khusus ruangan ku, namanya A.l.e.t.a," sambung Kelvin sengaja mengeja akhir kalimatnya berharap Candra sadar dari tingkah bodohnya.


"Aleta? Istri Kelvin Jansen?" Candra sampai bertanya detail, mana tahu kupingnya yang bermasalah. Bagaimana ia tidak shock seperti halnya Deli tadi? Aleta yang ia kenal adalah sosok culun berwajah dekil. Sedang di depannya, wanita cantik mengademkan mata.


"Kalian suami istri yang aneh..."


"Keluar dari ruangan ku sekarang!" Usir bisik Kelvin tidak pakai hati mendendang lutut kering Candra melalui sela sela kolong meja kerja.


Aleta kembali berjengit kaget. Tapi kali ini dibuat oleh Candra yang melolong sakit. Apa yang terjadi?


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tawar Aleta takzim saat Candra ingin melewati sofa yang ia duduki. Aleta belum mengetahui posisi Candra sebagai CEO tertinggi di kantornya. Kalau tau, Aleta akan menaruh curiga, 'Wakilnya lebih galak ketimbang CEO nya.'


"Ahh, tidak, tidak." Candra menahan ngilu. Berjalan cool sedia kalanya, padahal sakit luar biasa yang ia tahan.

__ADS_1


Sampai di luar pintu, Candra baru berloncat loncat sembari mengangkat satu kakinya.


"Hahaha..." Deli yang tadinya izin ke toilet, nyatanya sedang menunggu Candra di luar ruangan tanpa ada karyawan biasa di lantai khusus tersebut. Oleh sebab itu, Deli bisa tertawa lepas seperti saat ini.


"Dasar babi! Tidak setia kawan," maki Candra kesal sembari mencoba menendang Deli. Tapi, asisten Kelvin itu terlalu pandai mengelak. Deli terus terbahak bahak sembari meninggalkan Candra di belakang sana yang terus menggerutu padanya.


Sementara di dalam ruangan, Aleta yang ingin keluar mengambil peralatan OG nya, dibuat kesal oleh 'Elvan' yang tiba-tiba mengunci otomatis pintu ruangan menggunakan remot kontrol.


"Aku harus bekerja membersihkan ruangan ini, buka pintunya dulu."


"Duduk manis saja!"


"Hey, itu tandanya aku akan makan gaji buta?"


"Kerjaanmu di sini hanya duduk di depan mata ku. Cukup itu!"


Kerjaan apa itu? Aleta berasumsi kalau penyakit gila Elvan sudah merangkak pangkat tiga kubik; gila dikali gila dan kembali dikali gila.

__ADS_1


__ADS_2