Special Wife Sang CEO

Special Wife Sang CEO
Bab 27# Aku? Elvan Jansen!


__ADS_3

Kelvin yang di teriaki sebagai maling oleh Olivia, tidak berlangsung lama sudah dihadang oleh para bodyguard keamanan club tersebut.


Olivia menyilang sombong kedua tangannya di belakang tubuh Kelvin sembari memperhatikan punggung pria itu yang dipikirnya tidak akan keluar dengan mulus, kecuali dirinya yang memberi ampun.


"Aku akan membebaskanmu asal berikan benda yang kamu ambil paksa dariku!" tutur Olivia penuh percaya diri mengingingkan sampel rambutnya.


Kelvin membalik tubuhnya secara perlahan. Di raut wajahnya tidak ada sama sekali rasa takut dan sebagainya, datar nan tenang seperti pasir sedot mematikan.


"Biasanya, aku yang memberi pilihan orang orang antara mati atau hidup, bukan sebaliknya.Jadi..." Kelvin memutar matanya untuk memberi peringatan pada para bodyguard club yang masih membela Olivia. "Menyingkirlah sebelum saya marah."


"Bacot! Sudah membuat ulah malah mengancam!" Dari lima bodyguard, salah satunya segera maju ingin menghantam wajah Kelvin dengan jab-nya. Namun ... dooor! Suara letusan tiba tiba melukai pergelangan bodyguard tersebut. Rupanya, Deli dan anak buahnya sudah ada sedari Kelvin memberi kesempatan pada para bodyguard sebelumnya.


Letusan senjata itu berhasil membuat club menjadi ricuh. Olivia mundur mundur takut manakala mendengar 'Elvan' memberi instruksi para anak buahnya, "Beri pelajaran yang pantes diberi!"


Kelvin berlalu sembari memasang kaca mata hitamnya setelah selesai bersuara bengis. Pria kejam itu tidak peduli dengan orang orang yang tidak bersangkutan dengan masalahnya.


Olivia berusaha menyelamatkan diri dari ricuhnya keadaan yang dibuat kebrutalan Deli and the gank, dengan cara bersembunyi sejenak dibelakang meja bartander. Melihat segerombolan wanita wanita bitc* yang diijinkan keluar, Olivia dengan cepat mengambil kesempatan untuk bergabung di antara antrian yang berdesakan itu. Olivia berjanji akan membunuh Aleta, dalang musibah yang dialaminya sekarang ini.


Sampai di parkiran, Kelvin dibuat cemas akan Aleta yang tidak ada di dalam mobil.


Kemana istrinya itu?


Mengeluarkan hape, Kelvin mencoba menghubungi nomer Aleta sembari memindai tempat sekitar tapi bayangan Aleta tidak terlihat.


Panggilan pertama gagal, kedua kalinya akhirnya direspon juga.


"Kamu di mana?"


Aleta yang diteriakin, reflek menjauhkan hapenya dari telinga.


"Kenapa harus pergi, hah?"


Galak sekali.

__ADS_1


"Kamu bisu?"


Bagaimana mau menjawab, 'Elvan' selalu menjeda setiap ingin bersuara.


"Aleta! Cepat katakan posisi mu__


"Bisa tidak jangan terlalu cerewet!" Akhirnya ia bisa memotong suara si galak. "Aku pergi karena takut di tinggal sendiri. Asal kamu tau, aku tadi sempat digodain Om berkumis saat menunggumu."


Kelvin berdesis merutuki dirinya dalam hati. Karena terlalu bersemangat mendapatkan apa yang diinginkan dari Olivia, ia sampai lupa kalau club tersebut adalah tempat berbahaya bagi wanita wanita baik seperti Aleta.


"Aku sudah bilang untuk menunggu di dalam mobil, mengapa harus keluar segala?"


Salah teruuus. Aleta mendelikin geram hapenya. "Aku on the way pulang ke villa." Tut... Dari pada terus digalakin, Aleta mematikan hapenya cepat, sebelum 'Elvan' bersuara. Meski sebenarnya ia penasaran akan hasil kerja Elvan, berhasil atau tidak?


Baru beberapa detik hape itu masuk ke dalam saku, getaran dan nada deringnya kembali menggangu. Aleta yang berada di dalam bus, enggan menerima panggilan yang pasti dari Elvan lagi.


"Berisik sekali, angkatlah biar tidak menggangu!" ujar penumpang wanita di sebelahnya dengan suara judes.


Aleta yang tidak enak hati langsung berucap, "Maaf..." Aleta terpaksa mengeluarkan hapenya. Bukan dari Elvan. Terus, nomer baru siapa?


"Aleta, tagihan air dan listrik di kosanmu mengapa bisa melonjak. Boros sekali!"


Rupanya si Nyonya kontrakan. Sepertinya orang-orang sekitarnya pada kena sydrom penyakit IED yang kerjaan marah terus padanya. Tadi Elvan, penumpang disebelah dan terakhir pemilik kontrakan.


"Tapi, Nyonya. Saya sudah beberapa hari tidak mampir. Bagaimana tagihan air bisa melonjak?"


"Mana saya tahu! Setahu saya kamu lah yang tinggal di sana. Pokoknya bayar tagihan yang sesuai. Aku tidak mau dengar alasan A-Z karena penagih air tidak menerima alasan itu juga."


Tuuutt...


Hufft... Aleta menghembuskan nafas letih sembari menyandarkan kepalanya ke punggung kursi sembari menatap miris hapenya yang sudah dimatikan sepihak oleh pemilik rumah yang memang ia bayar lunas beberapa bulan ke depan.


"Apa kran airnya lupa aku tutup sebelum pergi ke villa waktu itu?" gumamnya berniat mengeceknya sebelum pulang ke tempat Kelvin.

__ADS_1


Kebetulan, jalan yang dilintasi bus yang tumpangi ini, satu arah tujuannya sehingga tidak butuh waktu lama, Aleta sudah turun dari bus. Berjalan beberapa meter, Aleta pun sampai di depan rumah yang dituju.


Tidak ada yang mencurigakan di mata. Tapi setelah membuka pintu yang tidak terkunci, barulah Aleta merasa aneh. Rasa takutnya terkalahkan dengan rasa penasaran. Terpaksa Aleta membuka pintu lebar lebar.


"Gelap sekali..." gumamnya sembari meraba raba tembok mencari stopkontak lampu.


Tap... Lampu menyala. Mata Aleta terbelalak kaget. Di atas kasur lantainya ada tubuh seorang pria yang tertelungkup menyembunyikan wajahnya. Keadaan rumahnya pun sangat sangat berantakan dari sampah sisa sisa makanan ringan dan cup mie instan.


"Apa dia sudah mati?" gumamnya karena pria itu tidak ada tanda-tanda terganggu akan kehadirannya. Penasaran sekaligus takut, Aleta mencoba mengecek kondisi orang tersebut dengan cara menyogok bokong pria itu menggunakan ujung sapu.


"Aaarggh..." Aleta dan pria yang berwajah oriental remaja itu, kompak menjerit.


"Kamu siapa? Kenapa bisa masuk ke rumah ku?" tanya Aleta dengan wajah dibuat buat galak mengintimidasi.


"Jadi ini punya, Kakak? Aku kira rumah kosong." Suara pria remaja di depannya serak khas orang bangun tidur. Wajah bantal itu terlihat lucu. Alih alih takut, Aleta malah tersenyum melihat si penyusup menguap lebar. Lucu di mata.


"Aku numpang ya, Kak. Beberapa hari saja. Sebagai bayarannya, aku mau deh jadi pacar kakak."


Ini anak siapa sih? Pacar katanya? Ngaur nih bocah. "Nama mu siapa?"


"Aku? Elvan Jansen."


What?


"Siapa, siapa namamu?" Tentu saja Aleta kaget. Nama pria remaja ini sama persis dengan nama adik iparnya.


"Kakak cantik cantik tapi budek nih. Namaku Elvan Jansen. Jelas?" pria remaja gembel yang tak ada tampan tampan miskin menderita ini, tersenyum polos, terkesan manis di mata Aleta.


"Elvan Jansen?"


"Eum, Elvan Jansen dari keluarga Jansen yang terkenal kaya raya di kota ini tapi hidupnya tidak pernah tenang seperti aku. Hais, aku keceplosan!" Elvan remaja membungkam mulut nya dengan satu telapak tangannya.


Aleta mimicing curiga. Seperti ada yang ganjil. "Aku akan mengijinkan mu tinggal di rumah ku asalkan kamu menjawab jujur. Bagaimana, deal?"

__ADS_1


Orang yang mengaku nama nya sama dengan adik iparnya tersebut, berpikir sejenak sembari menatap lekat lekat Aleta. "Boleh deh, asalkan Kakak cantik harus memberi ku makanan. Aku lapar tapi uang ku habis," pintanya dengan raut wajah polos yang sangat menggemaskan di mata Aleta.


__ADS_2